TAK SAMA

TAK SAMA
07


__ADS_3

. "Apa kau akan menunda makan setelah ini?" Sindir Tio disampingnya. Namun Arisa tidak mendengar yang Tio ucapkan. Tio menatap Arisa lalu melirik pada Rayyan, Menghela nafas berat karena Arisa tidak mendengarkannya. Tapi lebih memilih saling bertatapan dengan Rayyan.


"Temuilah!. Sepertinya kau ingin bicara padanya." Ucap Tio.


"Eh? Apa?" Arisa menoleh pada Tio lalu menatapnya heran.


"Aku akan menunggu disini." Ucap Tio dengan dingin.


"Aku tidak mengatakan apa-apa." Ucap Arisa tak kalah dingin.


"Tapi kelihatannya dia yang menemuimu duluan." Arisa menoleh kembali pada Rayyan. Dan benar, Rayyan berjalan menghampirinya dan berhenti tepat didepannya.


"Kau sudah sembuh?" Tatapannya masih dingin seperti biasa.


"Bagaimana dengan Seina?" Tanya Arisa menoleh ke ujung lorong.


"Kau tidak menjawab pertanyaanku." Ucap Rayyan.


"Aku sudah baikan." Jawab Arisa meyakinkan. "Apa Seina baik-baik saja?" Lanjut Arisa khawatir.


"Dia masih harus dirawat. Dan...." Rayyan sengaja tidak melanjutkan bicaranya membuat Arisa menoleh kearahnya dengan wajah penasaran sekaligus khawatir.


"Dia merengek ingin bertemu denganmu." Lanjut Rayyan menoleh ke ujung lorong.


"Katakan padanya, aku akan menemuinya saat dia sembuh." Arisa beranjak meninggalkan Rayyan.


Rayyan masih mematung memandangi rambut Arisa yang berlalu semakin menjauh.


--


. Setelah selesai kuliah, Raisa mampir ke sebuah toko kue untuk membelikan Arisa brownies capuccino kesukaannya.


Saat memilih, Raisa tak sengaja bertemu dengan Daffa.


"Kakak ipar?" Ucap Daffa dengan wajah terkejut. Raisa menatap Daffa dengan datar. "Sedang apa kau disini?" Tanya Daffa.


"Aku ingin membelikan Arisa brownies kesukaannya." Raisa kembali fokus pada etalase.


"Ahhh kebetulan aku ingin tahu apa kesukaannya." Daffa girang.


"Brownies capuccino." Raisa menunjuk kue di depannya. Pelayan toko mengambilkan dengan ramah.


"Biar aku yang bayar." Daffa mengeluarkan dompetnya.


"Apa?" Raisa melirik Daffa heran.


"Ku bilang biar aku yang bayar. Dan kau berikan pada Arisa sebagai hadiah dariku." Daffa tersenyum penuh harap.


"Tapi...."


"Ayolah bantu aku.." Daffa memohon pada Raisa.


"Hemmmm baiklah... terimakasih." Raisa menerima kue dari Daffa.


"Aku juga berterimakasih padamu." Daffa tersenyum.


"Dan kau sendiri? Sedang apa kau?" Raisa mulai penasaran.


"Aku ingin membelikan kue untuk Seina." Jawa Daffa memilih kue di depannya.


"Seina? Kau sudah punya pacar?" Seketika wajah Raisa berubah menjadi kesal.


"Bu-bukan... Seina itu gadis berumur 5 tahun, dia adik Rayyan." Jelas Daffa.


"Eh? Benarkah?" Daffa mengangguk. "Apa dia sedang ulang tahun?" Lanjut Raisa bertanya.


"Tidak. Dia sedang sakit." Jawab Daffa menunjuk kue caramel dan memberi isyarat pada pelayan untuk membungkusnya.


"Aku boleh ikut?" Tanya Raisa pelan bahkan hampir tak terdengar oleh Daffa.

__ADS_1


"Apa?" Daffa menyernyitkan dahinya.


"Ahh tidak. Aku harus pergi duluan. Adikku mungkin sudah pulang." Ucap Raisa bergegas pergi.


"Sampaikan salamku pada Arisa." Daffa sedikit berteriak karena Raisa yang kian menjauh dan berlalu dari balik pintu.


. Sampai dirumah, Raisa merasa heran karena mobil Tio tidak ada dirumah.


Namun, saat Raisa hendak memasuki pintu, terdengar suara mobil yang datang. Wajahnya sangat senang mendapati Arisa yang turun dari mobil Tio.


"Kenapa lama sekali?" Ucap Raisa sedikit merajuk dan memanyunkan bibirnya.


"Kau menunggu lama?" Tanya Tio.


"Tidak juga. Aku baru datang." Jawa Raisa.


"Aku ingin ke kamar." Ucap Arisa tanpa mempedulikan Raisa.


"Tunggu dulu... aku punya sesuatu untukmu." Raisa menarik tangan Arisa.


Arisa lalu terdiam melihat Raisa mengambil kotak kue dari mobilnya.


"Itu untukku?" Arisa menatap lekat kotak yang dibawa oleh Raisa.


"Tentu saja. ini istimewa, dan dari orang yang menganggapmu istimewa." Raisa sangat terlihat gembira.


"Sudah seharusnya kau menganggapku istimewa kan?" Ucap Arisa dengan nada mengejek. Namun kini Raisa tidak kesal dengan ejekan adiknya, melainkan tersenyum lebih lebar seakan mendapat sebuah hadiah yang turun dari langit.


