
. "Kau gadis pertama yang membuatku khawatir." Gumam Fabio yang berlalu entah kemana.
Daffa memasuki ruangan dengan tergesa sesaat setelah memastikan Fabio sudah jauh.
"Aris... kau baik-baik saja? Apa Fabio menyakitimu?" Arisa menggeleng pelan namun air matanya tak henti berderai.
"Katakan saja Aris... jangan takut."
"Tidak Daf... dia tidak menyakitiku." Jawab Arisa cepat. Niat ingin meyakinkan Daffa, namun malah membuat Daffa semakin khawatir.
"Lalu? Kenapa kau terus menangis?" Bentak Daffa menghentikan tangis Arisa. Arisa menghela nafas dalam beberapa kali dan sesekali melirik kearah pintu. Takut jika Fabio tiba-tiba kembali.
"Aku mengkhianati Aray Daf..." lirihnya yang tak bisa menahan air mata yang memaksa untuk berderai.
"Jadi benar? Kau dan Fabio...." Arisa mengangguk sambil terus mencengkram kuat selimut yang menutupi bagian kakinya.
"Aris.... apa dia mengancammu?" Arisa tersentak. Apa dia terlalu menunjukan kecurigaan Daffa? Harusnya ia tak bicara seperti itu. Tapi terlambat, Daffa sudah menebak bahwa Arisa terpaksa menerima Fabio.
"Kenapa Aris?" Lirih Daffa yang tak bisa menerima kenyataan. Ia mengira bahwa Arisa akan menjadi miliknya jika tak bersama Rayyan. Namun kenyataan ini membuat Daffa semakin putus asa.
"Kau menghancurkan hatiku lagi Aris." Lirihnya kemudian.
"Daffa jangan begitu. Aku mencintai Rayyan. Dan aku menyayangimu. Tapi aku tak bisa menolak Fabio."
"Iya kenapa? Jika ada sesuatu yang berbahaya, jangan menjerumuskan diri sendiri. Libatkan aku. Aku ada untukmu Aris." Tutur Daffa setengah berteriak. Ia benar-benar putus asa sekarang.
"Maaf Daffa maaf..." lirihnya memeluk Daffa dengan erat. Arisa tahu, sebesar apa cinta Daffa untuknya.
. Setiap saat, Arisa selalu menghindari kontak dengan Rayyan, bahkan ketika Rayyan meminta Arisa untuk ke rumahnya karena Seina sakit, Arisa hanya beralasan dirinya lelah dan harus banyak istirahat agar tak sakit. Sebagai gantinya, Arisa meminta Rayyan untuk membawa Raisa saja. Dan itu Rayyan turuti dengan terpaksa. Namun selalu, semuanya terulang sampai Raisa merasa muak karena saat ia ke rumah Rayyan, yang di bicarakan oleh Seina dan bunda hanyalah tentang Arisa. Awalnya Raisa pun ikut menceritakannya, namun semakin lama, ia merasa kehadirannya seakan tidak dibutuhkan. Yang di inginkan hanyalah Arisa saja.
Suatu hari, Rayyan kembali menemui Raisa untuk menemui Seina. Dengan tegas Raisa menolak ajakan Rayyan.
"Raisa... kumohon. Sein benar-benar membutuhkanmu."
"Tidak Rayyan. Sein tak pernah membutuhkanku. Yang ia inginkan hanya Aris. Kau pikir hatiku tidak sakit? Aku disana, tapi rasanya aku tidak ada."
"Raisa..."
"Sudahlah Rayyan. Aku tak ingin menjadi pengganti Aris. Aku ingin dihargai sebagai diriku."
"Ya sudah jika kau tak mau, tak apa." Bukannya membujuk, Rayyan malah membuat Raisa semakin sesak. Raisa benar-benar sudah muak dengan sikap Rayyan yang sangat acuh padanya.
Hingga akhirnya, seusai magang, dengan susah payah Rayyan membujuk Arisa agar bertemu dengannya. Mereka memutuskan bertemu di sebuah taman. Lagi, Arisa enggan menjelaskan maksud dari yang di rumorkan orang-orang. Bahkan terang-terangan Arisa menunjukan kedekatannya dengan Fabio didepan Rayyan. Fabio menjemput Arisa ke titik pertemuannya dengan Rayyan. Meskipun ekspresi wajah Arisa terlihat datar, namun tetap saja Rayyan merasa cemburu.
