TAK SAMA

TAK SAMA
158


__ADS_3

. Melihat Rayyan dan Bayu masih saling melempar tatapan tajam, membuat Arisa kesal hingga ia menutup mata Rayyan seketika agar tak lagi menatap Bayu.


"Kak Aray memang begini. Selalu menyebalkan kalau cemburu pada kakak putri. Maaf ya kak." Ucap Seina dengan sopan meminta maaf pada Bayu yang beralih menoleh ke arah Seina. Bayu tertawa setelah diam beberapa saat.


"Aku ke sini hanya ingin memastikan saja. Tapi syukurlah, Aris selamat." Ucapnya berubah serius.


"Ya ampun Aris..... apa kau berkelahi?" Pekik Widia tepat ketika ia masuk ke dalam kamar Arisa. Tanpa menghiraukan keberadaan Sonya, Widia memeluk Arisa begitu erat dan memanjakannya layaknya ibu pada anak.


"Jadi, aku harap kak Bayu tidak menemuiku lagi. Aku takut kalau--"


"Kau tenang saja Aris. Calon istriku tidak sejahat Clara. Justru dia ingin bertemu denganmu." Bayu menyela cepat setelah Arisa menceritakan semuanya dan hendak memberi peringatan pada Bayu.


"Katanya, dia mengagumimu." Sambung Bayu membuat Arisa mematung.


"Eh.. Rais. Sedang apa kau? Dari tadi fokus pada laptop?" Bayu beralih menghampiri Raisa yang ada di sofa.


"Jangan di ganggu kak. Rais sedang bekerja. Atau kau akan kena pukul." Ucap Arisa memperingatkan.


"Aih... sedang sakit masih bekerja?"


"Jahitanku sudah membaik. Apa salahnya aku mempersiapkan agenda kak Tio besok."


"Wah anak rajin. Tak seperti yang di sana ya? Maunya di manja sama ayang." Ejek Bayu yang melirik pada Arisa dengan lirikan mengejek.


"Kalau Juju tidak meninggal, mungkin sudah aku suruh untuk membunuhmu kak." Ucap Arisa dengan nada dingin tanpa menoleh pada Bayu sedikitpun.


"Sudah jadi presdir, kau jadi menakutkan Aris." Bayu sedikit merinding melihat Arisa yang sekarang.


Dari luar terdengar suara percakapan bapak-bapak yang semakin mendekat. Seina beranjak dan beralih ke pangkuan ibunya yang berada di sofa seberang Raisa.


"Ayah...." panggil Seina ketika Danu memasuki kamar.


"Apa ini putrimu yang kecil itu?" Tanya Arya yang terfokus pada keberadaan Seina.


"Iya. Saat kita dinner di sini beberapa tahun yang lalu, dia masih berusia 5 tahun. Sekarang sudah 10 tahun." Jawab Danu mengelus kepala Seina dengan lembut.


"Sudah besar ya? rasanya baru kemarin aku melihatnya di gendong kakaknya." Arya ikut mengelus kepala Seina dengan gemas.

__ADS_1


. Malam sudah larut, saatnya para tamu untuk pulang. Rayyan memberikan kecupan ringan pada Arisa sebelum ia meninggalkan wanita teristimewanya itu.


"Hehhhhhh dapat kecupan ya..." ejek Raisa dari tempat tidur. Arisa mendelik sembari menutup pintu lalu menghampiri Raisa yang sudah berbaring.


"Kenapa mama menyuruhku tidur disini?" Tanya Raisa dengan suara pelan.


"Entah. Kau saja tak tahu, apa lagi aku." Arisa ikut berbaring di samping Raisa, lalu keduanya diam dalam kecanggungan.


"Hei Rais." Lirih Arisa memecah keheningan.


"Hemmm.."


"Apa lukamu sakit?"


"Kenapa kau bertanya?"


"Karena saat melihatmu terkapar dan berusaha mengejar walaupun kau tahu tak akan sampai, pada saat itu hatiku terasa tertusuk pisau. Padahal yang tertusuknya pinggangmu." Semula Raisa terdiam dan termangu mendengar ungkapan Arisa, namun kini ia tersenyum menanggapinya.


"Itu mungkin ikatan batin. Bagaimana pun, kita tetaplah anak kembar. Lalu, apa kau juga tahu? Hatiku lebih sakit dari pada lukaku saat melihat keadaanmu yang babak belur begini. Rasanya aku ingin membunuh Clara sekarang."


