
. Arisa kembali menoleh ke belakang mencari keberadaan ayah dan ibunya.
"Aku mau mencari ayah. Kalian berdua saja." Ucap Arisa yang hendak meninggalkan Raisa dan Fariz.
"Ehhh mau kemana? Temani aku." Raisa menarik Arisa hingga Arisa terhenti dan terdiam dengan gugup.
"Tak apa Arisa.. kamu gabung saja." Ucap Fariz ikut membujuk agar Arisa ikut.
"Oh... selamat ulang tahun untuk kalian." Ucap Fariz lagi mengacak rambut Raisa dan menepuk pipi Arisa pelan.
"Kadonya." Raisa mengulurkan tangan tanda meminta sesuatu.
"Ambil apa yang kau mau." Jawab Fariz menepuk tangan Raisa lalu menggenggamnya. Dan Raisa menggenggam tangan Arisa disisi lain.
"Oh iya Aris. Katanya kau ingin kakak traktir. Ambil saja yang kau suka." Ucap Fariz yang terus berjalan beriringan tanpa menoleh pada Arisa.
"Tak apa kak. Aku hanya bercanda saja." Jawab Arisa dengan suara pelan. Fariz membawa kedua anak kembar itu berjalan-jalan.
"Kalian pilih saja." Ucap Fariz memberi kode agar keduanya memilih apa yang mereka inginkan. Keduanya memang memilih beberapa dress berwarna kalem dan sesekali saling ejek. Fariz tersenyum melihat kebahagiaan keduanya yang diinginkan Raisa. Beberapa kali Raisa selalu mengeluh padanya karena sikap Arisa yang selalu dingin dan bahkan jarang menyapanya.
"Kak ini bagus tidak?" Tanya Raisa menunjukan sebuah dress berwarna navy selutut dengan sedikit brokat dibagian lengan dan ujung dress nya.
"Hemmm bagus." Jawab Fariz menyesuaikan warna dan model dress yang terhitung sopan itu.
"Kalau ini?" Tanya Arisa menunjukan dress merah pendek setengah paha dan tanpa lengan. Fariz menganga dengan selera Arisa yang terhitung bar-bar. Raisa memukul lengan Arisa dengan keras.
"Simpan lagi. Kau akan diusir dari rumah jika memakainya." Tegur Raisa yang merasa kesal dengan Arisa yang tertawa karena hal itu.
"Siapa juga yang mau memakainya Rais... aku hanya bercanda. Lagi pula jika ada yang membelikan ini, aku tak akan memakainya." Ucap Arisa meyakinkan lalu meletakkan kembali dress seksi itu ke tempatnya.
"Sudah yu..." ajak Arisa yang berlalu sendiri keluar gerai.
"Ehh... kalian tidak membeli?" Tanya Fariz yang terkejut saat Raisa ikut menyusul Arisa.
"Tidak." Jawab keduanya serempak membuat Fariz menyernyit.
"Kenapa?" Tanya Fariz yang masih heran.
"Tak apa... aku hanya ingin jalan-jalan saja." Lanjut Arisa yang berjalan menggandeng tangan Raisa. Fariz menggeleng lalu mengikuti langkah mereka dari belakang. Beberapa pelayan dan petugas memberi sapaan sopan pada Fariz, namun Fariz memberi kode untuk tidak kembali melakukan hal itu. Hanya segelintir orang yang tahu bahwa Fariz adalah pemilik mall yang baru dibuka itu.
Beberapa kali Arisa dan Raisa memasuki sebuah gerai, namun hanya sekedar bermain-main saja. Setelah puas memilih-milih, mereka berlalu begitu saja tanpa membeli satupun barang yang mereka lihat.
Fariz memberi arahan pada seorang pelayan untuk pergi ke gerai dress yang tadi ia kunjungi.
"Kalian bolos kuliah hanya untuk main-main?" Tanya Fariz yang masih memantau dengan santai kelakuan 2 bersaudara itu.
"Kak Tio yang bilang kita tak perlu masuk kuliah." Jawab Arisa polos sambil terus menatap satu persatu perhiasan didepannya.
__ADS_1
"Ini lucu ya Rais." Ucap Arisa menunjuk sebuah anting kecil berbentuk hati.
"Kau suka sekali dengan yang berbentuk hati." Ucap Raisa ikut menatap lekat anting-anting didepannya.
