
. "Daffa?" Pekik gadis berambut pirang itu saat menoleh kearah pintu. Bisa dipastikan, melihat raut wajahnya, Daffa pasti mendengar ucapan terakhir yang terlontar dari Wina tentang mendonorkan hatinya.
Daffa berjalan menghampiri Wina dengan wajah yang sulit di artikan.
"Win.. kau jangan bersikap bodoh. Arisa itu temanmu."
"Karena Arisa temanku, aku melakukan ini." Wina menunduk kembali mengingat betapa baiknya Arisa padanya. Dari makan, sampai kebutuhan kuliah. Bukan Wina yang meminta, tapi Arisa yang terlalu peka. Arisa tahu bahwa Wina bekerja paruh waktu sehabis kuliah hanya untuk setidaknya membayar biaya semester. Dalam diamnya, Arisa selalu mendahului Wina membayar kebutuhannya. Sering sekali Wina merajuk karena itu. Tapi, Arisa tetap melakukannya bukan karena ingin menunjukan dirinya kaya dan Wina miskin, tapi karena memang Arisa ingin kebaikannya berguna untuk orang lain. Hingga Wina hanya bisa membiarkan Arisa bersikap sesuka hatinya, dan memikirkan bagaimana cara membayar kebaikan Arisa dengan setimpal. Dan sekarang, mungkin dengan memberikan hatinya pada Arisa, hutang yang selama ini mungkin akan terbayar dengan itu. Walaupun Wina tahu Arisa akan sangat kecewa dan bersedih nantinya.
Daffa menarik Wina keluar dari ruangan Dimas.
"Ada apa dengan mereka?"
"Daffa..." panggil Wina yang masih heran dirinya akan dibawa kemana. Dan akhirnya Daffa berhenti di taman rumah sakit.
"Kau jangan melakukan itu Win."
"Kenapa? Hanya dengan cara ini aku membayar semua utang ku pada Arisa Daf."
"Utang apa?"
"Kehidupanku. Dia selalu membantuku."
"Apa tak ada cara lain?"
"Dengan cara apalagi Daf? Aku yatim piatu yang pergi dari panti asuhan untuk hidup sendiri dan tak ingin membebani orang lain. Aku tak punya apa-apa untuk dibuat jaminan. Tinggalpun aku hanya di asrama kampus. Setiap waktu senggang, aku hanya menghabiskan untuk bekerja. Gaji bulanan ku saja tak akan cukup untuk membayar apa yang sudah Arisa berikan padaku Daf."
"Tapi jangan seperti ini Win... kau satu-satunya teman wanita yang Arisa punya. Apa kau pernah berpikir apa yang Arisa rasakan jika tahu kau meninggalkannya?"
"Tapi Daf...."
"Sudah... jika kau ingin membalas budi, buat dirimu sukses dan bayar dengan kesuksesanmu."
"Daf... aku tak ingin Arisa pergi."
"Kau pikir Arisa menginginkan kepergianmu? Biar aku saja."
Wina menyernyit heran saat Daffa melontarkan kata itu lalu beranjak pergi menemui Dimas kembali. Wina terduduk lesu di kursi taman. Raisa ikut duduk membuat Wina tersentak.
"Aku mengejutkanmu?" Tanya Raisa ketika melihat Wina yang sedikit menggeser.
"I-iya. Aku kira Arisa." Lirih Wina kemudian menunduk tak berani menatap Raisa. Karena baginya kedua anak kembar itu sangat berbeda. Meskipun memiliki wajah yang sama, Wina merasa Raisa seakan berkebalikan dengan Arisa. Raisa tampak memancarkan seorang bangsawan kaya, namun Arisa lebih memperlihatkan kesederhanaan. Wajah dan sorot mata yang teduh, seakan meneduhkan siapa saja yang menatapnya. Sedangkan Raisa memiliki mata yang berbinar, selalu memperlihatkan keceriaan didepan banyak orang.
"Kau menyayanginya?" Wina mengangguk tanpa bicara.
"Kalian berteman sudah lama?"
"Tidak... kami berteman saat sudah memasuki semester kedua."
"Ohh... dia pasti sulit di dekati ya?" Lagi-lagi Wina hanya mengangguk.
. "Ada apa nak? Mengapa kalian bertiga terus menggangguku?" Ucap Dimas yang menghela nafas kesal.
"Bertiga?" Daffa menyernyit mencoba menebak siapa saja yang dimaksud.
