
. Semakin hari, Arisa semakin merasa gugup, ia masih tak bisa membayangkan hari pernikahannya dengan Rayyan nanti. Dan sebelum itu, Arisa kembali rutin berziarah ke makam Rama. Dan setelah ia tahu letak makam Nadhira, ia tak pernah lagi melewatkannya. Rasanya perkataan Reza masih terus terngiang di telinganya. Setiap ia ke makam Nadhira, ia selalu meraih dadanya yang jelas sekarang sudah tak lagi merasakan sakit. Rayyan yang sudah tahu jadwal Arisa berziarah pun kali ini menemaninya. Keduanya sama-sama menabur bunga dan memanjatkan doa di samping batu nisan bertuliskan nama mantan pacar Arisa.
"Mari bersaing Rama. Siapa nanti yang akan menjadi pasangan Arisa di dunia selanjutnya. Kau, atau aku yang sekarang akan menjadi suaminya di dunia ini." Batin Rayyan kemudian mengelus ukiran nama Rama membuat Arisa tertegun. Ketika keduanya beranjak, Arisa tersenyum saat ada orang lain yang datang berziarah ke makam Rama.
"Bu!" Sapanya kemudian mencium tangan ibunya Rama.
"Nak. Kau masih kesini?" Arisa mengangguk dengan masih memasang senyum ramahnya.
"Harusnya mbak jangan sering kesini. Mbak kan sudah mau jadi istri si kakak itu." Cetus Gilang dengan sinis melirik pada Rayyan.
"Anak ini masih saja membenciku." Batin Rayyan dengan tersenyum seakan tak menghiraukan sikap Gilang.
"Apa salahnya Gilang?" Kali ini Gilang terdiam memalingkan wajahnya. Arisa benar, apa salahnya Arisa datang ke makam kakaknya? Namun, Rayyan yang melihat tingkah Gilang pun menarik senyum di bibirnya. Ia merasa tengah melihat dirinya sendiri di diri Gilang.
"Namamu Gilang kan?" Tanya Rayyan berjalan menghampiri Gilang yang terlihat jelas tak suka pada Rayyan. "Apa kau masih sekolah?" Tanya Rayyan selanjutnya.
"Sudah kuliah." Jawab Gilang dengan ketus.
"Semester berapa?"
"Dua." Gilang masih bernada ketus, namun Rayyan malah semakin tertarik pada Gilang.
"Jurusan?"
"Komunikasi bisnis."
"Wah. Kau mau bergabung dengan perusahaanku?" Tanya Rayyan lagi. Dan kali ini raut wajah Gilang sedikit lebih baik, tidak terlalu ketus.
__ADS_1
"Apa kau gila? Aku masih kuliah." Ujarnya sedikit meninggikan suara membuat ibunya merasa tak nyaman pada Rayyan. Ia tahu Rayyan adalah seorang presdir di perusahaan ayahnya.
"Maafkan anak saya nak Rayyan. Dia sangat tidak sopan. Setelah kepergian Rama, Gilang memang sulit di beri nasehat." Ucap ibunya dengan berharap Rayyan tidak tersinggung.
"Hahaha kita lihat saja nanti. Apa dia akan bersikap begini terus atau akan berubah setelah bekerja di perusahaanku." Tutur Rayyan yang jelas tak merasa tersinggung sedikitpun.
"Saat magang, akan aku rekomendasikan kau pada perusahaanku. Dan setelah lulus, aku akan membuka lowongan kerja untukmu." Ucap Rayyan menepuk bahu Gilang.
"Apa kau akan mengangkatku sebagai direktur?" Tanya Gilang dengan sangat angkuh.
"Tidak. Jadi cleaning service. Hahaha." Jawabnya begitu puas. Sontak Gilang menepis tangan Rayyan dan Rayyan pun berlalu dengan masih tertawa puas.
"Sialan. Otak ku ini pintar. Dan aku tak akan menginjakkan kakiku di perus--" celotehannya terhenti saat Arisa menepuk pundaknya.
"Jika kau tak mempercayainya, maka sama saja dengan kau tak mempercayaiku. Bulan depan dia akan menjadi suamiku. Dan itu artinya, yahh tak perlu aku jelaskan pasti kau juga sudah mengerti. Kan?" Gilang menciut mendapati tatapan Arisa yang jelas tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Bu.. Aris duluan." Ucap Arisa kemudian berlalu setelah pamitan pada ibunya Rama.
