
. Rayyan sengaja memperlambat laju mobilnya hingga Arisa menoleh beberapa kali kearahnya. Rayyan tersenyum tipis ketika mendapati tatapan Arisa yang tak lagi dingin sekarang.
"Risa..." panggil Rayyan mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi terasa membeku karena tak ada yang bicara.
"Apa kau tidak ke makam Rama lagi?" Tanya Rayyan dengan sedikit keraguan. Arisa semula terdiam. Namun tak lama, Arisa menggeleng sambil tersenyum kearah Rayyan.
"Rama sudah pergi." Ujarnya membuat Rayyan termangu.
"Dan Bayu?" Lirih Rayyan dengan sedikit mencengkram stir.
"Entahlah." Kata singkat itu cukup membuat Rayyan menoleh kasar pada Arisa. Ternyata Arisa memang menerima kehadiran Bayu juga selain dirinya.
"Aku takut Aray." Lirih Arisa menunduk dan memutar ponsel miliknya seakan perasaannya mendadak tidak nyaman. "Aku takut jika nantinya aku meninggalkanmu." Lanjutnya masih dengan suara yang lirih. "Aku takut kau salah faham. Kak Bayu sangat baik, dan dia juga yang menghiburku saat Rama meninggal. Aku ingin membalas kebaikannya, tapi aku takut membuatmu marah dan berfikir yang tidak-tidak." Lagi, Rayyan termangu mendengar penuturan Arisa.
"Kau memikirkan perasaanku?" Gumam Rayyan yang menatap sendu pada jalur didepannya. Dirinya sudah salah mengira bahwa Arisa tak memikirkan tentang perasaannya.
"Aku juga takut kehilanganmu Aray. Sejujurnya hatiku hancur saat Oma menyatakan perjodohan kalian. Apa jadinya nanti saat kau sudah menjadi kakak iparku, kita akan bertemu setiap hari, dan harus mengubur perasaan kita dalam-dalam." Tutur Arisa kemudian sambil menatap keluar dengan tatapan yang kosong.
"Aku juga takut jika--" Arisa mendadak terdiam saat Rayyan dengan tiba-tiba menepikan mobilnya dan Arisa terkejut saat menoleh kearah Rayyan, Rayyan lalu memeluknya dengan erat.
"Jangan bicara lagi. Aku yang lebih takut kehilanganmu."
"Tapi Aray..."
"Itu hanya sebuah surat. Persetujuan sesungguhnya ada ditangan ayahku dan ayahmu bukan? Yang akan menjalani hidup itu kita berdua, bukan Oma atau ayah." Rayyan melepas pelukannya lalu menatap Arisa dengan dalam.
"Risa.... bagaimana bisa aku menerima orang lain, sementara hatiku tertutup untuk orang lain. Aku saja merasa sesak saat melihatmu dengan Bayu dan Dimas, lalu bagaimana perasaanmu saat melihatku dengan Raisa? Itu akan menyakitkan Risa..."
"Aray... Raisa juga akan merasa seperti itu jika kita bersama."
"Berhenti memikirkan orang lain. Aku tak bisa mencintai orang lain selain dirimu." Tegas Rayyan yang tak membiarkan Arisa berbicara lagi. Rayyan kemudian kembali melajukan mobilnya.
"Seina dan bunda merindukanmu." Ucap Rayyan yang sangat jelas kata itu menunjukan bahwa mereka akan ke rumah Rayyan saat ini.
. Sampai di depan rumah, Rayyan dengan sigap membukakan pintu untuk Arisa dan mengajaknya kedalam. Baru selangkah memasuki ruang tamu, Arisa dikejutkan dengan Seina yang turun dari sofa lalu berlari kearahnya.
"Kakak putri. Sein rindu." Ucap Seina memeluk erat kaki Arisa. "Kata kak Aray, kakak putri--"
"Cantik." Ucap Rayyan menyela sebelum Seina melanjutkan ocehannya tentang Rayyan yang berkata bahwa Arisa tak ingin menjadi kakak untuk Seina karena kesalah fahamannya. Pipi Arisa kembali merona mendapati pujian dari Rayyan itu. Arisa meraih Seina lalu menggendongnya memasuki rumah.
"Bundaaa... ada kakak putri." Teriak Seina yang erat memeluk leher Arisa.
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Sonya yang berjalan kearah mereka. "Eh... ada Risa. Sudah lama nak?" Sonya menghampiri Arisa dan menyapa dengan ramah.
