
. Keduanya saling menatap, senyuman itu perlahan memudar. Sekilas Arisa melihat bayangan Rama terlintas diwajah Rayyan.
"Seperti itulah." Ucap Arisa kembali tersenyum.
Tanpa mereka sadari, seisi kelas menatap keduanya tanpa berkedip dengan rasa heran, penasaran, aneh, dan kagum. Kecantikan Arisa membuat pria terpesona. Begitupun ketampanan Rayyan yang memikat gadis yang melihatnya. Keduanya terlihat serasi jika dipasangkan membuat seisi kelas menjadi geger. Yang lebih mengherankan, Rayyan dan Arisa terlihat seperti melepas beban yang lama tersimpan. Hal itu dilihat oleh Seno.
"Selamat pagi." Sapa Seno membuyarkan semua lamunan dan pandangan yang tertuju pada sepasang insan yang sedang saling melempar senyuman itu. Semua terkejut kala mendapati Seno yang sudah berdiri didekat mejanya.
"Apa yang sedang kalian lihat sampai kalian tidak menyadari kedatanganku?." Tanya Seno menatap satu persatu murid-muridnya.
Arisa berbalik dan ekspresinya kini berubah dingin seperti biasanya.
"Aris. Melihatku kau begitu dingin, tapi melihat Rayyan, kau tersenyum begitu manis." Sindir Seno membuat Arisa memalingkan wajahnya ke jendela.
"Apa dia tidak bosan terus menatap keluar setiap hari?" Batin Rayyan menatap sebagian wajah Arisa.
"Rayyan. Kau presentasikan hasil tugasmu.!" Tegas Seno tanpa menoleh pada Rayyan, dan fokus pada buku absen didepannya.
Rayyan beranjak dari duduknya dan berjalan kedepan kelas. Menyalakan in-focus dan mempresentasikan hasil tugasnya.
*perusahaan Artaris.
. Tio Riyandi Putra. Directur. Itulah ukiran yang terukir dan disimpan diatas mejanya.
Tio sedang menatap layar laptopnya, mengecek beberapa dokumen hasil laporan dari bawahannya.
"Apa kau sibuk?" Tanya gadis yang baru saja membuka pintu.
"Tidak terlalu." Jawab Tio tersenyum saat menoleh kearahnya. "ada apa?" Tanya Tio beranjak dari duduknya dan beralih duduk disofa.
"Aku hanya ingin memberikanmu ini. Aku membuatnya untuk makan siang nanti." Jawab Diana yang ikut duduk disamping Tio.
"Terimakasih." Ucap Tio memberi satu kecupan didahi Diana.
"Apa Arisa dirumah? Aku ingin menjenguknya." Diana menatap mata Tio yang sayu menatapnya.
"Arisa kuliah... sepertinya dia bosan jika terus dirumah." Jawab Tio memainkan rambut Diana.
"Maafkan aku yang sibuk akhir-akhir ini. Aku tidak punya waktu untukmu." Diana menunduk dengan rasa bersalah.
"Tidak... kau tak perlu meminta maaf. Aku senang kondisimu baik-baik saja. Padahal jadwal pekerjaanmu sangat padat saat ini.
"Terimakasih sudah mengerti..." Diana tersenyum merasa dirinya sosok wanita paling beruntung bisa mendapatkan pasangan yang mengerti tentangnya. Apapun itu.
Meskipun pada awalnya, hubungan mereka didasari keterpaksaan dan sandiwara semata. Dimana Tio membiarkan dirinya untuk menjadi bahan pelampiasan kesedihan Diana yang diputuskan oleh Seno karena kehadiran Lusi. Tio bersedia jika pundaknya menjadi tempat bersandar bagi Diana, meskipun tahu Diana tidak mencintainya. Namun, semakin lama perasaan keduanya bukan sekedar melampiaskan kekesalan karena patah hati. Namun karena memang keduanya takut kehilangan satu sama lain.
. Siang hari, saat jam makan siang, Wina mengajak Arisa makan dikantin. Wina dan Arisa duduk dibangku pinggir dengan saling berhadapan.
"Sepertinya suasana hatimu sedang sangat baik nak." Sindir Wina dengan senyum tipis.
"Biasa saja." Jawab Arisa dengan dingin.
"Apa kau berpacaran dengan Rayyan?" Tanya Wina membuat Arisa tersedak.
"Apa maksudmu?" Tanya Arisa menyernyitkan dahinya menatap tajam pada sahabatnya.