__ADS_1
Dan tak terasa, persiapan pernikahan Tio dan Diana dipercepat. Arisa semakin gelisah. Ia membujuk Tio agar mengundur pernikahannya. Namun Tio hanya menanggapi dengan candaan, ia hanya berpikir bahwa Arisa belum siap jika berpisah dengan Tio.
"Tenang saja. Kakak akan selalu bersamamu." Ejek Tio mengusap kepala Arisa dengan gemas.
"Bu-bukan begitu kak." Rengek Arisa yang tak tahu harus bicara mulai dari mana. "Aris ingin bicara sebentar dengan kakak." Lanjutnya dengan ragu.
Tio hanya bisa mengikuti keinginan Arisa untuk berbincang dengannya. Ia pun merasa penasaran tentang hubungannya dengan Fabio yang sulit di percaya.
"Fabio tahu tentang hubungan ayah dan wanita lain." Lirih Arisa setelah mengumpulkan niat dan keberaniannya. Tio terbelalak mendengar apa yang dikatakan Arisa.
"Lalu, hubungannya denganmu yang menerima Fabio apa?" Tanya Tio yang masih belum mengerti sepenuhnya.
"Fabio akan menyebarkan berita ini ke media jika aku tidak menerimanya sebagai suami."
"Aishhh Aris... apa yang kau pikirkan. Kenapa kau tak biarkan saja dia melakukannya."
"Aku memikirkan kakak dan ayah."
"Kenapa harus dipikirkan? Dari pada sekarang, kau menderita sendirian."
"Aku takut. Aku terlalu takut menjadi penyebab perpecahan keluarga kita. Aku takut jika aku menolak Fabio, maka karir kakak dan ayah menjadi redup. Semua yang sudah ayah perjuangkan akan hancur begitu saja. Aku takut itu kak." Pecah sudah rasa sesak yang Arisa tahan sejak lama.
"Sejak kapan dan sampai kapan kau selalu memikirkan orang lain, tapi kau sendiri menderita. Aris... berita itu akan booming hanya beberapa waktu saja, setelah itu akan hilang dan terlupakan dengan sendirinya. Sedangkan hidup dengan Fabio, kau mungkin--"
"Apa kau percaya begitu saja? Aris... sudah jangan menyiksa dirimu semakin dalam. Kakak tak ingin hidup tenang jika kau menanggung beban seberat ini."
"Tidak kak. Aku yakin Fabio tak akan menyakitiku."
"Aris.... lagi-lagi kakak tak bisa melindungimu." Lirih Tio merangkul Arisa dengan erat.
Semua rahasia itu hanya Tio yang tahu, sampai hari pernikahan Tio berlangsung, tentu semua tamu undangan datang dari berbagai kalangan. Saat ini Oma Galuh terlihat sangat bersemangat dan berseri karena Rayyan selalu bersama Raisa, sedangkan Arisa hanya bersama Fabio. Fabian tak ada bersamanya karena study di luar kota sesuai yang dikatakannya saat itu.
Lagi, Rayyan meminta Arisa agar ia menjelaskan maksud semua rumor yang tak pernah Arisa tepis. Rasanya Rayyan benar-benar tak percaya dengan kenyataannya.
"Risa... kumohon"
"Apa lagi Aray? Kau akan menikah dengan Raisa kan?"
"Tapi aku hanya menginginkanmu Risa..." Rayyan meraih tangan Arisa dengan menatap harap bahwa Arisa akan kembali padanya seperti dulu.
"Aku sudah punya Fabio Aray. Sudah jangan menggangguku." Arisa menepis kasar tangan Rayyan dan berbalik meninggalkan Rayyan sendiri.
"Kau sudah berubah Risa." Lirihnya tak sedikitpun memalingkan pandangan dari Arisa. Bahkan Rayyan melihat raut wajah sedih Arisa saat Arisa menoleh ke arahnya seakan tak ingin pergi darinya. Rayyan menyipitkan matanya memastikan bahwa yang dilihatnya itu memang benar.
__ADS_1
Sampai akhir masa kuliah, setelah menjalani sidang skripsi, kini akhirnya mereka lulus dan beberapa waktu setelahnya, acara wisuda digelar. Banyak junior wanita yang berebut untuk berfoto dengan Rayyan. Karena bagi mereka, hanya saat ini saja terakhir mereka bertemu Rayyan. Rayyan menoleh sesaat pada Arisa yang tak menunjukkan ekspresi cemburunya sedikitpun. Dengan sengaja, Rayyan menunjukkan sisi manisnya dan mencoba memastikan kembali bahwa Arisa memang tidak cemburu.