"Dan kau juga suka sekali berbentuk bintang." Ejek Arisa yang masih fokus pada apa yang ia perhatikan.
"Karena bintang itu seperti dirimu." Lirih Raisa tersenyum tipis.
"Hah? Apa?" Tanya Arisa menoleh sesaat pada Raisa yang tersenyum lebar menanggapi pertanyaan Arisa.
"Ehh itu ayah." Raisa beralih menunjuk sang ayah yang berada tak jauh dari mereka. "Aku ingin seperti mereka Aris.." rengek Raisa kemudian.
"Maksudnya?" Arisa menyernyit heran menoleh pada Raisa.
"Selalu bersama sampai tua tanpa ada orang ketiga." Seketika itu pula jantung Arisa mendadak berdegup kencang mendengar penuturan Raisa.
"Andai kau tahu Rais... ada anak gadis yang lain yang memiliki ayah yang sama dengan kita." Gumam Arisa menatap sayu pada kedua orang tuanya. Kemudian Arisa mengingat permintaannya pada mama lalu pergi begitu saja tanpa berbicara apapun pada Raisa.
"Eh Aris tunggu." Panggil Raisa ikut menyusul Arisa. Fariz yang sedari tadi merasa menjadi sebuah figuran disana, dengan santai memangku tangan dan terus mengikuti Raisa dari belakang.
"Mama.." panggil Arisa ragu.
"Ya?" Rahma menoleh lalu tersenyum pada Arisa yang terlihat gugup.
"Mama ingat janji mama semalam?" Tanya Arisa lagi semakin gugup. Takut jika sang ibu akan melupakannya.
"Iya... mama ingat." Jawab Rahma berhasil membuat senyum Arisa mengembang dan memeluknya dengan erat.
"Jika mama denganmu, lalu ayah bagaimana?" Tanya Yugito dengan nada ejekan.
"Dengan ayah juga." Jawab Arisa kemudian merangkul lengan Yugito.
"Ehemmmm aku tidak dianggap?" Tanya Raisa yang ikut dalam suasana suka cita keluarganya.
"Ishh kau ada kak Fariz." Delik Arisa kemudian menoleh pada Fariz yang menghampiri mereka lalu bertegur sapa dengan orang tuanya.
"Om... saya boleh mengajak Raisa?" Tanya Fariz ragu jika tak mendapat izin dari calon mertuanya. Karena hari ini, Fariz sangat menginginkan waktu berdua dengan Raisa.
"Silahkan." Jawab Yugito tersenyum ramah.
"Terimakasih om. Ayo sayang..." Fariz dengan gembira menarik tangan Raisa menjauh dari keluarganya.
"Hari-hati sayang." Ejek Arisa kemudian tertawa kecil.
"Kau mau hadiah apa dari ayah?" Tanya Yugito lagi. Arisa menggeleng sambil melemparkan senyuman pada sang ayah.
"Tidak ayah.. Aris tak ingin hadiah apa-apa. Aris hanya ingin ayah memberi waktu pada Aris untuk bersama dengan Aray sementara waktu. Setelah itu, ayah resmikan perjodohan Rais dan Aray."
__ADS_1
"Tapi nak..."
"Ayah tak perlu memikirkan perasaan Aris." Arisa menyela seolah tak mengizinkan sang ayah untuk bicara.
"Mungkin perasaan Aris pada Aray tak seperti pada Rama. Aris pastikan sebelum lulus, Aris akan menghapus perasaan Aris pada Aray, dan Aris ingin ayah juga resmikan perjodohan Aris dengan kak Bayu agar Aris bisa pergi bersama dengan kak Bayu ke Jogja nanti. Itu akan lebih mudah untuk Aris melupakan Aray." Lanjut Arisa dengan tatapan sendu.
"Aris..." lirih Rahma tak bisa membendung air matanya dan meraih pipi Arisa dengan lembut.
"Ma... hanya ini yang Aris inginkan. Anggap saja ini permintaan terakhir Aris. Karena Aris tak tahu umur Aris akan sampai kapan, jadi sebelum Aris benar-benar pergi, Aris ingin ayah dan mama tak menolak permintaan Aris ini."