"Iya bertiga. Kau, teman Arisa, dan pacarnya itu."
"Rayyan?"
__ADS_1
"Memang pacar Arisa ada berapa?"
"Tak tahu. Yang jelas aku termasuk."
"Kau seakan bicara bahwa Aris memiliki pacar lebih dari satu."
"Itu benar. Karena aku salah satunya." Timpal Bayu yang tengah bersandar pada pintu.
"Sejak kapan kau disana?" Tanya Dimas yang fokus pada sebuah kertas didepannya.
"Hemmm... sepertinya kita akan terus bersaing Dimas." Bayu menghampiri dan berdiri di samping Daffa.
"Aku tidak merasa bersaing denganmu."
"Benarkah?"
Daffa menoleh pada kedua orang dihadapannya secara bergantian dengan rasa penasaran yang hebat.
"Anu..." Daffa mengangkat tangannya dengan wajah gugup.
"Kakak siapa? Apa kakak kenal dengan kak dokter dan Arisa?"
"Pertanyaan yang bagus. Aku teman Dimas, kita satu kampus berbeda profesi namun menyukai hal yang sama." Jawab Bayu masih menatap Dimas.
"Maksudnya?"
"Aku kapten basket, dan dia pun kapten basket. Aku menyukai Arisa, dan dia pun sama. Sayangnya, adiknya lebih dulu mengambil hati Arisa daripada kita." Daffa terkejut mendengar yang di jelaskan Bayu.
"Tapi.. aku dengar satu tahun yang lalu, pacar Arisa itu...." Daffa ragu dan tak melanjutkan kata-katanya.
"Iya. Rama adikku. Dia meninggal satu tahun yang lalu." Dimas setengah berteriak memperlihatkan rasa tak nyamannya.
Daffa semakin merasakan aura penekanan yang sangat kuat. Mereka bukan teman, tapi musuh bebuyutan. Begitu pikir Daffa.
"Jika tidak ada kepentingan, lebih baik kalian pergi dari ruanganku. Aku sedang sibuk sekarang." Dimas menunjuk pintu dengan kekesalan yang semakin menakutkan.
Daffa tanpa bicara langsung beranjak dan meninggalkan dua orang yang tengah berperang batin itu.
"Benar-benar menakutkan." Daffa mengusap dadanya dengan wajah panik setelah menutup pintu.
"Dim... apa Arisa akan sembuh?" Tanya Bayu mendadak lesu ketika menatap Dimas yang terlihat frustasi.
"Aku harap begitu." Jawab Dimas mengusap kasar rambutnya.
"Kau masih menyukainya?" Dimas mendongak lalu membalas tatapan Bayu.
"Tidak." Jawab Dimas singkat dengan memalingkan wajahnya.
"Dimas... ayolah. Sebelum aku resmi menjadi suaminya." Dimas tersentak dan kembali menatap Bayu dengan tatapan bertanya.
"Ayahku sudah melamar Aris untukku. Dan Aris menerimanya." Kini Dimas menyernyit seolah berkata 'kok bisa?'
"Mungkin aku dan Aris sudah berjodoh." Cetus Bayu kemudian berlalu meninggalkan Dimas yang masih terlihat tak mempercayainya. Bagaimana bisa Arisa dengan mudah menerima Bayu. Padahal Dimas tahu seberapa besar cinta Arisa untuk adiknya. Meskipun sudah satu tahun, tapi Dimas masih melihat cinta dari mata Arisa ketika nama Rama di sebutkan.
Bahkan sampai sekarang, Dimas masih belum percaya mengapa Arisa bisa begitu mudah membuka hati untuk Rayyan.
---
__ADS_1
. Rayyan menatap datar pada ponsel miliknya, duduk bersandar diruang tunggu dengan Raisa di bangku yang lain.
Sampai akhirnya Tio menghampiri mereka dan memberitahu bahwa Arisa sudah siuman.
Raisa tanpa pikir panjang langsung berlari dan memasuki ruang VIP khusus pasca operasi. Hening, hanya terdengar suara dari EKG milik Arisa.
Wajahnya pucat dengan bibir sedikit kering. Arisa mengedarkan pandangannya, terasa nyeri di bagian atas perut dan terasa seperti luka sayatan.
"Ugh..." Arisa meraba bagian itu dengan hati-hati. Sangat terasa ada sebuah jahitan yang rapi namun menyakitkan.
Seketika dirinya langsung mengingat orang terdekatnya.