"Baru sampai bunda." Jawab Arisa tak kalah ramah.
"Sudah makan?" Tanya bunda lagi.
"Belum bunda. Aray lapar." Jawab Rayyan menyela saat Arisa sudah menghela nafas. Arisa menoleh ke arah Rayyan dengan heran. Tidak mungkin dirinya baru sampai tapi langsung makan.
"Sein lapar bunda." Ucap Seina dengan riang.
"Kebetulan bunda sudah siapkan makanan." Ucap Sonya seakan langsung mengajak Arisa ke ruang makan.
"Sein mau makan dengan kakak putri." Oceh Seina
"Tidak mau makan dengan kakak?" Tanya Rayyan yang mengejek Seina dari belakang.
"Tidak. Kakak jahat."
"Aih... kau masih marah?"
__ADS_1
"Iya. Tapi Sein senang kak Aray bawa kakak putri lagi."
"Kakak juga senang. Apalagi tidak ada Oma di rumah ini." Gumam Rayyan tersenyum dengan wajah berbinar.
"Eh... ayah sudah pulang?" Rayyan terheran ketika melihat Danu yang sudah duduk di ruang makan.
"Wah... ada calon menantu." Ucap Danu tanpa menjawab pertanyaan Rayyan. "Sehat nak?" Tanya Danu masih fokus menyambut Arisa.
"Sehat om." Jawab Arisa kemudian menurunkan Seina dan mencium tangan Danu dengan sopan.
"Ayah. Panggil saja ayah." Ucap Danu ditanggapi senyuman kaku oleh Arisa.
"Oh iya Risa... kebetulan kamu datang hari ini." Ucap Sonya yang sudah duduk di kursinya.
"Memang kenapa bunda?" Tanya Arisa penasaran.
"Ada sesuatu. Nanti setelah makan bunda beri tahu." Arisa mengangguk pelan seraya melempar senyum dengan rasa penasaran dibenaknya.
Seperti sebelumnya, namun kali ini keadaan seakan berbalik. Rayyan sibuk menyuapi Seina yang kini berada di pangkuan Arisa. Bahkan Rayyan menyita alat makan Arisa agar Rayyan menyuapi Arisa. Danu lagi-lagi tersedak dibuatnya. Sonya tak kuasa menahan senyum melihat suaminya yang mungkin merasa menjadi figuran disana.
Sepasang kekasih muda dengan anak perempuan yang melengkapi keharmonisan sebuah keluarga.
Melihat makannya sedikit berantakan di ujung bibir Arisa, Rayyan dengan sigap menyeka dengan tangan. Danu yang menyaksikan itu beralih menghadap pada Sonya lalu melakukan hal yang sama.
"Bunda, makannya jangan berantakan." Sindir Danu bersikap romantis pada sang istri.
Arisa dan Rayyan menjadi salah tingkah karena sindiran Danu, Sonya hanya tersenyum melihat sikap Danu yang kaku. Selain karena usia mereka yang sudah tua untuk melakukan hal romantis seperti itu, Sonya juga merasa tak karuan berada dalam lingkup dunia percintaan anak muda penuh keromantisan seperti mereka.
"Bunda tak bisa bayangkan akan seperti apa nantinya jika Aray benar-benar menerima perjodohannya dengan Raisa. Ya Tuhan... jangan biarkan senyum Aray menghilang karena keegoisan orang terdekatnya." Gumam Sonya yang mendadak melamun dengan menatap Rayyan dengan tatapan kosong.
"Bunda..." panggil Rayyan dengan melambaikan tangannya. "Bunda melamun?" Tanya Rayyan kemudian membuat Sonya tersadar dari lamunannya.
"Tidak nak... bunda hanya mengingat kenangan bunda dengan ayah dulu." Jawab Sonya menoleh pada Danu dengan melempar senyum ke arahnya.
"Sudah.. habiskan makananmu." Elak Sonya lalu melanjutkan melahap makanannya.
. Selesai makan, Arisa menemani Seina bermain di ruang tengah. Sonya menghampiri lalu memberikan sebuah kotak yang diikat sebuah pita berwarna pink transparan dengan taburan blink-blink.
"Apa ini bunda?" Tanya Arisa penasaran.
"Hadiah untukmu. Tapi buka besok ya!" Arisa mengangguk tanda mengerti dengan titah Sonya.
"Terima kasih bunda." Ucap Arisa dengan senyum yang mengembang.
"Sama-sama nak." Sonya mengusap punggung Arisa dengan lembut.
