TAK SAMA

TAK SAMA
108


__ADS_3

. Arisa tertegun mendengar pengakuan Rayyan dan dirinya seakan merasa bimbang akan jawabannya. Hatinya mendadak ragu entah karena apa, namun seperti ada yang menghalangi hatinya untuk menjawab 'iya' atas lamaran Rayyan. Arisa hanya tersenyum menanggapi dan Rayyan menyimpulkan bahwa Arisa menerima lamarannya dan ia dengan penuh bahagia memeluk Arisa begitu erat. Dan tanpa disadari, Arisa kembali menitikkan air matanya dengan membalas pelukan Rayyan.


"Maaf Rama.... pada akhirnya aku harus menghapus namamu sepenuhnya." Batin Arisa. Saat ia memejamkan matanya, ia merasa bahwa ada Rama dibelakang Rayyan, dan tepat di depan wajahnya. Rayyan merasa ada yang aneh dan segera melepas pelukannya. Ia terkejut mendapati Arisa yang menangis tiba-tiba.


"Risa... kau kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Rayyan mendadak panik dan hanya di tanggapi gelengan kepala oleh Arisa sendiri.


"Lalu?"


"Aku takut Oma tak merestui kita lagi. Bagaimana saat aku kembali mencintaimu seperti dulu, tapi Oma menginginkan kebahagiaanmu dengan wanita lain? Aku takut itu terjadi lagi Aray." Jawabnya tanpa sadar kalimat itu ia lontarkan. Arisa sendiri tak tahu kalimat apa yang ia ucapkan itu. Kenapa jadi mengkhawatirkan Oma?


"Kenapa hanya itu yang kau ingat disaat-saat bahagia seperti ini?" Lagi, Arisa hanya menggeleng menanggapi.


"Risa... aku sudah tak peduli lagi pada amnesia mu. Terserah kau mau ingat atau tidak padaku dan semua yang sudah kita lewati bersama, meskipun saat itu kita memilih jalan yang berbeda, kau yang akan menikah dengan Fabio, dan aku yang terpaksa menerima perjodohan dengan Raisa, tapi pernikahan kita tak ada yang terjadi. Bukankah itu menunjukkan bahwa kita berdua akan bersama? Jadi, menikahlah denganku, dan jangan khawatirkan apapun lagi. Aku akan menjagamu dari apapun dan siapapun yang menyakitimu." Jelas Rayyan kemudian menyeka air mata Arisa yang sudah mengalir di pipinya.


"Aray... aku mau bertemu Sein."


"Baiklah. Jangan menangis lagi." Dengan begitu, Arisa meyakinkan Rayyan dengan melempar senyum manisnya dan memaksakan agar tangisnya mereda. Hingga keduanya memutuskan untuk bergegas menuju kediaman Pratama. Sepanjang jalan, Rayyan tak henti-hentinya mengelus rambut Arisa dan beralih meraih tangan sang kekasih dan tak mau melepaskannya walaupun sudah sampai di rumah.


Mendengar suara mobil, Seina yang kebetulan berada di ruang tamu pun bergegas keluar menyambut kedatangan Rayyan. Dan bagai sebuah kejutan, Seina begitu antusias menghampiri Arisa dan memeluknya dengan erat.


"Sein kangen. Kakak kemana saja?" Rengek Seina dengan manja.


"Kakak sibuk kerja sayang." Jawabnya membalas pelukan Seina.


"Risa..." panggil Sonya dari ambang pintu.


"Bunda..." sahut Arisa beralih menghampiri Sonya yang tertegun dengan dress yang di kenakan Arisa sekarang.


"Kamu masih... aihhh selama ini ternyata dressnya masih kamu simpan?" Tanya Sonya dengan haru dan menahan embun di kelopak matanya agar tak jatuh.


"Hadiah dari Sein pun kakak pakai. Padahal sudah lama, tapi masih seperti dulu." Timpal Seina tersenyum girang.


"Hadiah? Dan memangnya ini dress apa?" Tanya Arisa dengan polos.


"Hemm kau tak ingat?" ~Sonya.


"Maaf bunda. Tapi, jika bunda menceritakannya, siapa tahu Aris ingat." Ucapnya mendadak antusias.


"Ehemmmm" sontak semua yang berada disana menoleh bersamaan pada Rayyan yang terlihat begitu terasingkan.


