TAK SAMA

TAK SAMA
184


__ADS_3

. Setelah sampai di kota Jogja, Arisa dibuat terkejut saat mendapati Fabian yang menunggu mereka di bandara.


"Hai Aris." Balas Fabian dengan percaya diri menyapa Arisa didepan Rayyan.


"Kenapa kak Bian disini?" Tanya Arisa yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Kebetulan, kalian menginap di hotel baruku." Jawab Bian terkekeh dengan ekspresi kegirangan. Bisa di tebak Bian senang karena pertemuannya dengan Arisa.


"Ehemmm maaf calon suaminya disini." Sindir Rayyan melirik sinis pada Bian yang hendak kembali bicara namun urung karena sindirannya.


"Maaf. tapi sebelum dia dekat denganmu, Aris dekat denganku lebih dulu. Iyakan mantan calon kakak ipar?" Bukan hanya Rayyan dan Arisa yang terkejut, semua yang ada disana pun merasa Bian sudah berlebihan. Memang niat ingin bercanda, namun jika membawa masa lalu Arisa dalam candaannya, apa lagi di depan Rayyan langsung, besar kemungkinan mereka akan bertengkar.


"Fabian. Ini sudah malam, dan kami ingin istirahat." Ucap Yugito dengan suara tenang.


"Oh.. ba-baik om." Jawabnya langsung bergegas membawa keluarga Putra menuju hotelnya.


. "Bagus juga hotelmu Bian." Puji Tio ketika mereka sudah sampai dan mengembangkan senyum di wajah Bian.


"Belum seberapa jika di bandingkan dengan hotel Pratama kak." Jawabnya kembali terkekeh sembari mengantar satu persatu tamunya ke kamar yang sudah di sediakan.


"Aris. Kau disini." Ucap Bian membukakan pintu untuk Arisa.


"Terima kasih." Arisa berjalan memasuki kamar dan termangu akan kemewahan kamar yang di sediakan untuknya. Dengan percaya diri, Rayyan mengikuti Arisa melewati orang-orang yang masih ada disana.


"Heh... mau kemana?" Tio menarik kerah kemeja Rayyan dengan tatapan sinis dan menekan.


"Hehe... menemani adikmu kak. Kan dia sendiri, aku sendiri. Jadi kenapa tidak sekalian saja--"


"Tidak boleh." Ucap sekeluarga serentak.

__ADS_1


"Ishhh Rayyan. Kalian belum menikah." Timpal Raisa ikut menegur.


"Kau curang Raisa. Kau saja bisa dengan suamimu." Mendengar keluhan Rayyan, Arisa menarik telinga Rayyan membuat Rayyan meringis kesakitan.


"Kau pikir aku wanita apa hah?" Geram Arisa dengan kesal.


"Bercanda sayang bercanda. Aku ingin memastikan keamananmu saja." Ucap Rayyan mengelak mencoba membela diri.


"Sudah... sebaiknya kita ke kamar selanjutnya." Bian menarik Rayyan menjauh dari Arisa dan menunjukkan beberapa kamar lainnya. Hingga dikamar terakhir, Bian sudah merasa merinding berada di depan orang tersebut.


"Kau berniat memisahkanku dengan Risa. Iya kan?" Tanya Rayyan menatap tajam pada Bian yang masih membelakanginya. Perlahan Bian berbalik dan tersenyum penuh kemenangan membalas tatapan Rayyan.


"Memang." Jawabnya tertawa lepas membuat Rayyan semakin geram, dan dengan cepat Bian segera menghindari Rayyan dengan berlari menjauh menuju lift.


"Selamat beristirahat." Ucap Bian setengah berteriak dan begitu senang melihat wajah marah Rayyan.


. Paginya, Bian tak berselera makan karena tekanan aura yang di lemparkan Rayyan untuknya. Bahkan pagi ini, Bian tak boleh berada di dekat Arisa. Jika ketahuan Rayyan, maka Bian akan mendapat pukulan di kepalanya.


"Rayyan. Jangan mengintimidasi orang." Tegur Tio yang kebetulan berada di samping Rayyan.


"Tapi aku masih tidak Rela kak." Balas Rayyan seakan menyimpan sebuah dendam yang tak bisa termaafkan.


