
. "Kenapa mama kesini?" Tanya Diana yang mengajak Ani dan Tio masuk ke ruang tamu.
"Apa tak boleh kalau mama ingin bertemu?" Ani balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Diana.
"Tidak. Bukan begitu maksudnya. Tapi...."
"Mama sudah bicara pada Tio. Tio tidak keberatan dan kamu lihat, dia sendiri yang mengantar mama." Ucap Ani menyela melihat keraguan Diana.
"Kalian mengobrol saja. Tio izin keluar." Ucap Tio pada Ani yang menanggapi dengan tersenyum. Tio beranjak meninggalkan Ani dan Diana didalam agar keduanya bisa leluasa mengobrol.
. Di kediaman Danu, Rayyan menatap dalam pada bintang-bintang yang bertaburan dilangit malam.
"Apa Risa masih memikirkan Rama? Apa dia masih mencintainya setelah aku berusaha agar dia melupakannya?. Aku tak tahu siapa Rama, tapi aku merasa bahwa aku tak seberuntung dirinya. Risa begitu mencintainya meskipun tahu dia tak akan pernah kembali. Jika saja Rama masih hidup, apa aku dan Risa akan bertemu dan bersama seperti sekarang? Ya Tuhan.... Tolong hentikan waktu dunia saat ini juga agar aku tak menjalani hidupku sampai tahun depan. Dan itu adalah hari-hari menyakitkan untukku. Aku harus meninggalkan Risa dan menikah dengan Raisa. Jelas itu akan menghancurkan hati Risa jika sampai terjadi." Gumamnya tak memalingkan pandangannya sedikitpun.
"Kakek.. apa kakek di sana bertemu Rama?" Gumamnya lagi seakan sedang bertanya pada sosok yang terlihat.
"Aray." Panggil Seno dari belakang cukup membuat Rayyan terkejut.
"Kau memikirkan apa? Sampai aku panggil kau terkejut seperti itu?." Tanyanya kemudian sambil melangkah menghampiri Rayyan. Rayyan hanya menoleh sesaat kearahnya dan kembali mendongak menatap langit.
"Kau sendiri?" Tanya Rayyan menoleh sejenak.
"Iya..." jawab Seno singkat.
"Tante?"
"Ke rumah Diana."
"Kau tak ikut?".
"Kalau aku ikut, Tio bisa membunuhku malam ini juga." Rayyan menoleh dan menyernyit seakan bertanya 'apa maksudnya?'
"Mama perginya dengan Tio." Jelas Seno menegaskan.
"Ooohhhhh" Rayyan kembali menatap keatas setelah memberi tanggapan singkat itu.
"Ada apa di atas? Kau menatapnya seperti menatap Aris saja." Ejek Seno yang ikut duduk di samping Rayyan.
"Rama." Jawabnya begitu saja.
"Hah? Rama? Pacar Aris? Kenapa dipikirkan?" Tanya Seno setengah berteriak.
__ADS_1
"Aku hanya berpikir, kenapa Risa sampai mencintainya sedalam itu, apa istimewa Rama? Dan apa alasan Risa mencintai Rama meskipun Rama sudah tiada?"
"Kau cemburu?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak cemburu melihat kekasihnya masih mencintai orang lain, walaupun orang lain itu sudah tak ada lagi disini. Dan tak memungkinkan untuk kembali merebut Risa dariku." Seno tersenyum tipis menanggapi penuturan Rayyan. Seno menyaksikan sendiri bagaimana Arisa mencintai Rama dulu. Ia juga menyaksikan bagaimana hancurnya Arisa saat meninggalnya Rama.
"Memang susah jika bersaing dengan orang yang sudah meninggal. Karena jika saja dia masih hidup, mungkin Aris tak akan menjadi pacarmu sekarang." Cetus Seno bersandar menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa. Rayyan hanya menghela nafas dalam seraya masih menatap lekat pada langit.
"Kalau kakek masih ada, apa dia akan seperti Oma atau tidak?" Tanya Rayyan dengan suara pelan yang entah pada siapa.
"Kau ini bicara apa? Kenapa kau berbicara seolah hanya kau yang menderita?" Timpal Seno yang ikut menatap langit dengan sendu.