"Iya nak. Hati-hati." Arisa hanya menanggapi dengan tersenyum dan ia menyusul Rayyan yang sudah berjalan sedikit lebih jauh darinya. Gilang dan ibunya pun hanya tersenyum melihat Arisa yang kini terasa kembali seperti dulu. Dan hal itu membuat mereka semakin merindukan Rama.
. Rayyan dan Arisa beralih ke tempat pemotretan untuk melakukan sesi foto prewedding. Arisa di arahkan untuk di rias terlebih dahulu, sedangkan Rayyan bersiap di ruangan lain. Setelah keduanya selesai, mereka kembali bertemu di ruangan pemotretan. Kameramen yang bertugas pun tidak terlalu sibuk karena Arisa dan Rayyan mudah di arahkan untuk berbagai macam pose.
"Hasilnya sangat bagus. Saya bahkan mengira anda seorang model." Ucap kameramen pada Arisa.
"Tapi kau tahu siapa dia?" Rayyan melempar pertanyaan dengan tatapan yang begitu sinis.
"I-iya tuan. Saya tahu nona adalah putri bungsu keluarga putra. Dan juga calon istri anda, presdir perusahaan Pratama." Jawabnya dengan lancar namun masih terdengar ragu.
__ADS_1
"Baguslah kalau kau sudah tahu. Bagaimana? Dia cantik kan?" Kali ini Rayyan bertanya dengan wajah antusias. Kameramen tersebut terlihat tertawa kaku menanggapi pertanyaan Rayyan.
"I-iya. Nona sangat cantik."
"Tapi, awas kalau kau jatuh cinta. Akan ku potong kau menjadi 7 bagian." Seketika kameramen itu meraih lehernya dan menelan ludah merasa ngeri dengan ancaman Rayyan.
"Ti-tidak tuan. Sa-saya tidak berani. Siapa saya yang berani jatuh cinta pada nona."
"Oke bagus." Rayyan kembali terasa santai setelah ia membuat tegang situasi.
"Mengerikan. Apa Arisa akan baik-baik saja jika menikah dengannya?" Batin kameramen yang bergidik ngeri menyikapi Rayyan.
. Setelah dirasa selesai, keduanya memilih untuk menyusuri setiap jalanan dan menghabiskan waktu bersama hari ini. Sampai di jalanan yang mengarah ke kampus, terlintas ide di benak Rayyan untuk mengajak Arisa masuk ke dalam kampus.
"Mau apa Aray?" Tanya Arisa yang terkejut dengan ide Rayyan.
"Nanti juga kau tahu." Jawab Rayyan membuat Arisa semakin penasaran dengan apa yang tengah di rencanakan oleh Rayyan.
Keduanya berjalan menuju ruangan Seno, dan sepanjang koridor itu pula, mahasiswa dan mahasiswi menatap antusias pada mereka. Rasa tak percaya bisa bertemu dengan presdir muda yang tampan dan sukses, membuat mereka berbondong-bondong mengikuti langkah Rayyan dan Arisa. Kampus tersebut berbeda dengan kampus Raisa dulu. Dimana kampus tempat Raisa kuliah kebanyakan dari mereka adalah anak dari orang-orang besar, sedangkan kampus disini 80% adalah dari keluarga biasa dan jarang ada anak pengusaha yang kuliah. Jika ada pun, mereka selalu menyembunyikan identitas mereka. Seperti yang pernah Arisa lakukan meskipun akhirnya terbongkar juga karena wajahnya yang sangat mirip dengan Raisa.
"Apa kalian tidak waras? Ingin menggunakan fasilitas kampus untuk kesenangan kalian?" Protes Seno yang jelas menolak permintaan Rayyan.
"Bukan aku kak. Tapi Aray. Adik sepupumu sendiri yang tidak waras." Timpal Arisa menunjuk Rayyan dan tak ingin di salahkan.
"Tapi kau ikut ke sini dengannya kan?" Seno malah berbalik memojokkan Arisa.
Di tengah perbincangan mereka, seorang dosen lain masuk dan terlihat wajahnya sangat terganggu oleh keributan mahasiswanya karena kedatangan Rayyan dan Arisa. Melihat itu, Rayyan malah menyeringai mengatur sebuah rencana.
__ADS_1
-bersambung