
. Bayu menyentuh pelipisnya dengan hati-hati dan menoleh pada Rayyan yang menatapnya dengan penuh amarah.
"Sudah puas kau mendekati Risa?" Tanya Rayyan yang semakin tajam menatap Bayu.
"Lalu apa masalahmu?" Bayu membalas tatapan Rayyan.
"Kau bertanya apa masalahku? Risa pacarku. Dan menurutmu apa masalahku?"
"Hahaha pacar? Dengar Rayyan. Kau tak perlu mempermasalahkan ini, karena jelas Aris itu calon istriku. Kau baru pacar? Hahah Jangan bercanda. Kau sudah dijodohkan dengan Raisa bukan Arisa. Dan itu mutlak." Jelas Bayu kemudian menyeringai penuh kemenangan. Rayyan mengepalkan tangannya kuat dan menahan diri untuk tidak memukul Bayu lagi. "Pukulanmu lumayan nak." Ejek Bayu kemudian berjalan berlalu meninggalkan Rayyan yang masih menahan amarahnya.
"Apa yang kau rencanakan Risa? Kau tahu aku mencintaimu, tapi kau tak berpikir bagaimana perasaanku jika melihatmu begitu dekat dengan orang lain. Apa perjuanganku untuk meyakinkanmu kurang cukup?" Gumam Rayyan yang menghempaskan tangannya sendiri. Rayyan menoleh pada jam ditangannya lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Sampai dirumah, Seina berlari kearahnya lalu memeluknya dengan erat. Beberapa kali Seina mengecup pipi Rayyan dengan jahil.
"Kak Aray..." panggilnya dengan manja.
"Apa sayang?" Rayyan tak kalah jahil mengecup seluruh wajah Seina.
"Ihhh geli...." Teriak Seina mendorong wajah Rayyan.
"Eh.. tadi Sein cium kakak." Ucap Rayyan masih dengan nada jahil.
"Sein mau tanya boleh?"
"Mau tanya apa?"
"Berarti boleh ya?"
"Iya..."
"Kakak putri baik-baik saja kan?" Seketika itu raut wajah Rayyan berubah dingin mendapati pertanyaan dari Seina.
"Kakak marah?" Tanya Seina lirih dengan sedikit menjauh dari Rayyan.
"Jangan menanyakan lagi tentang kakak putri." Tegas Rayyan membuat Seina menjadi murung.
"Kenapa? Sein sayang kakak putri. Sein mau kakak putri jadi kakak Sein. Sein tidak mau kak Aray dan kakak putri bertengkar. Sein mau kakak putri." Teriak Seina lagi lalu berlari memasuki rumah dan mulai menangis.
"Tapi kakak putri tidak mau jadi kakak Sein." Ucap Rayyan lagi dengan nada dingin membuat Seina terhenti dan menoleh kemudian menatap wajah Rayyan yang serius dan tak main-main.
"Kak Aray bohong." Teriak Seina memekik telinga hingga Sonya setengah berlari menghampiri Seina yang menangis.
"Kenapa lagi Aray?" Tanya Sonya yang meraih Seina dengan panik.
"Ka.. kak jahat bun...da..." ucap Seina terisak sambil menutup matanya.
"Aray... kau jahil lagi?" Tanya Sonya yang berdecak kesal namun seketika tatapannya menjadi sendu saat memperhatikan tatapan Rayyan yang tajam dan dingin namun sangat sendu.
"Kakak bilang kakak putri tidak mau jadi kakak Sein..." ucap Seina lagi dengan setengah berteriak.
Sonya mengelus rambut Seina lalu menoleh pada Rayyan seolah bertanya 'apa yang kau bicarakan?'
"Itu fakta bunda. Risa mungkin membenci Aeay karena perjodohan konyol ini." Ucap Rayyan berjalan melewati Sonya dan Seina begitu saja. Sonya lagi-lagi hanya terdiam, berbicara pun mungkin tak ada artinya.
"Maaf..." lirih Sonya semakin erat memeluk Seina.
"Maafkan bunda yang tak bisa berbuat apa-apa." Gumam Sonya dengan tatapannya menjadi semakin sendu.
2 hari berlalu, Rayyan semakin dingin, bahkan lebih dingin dari pertama kali dirinya memasuki kampus itu. Dan 2 hari itu juga Raisa tak pernah bicara saat di rumah. Bahkan tak pernah ikut makan jika ada Tio. Begitupun Tio, yang tak ikut berkumpul jika ada Raisa. Seolah ada sebuah perang dingin didalam rumah. Yugito dan Rahma merasa tak nyaman melihat ketiga anaknya yang menjadi renggang dan tak akur seperti itu. Entah apa penyebab mereka bertengkar.