"Apa yang kau katakan nak. Jangan berbicara yang tidak-tidak." Rahma semakin kuat menggenggam tangan Arisa dengan perasaan khawatir akan perkataan Arisa yang ia anggap hanya bercanda itu. Tapi melihat wajah serius Arisa, Rahma benar-benar khawatir jika ada yang terjadi pada putri bungsunya.
"Apa kamu juga lupa dengan janjimu?" Tanya Rahma kemudian.
"Apa Aris pernah berjanji?" Tanya Arisa dengan heran seakan tak mengingat apapun.
"Kau berjanji akan menemani mama bukan? Mengapa kau bicara seolah kau akan pergi meninggalkan mama."
"Bukan begitu ma... Aris hanya berpikir--"
"Sudah Aris... ayah tak akan membiarkanmu pergi." Ucap Yugito menyela kalimat yang tak selesai dilontarkan Arisa.
"Sekarang, nikmati waktumu. Ambil apa yang kau suka. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Ini hari ulang tahunmu, jangan kau biarkan pikiran konyolmu itu merusak kebahagiaanmu." Tegas Yugito kemudian.
"Maaf." Lirih Arisa menunduk dan meremas tangannya merasa tidak enak hati. Rahma mengusap punggung Arisa dengan lembut, berharap agar Arisa merasa tenang. Arisa tersenyum menanggapi sang ibu. Ketiganya berjalan-jalan menyusuri setiap gerai dan beberapa kali mampir namun tak membeli. Rahma dan Yugito pun merasa heran, biasanya anak di usia Arisa sangat suka berbelanja dan bahkan menghabiskan uang orang tuanya. Beberapa kali mereka berpapasan dengan anak seumuran Arisa yang banyak membawa barang belanjaan.
"Kau tidak mau membeli sesuatu?" Tanya Yugito yang menghentikan langkah Arisa didepannya. Arisa berbalik sambil melemparkan senyum lebarnya pada sang ayah.
"Tidak. Aris hanya ingin jalan-jalan saja. Ehh ma... bagus ya? Tapi aku sudah punya dress di rumah." Ucap Arisa kemudian setengah berlari menunjuk dress yang dipajang dibalik tembok kaca.
"Kamu mau? Tak apa ambil saja." Ucap Yugito antusias. Mungkin hanya dirinya yang merasa senang saat anaknya ada sesuatu yang diinginkan. Berbeda dengan orang tua yang lain, yang tak nyaman bahkan memarahi anaknya karena ingin sesuatu. Lagi-lagi Arisa hanya menggeleng sambil tersenyum. Rahma menatap lekat pada dress yang di tunjuk Arisa.
"Coba dulu saja." Ucap Rahma membuat Arisa menoleh.
"Tap-tapi..." Arisa menoleh pada dress kemudian beralih pada ibunya.
"Tak apa... ayahmu juga tak akan marah." Ucap Rahma meyakinkan dan membawa Arisa memasuki gerai itu. Rahma bertanya apakah ada stok warna lain atau tidaknya. Namun Arisa hanya ingin warna yang dipajang, yang tak lain adalah warna hijau mint yang terlihat menyegarkan.
Pelayan itu mengambil dan memberikan dress tersebut pada Arisa. Arisa berlalu memasuki kamar pass untuk mencobanya, sementara Yugito dan Rahma melihat-lihat barang kali ada model lain yang lebih cocok untuk Arisa.
Yugito termangu pada dress panjang berwarna putih dengan hiasan corak warna merah muda yang menambah kesan manis pada dress itu. Secara refleks, Yugito meraih dan memberikannya pada Rahma. Rahma menatap Yugito seolah bertanya 'apa ini?'. Yugito memberi kode untuk diberikan pada Arisa.
Tak lama, Arisa keluar dengan memperlihatkan wajahnya saja, lalu ia menampakkan dirinya.
"Bagaimana?" Tanya Arisa yang memutar tubuhnya. Karyawan wanita disana tertegun melihat keanggunan Arisa yang benar-benar membuatnya merasa iri. Bahkan yang berlalu lalang pun sengaja terhenti dan menatap kagum pada Arisa. Seakan Arisa menjadi manekin hidup disana.
"Coba yang ini." Rahma memberikan dress yang dipilih Yugito pada Arisa.
__ADS_1
"Wah... dia sangat mirip denganmu." Ucap Fariz menatap kagum Arisa.
-bersambung