"Aku juga di jodohkan dengan Lusi. Selain karena Oma sudah dekat dengan Lusi, keluarga Lusi pun sangat berjasa dalam kesuksesan perusahaan ayahmu. Bukan aku mengkhianati Diana, tapi aku sendiri tak bisa membantah keinginan Oma. Makanya, Aku sengaja membiarkan Tio yang menjadi pendamping Diana sekarang. Dan harapanku terwujud, mereka tidak berpisah. Bahkan mereka berencana menikah setelah aku menikah dengan Lusi." Ucap Seno tak kalah pelan saat menjelaskan. Rayyan terdiam mendengar apa yang barusan dikatakan Seno. Pikirnya Seno dan Lusi adalah pasangan yang saling mencintai karena takdir. Nyatanya Seno sedang berusaha mencintai takdirnya dari pilihan sang nenek.
"Kak.." panggil Rayyan yang mendadak menjadi lesu.
"Hmmm?" Seno menoleh menanggapi panggilan dari Rayyan.
"Maaf..." lirihnya kemudian.
"Untuk apa?" Tanya Seno sedikit terkekeh seakan mengejek Rayyan.
"Baguslah. Aku tak ingin siapapun tahu. Hanya kau dan Oma yang tahu tentang fakta ini." Rayyan menyernyit lalu menatap dalam pada Seno yang santai dengan tatapan Rayyan.
"Apa kau diam saja? Mengapa kau tak mempertahankan kak Diana?" Tanya Rayyan yang semakin antusias dengan kisah Seno. Seno hanya tersenyum lalu menghela nafas sejenak sebelum menjawab rasa penasaran Rayyan.
"Sederhana saja. Pertama, aku tak mau jika Diana merasa tertekan karena Oma yang tak memberi restu. Kedua, aku tak ingin membuat masalah menjadi rumit. Jika aku bisa menerima Lusi, kenapa aku harus mempertahankan sesuatu yang mungkin akan merugikan semuanya." Jelasnya membalas tatapan Rayyan yang menjadi sendu.
"Berarti keputusanku juga benar ya kak." Lirih Rayyan yang kembali menatap pada langit.
"Keputusan?" Seno menyernyit tak mengerti sekaligus penasaran dengan yang dikatakan Rayyan.
"Aku membuat perjanjian dengan Oma bahwa aku akan menerima perjodohan dengan Raisa, tapi dengan syarat Oma harus membiarkanku menghabiskan waktuku dengan Risa sampai kita lulus." Jawabnya semakin sendu.
"Maksudmu, kau akan meninggalkan Aris setelah kalian wisuda? Aishhh Aray... kenapa kau begitu bodoh. Aris sudah menerima kehadiranmu, lalu sekarang kau mau meninggalkannya, dan nantinya kau akan bermesraan dengan Raisa didepannya? Apa kau gila?" Mendapati pertanyaan itu, Rayyan hanya berdecih dan menyeringai tanpa arti.
"Iya kak aku memang gila. Dan kakak pun tak ada bedanya denganku. Kakak menyia-nyiakan kak Diana juga kan?"
"Tapi aku masih memikirkan perasaan Diana."
"Yang namanya meninggalkan itu sama saja dengan mengkhianati." Teriak Rayyan dengan emosinya yang kian meluap.
__ADS_1
"Aku lebih baik darimu. Kau yang tak punya perasaan. Kau tak punya hati." Teriak Seno yang tak ingin kalah berdebat. Keduanya saling menyalahkan tanpa mempedulikan sekitar yang mungkin mendengar percakapan keduanya.
"Kau bilang aku tak punya hati? Aku mencintainya, dan aku tak ingin melukai hatinya karena keegoisan Oma. Sama sepertimu. Kau dan aku tak ada bedanya. Kita sama-sama meninggalkan orang yang kita cintai dengan paksa." Ucap Rayyan dengan suara yang kian lirih. Kini terasa menyesakkan dalam hatinya mengingat ia harus pergi dari hidup Arisa dalam waktu satu tahun setengah ini.
"### Aray.. Seno! Kalian kenapa bertengkar?" Tanya Danu tiba-tiba dengan nada tinggi. Namun Danu terdiam ketika melihat kedua anak itu saling memalingkan wajah dengan frustasi. Danu mengerti dengan yang dialami oleh Rayyan. Tapi Danu merasa heran kenapa Seno terlihat frustasi padahal ia akan segera menikah. Biasanya anak muda yang akan menikah itu sangat antusias dan tak sabar menunggu hari H nya.
