
. Acara pernikahan berlangsung meriah, dengan tegar, Diana ditemani Tio memberi selamat secara langsung pada kedua mempelai.
"Selamat ya... semoga kalian bahagia selalu." Ucap Diana dengan menutupi kegugupannya.
"Terima kasih. Gaun yang kau rancang sangat cantik." Ucap Lusi sesaat setelah mereka saling memeluk dengan erat.
"Syukurlah jika kau suka." Diana tak bisa menahan rasa senangnya jika gaun rancangannya sangat disukai oleh customer.
"Gaun itu cocok untukmu. Kau sangat cantik." Puji Tio dengan tulus menatap Lusi yang tersipu.
"Terima kasih atas pujiannya tuan Tio Putra." Ucap Lusi seakan sangat menghormati Tio. Kemudian Tio dan Diana beralih pada Seno.
"Sen... selamat ya..." Seno hanya mengangguk sambil melemparkan senyum paksa menanggapi ucapan Tio.
"Relakan Diana untukku." Bisik Tio yang langsung ditelinga Seno.
"Tolong..." lirih Seno yang hanya terdengar oleh Tio didekatnya. Tio menatap lekat seakan bertanya 'apa?'
"Jaga dia baik-baik. Aku percaya kau tak akan menyakitinya." Lirihnya lagi dengan menatap harap bercampur sendu pada Tio.
"Tanpa anda suruh, saya akan membahagiakannya." Balas Tio tersenyum puas.
"Yayayaya terserah kau..." Seno mendelik kemudian menatap pada Diana yang kini berada dihadapannya. Seno semakin tajam menatap Diana yang tersenyum kearahnya. Rasanya ingin sekali memeluk gadis yang tak pernah ia hapus namanya dari hati dan doanya.
"Di..." lirih Seno yang tak bisa lagi berkata-kata. Lidahnya kelu seketika saat ingin menjelaskan yang sebenarnya.
"Aku sudah tahu semuanya." Ucap Diana cukup mengejutkan Seno. Seketika Seno berpikir bahwa tujuan ibunya menemui Diana adalah untuk menjelaskan hal yang itu agar tak ada kesalah fahaman diantara mereka.
"Maaf..." lirih Seno yang menundukan pandangannya menghindari kontak mata dengan Diana. Karena semakin dalam Seno menatap Diana, semakin dalam pula perasaan yang lama tersimpan untuknya.
"Tak apa.. semua sudah berlalu. Dengan kita berpisah, aku menemukan rumahku yang sesungguhnya." Ucap Diana kemudian menggandeng tangan Tio didepan Diana. Seno semakin sendu menatap Diana yang mungkin lebih bahagia daripada dirinya.
"Tio... Lusi.. aku ingin memeluk Diana sebentar saja. Untuk yang terakhir kali." Ucap Seno dengan berani dan berhasil membuat Lusi menatap tajam padanya.
"Salam perpisahan saja." Ucapnya lagi. Perlahan Tio melepaskan tangan Diana darinya. Diana menoleh kasar dan menatap heran pada Tio yang seakan memberikan dirinya pada Seno, apalagi didepan istrinya.
Secepat kilat Seno memeluk erat Diana dan terdengar suara tangisnya yang seakan sedang frustasi. Terlihat dari pelukannya yang sangat erat tak menginginkan Diana pergi. Tio memalingkan wajahnya kemudian menepuk pelan pundak Seno. Diana terdiam, air matanya mengalir begitu saja, tubuhnya mematung berada dipelukan Seno. Tangannya perlahan ia angkat dibelakang tubuh Seno dan hendak membalas pelukan Seno. Namun Diana menghentikan niat itu, dan kemudian mengepalkan tangannya dan membenamkan wajahnya di pundak Seno.
"Maaf..." pekiknya mendorong tubuh Seno yang seketika terduduk di pelaminan. Diana berlari menarik tangan Tio menjauhi area pelaminan. Raisa dan Arisa yang melihat itu ikut menyusul Diana menuju luar gedung.
"Kak..." panggil Raisa yang setengah berlari menghampiri Diana. Diana mematung tak menanggapi panggilan Raisa.
"Aku ingin pulang Tio..." ucap Diana yang masih berdiri dengan wajah datar namun air mata yang berderai.