"Setelah sarapan, aku akan ikut serta dengan kalian menuju pernikahan kak Bayu." Tutur Bian setelah hening beberapa saat.


"Kau juga datang?" Tanya Yugito.


"Iya om. Kak Bian itu senior saya saat kuliah di Jakarta. Oh iya. Kak Dimas ikut?" Arisa dan Rayyan saling pandang mendapat pertanyaan Bian.


"Aku lupa." Jawab Arisa dengan polos.

__ADS_1


. Singkatnya, setelah sarapan, mereka bergegas menuju tempat acara yang berada di sebuah gedung yang tak jauh dari hotel milik Bian. Ketika mereka turun dari mobil, pandangan Arisa tertuju pada Fabio yang sudah berada di sana dengan terlihat sibuk. Arisa menggandeng tangan Rayyan memasuki gedung dan di ikuti oleh Raisa. Sementara itu, Yugito dan Tio berbeda arah. Mereka seperti menghampiri beberapa orang yang bisa di tebak bahwa mereka adalah pengusaha.


"Aris." Sapa Fabio saat keduanya berpapasan. Arisa hanya menundukkan kepala seraya tersenyum tanpa membalas sapaan Fabio. Karena takut Rayyan semakin cemburu, Arisa memilih untuk menghindari Fabio. Ia pun tak mungkin mengobrol dengan pria lain ketika ia sendiri bersama kekasihnya. Dan juga, pasti istri Fabio ada di acara itu.


Saat Arisa dan Rayyan berada tak jauh dari pelaminan, Bayu melirik ke arah mereka dan melambaikan tangan dengan senyum yang mengembang teramat bahagia. Entah karena pernikahan, atau karena kehadiran Arisa.


Arisa dan Rayyan menghampiri Arya dan istrinya yang berada di kursi untuk kedua orang tua mempelai. Dengan tangis haru, Arisa di peluk erat oleh wanita yang dulu sempat akan menjadi mertuanya.


"Anakku... mama rindu nak." Ucapnya melepas pelukan dan tangannya mengelus wajah Arisa yang ikut menangis haru.


"Kau sudah ingat kami nak?" Tanya Arya ikut bertanya.


"Sudah om. Aris sudah ingat." Jawab Arisa dengan senyum yang begitu manis.


"Syukurlah nak." Arya ikut terharu lalu memeluk Arisa dengan membisikan sesuatu. Arisa tersenyum dan mengangguk lalu mencium tangan kedua orang tua Bayu tersebut.


Kemudian Arisa dan Rayyan beralih menghampiri Bayu yang sedari tadi menunggu mereka.


"Sudah sah ya kak?" Tanya Arisa dengan nada ejekan membuat Bayu terkekeh lalu mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Arisa. Tanpa di duga, Bayu memeluk Arisa dan Rayyan dengan erat sembari terisak tak bisa menahan tangisnya. Dan tanpa di duga pula, istri Bayu tertegun karena Arisa meraih dan menggenggam tangannya tanda agar ia tak marah pada Arisa ataupun pada Bayu.


"Kau merindukan adikmu ini ya? Sampai-sampai kau menangis memelukku." Kembali Arisa mengejek Bayu yang tak berniat menghentikan tangisnya.


"Jaga Aris, dan bahagiakan dia Rayyan. Aku sangat menyayanginya." Lirih Bayu mencoba meredakan tangis yang sedari tadi tak bisa di hentikan.


"Tanpa kau suruh pun, aku akan membahagiakan dia. Perasaanku lebih besar dari pada kau Bayu. Jangan khawatir, aku tak akan membuatnya menangis." Balas Rayyan menyisakan rasa lega namun bersamaan dengan itu, ia merasa sesak karena ia lebih dulu menikah dengan orang lain. Setelah Bayu melepaskan pelukan Arisa, Arisa beralih memeluk wanita yang menjadi istri Bayu.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak ya kak. Aku dan kak Bayu hanya teman saja. Lagi pula, aku sudah punya pacar, dan aku tak ada niat pada suami orang." Ucapnya memperjelas agar tak ada kesalah fahaman di antara mereka.


"Tidak Arisa. Kau masa lalunya, dan aku memaklumi. Kau sangat sempurna di bandingkan aku."

__ADS_1


"Aku tidak sesempurna itu kak. Justru kau yang sangat sempurna."


-bersambung.


__ADS_2