TAK SAMA

TAK SAMA
60


__ADS_3

. Arisa memijit pelipisnya dan terhenti kemudian mendekap dadanya kuat. Tubuhnya seakan semakin miring dan, bugh kepalanya membentur dada seseorang yang menahannya agar tak jatuh. Arisa menoleh pada siapa yang kini mendekapnya.


"Daffa...." lirih Arisa kembali memalingkan pandangannya kearah lain.


"Kau tak apa?" Tanya Daffa menatap lekat pada Arisa yang mencoba menjauh darinya. Terlihat tubuhnya sempoyongan dan hampir terjatuh kembali.


"Ish.. hati-hati.. kau kelelahan ya?" Tanya Daffa membantu Arisa ke tempat tidur.


"Kau berkeringat Aris." Daffa mengusap dahi Arisa yang sudah bercucuran keringat dingin.


"Daf.. bisa ambilkan obat di meja?" Lirih Arisa menunjuk meja yang kini ia belakangi. Dengan cepat Daffa mengambil obat yang Arisa minta beserta air putih yang sudah tersaji dalam gelas.


Arisa membuka satu persatu bungkusan obat dan mulai menelannya.


"Daf... jika kau keluar, tolong pintunya ditutup. Aku ingin tidur." Ucap Arisa beranjak perlahan menjauhi Daffa yang masih terdiam ditempatnya.


"Ganti baju dulu. Kau tak akan tidur dengan nyaman jika masih mengenakan gaun itu." Ucap Daffa masih pada posisinya. Arisa hanya mengangguk lalu berjalan pelan menuju lemari dan mengambil satu set piyama tidurnya. Arisa berlalu ke kamar ganti namun Daffa enggan beranjak dari tempatnya berdiri. Rasa khawatirnya kini lebih besar dari pada rasa cemburunya.


Sampai Arisa kembali dengan piyamanya, Arisa terkejut karena Daffa masih berada dikamarnya.


"Kenapa masih disini? Bagaimana jika orang lain salah faham?" Pekik Arisa berjalan cepat dan mendorong tubuh Daffa sampai keluar kamarnya. Arisa hendak menutup pintu namun tangan Daffa menahan agar pintu tetap terbuka dan Arisa masih didepannya.


"Kau bertanya 'bagaimana jika orang lain salah faham?' Itu tidak akan terjadi. Karena kak Tio yang menyuruhku menyusulmu. Tapi aku ingin bertanya padamu. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu jika aku pergi saat kau dalam kondisi yang seperti ini?"


"Aku baik-baik saja Daf... terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Dan maaf... aku tak ingin Aray salah faham padamu." Daffa terdiam mendapati perkataan Arisa. Daffa tersenyum frustasi lalu mengusap wajahnya kasar.


"Baiklah. Maaf sudah mengganggumu. Tapi sebelum itu, aku ingin berbicara sesuatu padamu." Arisa melepaskan genggamannya pada gagang pintu dengan hati yang mendadak gelisah. Jantungnya berdegup keras saat Daffa semakin dekat padanya dan 'cup' kecupan hangat mendarat di kening Arisa.


"Selamat ulang tahun. Maaf aku baru mengucapkannya. Ini hadiah untukmu, dan maaf aku tak bisa memberi apa-apa lagi selain ini. Dan ku harap kau menyadari bahwa bukan hanya Rayyan yang mencintaimu. Terima kasih sudah memberiku kesempatan berada di sisimu." Ucap Daffa dengan memberikan sebuah kotak kecil yang dibalut dengan hiasan bunga kering. Arisa terbelalak mendengar penuturan Daffa. Entah mengapa Arisa merasa seakan setiap kata yang dilontarkan Daffa seperti sebuah salam perpisahan. Arisa terdiam tak bisa menjawab atau menanggapi apapun. Daffa tersenyum begitu manis, namun terlihat raut wajahnya yang seakan bersedih.


"Jaga kesehatanmu. Jangan sakit terus. Aku akan sangat khawatir jika kau sakit." Ucap Daffa kemudian. Lalu Daffa menepuk pipi Arisa lembut dan berbalik dengan menghela nafas dalam. Arisa menundukkan pandangannya kemudian menarik ujung lengan kemeja Daffa.


"Jangan meninggalkanku Daf.. aku mohon. Biarkan Wina saja yang meninggalkanku. Kau jangan. Aku tak tahu akan terjadi apa di depan sana. Aku pasti membutuhkan kehadiranmu Daf...." lirih Arisa sedikit terisak dan semakin erat mencengkram kemeja Daffa.