"Baiklah sekarang kita pulang." Tio meraih Diana pada dekapannya. Ia hanya bisa menuruti apa yang diinginkan Diana untuk saat ini.
__ADS_1
"Kak Diana..." panggil Arisa dengan suara pelan. "Aku ingin berbicara sebentar. Berdua saja." Lanjutnya saat Diana terhenti.
"Baiklah.. mau bicara dimana?" Tanya Diana yang mengusap wajahnya perlahan dan melemparkan senyum manisnya agar terlihat tenang.
"Di sana saja." Arisa menunjuk taman yang berada didekat parkiran khusus mobil.
"Ya sudah..." Diana dan Arisa berjalan beriringan menuju taman itu, sementara Tio dan Raisa hanya berdiri dengan rasa penasaran yang teramat di benaknya. Apa yang Arisa bicarakan? Itu mungkin pertanyaan yang muncul di benak Tio dan Raisa.
Diana dan Arisa duduk berdampingan, kemudian dengan tiba-tiba, Arisa menyandarkan kepalanya di bahu Diana.
"Apa akan seperti kakak juga hancurnya perasaanku saat melihat Aray dan Raisa bersanding nanti?" Tanya Arisa dengan lirih dan terdengar ia menahan diri untuk tidak menangis.
"Kau mencintai Aray?" Tanya Diana tak kalah lirih.
"Sangat." Jawabnya singkat.
"Lalu?"
"Aku harus melepaskannya. Demi Raisa."
"Demi Raisa?" Diana terkejut dan sekaligus heran mendapati jawaban Arisa barusan.
"Maksudnya?" Diana menatap Arisa semakin dalam dengan penuh rasa penasaran. Mengapa Raisa?
"Lalu bagaimana dengan Fariz? Bukankah dia pacar Rais?"
"Aku akan bicara pada kak Fariz nanti. Jika aku dengan Aray pun, Oma tak akan menyetujuinya. Aku merasa, Oma tidak sungguh-sungguh memberi restu pada Aris dan Aray."
"Apa secepat itu? Kau akan menyerah begitu saja?"
"Aris tidak menyerah kak. Aris akan tetap mencintai Aray sebagaimana Aray mencintai Aris. Tapi Aris ingin Rais juga mendapatkan cintanya. Meski dengan kak Fariz hanya terpaksa, Rais pasti tak akan bahagia. Aris tak ingin itu terjadi. Lagi pula Aris ingin berusaha mencintai kak Bayu."
"Aris... kakak tak tahu harus bicara apa, tapi sungguh kakak tak ingin melihatmu terluka. Cukup kakak saja yang merasakannya." Ucap Diana dengan sedikit penegasan disetiap katanya. Diana menyadari bahwa dibelakangnya ada seseorang yang berdiri dan seakan enggan menghampiri mereka.
"Sudahlah... jangan berpikir yang tidak-tidak. Sekarang kalian jalani saja alurnya, siapa tahu nanti ada suatu kebahagiaan yang sedang menunggu kalian. Aray mencintaimu. Kakak yakin dia akan membahagiakanmu." Tutur Diana lagi dengan suara lebih keras agar Rayyan tak salah faham. Meskipun yang di bicarakan oleh Arisa itu semuanya benar.
"Risa..." panggil Rayyan setengah berteriak. Arisa berbalik menoleh menatap Rayyan yang mematung dibelakangnya.
"Aray? Se-sejak kapan?" Pekiknya dengan terkejut.
"Aku harap Aray tak mendengar rencanaku." Batin Arisa memalingkan pandangannya dari Rayyan.
"Bunda ingin bertemu." Ucap Rayyan yang beralih ke depan Arisa, lalu duduk di sampingnya.
"Hei kak... melihat mantan menikah itu sakit sekali ya?" Tanya Rayyan kemudian dengan menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Tapi lebih sakit jika melihat pacar kita mencintai orang lain kan?" Tanyanya lagi membuat Arisa menoleh kasar kearahnya.
"Apa sayang?" Tanya Rayyan melempar senyum dan menggoda Arisa yang mungkin merasa tersindir.
"Kau masih mengungkit itu? Apa aku harus menegaskan kembali?" Arisa memalingkan wajahnya dengan kesal lalu beranjak berdiri dan menghadap pada Rayyan dengan wajah datar.