Danu menghampiri dengan sebuah kotak kecil yang di design sama dengan pemberian Sonya.
"Ayah juga ada. Bukan dari bunda saja." Ucap Danu seolah tak ingin kalah dari sang istri.
"Terima kasih ayah..." Arisa tak bisa menahan rasa bahagianya saat ini. Mengingat hari ulang tahunnya adalah besok. Jadi Arisa tak berpikir akan mendapatkan hadiah dari orang lain.
"Selamat ulang tahun nak." ucap Sonya dan Danu bersamaan.
"Aih.. mas... kau ikut-ikutan." Ejek Sonya yang keheranan sendiri.
"Terima kasih ayah, bunda, tapi ulang tahunnya besok." Ucap Arisa sedikit menahan tawa.
"Besok takut kamu sibuk. Dan tak sempat memberikan hadiah." Danu menepuk bahu Arisa dengan pelan. Rasanya ingin sekali Arisa benar-benar menjadi bagian dari keluarga Danu.
Rayyan menghampiri dengan stelan yang rapi.
__ADS_1
"Tumben pakai parfum?" Ejek Sonya membuat Rayyan terkejut seketika.
"Ishhh bunda.... tidak lucuuu..." Rayyan berdecak kesal sambil menepuk dahinya pelan.
"Hihi kak Aray malu." Ejek Seina dengan menutup mulutnya.
"Diam kau peri nakal." Rayyan mengacak kasar rambut Seina hingga berantakan.
"Bunda... kakak jahat." Rengek Seina menatap pada Sonya.
"Aray......"
"Iya bunda...."
"Ishhh jangan jahil."
"Iya lagi bunda...."
"Kau ini."
"Hehe... yasudah. Aray antarkan Risa dulu." Ucap Rayyan yang berpamitan dengan mencium kedua tangan orang tuanya. Begitupun Arisa ikut berpamitan pada kedua calon mertuanya.
"Hati-hati ya nak." Ucap Sonya yang seakan enggan melepaskan pelukannya.
"Ayah... bunda.. sekali lagi terima kasih atas hadiahnya."
"Sama-sama nak." Jawab keduanya serempak.
"Kakak... Sein juga punya hadiah untuk kakak." Ucap Seina antusias dengan sedikit melompat-lompat kegirangan. Arisa hanya menyernyit merasa penasaran hadiah apa yang akan diberikan oleh Seina, gadis kecil yang mungkin belum tahu apa-apa itu.
Seina berlari menuju kamarnya, dan tak lama ia kembali lagi dengan tangan yang disimpan dibelakang tubuhnya.
"Kakak putri harus tutup mata.." titah Seina dengan polos. Arisa menuruti apa yang dikatakan Seina. Terasa sebuah benda yang Seina simpan di rambutnya. Arisa perlahan membuka mata lalu meraih benda apa yang Seina pasangkan itu. Jepitan rambut berwarna gold berbentuk kerangka daun dan bunga.
"Kakak putri cantik." Ucap Seina tersenyum girang.
"Terima kasih sayang." Arisa memeluk Seina dengan erat dan gemas. Seina pun mengecup pipi Arisa.
"Sein sayang kakak putri."
"Kakak juga sayang Sein." Arisa membalas kehangatan yang diberikan Seina untuknya.
"Yasudah... kakak pulang dulu ya.." ucap Arisa yang beranjak dari duduknya.
"Hati-hati kakak putri."
"Iya sayang"
"Bunda antar kedepan." Ucap Sonya yang ikut beranjak dan mengantar Arisa sampai teras depan. Di waktu yang bersamaan, datang sebuah mobil yang jelas Arisa kenali.
"Rais?" Lirih Arisa menatap pada sosok di kursi kemudi. Sedangkan di sisi sebelahnya keluar seorang yang mereka hindari kehadirannya, yang tak lain adalah Oma Galuh. Mengapa Oma bisa dengan Raisa? Pertanyaan itu muncul dibenak ketiga orang yang tengah berdiri di teras. Oma menghampiri ketiganya dengan merangkul Raisa kehadapan Rayyan.
"Ada tamu untukmu, tapi kau malah mau pergi." Ucap Oma dengan nada memelas.
"Aray mau..."
"Dia bisa pulang sendiri bukan?." Oma menyela membuat Arisa menunduk dengan nafas sesak.
"Tapi Oma..."
"Tak apa Aray..." Arisa menyela lalu beranjak pergi dengan mobil Raisa.
__ADS_1
-bersambung