Siapa sangka, Arisa beranjak dan berlalu menuju ruang kelasnya. Ia meminta agar para mahasiswa yang sedang berkumpul untuk meninggalkannya sendiri di kelas itu. Bagaimanapun, hati Arisa begitu teriris melihat pria yang ia cintai setelah Rama harus berdekatan dengan gadis lain. Arisa menangis tersedu-sedu dengan menunduk dibangkunya dan hanya di tumpu oleh tangan. Rayyan menghampiri Arisa lalu meraih tangannya, dan seketika itu Arisa mendongak memperlihatkan wajah cantiknya dengan polesan make up yang berderai air mata. Rayyan menatap sendu wajah Arisa yang tak henti menangis. Tangisannya cukup keras, Rayyan merasa bahwa Arisa sedang menahan rasa sakit yang teramat di dadanya.
"Arisa..." lirih Rayyan meskipun lidahnya terasa kelu karena ia kecewa pada Arisa. Arisa beranjak cepat lalu memeluk Rayyan dengan erat sambil terus terisak.
"Kau bahkan tak memanggilku Risa." Rengeknya semakin erat memeluk Rayyan.
"Maaf..." lirih Rayyan lagi membalas pelukan Arisa. Sungguh ia sangat merindukan gadis kesayangannya ini. Setelah sekian lama terasa hilang entah kemana, kini ia memeluknya dengan erat.
"Aku mencintaimu Aray..." Rayyan semakin sendu mendengar pengakuan Arisa. Ia tak tahu harus bagaimana. Setelah ini, ia harus benar-benar menjauhi Arisa.
"Risa... maafkan aku." Rayyan ikut terisak dipelukan Arisa. "Aku sangat mencintaimu. Sungguh aku tak ingin berpisah denganmu." Lanjutnya lagi membuat Daffa tersenyum getir dari ambang pintu dan Citra yang menyeka air matanya karena terbawa perasaan. Ia tahu sebesar apa rasa cinta keduanya.
. Oma Galuh tersenyum begitu bahagia pada Rayyan. Setelah dirumah, terlihat Rayyan yang murung duduk sendiri di taman depan. Sangat mengherankan melihat Rayyan berada disana. Karena setahu mereka, Rayyan tak pernah sekalipun ke taman itu, walaupun sekedar jalan-jalan.
Oma Galuh menghampiri Rayyan dan mencoba untuk kembali bernegosiasi.
"Apa kau ingat janjimu Aray?" Rayyan mengangguk pelan dan tak bersemangat.
"Jadi?" Oma dengan ragu meminta kepastian Rayyan.
"Izinkan Aray bersama Risa sehari saja. Sebagai tanda perpisahan." Ucapnya menoleh pada Oma dengan mata yang berkaca-kaca. Oma sempat terkejut mendapati sisi lemah Rayyan hanya karena Arisa.
"Baiklah. Tapi setelah itu--"
"Sudahlah Oma. Tanpa di ingatkan pun Aray masih ingat. Sekarang biarkan Aray sendiri." Ucap Rayyan menyela dengan menahan diri untuk tidak marah.
. Diwaktu yang sama, Fabio menagih janji Arisa. Dan Arisa mengajukan permintaan terakhirnya yang sama dengan Rayyan. Fabio terpaksa menyetujui meskipun terasa berat. Niat ingin merebut perusahaan Artaris, ia malah terikat pada Arisa yang tak pernah ia duga akan menjadi gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta.
. Esoknya, Rayyan menjemput Arisa setelah mendapat persetujuan dari Oma. Rayyan membawa Arisa ke apartemennya dengan alasan ada sesuatu yang tertinggal. Meskipun janggal, Arisa masih mengikuti Rayyan.
Sampai di apartemen, Rayyan tak bicara lagi dan malah mengunci pintu lalu mencium bibir Arisa dengan kasar. Arisa mendorong Rayyan dan ia berhasil lepas dari Rayyan, namun Rayyan kembali menarik tangan Arisa kembali kedalam pelukannya.
"Bukankah kita saling mencintai?"
"Apa yang kamu lakukan Aray?" Pekik Arisa mulai berkaca-kaca.
"Kita tak ingin berpisah kan? Kenapa tidak kita lakukan saja?" Rayyan menghempaskan Arisa dengan kasar ke tempat tidur.
"Aray... komohon jangan." Pekik Arisa memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetar ketakutan.
-bersambung.
__ADS_1