TAK SAMA

TAK SAMA
154


__ADS_3

. "Apa benar Arisa mengarah kesini?" Protes Seno yang tak mengerti pada ponsel Rega yang ia pegang sebagai penunjuk jalan.


"Jangan protes. Ikuti saja. Tidak heran jika penculikan masuk hutan. Lagi pula, ada bekas ban mobil disini. Jadi aku yakin ada yang melewati hutan ini." Jawab Rega yang terus menerobos kegelapan.


"Hutan? Ah sial aku merinding. Jangan berpikir yang aneh-aneh Seno. Pikirkan keselamatan Arisa saja." Batin Seno menepis segala rasa takutnya.


. Arisa kembali membuka mata, masih di posisi yang sama. Ia merasakan denyutan di perutnya dan nafasnya begitu sesak. Terdengar suara tawa dari ruangan lain, sedangkan ia hanya sendirian di sana. 'Brak' mendadak terdengar suara keributan. Dan Arisa tak lagi mempedulikan mereka.


"Aris?" Samar terdengar namun ia tahu itu adalah suara Seno. Arisa tak lagi punya tenaga untuk sekedar menyahuti panggilan Seno.


"Putri. Jawab aku! Kau baik-baik saja kan?" Teriak Rega dan masih terdengar suara ribut-ribut di luar. Teriakan para penculik dan makian Seno jelas terdengar. Hingga, Rega membuka ruangan dan segera meraih Arisa.


"Cih...." hanya itu yang terdengar oleh Arisa saat Rega membuka pengikatnya. Matanya suram, sangat terlihat dendam yang membara darinya. Dan seakan Rega tak ingin menatap Arisa secara langsung.


"Apa yang sakit?" Tanyanya dengan lemah lembut. Padahal Arisa mendengar gertakan giginya menahan emosi dan seperti ingin melancarkan tinju pada seseorang. Arisa hanya meraih perutnya sambil menahan nafas dan ia tak ingin bicara sepatah katapun. 'Bugh' Rega di pukul dengan kayu dari belakang.


"Anj***" teriaknya beranjak dan berbalik melancarkan pukulan pada si penjahat.


Hal tak terduga, Rega terkena pukulan di bagian kepala, lalu adegan selanjutnya ia mendapat pukulan keras di bagian kakinya hingga Rega berteriak kesakitan. Kemudian Rega di seret kasar hingga kakinya tertimpa benda berat. Saat orang tersebut akan memukul Rega lagi, kayunya tertahan oleh seseorang.

__ADS_1


"Pengecut! Kalau berani pakai tangan kosong." Ucap Seno dan langsung meninju wajah si penjahat.


Setelah memastikan semua sudah ia habisi tanpa sisa, ia tinggal membawa Arisa keluar. Namun, Seno di kejutkan dengan adanya Haidar di sana.


"Kau?" Decih Seno yang tak percaya bahwa ini ulah Haidar. Namun melihat Clara di belakangnya, Seno tertawa dengan lepas.


"Apa yang kau tertawakan Seno?"


"Haha om masih bertanya? Jelas aku menertawakan om. Untuk putri om yang j*l*ng ini om rela menjadi penjahat? Ahhhh tapi aku bersyukur karena Oma tak jadi memaksa Aray untuk menikah dengannya. Karena tidak lucu jika menantu keluarga Pratama itu seorang anak manja yang melibatkan orang tua dalam masalah pribadinya. Harusnya kau belajar dari Aris. Dia menelan masalahnya sendiri tanpa melibatkan siapapun. Padahal, kau yang menggertaknya kan? Bukan sebaliknya. Di video, terlihat jelas kau yang menjambak rambut Aris, namun Aris tak melawan. Benarkan Clara?" Namun Clara hanya memalingkan pandangannya kasar. Ia sudah terlanjur menyimpan dendam pada Arisa, baik karena hal kemarin ataupun karena Rayyan.


"Seno... harusnya kau mengerti situasimu." Seringai terlihat dari Haidar yang memberikan sebuah ancaman bagi Seno. Arisa yang tak bisa apa-apa masih berada di tempatnya, ia memeluk Rega yang sama tak berdaya. Angin malam terasa menembus sampai tulang membuat Arisa menggigil.