"Tidak Aris... aku tak akan meninggalkanmu. Hanya saja, untuk sekarang aku ingin terbiasa melihatmu dengan Rayyan tanpa rasa cemburu. Jika nanti kau membutuhkanku, aku masih ada untukmu." Jelas Daffa meraih tangan Arisa yang mendongak membalas tatapannya.


"Jangan menatapku seperti itu." Ucap Daffa tertawa ringan sembari meyakinkan Arisa bahwa dirinya tak akan pergi dari hidup Arisa.


"Janji ya jangan pergi." Bujuk Arisa membuat Daffa seketika termangu mendapati sikap Arisa yang baginya tak biasa.


"Aku janji. Oh iya... aku ada satu kejutan lagi untukmu." Ucap Daffa yang mendadak mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Arisa tak kalah penasaran.


"Emmm apa ya?" Canda Daffa dan masih membiarkan tangannya di genggam oleh Arisa.


"Ihh Daffa... serius..." rengek Arisa memanyunkan bibirnya membuat Daffa merasa gemas.


"Ahaha maaf Aris. Hanya bercanda saja. Tapi perihal mencintaimu aku sangat serius." Ucap Daffa kemudian dengan meyakinkan. "Ya sudah... aku pulang dulu. Kau istirahat." Lanjut Daffa perlahan melepaskan tangan Arisa darinya.


"Daf..." panggil Arisa menghentikan langkah Daffa yang sudah sedikit jauh darinya. "Terima kasih." Ucapnya selanjutnya.


"Kau sudah mengatakan itu berulang-ulang." Daffa terkekeh kemudian berbalik dan kembali melangkah menjauhi Arisa.


Arisa menatap kepergian Daffa dari hadapannya, kemudian perlahan menutup pintu kamar rapat-rapat. Bukan Arisa tak peduli pada Raisa yang sedang pingsan, namun dadanya terus berdenyut nyeri. Tidak mungkin jika Arisa bisa menahan rasa sakitnya didepan semua orang lebih lama. Dan mungkin karena alasan ini juga, Tio dengan tegas menyuruh Arisa istirahat. Tio yang menyadari sikap Arisa yang seakan menahan sakit di bagian tubuhnya, ditambah karena ini sudah larut malam. Arisa kembali mendekap dadanya dengan nafas terengah.


"Sakit..." lirihnya menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur.


Dilantai bawah Rayyan menahan langkah Daffa yang hendak keluar dari rumah Arisa.


"Ada apa lagi? Aku mau pulang Aray." Decih Daffa memperlihatkan ekspresi kesalnya.


"Apa yang kau lakukan diatas?" Tanya Rayyan penuh kecurigaan.


"Kau berpikir apa hah? Aku hanya membantu Aris yang kes--" ucapannya terhenti saat ingin mengatakan bahwa Arisa kesakitan. Lidahnya mendadak kelu seakan tak ingin Rayyan tahu, dan Daffa khawatir jika dirinya kebablasan bicara bahwa ia mencium Arisa di atas. Meskipun itu sebuah kecupan selamat tinggal karena setelah ini Daffa akan menjaga jarak dengan Arisa.


"Sudahlah Aray... aku mau pulang. Lagipula aku tak melakukan apapun pada Aris. Aku cukup tahu diri dan tahu posisi. Aku tak akan menikungmu dari belakang." Jawab Daffa mendelik dan seakan enggan menoleh berhadapan dengan Rayyan.


"Baguslah jika kau sadar." Ucap Rayyan ikut mendelik kearah lain.


"Tapi beda ceritanya jika sampai aku melihat Aris menangis karena dirimu. Aku mungkin bukan hanya tak menganggapmu teman lagi, tapi aku juga orang pertama yang akan memukul kepalamu sebelum orang lain." Jelas Daffa kemudian. Rayyan termangu mendengar ucapan serius Daffa. Rayyan merasa kali ini ia tak bisa berkutik menjawab perkataan Daffa yang jelas tak main-main.


Rayyan menatap dalam kepergian Daffa dari kediaman keluarga Putra. Setelah itu, Rayyan menoleh kearah dalam rumah, dimana Oma nya masih berada di kamar Tio menunggu Raisa terbangun. Tapi melihat orang berlalu lalang, dan Tio yang menghampirinya, sudah dipastikan bahwa Raisa sudah bangun.