"Jika kalian tidak berpacaran, mengapa kalian saling tersenyum dan bertatapan layaknya sepasang kekasih. Dan dirimu yang sekarang bukan type orang yang ramah pada setiap orang. Kau tidak seperti dulu, yang ramah, hangat, ceria. Jadi, apa artinya senyuman tadi jika bukan itu alasannya?." Arisa terdiam lalu meletakkan alat makannya setelah mendengar apa yang diucapkan Wina.
"Aku tidak tahu Wina... aku sendiri tidak mengerti. Tapi rasanya aku melihat ada Rama pada Rayyan." Jelas Arisa membuat Wina semakin heran.
"Ayolah Aris... lupakan Rama. Biarkan dia tenang. Dan biarkan hatimu terbuka untuk yang lain." Wina meraih pundak Arisa seraya menasehatinya.
"Tidak semudah itu Wina... Jika aku bisa berandai, seandainya Rama tidak mengidap penyakit itu, mungkin dia masih disini sekarang." Ucap Arisa mulai berkaca-kaca.
"Cukup. Aku mengerti perasaanmu. Jadi jangan diteruskan. Maafkan aku." Ucap Wina berusaha menyudahi percakapan.
__ADS_1
Arisa tersenyum menanggapi Wina.
Yang mereka tidak tahu, ada seorang pria yang tak sengaja mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Dalam waktu singkat, aku sedikit tahu tentangmu." Batin Rayyan yang pelan melahap makanannya.
*kediaman keluarga Yugito.
. Mama terlihat sibuk hari ini, merangkai bunga dibantu beberapa pelayan, termasuk bi Ina.
"Bunga ini untuk apa bu?" Tanya salah satu pelayan.
"Untuk hiasan dikamar Raisa dan Arisa." Jawab mama tersenyum.
"Tapi bu... non Arisa tidak menyukai warna merah, itu terlalu mencolok dan--"
"Bibi tahu apa tentang Arisa?" Mama menyela sebelum bi Ina menyelesaikan pendapatnya.
"Maaf bu." Bi Ina menunduk. Pelayan lain saling lirik namun tak berani memperlihatkan rasa penasarannya. Sikap Nyonya besarnya sangat berbeda pada Bi Ina. Padahal dari dulu, bi Ina adalah pelayan yang sangat dipercaya oleh nyonya besar mereka.
Semua pelayan maupun mama tidak ada lagi yang berbicara sampai rangkaian bunga itu selesai. Mama menyuruh beberapa pelayan untuk meletakkan dikamar kedua putrinya.
Diwaktu yang bersamaan, saat hendak kembali kekelas, Arisa merasa sakit didadanya. Kini rasa mual mulai mengganggunya. Arisa segera pergi ketoilet diikuti Wina.
Arisa menunduk di wastafel, berharap apa yang membuatnya mual itu keluar. namun Arisa benar-benar terkejut ketika mendapati darah yang keluar. Dan lagi-lagi hidungnya mimisan. Tapi Arisa merasa lega karena Wina menunggunya diluar.
Rasa panik menyelimuti perasaan Wina. Menunggu Arisa yang tak kunjung keluar dari toilet. Wina hendak menyusul Arisa, namun Arisa lebih dulu menemuinya.
"Syukurlah... kau baik-baik saja.?" Arisa mengangguk meyakinkan.
"Asam lambungku naik lagi." Ucapnya menutupi kenyataan bahwa kondisinya benar-benar tidak baik-baik saja sekarang.
"Sudah kubilang, jangan memakan pedas lagi, dan mie instan juga." Ucap Wina kesal memperingatkan.
Sebisa mungkin Arisa harus bisa menyeimbangkan langkahnya dan mempertahankan kesadarannya.
Sampai dikelas, Arisa langsung terduduk lesu dibangkunya.
Rayyan memasuki kelas, dan pandangannya langsung tertuju pada Arisa.
"Apa dia sakit lagi?" Tanya Rayyan yang tiba-tiba pada Wina, hingga Wina terkejut mendengarnya.
"Sepertinya begitu..." jawab Wina khawatir lalu berjalan dari bangkunya menuju Arisa.
"Aris.... kau pulang saja... aku khawatir jika kondisimu semakin melemah." Ucap Wina penuh kekhawatiran.
Arisa hanya menggeleng dan tersenyum.
"Jika sekarang aku pulang, aku mungkin tidak akan tahu lagi bagaimana rasanya kuliah. Aku takut waktuku tidak banyak." Jawab Arisa pelan yang hanya terdengar oleh Wina.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak suka. Berhenti berbicara yang aneh-aneh!" Ucap Wina kesal kemudian memeluk erat Arisa yang masih terduduk.
"Terimakasih Wina... aku beruntung memiliki teman sepertimu." Arisa tak bisa menarik senyumnya kala merasakan kehangatan dari sahabatnya itu.