Daffa ikut duduk disamping Rayyan yang tengah asyik membaca buku pelajaran di taman kampus. Daffa tak pernah lagi membahas tentang Arisa didepan Rayyan.
"Daf.." lirih Rayyan masih terfokus pada buku.
__ADS_1
"Hmmmm"
"Aku merindukan Risa." Lirih Rayyan lagi membuat Daffa terdiam kemudian tersenyum tipis.
"Besok ulang tahunnya kan? Kau ke rumahnya saja." Ucap Daffa tanpa menoleh.
"Apa Risa akan memaafkanku jika aku menemuinya?"
"Dia juga pasti merindukanmu Aray.... coba kau lihat ponselmu yang tak kau aktifkan dua hari itu. Aku saja kesulitan menghubungimu." Delik Daffa. Dengan menurut, Rayyan meraih ponselnya lalu mengaktifkan benda canggih itu. Setelah aktif, terlihat beberapa pesan tertera dari Arisa.
"Ciah... kakak putri namanya. Ehemmmm..." ejek Daffa lalu tertawa lepas.
"Diam kau." Delik Rayyan kemudian menekan pesan dari Arisa.
"Cie... Aray kau dimana? Aray kau marah? Aray maaf. Aray Aray Aray... ahaha... yuhuuu Aray... Aris merindukanmu" ejek Daffa masih tertawa lepas.
"Pesan ini untukku. Kenapa kau yang merasa bahagia?"
"Jelas... meskipun itu untukmu, tapi sampai ke hatiku." Daffa menyentuh dadanya lalu bersikap seolah sedang lemas. Rayyan kemudian memanggil Arisa dengan wajah berseri.
"Hallo Aray." Tanda panggilan sudah tersambung.
"Ha-hallo Risa... bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik. Besok aku masuk kuliah."
"Oh... syukurlah.", "emmm kau dimana?"
"Aku di butik kak Diana."
"Sedang apa?"
"Sedang mencari udara segar."
"Ohh begitu... baiklah. Yasudah aku tutup." Rayyan kemudian menekan tombol merah di layar ponselnya.
. Sesuai rencana, Rayyan dan Daffa berlalu menuju butik Diana. Rayyan setengah berlari dari parkiran mobil menuju ruangan Diana.
"Risa..." panggil Rayyan dengan nafas yang terengah. Seluruh karyawan menoleh bersamaan pada Rayyan yang berdiri di ambang pintu. Beberapa dari mereka langsung mematung menatap wajah Rayyan yang tampan rupawan yang mampu memikat siapa saja yang melihat.
"Eh Rayyan..." ucap Diana dari belakang patung dengan balutan gaun putih yang masih dirancang. Terlihat seorang gadis ikut mengintip dari balik gaun dengan malu-malu.
"Cari siapa?" Tanya Diana menghampiri Rayyan.
"Cari adik ipar kakak." Jawab Rayyan polos.
"Ohh itu?" Diana menunjuk Arisa hingga menampakan dirinya. Rayyan tersenyum kemudian menghampiri Arisa yang mematung. Rayyan menepuk dahi Arisa pelan dengan gemas.
"Aku merindukanmu." Ucapnya membuat wajah Arisa memerah. Rayyan semakin gemas dengan raut wajah Arisa.
"Wah... banyak orang." Cetus Daffa membuat seisi ruangan menoleh kearahnya. Rayyan memanfaatkan kesempatan ini untuk mencium bibir Arisa.
"Jangan membuatku gemas." Bisik Rayyan lagi. Wajah Arisa semakin merona mendapati sesuatu diluar dugaannya. Arisa memalingkan wajahnya sambil memejamkan matanya kesal. Daffa melongo menyaksikan adegan romantis yang membuatnya sesak nafas. Daffa meraih dadanya dengan ekspresi menahan sakit sambil bersandar pada pintu.
"Kenapa Daf?" Tanya Diana meraih bahu Daffa dengan khawatir.
"Hatiku hancur kak." Jawab Daffa masih memegangi dadanya. Arisa menoleh pada Daffa yang memalingkan pandangan darinya.
"Daf..." panggil Arisa.
"Jangan memanggilku Aris." Daffa memalingkan pandangannya lagi ke arah lain. "Aku sakit hati padamu." Lanjutnya melirik sinis pada Arisa. Arisa hanya tertawa kecil lalu melanjutkan pekerjaannya. Rayyan menatap dalam wajah Arisa yang serius merapikan beberapa aksesoris yang menghiasi setiap sudut gaun.