"Daffa sudah pulang?" Tanya Tio yang duduk di kursi depan lalu menatap satu persatu pelayan yang sedang membereskan taman.


"Mang Ujang, pak Sahid, besok saja.. sekarang istirahat dulu." Teriak Tio menghentikan aktifitas semua pelayannya.


"Baik Mas." Jawab mereka serempak lalu sedikit merapikan beberapa bagian agar terlihat rapi.


"Kak... apa benar kakak yang menyuruh Daffa menyusul Risa ke kamarnya?" Tanya Rayyan yang ikut duduk dengan Tio.


"Iya. Memang kenapa? Kau cemburu?" Tio menatap angkuh pada Rayyan yang mendadak gugup.

__ADS_1


"Kenapa tidak menyuruhku saja?" Rayyan mendelik menghindari tatapan Tio yang tajam.


"Kau sedang sibuk dengan keluargamu. Lagi pula anak itu tak akan berani macam-macam pada Aris." Kini Tio memalingkan wajahnya dan kembali menatap taman yang masih terpasang lampu malam disana.


"Kak... sampaikan maafku pada Risa." Ucap Rayyan menghela nafas berat setiap kali dirinya tiba-tiba mengingat perjanjiannya dengan Oma.


"Baiklah... akan aku sampikan." Ucap Tio menoleh sesaat pada Rayyan lalu pada Danu yang baru keluar dengan Sonya dibelakangnya.


"Oma mana?" Tanya Rayyan yang terheran karena tak mendapati sang nenek.


"Masih di dalam. Mungkin sedang berpamitan pada Raisa." Jawab Sonya ikut menoleh ke dalam rumah.


"Ohhh...." Rayyan mengangguk pelan menanggapi ucapan Sonya.


"Aku harap Oma tidak berbicara yang aneh-aneh pada Raisa. Apalagi membahas tentang perjanjiannya. Bisa bermasalah jika kekasihnya dan Risa tahu bahwa aku menyetujui perjodohannya secara diam-diam. Mereka pasti berpikir aku yang bajingan. Padahal aku tak ingin Jika Oma terus membenci Risa." Batin Rayyan menatap objek didepannya dengan tatapan kosong.


"Aray." Danu semakin keras memanggil nama putra sulungnya dan menepuk pundaknya dengan keras saat menyadari bahwa Rayyan tengah melamun.


"Eh... iya." Rayyan tersadar dan menatap lesu pada sang ayah.


"Ayo pulang. Kamu mau menginap?" Ejek Danu menatap penuh arti pada Rayyan.


"Memang ayah mengizinkan?" Tanya Rayyan membalas tatapan Danu penuh harap.


"Bagaimana bunda?" Tanya Danu beralih pada Sonya.


"Lohh... kenapa bunda?" Sonya menatap Danu dengan heran. Tapi kemudian semuanya terdiam ketika Oma datang dan berhenti tepat didepan Rayyan.


"Kau tidak berpamitan pada Raisa?" Tanya Oma dengan tegas.


"Oma... ini sudah malam. Ayo pulang. Angin malam tidak baik untuk kesehatan Oma." Ucap Rayyan menarik tangan Oma menuju mobil tanpa menjawab pertanyaan konyol yang Oma lontarkan.


Terlihat keluarga Arya pun keluar dan berpamitan pada Tio.


Tio menatap dalam kepergian dua keluarga yang mungkin salah satunya akan menjadi bagian keluarganya.


Tio berlalu memasuki rumah dan berjalan menuju kamar Arisa. Dibukanya pintu kamar, Tio berjalan menuju tempat tidur dimana Arisa terbaring. Tio membenahkan selimut Arisa yang sedikit menyingkap dan tak menutupi bagian tubuhnya.


"Kakak menyayangimu Aris." Lirihnya mengusap kepala Arisa dengan lembut. Tio mengedarkan pandangannya dan perhatiannya tertuju pada sebuah kotak kado pemberian Danu dan Sonya. Tio penasaran dan membuka apa saja isi hadiah dari keluarga Rayyan itu. Tio tersenyum saat melihat sebuah gaun yang masih berada didalam kotak. Lalu Tio terbelalak saat menatap kalung yang sangat ia kenal.


"Bukankah ini kalung Phoenix keluarga Pratama untuk calon menantu yang resmi mereka pilih?" Ucapnya dengan suara pelan.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2