"Kau kedinginan?" Arisa hanya mengangguk mengiyakan, Rega dengan cepat memberikan jasnya untuk Arisa kenakan.


"Karena kau ikut campur, sangat lebih baik jika Arisa mati dan tidak sendirian. Aku akan mengirim kalian ke neraka." Lagi-lagi Haidar menyeringai puas dan mengeluarkan korek dari saku celananya. Seno tercengang dan mulai menyadari ada bau bensin di beberapa titik. Sontak Seno menoleh pada Arisa yang menjadi targetnya, dan ia menyimpulkan bahwa memang rencana Haidar dan Clara itu untuk membunuh Arisa. Dengan cara membakar, dan mungkin itu cara yang lebih baik untuk menghilangkan barang bukti.


"Sial. Badanku sudah sakit semua." Seno berdecih dan waspada akan tindakan Haidar. Ia semakin panik saat Haidar menyalakan korek dan menyuruh Clara keluar dari bangunan. Namun, "aaaaaa... ayah...." teriakan Clara mampu menghentikan Haidar. Ia segera menyusul putrinya keluar dan tak menyangka polisi sudah menyergap tempat itu. Seno yang melihat Tio dan temannya berada diluar, ia hanya menghela nafar lega dan menjatuhkan tubuhnya. Arisa menatap Seno penuh tanya, karena untuk bersuara pun rasanya sudah tak bisa. Rega mencoba beranjak, namun kakinya sudah tak bisa menahan tubuhnya untuk berdiri. Alhasil, Rega kembali ambruk di dekat Arisa. Pandangannya semakin kabur karena luka di kepalanya dengan darah yang sudah mengering. Arisa kembali memeluk Rega yang mulai tak sadar dengan sesenggukan. Bagaimana bisa Rega rela mencari dirinya sedangkan Rega sendiri tahu bahwa Arisa tak akan membalas perasaannya.


Karena terlanjur lemas, Arisa ikut terlelap bersama Rega di tempatnya. Sebelum benar-benar pudar, ia melihat seseorang berlari menghampirinya dan memanggil namanya.

__ADS_1


"Kak Tio." Lirihnya dan semuanya gelap.


***


. "Risa... kau sadar?" Arisa menoleh ke arah suara sesaat setelah ia membuka mata. Cat putih dan infusan menancap di tangan kanannya, seorang pria berada di sampingnya dengan mata yang berbinar dan senyum haru melihat ia tersadar. Hal pertama yang muncul di pikirannya yaitu Rega. Arisa beranjak dan bergegas turun dari ranjang. Namun keseimbangan tubuhnya yang belum stabil membuatnya terhuyung.


"Aris... apa yang kau lakukan?" Tegur Tio yang langsung menghampiri Arisa.


"Risa. Kau mau kemana? Jangan bergerak dulu." Rayyan yang sigap menahan Arisa agar tak jatuh, dan membantunya untuk berdiri.


"Aku mau bertemu kak Rega. Dia baik-baik saja kan?" Namun Tio hanya berekspresi datar.


"Apa kau mau melihatnya?" Arisa mengangguk lesu dan Tio kemudian mengambil kursi roda dan mengantar Arisa menuju kamar Rega. Rayyan yang merasa cemburu meminta untuk bergantian dengan Tio mendorong Arisa.


Sampai di kamar Rega, Arisa terbelalak karena kondisi Rega lebih parah dari yang ia kira. Bahunya terluka, dan kakinya patah. Melihat Arisa masuk, Reza yang menunggui Rega langsung menutupi tubuh Rega yang tak memakai pakaian.


"Apa yang kau lakukan Za." Pekik Rega kembali membuka selimutnya.


"Ehhhh... ada perempuan. Tak baik kau memamerkan dada polosmu." Sontak Rega langsung menoleh ke arah Arisa yang menghampirinya dengan Rayyan yang setia menemaninya di belakang.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja ternyata?" Rega tersenyum lega melihat Arisa yang sudah bisa keluar dari kamarnya. Arisa menangis dengan sesenggukan melihat kondisi Rega yang mengkhawatirkan.


-bersambung


__ADS_2