
. "Kak Bayu ternyata curang. Apa dia pingsan saat melihat senyummu?" Goda Bian menatap lekat wajah Arisa.
"Ternyata kau sedikit berbeda dengan Raisa." Ucapnya kemudian membuat Arisa mematung.
"Kita memang berbeda kak." Arisa kembali melemparkan senyum manisnya.
"Sejak pacarmu meninggal, kau tak pernah tersenyum lagi. Dan sekarang, kau tersenyum setiap saat. Apa kau sudah jatuh cinta lagi?" Arisa terdiam tak menjawab pertanyaan Bian. Benar. Arisa sendiri tak tahu apakah dirinya benar-benar jatuh cinta pada Rayyan atau hanya untuk melupakan Rama saja.
Seno menemui Arisa dan langsung meraih dahi dan pipi Arisa. Wajahnya terlihat panik.
"Apa yang sakit? Katakan Aris."
"Kak.. aku baik-baik saja. Tadi bekas jahitannya terasa sakit. Tapi sudah tak apa sekarang." Ucap Arisa meyakinkan kekhawatiran Seno. Bian terkejut mendapati pemandangan didepannya. Dosen tampan yang dikagumi oleh para mahasiswi kampus ataupun luar, kini sangat dekat dengan Arisa. Bahkan Arisa memanggilnya dengan sebutan 'kak.'
"Sebaiknya kau pulang. Tio pasti marah jika tahu kau kembali sakit."
"Aku tak sakit kak. Sekarangpun aku bisa ikut kelas." Arisa mencoba menjelaskan konsdisinya, meskipun Seno akan sulit mempercayainya.
"Tidak Aris... kakak tidak mau jika kau keras kepala seperti ini. Kakak akan mengurus absenmu pada dosen lain. Kita pulang sekarang."
"Tapi kak..."
"Apa lagi Aris?"
"Kak Bian..." Seno melirik Bian yang masih duduk ditempatnya. Bian hanya tersenyum lebar pada Seno.
"Tinggalkan saja dia." Cetus Seno menarik tangan Arisa.
"Ehhh? Pak.. saya yang bertanggungjawab pak." Ucap Bian menghentikan langkah Seno.
"Kau apakan adikku?" Seno melirik Bian dengan tatapan yang menekan.
"Kak... kak Bian hanya menabrakku saja." Jawab Arisa.
"Apa? Kau bilang menabrak saja? Bagaimana jika ada apa-apa padamu? Kau tak tahu semenyeramkan apa kakakmu saat memarahiku Aris. Kau ini. Sudah. Sekarang mau tidak mau kakak antarkan kamu pulang."
"Tapi kak... aku ada janji dengan Aray."
"Aray akan ku urus. Pikirkan kesehatanmu dulu. Nanti saja pacarannya." Seno terus berbicara sambil menarik tangan Arisa menuju parkiran. Bian yang masih terdiam, mematung melihat Seno yang begitu kesal.
"Apa pak Seno orangnya seperti itu?" Tanya Bian pada dirinya sendiri.
. Arisa menyandarkan kepalanya pada kaca mobil sambil menerawang jauh pada jalanan didepannya. Seno terus memperhatikan Arisa dan sesekali melirik kearahnya.
"Aris.. boleh kakak bertanya?" Tanya Seno membuyarkan lamunan Arisa.
"Apa?" Arisa menoleh pada Seno.
"Kau tahu siapa yang mendonorkan hatimu?" Terdengar nafas berat Arisa di hembuskan dengan kesal.
"Dimas hanya memberitahu namanya saja."
"Ohhh begitu.." Seno mengangguk pelan kemudian kembali fokus menyetir.
"Ternyata benar. Om Yugito tak memberitahu siapapun tentang Nadhira. Apa Tio tahu? Aku harap tidak. Mengapa aku terlibat dalam masalah keluarga mereka. Benar-benar merepotkan." Gumam Seno yang memperlihatkan kegelisahannya.
"Kak..." teriak Arisa mengejutkan Seno.
"Apa Aris? Kau mengejutkan kakak."
"Bukan aku yang mengejutkan kakak. Tapi kakak yang tidak mendengarku. Ishhh kakak sedang memikirkan apa? Ini di jalan bagaimana jika--"
__ADS_1
"Sut... hentikan Aris. Tak baik berbicara seperti itu saat diperjalanan." Seno menyela sebelum Arisa menyelesaikan ocehannya.
"Ada apa?" Tanya Seno lagi.