"Kak Aray apa sih? Kak Aray jangan ganggu Sein dan kakak putri. Malam ini kakak putri harus menghabiskan waktu dengan Sein."


"Ohh tidak bisa. Kakak yang membawanya kesini. Jadi kakak mau menghabiskan waktu berdua."


"Tak boleh... kakak putri harus dengan Sein."


Melihat pertengkaran kakak beradik didepannya, seketika Arisa mengingat kebersamaannya dengan Reza.

__ADS_1


"Kakak dan bunda sedang apa ya?" Batinnya mendadak gelisah.


. "Bunda jangan banyak bergerak dulu." Ucap Reza dengan membawa semangkuk bubur ditangannya.


"Bunda sudah baikan Za..." jawab Sarah dengan suara yang lirih. Reza menatap nanar wajah ibunya yang begitu pucat. Sejak pulang dari Jakarta, Sarah selalu mengurung diri di kamar. Tak seperti sebelumnya, jangankan pergi arisan, bahkan ke dapur untuk sekedar makan pun, Sarah tak pernah lagi terlihat.


"Za..."


"Hemmm" sahut Reza masih fokus menyuapi Sarah dengan pelan.


"Putri sedang apa ya? Apa dia bahagia? Kenapa tidak ada menelepon? Apa ponselnya di sita? Atau..."


"Sudahlah bunda... Putri itu sudah menemukan hidupnya. Jangan berharap dia akan menghubungi kita. Karena pada awalnya, Putri itu tak seharusnya ada disini." Ucap Reza menyela cepat.


"Jujur saja Za.. kau juga merindukannya kan?"


"Tidak." Jawabnya memalingkan wajah ke sembarang arah.


"Lalu? Kenapa kau tak menjual apartemen Putri. Kau berharap dia kembali kan?"


"Sudah bunda... jangan bicara terlalu banyak."


"Kenapa mengelak? Bunda tahu kau menginginkan Putri kembali ke rumah ini kan? Jika tidak pun, setidaknya ke kota ini. Ia datang menemui kita dan berkata bahwa dia sama merindukan kita..."


"Bunda cukup." Teriak Reza membuat Sarah terdiam. Dengan kesal Reza meletakkan mangkuk di samping tempat tidur Sarah. Ia beranjak pergi dan menutup pintu kamar Sarah dengan keras. Sarah yang mendapati kemarahan Reza pun membiarkan air matanya mengalir deras dan ia hanya bisa memandangi poto Arisa yang tengah tertawa lepas dalam pelukannya.


Reza memukul tiang rumah dengan keras sehingga menimbulkan bunyi yang sedikit membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik membayangkan rasa sakitnya.


"A Reza teh kenapa?" Tanya mang Asep saat ia dengan kebetulan lewat setelah menutup pintu gerbang.


"Tak ada mang. Hanya kesal sedikit." Jawab Reza melirik sesaat pada mang Asep. Setelah mang Asep pergi, Reza segera meraih ponselnya dan memanggil salah satu nomor yang lama tak pernah ia hubungi. Beberapa kali ia mencoba menghubungi, namun tak ada jawaban satupun dari panggilannya. Hingga Reza merasa bahwa usahanya sia-sia, ia memutuskan kembali memasuki rumah dan segera berlalu ke kamarnya.


. Malam semakin larut, setelah Arisa sampai di rumah, ia bergegas memasuki kamar tanpa ingin tahu kondisi saudari kembarnya yang sedang menangis.


Saat ia mengambil ponselnya, terdapat sebuah panggilan tak terjawab dari nomor dengan nama yang terpampang jelas adalah nama kakak tirinya yang saat ini ia rindukan. Segera ia menekan kembali nomor dan dengan otomatis memanggil sang pemilik nomor.


Beberapa kali tersambung, namun tak kunjung ada jawaban. Hingga ia memutuskan untuk menghubungi nomor milik Sarah. Dan tak harus menunggu lama, Sarah menjawab panggilan Arisa.


"Putri..." suara yang begitu lirih membuat Arisa terhenyak karena hatinya terasa tersayat menebak bahwa Sarah tengah jatuh sakit.


"Bunda sakit?" Tanyanya memaksakan diri untuk tenang.


"Tidak... bunda baik-baik saja..." jawab Sarah pun menahan diri untuk tidak menunjukkan dirinya tengah tak sehat.