"Tapi aku tak mau punya kembaran pembunuh."


"Kau senang melihatku begini?"


"Bukan begitu Aris. Tapi maksudku, dengan keadaanmu ini, kau ada di rumah sekarang."


"Maafkan aku Rais. Jika saja aku tak memintamu untuk menemaniku ke parkiran, mungkin kau tak akan terbawa menjadi korban. Dan maaf juga malam itu aku berbohong. Sebenarnya ponselku ada di kantong gaunku. Aku ke parkiran untuk mencari bunda. Karena kata pelayan di acara itu, bunda mencariku. Aku pikir bunda memang menyusulku karena kak Rega juga ada di sana. Tapi ternyata itu jebakan. Saat aku tanya pada bunda, dia dan kak Reza ke sini kemarin."


"Dan berkat ponselmu itu, kak Seno bisa mengikuti jejakmu. Karena kata kak Seno, pria yang kau sebut kak Rega itu mendapati petunjuk lokasimu masih aktif. Jadi dia bergegas mengejarmu."


"Aku benar-benar minta maaf Rais. Andai saja aku tahu..."


Melihat penyesalan Arisa, Raisa tersenyum tipis, hati kecilnya merasa bahagia karena Arisa sangat mempedulikannya.


"Apa kalian berdua belum tidur?" Tanya seseorang dari arah pintu.


"Mama?" Pekik keduanya yang menoleh bersamaan.

__ADS_1


"Sudah minum obat?" Keduanya mengangguk menanggapi.


"Rais sudah ganti perban?" Rahma beralih menatap Raisa yang mendadak gugup lalu ia cengengesan tak jelas.


"Ishhh kau ini luka itu jangan di biarkan. Apa lagi masih basah begini. Baru juga dua hari." Gerutu Rahma sembari mengambil alat medis di atas nakas lalu mengganti perban yang menutupi luka jahitannya.


"Aih... kata Rais tadi sudah kering." Cetus Arisa ikut menimpali saat melihat kondisi luka Raisa.


"Diam kau Aris."


"Tuh ma... Rais berbohong."


Raisa semakin geram dengan tingkah Aris yang mengadukannya. "Arissssss aku bilang diam..."


"Kamu juga diam Rais." Tegur Rahma berhasil membuat si kembar diam tak bersuara lagi. Ketika Rahma hendak kembali keluar, langkahnya terhenti saat melihat tatapan Arisa yang penuh arti.


"Kau mau mama disini?" Arisa mengangguk manja menanggapi. Dan tanpa pikir panjang, Rahma naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di antara kedua putrinya. Arisa dan Raisa tak ingin melewatkan momen ini karena keduanya yang sudah dewasa, mereka memeluk Rahma dengan erat lalu terlelap memasuki dunia mimpi.


. "Dokter dekat dengan Putri?" Dimas melirik sejenak lalu kembali fokus pada pemeriksaannya terhadap Rega.


"Putri?"


"Emm maksud saya Arisa."


"Ohh Aris? Bukan dekat lagi. Kami sangat dekat."


"Apa dokter mantan pacarnya?" Dimas kembali terhenti, ia tersenyum tipis sembari menggeleng pelan membuat Rega semakin penasaran.


"Aku... emmm bagaimana bilangnya ya?"


"Simpanan?" Cetus Reza begitu saja. Karena di pikirannya tak ada hal lain selain kata simpanan.


"Aris itu setia. Dia tak pernah berpaling kalau sudah punya satu lelaki di hidupnya. Aku dekat dengannya pun karena sebuah alasan. Lagi pula, dulu dia itu pacar mendiang adikku."


"Ohhhh.... oh iya. Kapan saya bisa pulang?"


"Jika pulang sangat tidak di izinkan untuk sekarang, tapi jika anda ingin kembali ke Bandung, kami dari rumah sakit ini bisa membuatkan surat rujukan. Bagaimana?"

__ADS_1


"Emmm bagaimana ya? Ternyata sama saja harus di rawat. Tak apa dok. Disini saja, sekalian memastikan Arisa baik-baik saja" Dimas termangu, ia penasaran sebenarnya apa hubungan Arisa dengan pasiennya ini.


-bersambung.


__ADS_2