"Ponsel kakak berbunyi. Takutnya ada yang penting. Lebih baik dijawab dulu." Ucap Arisa menunjuk letak ponsel Seno.
"Kau saja yang angkat." Seno memberikan ponselnya pada Arisa yang terlihat heran.
"Kenapa aku?"
"Itu kakakmu." Ucap Seno mendelik. Arisa menggeser tombol dan menempelkan ponsel di telinganya.
"Ha--"
"Seno... kau masih di kampus kan? Tolong jaga Arisa. Dan jika bisa nanti sore kau temani Arisa ke rumah Rayyan. Jangan biarkan Arisa pulang lebih awal. Tunggu aku pulang dari rumah sakit dulu. Sekarang ayah sedang ada urusan di kantor dan mama masih bersamaku. Kemungkinan mama tak pulang dan menunggu Raisa disini. Panasnya belum turun, dan kondisinya masih lemah. Aku harap kau mengerti Sen. Jika aku pulang nanti aku kabari lagi." Ucap Tio yang tak memikirkan siapa yang mengangkat telponnya. Arisa terdiam tak menjawab.
"Sen.. Seno.... kau mendengarku atau tidak?" Namun Arisa mematikan panggilannya.
"Ada apa dengannya. Tak biasanya Seno mengabaikanku." Ucap Tio yang terheran sendiri. "Atau ada sesuatu yang terjadi pada Aris?" Tanyanya sendiri dengan kegelisahan yang menyelimutinya. Tio kemudian menghubungi Arisa.
"Hallo Aris. Kau baik-baik saja? Kakak mendadak cemas padamu. Jika ada sesuatu jangan segan hubungi kakak ya.." Arisa masih enggan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan-pertayaan yang dilontarkan sang kakak.
"Aris? Aris... kau sedang dimana? Kau sedang dijalan?" Kecemasan Tio kian bertambah dengan Arisa yang enggan menjawab satu katapun.
"Aris... jawablah... kau masih disana kan?" Arisa mendongak menahan agar air matanya tak jatuh saat ini. Seno yang menyadari ada sesuatu yang salah, merebut ponsel Arisa. Arisa hendak merebut kembali ponselnya, namun Seno menatap Arisa dengan dingin dan penuh penekanan hingga Arisa menunduk dan membiarkan air matanya terjatuh.
"Tio ini aku. Ada apa? Mengapa kau membuat adikku menangis?"
"Apa? Apa maksudmu? Dan apa kau tak mendengarkanku? Tadi aku sudah memberitahumu."
"Memberitahu apa? Tadi yang menjawab panggilanmu itu adikku. Bukan aku."
"Sial. Bodoh kau Seno."
"Arghhh Aris pasti marah padaku."
"Kenapa kau Tio?"
"Raisa dirawat. Demamnya tinggi sampai sekarang belum ada peningkatan."
"Dan kau berniat menyembunyikannya dari Aris? begitu?"
"Kau dimana sekarang?"
"Aku di jalan."
"Kau mau bawa kemana adikku?"
"Dia adikku. Bukan adikmu."
"Kapan mama melahirkanmu sialan. Aku kakak kandungnya."
"Aku juga kakaknya."
"Sudahlah. Aku pulang sekarang. Kau bawa Aris ke rumah." Tio menutup panggilan telponnya dan Seno kembali memberikan ponsel milik Arisa.
"Aku ingin ke rumah sakit kak." Ucap Arisa.
"Tapi Tio menyuruhku membawamu pulang, dan dia sekarang akan pulang. Telpon lagi dia. Atau dia akan marah nanti."
"Aku ingin melihat Rais kak." Rengek Arisa menoleh kasar pada Seno lalu menatapnya dengan penuh harap.
__ADS_1
"Ingin melihat Rais saja?" Pertanyaan itu membuat Arisa menunduk.
"Harusnya aku tak perlu berharap lebih. Mama akan lebih menyayangi Rais dari pada aku." Lirih Arisa dengan suara gemetar.
"Dan kau berniat membandingkan bagaimana perlakuan mama padamu dan Rais saat kalian sakit? Begitu?" Arisa mengangguk pelan dan mencengkram tali tasnya.
"Mengapa harus seperti itu Aris? Mamamu sangat menyayangimu. Kau tahu? Mama terus menunggumu sadar saat kau terlelap begitu lama. Mama lebih putus asa saat mendengar bahwa tak ada pendonor hati yang cocok untukmu. Kau dan Raisa itu sama-sama..."