"Bunda menangis?" Tanya Arisa selanjutnya.


"Tidak... hanya flu saja sayang." Jawabnya lagi.

__ADS_1


"Bunda... Putri rindu..." dan, mendengar kalimat ini Sarah seketika tak bisa menahan tangisnya. Ia menutup mulut dengan kuat agar Arisa tak mendengar dirinya terisak.


"Bu-bunda juga rindu sayang." Berbeda dengan Sarah, Arisa disini tersenyum mendengar jawaban dari Sarah.


"Bunda... Putri--"


"Aris... sudah tidur?" Tanya Rahma tiba-tiba membuka pintu membuat Arisa terkejut hingga menutup sambungan teleponnya.


Di seberang sana, Sarah tak kuasa menahan rasa sesaknya karena ia benar-benar merindukan Arisa.


"Ma-mama... a-ada apa?" Tanya Arisa terbata.


"Tidak... mama hanya.... kau menelepon siapa?" Tanya Rahma mengalihkan pembicaraan.


"Oh... i-ini sepertinya orang salah sambung."


"Kenapa gugup?"


"Emm.. ka-karena bunda tiba-tiba masuk, dan Putri terkejut." Jawabnya kali ini membuat Rahma menyernyit kecewa.


"Apa kau menghubungi dia lagi?" Tanya Rahma mendadak kesal.


"Ti-tidak. Ma-maaf ma... Put-Aris... tak..."


"Sudahlah Aris. Kau memang tak pernah menganggap mama."


"Bukannya mama yang tak pernah menganggap Aris ada? Mama selalu menyayangi Rais kan? Dari kecil sampai sekarang yang mama pedulikan hanya Rais saja. Jika aku lebih merindukan bunda pun wajar saja, karena bunda memberikan apa yang tak pernah mama berikan pada Aris. Bunda menyayangi Aris, peduli pada Aris, dan mama? Apa mama pernah merawat Aris saat sakit? Saat Aris kanker pun Aris hanya sakit sendirian. Mama tak per-- ugghhhh" tiba-tiba Arisa terhenti dan meraih kepalanya yang mendadak berputar. Ia baru sadar bahwa kalimat yang baru ia lontarkan itu bukan kalimat yang ada di pikirannya. Ia sendiri tak tahu mengapa ia bicara demikian. Arisa semakin sempoyongan dan seketika ambruk di lantai tepat didepan Rahma.


"Aris..." pekik Rahma bergegas meraih Arisa. Bayang-bayang semua kejadian menyedihkan itu mulai muncul di benak Rahma, ia semakin ketakutan pada apa saja yang menyangkut kondisi kehilangan kesadaran. Ia begitu takut jika putrinya tak pernah bangun dan berakhir menyatu dengan tanah seperti Citra.


Mendengar panggilan Rahma dari lantai atas, Yugito segera menyusul dan ikut panik saat melihat Arisa yang terlelap dipangkuan Rahma.


"Aris kenapa lagi?" Tanya Yugito yang memindahkan Arisa ke tempat tidur.


"Dia.. dia tiba-tiba pingsan mas." Jawabnya lirih. Yugito tak berpikir hal lain, ia kemudian mengelus kepala Arisa pelan dan berharap agar Arisa kembali membuka mata. Bayang-bayang kematian Nadhira dan kecelakaan itu masih membuat Yugito merasa ketakutan.


. Paginya, Arisa mendapati kedua orang tuanya tengah terlelap di kedua sisinya. Ia seketika merasakan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan semasa hidupnya.


"Ayah.... mama... Aris mau bekerja." Ucapnya mencoba membangunkan Yugito dan Rahma. Perlahan Rahma pun membuka mata dan begitu pun Yugito.


"Sudah bangun? Apa yang sakit?" Tanya Yugito langsung beranjak dan meraih beberapa bagian tubuh Arisa terutama kepala.


"Tidak ayah... Aris baik-baik saja."


"Aris... maafkan mama ya..." ucap Rahma dengan suara pelan dan ditanggapi anggukan oleh Arisa. Lagi-lagi Yugito dan Rahma memeluk Arisa dengan erat. Hal itu membuat Arisa merasa terharu dan mengingat beberapa momen masa kecilnya yang masih dekat dengan ayah ibunya.


"Rais... untuk kali ini saja aku ingin egois." Batinnya membalas pelukan kedua orang tuanya.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2