"Rais." Lirih Arisa yang kemudian dipeluk erat oleh Raisa disampingnya.
"Syukurlah...." terdengar Raisa terisak keras.
Perlahan ingatan pada ayahnya mulai membekas kembali.
Terlihat hanya Tio dan Rayyan yang menyusul Arisa.
"Apa ayah marah?" Tanya Arisa yang ikut menangis.
"Apa ayah membenci Aris karena Aris sudah berani merebut Aray dari Rais?" Lanjutnya kembali bertanya dengan menyisakan rasa penasaran bagi Rayyan. Mengapa Arisa berbicara seperti itu disaat dirinya baru sadar dari koma?
"Aris jangan berpikir seperti itu." Ucap Tio menenangkan.
"Buktinya ayah tak ada saat Aris bangun. Kak? Kenapa ada luka sayatan? Apa Aris sudah mati?"
"Cukup Risa. Aku tak tahu apa masalahmu. Tapi jangan berbicara seperti itu dihandapanku." Tegas Rayyan.
"Aray.... maaf. Tapi sebaiknya kau jangan menemuiku lagi." Arisa menyeka air matanya yang kian menderas.
Rayyan masih tak mengerti dengan apa yang Arisa bicarakan dari tadi.
Tak lama, ayah dan mama masuk tanpa bicara. Arisa hendak beranjak namun rasa nyeri di ulu hatinya masih membuatnya meringis kesakitan.
"Jangan dulu bergerak nak. Nanti jahitan operasimu bisa pendarahan lagi."
"Jadi benar?" Arisa menyernyit mendengar operasi. "Mengapa aku di operasi ma? Mengapa mama tak membiarkan aku mati saja?" Rengek Arisa membuat geram ayahnya.
"Berhenti bicara Aris." Tegas ayah yang membuat Arisa terdiam. Bahkan isak tangisnya pun menjadi tak terdengar.
"Ayah ingin bicara." Ucap ayah dengan datar. Satu persatu keluar dari ruangan dan hanya menyisakan ayah dan Arisa di sana.
Ayah menghampiri dan berdiri tepat di samping Arisa. Arisa meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya kuat.
"Maafkan Aris ayah.... harusnya Aris tak menerima kehadiran Aray. Harusnya Aris tak menyukai Aray. Harusnya Aris juga tahu bahwa Aray hanya akan dijodohkan dengan Rais. Maafkan Aris. Aris tidak berniat membuat ayah kecewa dan membuat Rais sakit hati. Jangan benci Aris ayah... Aris tak bermaksud membuat ayah malu karena Aris. Ayah jangan bicara seperti itu pada Aris. Aris tak bisa jika tanpa ayah.. Aris tak punya tempat berlindung selain ayah. Aris menyayangi ayah. Aris--"
"Sudah nak sudah...." ayah membalas genggaman Arisa dan menyeka air matanya yang entah kapan sudah berlinang membasahi pipinya. Rasa sesal yang teramat dalam karena kesalah fahaman dan secara tak sengaja mencoba memisahkan Arisa dengan Rayyan dengan rencana menjodohkannya dengan Raisa.
Mengapa dirinya begitu bodoh tak bisa melihat perasaan anaknya sendiri.
Tamparan itu terus membekas di ingatannya. Rasanya ingin menghilangkan tangan yang dengan gampangnya menyakiti putrinya.
"Ayah yang salah nak. Tak seharusnya ayah berkata seperti itu. Kau putri ayah. Putri kesayangan ayah. Putri kebanggaan ayah. Maafkan ayah yang tak bisa menjadi sosok ayah yang baik untukmu. Hingga Tio yang menggantikan peran ayah. Aku terlalu buruk untuk kau sebut ayah. Aku tak pantas menjadi seorang ayah dari anak yang kuat dan tangguh sepertimu." Kini Yugito tak bisa menahan tangisnya dan sangat terdengar tangis yang begitu menyesakkan.
"Mengapa kau begitu ceroboh? Tidak memberitahu ayah bahwa kau mengidap penyakit yang mematikan. Apa kau membenci ayah hingga kau tak berniat memberitahu ayah. Siapa yang mengajarimu menjadi kuat sendirian nak? Apa karena ayah yang sibuk sendiri sampai tak tahu apa yang kau alami? Terlalu besar kesalahan ayah hanya untuk meminta maaf padamu Aris. Ayah benar-benar menyayangimu."
__ADS_1
-bersambung