"Selamat siang!" Ucap dosen yang baru saja masuk. Wina terkejut dan kembali kebangkunya. Memberi isyarat bahwa Arisa jangan macam-macam, dan Arisa hanya mengangguk.
"Arisa sudah sembuh.?" Tanya dosen itu menatap Arisa. Arisa mengangguk menanggapinya.
Pelajaran perlahan dimulai, namun Rayyan terus melirik kearah rambut Arisa.
"Sejak kapan aku merasa khawatir pada orang lain selain adikku." Batin Rayyan dengan nafas kasar.
"Kenapa Rayyan? Apa kau kesal?" Tanya dosen menyernyitkan dahinya.
"Tidak pak. Saya mengantuk." Jawab Rayyan dengan dingin.
__ADS_1
Dosen hanya mengangguk saja, lalu melanjutkan teorinya.
. Saat jam pulang, Wina menggandeng tangan Arisa.
Tiba-tiba Rayyan mensejajarkan langkahnya dengan Arisa, membuat Arisa dan Wina berhenti lalu menoleh bersamaan padanya dengan wajah heran. Rayyan melirik keduanya lalu memalingkan pandangannya.
"Bukankah kita ada janji?" Tanya Rayyan tanpa menoleh kembali.
"Janji?" Arisa menyernyit. "Ahhhh iya. Apa harus sekarang?" Tanya Arisa pada Rayyan.
"Janji?" Wina terheran, lalu tiba-tiba tersenyum senang seperti mengejek Arisa.
"Berhenti berfikir macam-macam." Tegas Arisa. Namun tidak menghilangkan kecurigaan Wina pada Arisa.
"Atau kau sedang sibuk?" Tanya Rayyan lagi.
"Tidak juga. Tapi kakakku sudah menunggu." Jawab Arisa.
"Baguslah. Sekalian aku yang meminta izin." Ucap Rayyan mendahului. Arisa hanya terdiam mengikuti langkah Rayyan didepannya.
Rayyan terhenti tiba-tiba membuat Arisa menabrak punggung Rayyan. Pandangannya kembali kabur, namun Arisa menahan sekuat tenaga agar tidak pingsan.
"Yang mana kakakmu?" Tanya Rayyan melihat satu persatu mobil yang terparkir.
"Mobil Mercy putih." Jawab Arisa mengelus dahinya.
"Ahh... yang itu." Rayyan kembali berjalan meninggalkan Arisa. Kepalanya terasa berputar. Wina dengan berat hati berpisah dengannya digerbang.
. Terlihat Rayyan dan Tio berbincang, sesekali Tio melirik kearah Arisa yang berjalan mendekatinya.
"Kau baik-baik saja?" Tio meraih pipi Arisa yang masih terasa hangat. Arisa mengangguk dengan sedikit senyum.
Betapa hatinya tersayat saat mengingat perbedaan sikap kedua adiknya. Arisa yang jarang sekali tersenyum, sedangkan Raisa sangat ceria setiap harinya.
"Baiklah. Tapi jaga adikku." Tegas Tio dengan nada menekan.
Rayyan mengangguk lalu menyuruh Arisa menunggunya disana dan berlari ke parkiran khusus mahasiswa.
"Kakak mempercayainya?" Tanya Arisa meski tidak peduli, namun terus mengganggu pikirannya.
"Kakak percaya. Dia berbeda dengan Seno." Jawab Tio berdecih kesal.
"Kak Seno?" Arisa menyernyitkan dahinya.
"Iya... bukankah dia sepupu Seno?"
"Benarkah?" Tanya Arisa merasa tak percaya.
"Kau membicarakanku?" Tanya Seno yang tiba-tiba dari belakang Arisa.
Tak lama, Rayyan berhenti didepan mereka, keluar lalu membukakan pintu untuk Arisa.
"Cepat sekali kalian akrab." Ejek Seno pada Rayyan. Rayyan sengaja menginjak kaki Seno saat melewatinya.
"Dasar kau kurang ajar. Aku dosenmu." Umpat Seno yang ditanggapi acuh oleh Rayyan.
Mobil Rayyan melaju meninggalkan area kampus. Namun kedua pemuda itu masih bersandar didepan mobil Tio.
"Aku harap mereka benar-benar menjadi pasangan." Ucap Seno menatap jalanan yang sedikit terlihat olehnya.
"Yang aku harapkan Arisa bisa bahagia. Dengan siapapun itu, asalkan dia memperlakukan adikku dengan baik. Karena aku tak akan selamanya berada disisinya." Ucap Tio dingin menoleh pada Seno.
"Yaaa... semoga saja Rayyan bisa membuat adikmu bahagia." Seno tersenyum
-bersambung.
__ADS_1