"Aku tegaskan. Jika Rama masih disini, aku tak mungkin menerima kehadiranmu. Sekalipun aku sangat mencintaimu, tapi aku tak akan pernah berpaling darinya." Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Rayyan dan Diana yang masih duduk di tempatnya.
"Aris..." panggil Diana yang hendak menyusul namun ditahan oleh Rayyan.
"Rayyan. Jangan dianggap serius ucapan Aris. Dia hanya kesal saja. Tidak serius mengatakannya."
"Aku tahu." Ucap Rayyan yang ikut beranjak dan dengan santai menyusul Arisa ke dekat mobil Tio.
"Aku ingin pulang." Ucap Arisa dengan tiba-tiba membuat Raisa dan Tio menjadi heran.
"Kenapa Aris? Diana memarahimu?" Tanya Tio yang meraih tubuh Arisa dan menatapnya begitu dalam.
"Aris tak enak badan kak... ingin istirahat." Jawab Arisa yang meraih lehernya dan bersikap seolah dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Ya sudah... kakak antarkan." Ucap Tio yang bersiap untuk membukakan pintu. Dengan cepat Arisa menahan agar Tio tak melakukan itu. Dan seketika Tio menyernyit dengan yang dilakukan Arisa.
"Aku ingin menemui bunda dulu." Ucap Arisa yang beranjak dengan tergesa kembali memasuki gedung. Setelah lelah mencari di setiap sudut ruang utama, akhirnya Arisa menemukan Sonya yang sedang sibuk menenangkan Seina yang mungkin ingin bermain dan berlari dengan beberapa teman sebayanya. Terlihat Daffa juga ada didekat Sonya yang duduk sendiri dengan ponsel ditangannya.
Arisa semakin cepat berjalan dan menghampiri Sonya.
"Kakak putri...." teriak Seina memeluk Arisa dengan riang.
"Aris... kau berkeringat." Ucap Daffa yang beranjak dan menghampiri Arisa lalu mengusap dahi Arisa dengan sebuah tissue.
"Oh.. te-terima kasih.." Arisa memalingkan wajahnya dan merasa tak nyaman dengan perlakuan Daffa. Ia berpikir mengapa harus ada cinta di hati Daffa untuknya. Mengapa tidak berteman saja? Mungkin Arisa tak akan merasa canggung jika didekatnya.
Adegan itu diam-diam di abadikan oleh Clara yang kebetulan berada tak jauh dari mereka. Kemudian Clara tersenyum licik berpikir bahwa Rayyan akan menjauhi Arisa setelah ini. Ia beranjak dan mencari-cari keberadaan Rayyan. Ia terkesiap saat Rayyan dengan gagah berjalan semakin dekat kearahnya, dan itu hanya melewatinya saja. Clara sempat mematung sejenak, namun saat sadar, ia berbalik dan mengejar Rayyan lalu menarik tangannya membuat Rayyan menatapnya dengan tatapan tajam dan heran.
"Mau apa lagi kau?" Tanya Rayyan yang tak mengubah tatapannya.
"Apa kakak yakin pada putri Yugito?" Tanya Clara dengan percaya diri. Rayyan semakin heran dengan pertanyaan Clara. Terlihat dari matanya yang kian menyipit menatap Clara.
"Apa kakak akan melanjutkan hubungan kakak dengan dia setelah melihat ini?" Kemudian Clara menunjukan apa yang ia abadikan. Namun, bukannya marah, Rayyan malah tersenyum sinis lalu terkekeh dan tatapan kebenciannya semakin menekan Clara.
"Jika tak tahu apa-apa sebaiknya diam." Ucap Rayyan langsung di telinga Clara. Apa Clara salah orang?
Clara mematung seketika mendapati sikap Rayyan yang diluar dugaan. Clara berdecih kesal lalu memangku tangan dengan angkuh saat melihat Rayyan dengan manis memperlakukan Arisa. Lalu terlihat Rayyan berlalu meninggalkan tempat, dan pergi entah kemana. Tak lama, Arisa pun terburu-buru untuk pergi, dan kebetulan berjalan kearah Clara. Seketika Clara tersenyum licik lalu ikut berjalan seakan berpapasan dengan Arisa. Tak disangka, Clara menabrakkan dirinya pada Arisa hingga keduanya terjatuh dan seolah ia yang terluka. Arisa meringis kesakitan meraih dadanya yang berdenyut semakin menyakitkan.
-bersambung
__ADS_1