"Aku berbeda kak. Kita berbeda. Rais lebih segalanya dari pada aku. Harusnya gadis yang bernama Nadhira itu tidak mendonorkan hatinya untukku kak. Mengapa kalian menginginkanku hidup? Padahal aku sendiri saja menginginkan mati." Seketika mobil terhenti dengan mendadak.
"Jika kau terus memikirkan mati, keluar dari mobilku sekarang. Aku muak mendengar keputusasaan mu yang tak jelas itu." Bentak Seno membuat Arisa tersentak kemudian keluar dari mobilnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Seno mengatur nafasnya yang tak stabil, amarahnya tiba-tiba meluap. Hingga dirinya tersadar dengan kata-kata kasar yang telah ia lontarkan pada Arisa. Seno keluar dari mobil dan berlari mencari Arisa. Di pikirannya sekarang adalah kemarahan Tio yang menakutkan.
Arisa berjalan menyusuri jalan dan langkahnya tak tahu entah kemana. Beberapa kali Arisa mengusap air matanya yang perlahan mengalir di pipinya. Sampai Arisa memasuki sebuah taman yang tak jauh dari tempat Seno berhenti. Arisa menabrak punggung seorang pria berjas hitam yang tengah berdiri diam diantara keramaian.
"Ma-maaf.. sa-saya tidak sengaja." Ucap Arisa menundukan kepalanya. Pria itu menoleh dan berbalik berhadapan dengan Arisa.
"Apa kau tidak melihatku?" Tanya pria itu dengan dingin membuat Arisa semakin menunduk.
"Apa tubuhku tak terlihat karena air matamu menghalangi pandanganmu?" Tanyanya lagi, namun Arisa enggan mendongakkan kepalanya. Tubuhnya gemetar ketakutan saat ini. Arisa terus mengusap air matanya yang terus menerus mengalir. Ingin rasanya Arisa menangis tersedu-sedu sekarang. Namun ia tetap menahan agar tak bersuara karena sedang berada di keramaian.
"Maaf..." lirih Arisa hendak beranjak meninggalkan pria didepannya. Namun tangannya berhasil diraih dan di genggam oleh sang pria membuat Arisa memperlihatkan wajahnya yang menyedihkan. Bagai sebuah mimpi, Reza terbelalak menatap wajah Arisa. Sekilas garis wajah Arisa mengingatkannya pada sang adik yang sudah meninggal.
"Nadhira" gumamnya yang semakin kuat menggenggam tangan Arisa.
"Tolong lepaskan saya. Sakit..." Arisa mencoba menarik tangannya yang tak kunjung terlepas.
"Aris..." panggil Seno membuat Reza melepaskan genggamannya. Reza terkejut melihat tangan Arisa memerah karena genggamannya.
"Maaf. Saya tak sengaja." Ucap Reza hendak meraih Arisa kembali.
"Menjauh dari adikku." Tegas Seno membawa Arisa pada lindungannya.
"Kak.. Aris yang salah. Tadi Aris yang menabraknya." Ucap Arisa masih terdengar gemetaran.
"Aris.. kau ke mobil duluan. Kakak ingin bicara dengannya sebentar." Seno menoleh dan membujuk Arisa dengan lembut.
"Kakak mengenalnya?" Tanya Arisa penasaran.
"Tidak. Kakak ingin menyelesaikan masalah ini saja. Tunggu kakak di mobil. Dan maafkan kakak." Arisa mengangguk dengan ragu lalu meninggalkan kedua pria itu ditaman.
Setelah memastikan Arisa benar-benar sudah tak terlihat, Seno menghela nafas berat.
"Mengapa kau disini?" Tanya Seno menatap angkuh pada Reza.
"Tak apa... aku hanya merindukan kota ini saja." Jawabnya tak kalah angkuh.
"Aku rasa bukan itu jawabannya."
"Hmmph.. Seno... kau sama seperti Tio. Menyebalkan dan mengganggu. Dan apa anak itu yang menerima hati adikku?" Reza menunjuk kearah Arisa berlalu.
"Iya."
"Apa dia tahu siapa yang sudah mendonorkan hati untuknya?" Jelas pertanyaan itu sebagai jebakan. Seno menatap sinis wajah Reza yang angkuh namun menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Apa yang kau rencanakan Reza?"
"Tak ada. Sudah ku bilang aku hanya merindukan kota ini saja."
"Jika ada sesuatu yang terjadi pada Aris, aku akan--"
__ADS_1
"Akan apa? Kau bersikap layaknya pahlawan. Apa kau bisa menyelamatkan keluarga Yugito jika aku hancurkan?" Bisik Reza menyeringai licik.
-bersambung