"Om... aku ingin menyusul ayah dan kakek." Lirih Seno semakin menunduk dan mencengkram rambutnya dengan kuat.
"Ishhh apa yang kau bicarakan?" Danu menghampiri Seno lalu terduduk tepat didepannya.
"Om... sungguh aku ingin menyusul ayah." Lirihnya lagi mendongak dan menatap harap pada Danu.
"Sudah... jangan berbicara seperti itu. Kita semua punya masalah masing-masing." Ucap Danu menepuk bahu Seno untuk sekedar menguatkan.
. "Kenapa mama kesini?" Tanya Diana setelah meletakkan dua cangkir teh di meja ruang tamu dan white kopi di luar tempat Tio terdiam. Tio menyuruh Diana untuk tenang mengobrol dan tak perlu memikirkannya.
"Mama hanya merindukanmu saja." Jawab Ani melempar senyum pada Diana.
"Bukan sekedar merindukan Diana saja kan?" Tanyanya memastikan pikirannya yang akan membahas tentang pernikahan Seno.
"Kau menyadarinya? Sebenarnya mama ingin kamu yang menjadi menantu mama." Ucap Ani membuat Diana tersentak. Diana mendadak menjadi gelisah dan beberapa kali menoleh kearah luar, apakah Tio mendengarnya atau tidak.
"Maafkan mama... bukan maksud mama membuat kalian salah faham. Tapi Tio sudah tahu kebenarannya. Mama memberitahunya sebelum sampai kesini. Dan agar kalian tidak saling menyalahkan." Lanjut Ani menyadari kegelisahan Diana.
"Seno masih mengharapkanmu. Dan mama tidak bisa berbuat apa-apa. Oma menginginkan perjodohannya dengan Lusi segera diresmikan. Dan dengan terpaksa, Seno memutuskan hubungannya denganmu dengan alasan Seno menduakanmu." Diana mengepalkan jemarinya dengan hati yang masih gelisah.
"Seno terpaksa menerima perjodohannya dengan Lusi karena beberapa alasan, bukan hanya karena mencintaimu saja." Jelas Ani selanjutnya.
"Ma... bagaimanapun keadaannya, Seno dan Diana hanya masa lalu. Sebesar apapun perasaan Seno pada Diana, hubungan kita sudah lama berakhir. Lagi pula, selain karena Seno akan menikah dalam waktu dekat ini, Diana dan Tio juga sudah punya rencana untuk itu." Jawabnya dengan senyum tegar yang mengiringi kesedihannya karena fakta yang baru ia ketahui. Mengapa Seno membohonginya yang pada saat itu dia lebih mencintai Lusi, dan Lusi juga jauh lebih baik dari dirinya. Rasa sakit itu masih menyayat beberapa tahun terakhir ini. Yang ternyata tidak diduga, semua alasan perpisahannya dengan Seno adalah keterpaksaan. Namun Diana tak mungkin kembali pada Seno yang jelas sekarang akan menikahi Lusi, gadis pilihan Oma Galuh. Dan juga, sekarang Diana punya Tio, pria yang berada disampingnya dalam keadaan apapun. Pria baik hati yang dengan rela meminjamkan bahu untuknya bersandar meskipun sejenak.
"Aku sudah menemukan rumahku yang sebenarnya ma... dia yang ada di saat-saat sulit dan di saat-saat terendah Diana." Ucapnya lagi dengan menegaskan pada Ani bahwa Diana tak akan pernah kembali pada Seno.
"Mama tahu nak. Mama ikut senang jika kau bahagia dengan Tio." Ani tak kalah tegar menatap sayu pada Diana. Tio hanya bersandar tanpa perasaan apapun dihatinya.
"Kemana si bodoh sialan itu. Harusnya dia yang menjelaskan semuanya." Batin Tio menghembuskan nafas kasar. Dan itu terdengar oleh Diana dari dalam. Diana menyadari ketidaknyamanan Tio, hingga ia meminta izin untuk keluar dan menemui Tio yang sendirian menatap taman kecil milik Diana.
"Jangan salah faham. Bagaimanapun..."
"Kau tak akan kembali pada masa lalumu?" Diana tersenyum menanggapi Tio yang menyela ucapannya namun cukup membuatnya merasa tenang.
-bersambung
__ADS_1