"Ini untuk Lusi?" Tanya Rayyan yang ikut serta merancang disamping Arisa.
__ADS_1
"Kata kakak iya. Cantik kan?" Arisa menoleh sesaat dengan senyum mengembang lalu kembali fokus merancang.
"Iya.. cantik sekali." Jawab Rayyan yang tak memalingkan pandangannya dari Arisa. "Tapi sayang. Dia dengan yang lain." Lirih Rayyan kemudian dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Kau bicara sesuatu?" Arisa menoleh pada Rayyan dengan wajah penasaran.
"Kau sangat cantik." Ucap Rayyan dengan suara sedikit meninggi. Terdengar suara tawa kecil dari seluruh karyawan Diana yang berada di dalam ruangan. Rayyan menoleh dan menjadi salah tingkah karena ucapannya sendiri.
"Ehemmmm pacaran terusssss... lupa disini banyak orang. Merasa dunia milik berdua ya?" Sindir Daffa yang berlalu menuju ruang tunggu. Arisa hanya tertawa kecil melihat tingkah Daffa.
"Aku merindukan kelas." Ucap Arisa kemudian.
"Kelas juga merindukanmu." Ejek Rayyan mencubit pipi Arisa dengan keras.
"Ishhh sakit Aray..." rengek Arisa yang mengusap kasar pipinya. Dan 'cup' lagi-lagi Rayyan mengecup pipi Arisa membuat wajah Arisa memerah. 'Plak' Rayyan menoleh kasar karena tamparan Arisa yang keras.
"Aris... apa yang kau lakukan?" Tanya Diana menghampiri Arisa dengan panik.
"Kak Aris izin keluar." Ucap Arisa yang bergegas berlari keluar ruangan.
"Mau kemana Aris?" Tanya Diana setengah berteriak.
"Pulang." Jawab Arisa juga setengah berteriak.
"Risa tunggu." Rayyan ikut berlari menyusul Arisa yang tak bisa menahan kegugupannya. Wajahnya sudah merah karena kelakuan Rayyan.
"Risa..." Rayyan meraih tangan Arisa yang terhenti dan refleks berbalik dan menabrak Rayyan sendiri.
"Ugh..." Arisa meraih dahinya yang terbentur dada Rayyan.
"Kau kenapa?"
"Kau gila Aray."
"Gila apanya?"
"Pokoknya kau gila."
"Risa ak--"
"Woy... kalian tidak lihat tempat?" Tanya Daffa menyela Rayyan dan menatap sepasang kekasih didepannya dengan tatapan konyol. Arisa semakin malu dengan tatapan Daffa dan beberapa karyawan Diana yang bertanggung jawab menjaga didepan. Arisa kembali berlari menuju parkiran dan terdiam menutupi wajahnya.
"Hei... kau kenapa? Risa." Rayyan membalikan tubuh Arisa dan berhadapan dengannya.
"Jangan menciumku didepan umum" lirih Arisa yang masih menutupi wajah merahnya. Rayyan tertawa mendengar alasan Arisa yang berlari seolah ketakutan karenanya.
"Tapi aku ingin bertanya." Ucap Rayyan kemudian setelah meredakan tawanya. Arisa membuka jari dan memperlihatkan matanya saja.
"Apa hanya aku yang menciummu?" Tanya Rayyan dengan berbisik. Arisa mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Rayyan membuat Rayyan tersenyum lalu memeluk Arisa dengan erat.
"Aray... sesak." Ucap Arisa dengan nafas tersenggal.
"Ma-maaf sayang. Aku tak sengaja." Rayyan melepaskan pelukannya dengan masih memasang ekspresi senang.
"Lalu kau mau kemana?" Tanya Rayyan kemudian.
"Aku...."
"Mau pulang?" Rayyan menyela dan ditanggapi anggukan oleh Arisa. "Terus?" Rayyan menyernyit heran mengapa Arisa hanya diam jika berniat pulang.
"Aku tidak bawa mobil." Lirih Arisa yang lagi-lagi membuat Rayyan tertawa.
"Pulang denganku saja." Rayyan menarik tangan Arisa menuju mobil dan meninggalkan area butik.
__ADS_1
Daffa memangku tangan menatap kepergian mobil Rayyan. "Untung aku bawa motor." Ucapnya menghela nafas dalam lalu tersenyum tipis. "Aku berharap kalian bisa bersama." Lirih Daffa kemudian.
-bersambung