"Eitsss bukan hanya aku, tapi lelaki yang diam-diam mengagumimu. Dia membelikanmu ini, dan sebuah salam cinta untukmu." Ucap Raisa berbalik mengejek Arisa dengan meraih dagu Arisa yang terdiam keheranan dengan tingkah kakaknya.


"Dih.... aku yang mendapat hadiah, tapi kau yang merasa bahagianya."


"Jadi? Bagaimana?" Tanya Raisa dengan nada mengejek.


"Apanya yang bagaimana?" Keduanya melangkah memasuki rumah.


Tio menatap kedua adiknya dari dekat mobil, lalu kembali masuk dan melajukan mobil meninggalkan rumah.


Ditatapnya foto-foto yang berjejer. Betapa indahnya masa kecil, hingga Arisa menginginkan untuk kembali lagi.


Dimana saat mama dan ayah sangat peduli padanya.


"Maaf Arisa. Sepertinya--"


"Hemmm jadi temanmu itu menyukaiku?" Arisa menyela dan memalingkan pandangannya.


"Ahh sepertinya begitu." Jawab Raisa menunduk.


"Mengapa Arisa selalu mengalihkan pembicaraan jika aku ingin meminta maaf atas sikap mama yang lebih terfokus padaku." Gumam Raisa.


"Hei.... kau tidak mendengarku?" Ucap Arisa kesal.


"Ahh.. maaf aku melamun." Raisa melemparkan senyuman dengan alis yang berkerut.


"Siapa namanya?" Tanya Arisa


"Ehh? Siapa?" Raisa menatap Arisa heran.


"Temanmu. Yang menyukaiku." Ucap Arisa dengan nada kesal.


"Ohhh... dia Daffa." Arisa beranjak lalu pergi ke kamarnya.


Terlihat raut wajah Arisa yang menyembunyikan rasa kesalnya. Raisa dengan rasa bersalah berniat untuk mengikutinya, namun urung karena usahanya untuk membujuk Arisa akan sia-sia.


Setelah sampai dikamarnya, terdengar Arisa sedikit membanting pintunya.


"Aku mengacaukan lagi." Lirih Raisa menunduk di sofa.


. "Kau menangis? Kenapa? Putus cinta?" Suara mama yang tiba-tiba terdengar di dekatnya. Mama duduk disamping Raisa.

__ADS_1


Raisa dengan tanpa pikir panjang, langsung memeluk mama dengan suara sesenggukan yang semakin keras.


"Apa dia selingkuh? Atau berbuat kekerasan padamu?" Tanya mama lagi.


"Aku tidak punya pacar ma...." jawab Raisa disela isakannya.


"Lalu?" Mama menerawang heran.


"Arisa... apa dia akan seperti itu terus? Sampai kapan dia akan menyendiri seperti itu."


Mama hanya terdiam mendengar apa yang Raisa keluhkan. Wajar saja jika Raisa menginginkan kebersamaan dengan saudari kembarnya. Namun sikap Arisa kini sudah jelas menjauhi diri dari keluarga, dan hanya Tio yang bisa mengatasinya.


Mama beranjak dari duduknya dengan melepas pelan pelukannya pada Raisa. Selangkah demi selangkah terasa berat. Semakin lama, rasanya semakin asing dengan anak sendiri.


Dengan ragu mama memberanikan diri membuka pintu kamar Arisa.


"Wajar saja jika Arisa selalu seperti ini. Aku yang jelas bersikap tidak adil pada anak-anakku. Bahkan kini aku sendiri tak tahu apa-apa tentang Arisa yang jelas putri kandungku. Dengan tidak langsung aku menyuruhnya untuk mandiri sebelum waktunya. Maafkan mama nak. Kata-katapun tak bisa mewakilkan perasaan sayang mama padamu." Gumam mama yang perlahan melangkah ke pintu balkon yang terbuka. Lalu berhenti ketika melihat Arisa yang tertidur dengan posisi duduk bersandar dan tangan yang menopang pipinya. Samar-samar Arisa menyadari keberadaan mama didekatnya. Namun enggan membuka mata.


Perlahan tangan mama semakin mendekati rambut Arisa.


"Bahkan mama terlalu malu untuk sekedar memberikan kehangatan untukmu." Kembali mama bergumam dengan derai air mata. Ditariknya kembali tangan yang hampir menyentuh kepala Arisa. Mama menutup mulut sebisa mungkin agar tangisannya tidak diketahui oleh Arisa.


Arisa membuka matanya dengan menetes bulir bening ketika menyadari mama yang sudah melangkah berlalu meninggalkannya.


"Untuk apa mama menemuiku jika tak memberikan apa yang aku butuhkan saat kondisiku seperti ini. Bahkan tidak meyentuhku sama sekali. Bagaimana aku tidak iri, mama selalu memberikan perhatiannya jika Raisa sakit" Gumam Arisa masih tidak merubah posisinya.


Mama tidak tahu, berkali-kali Arisa selalu berjalan dan duduk ditepi balkon dengan niat menjatuhkan dirinya. Tapi berkali-kali juga niatnya urung karena berfikir bahwa ayah dan mama akan peduli padanya suatu hari nanti. Dan ditambah bi Ina selalu menggagalkan usaha bunuh dirinya. Namun demikian, bi Ina tidak sekalipun memberitahu ayah dan mama tentang peristiwa itu.


Tapi dengan apa yang baru saja Arisa rasakan dengan ketidakpedulian mama, sudah jelas bahwa mama tidak menyayanginya.


Arisa kembali berjalan mendekati balkon. Seperti biasa, Arisa duduk menghadap kamarnya. Menatap dalam lalu menoleh kebelakang.


Tepat ketika memutar tubuhnya, tangannya ditarik cepat oleh ayah yang membuat dirinya terduduk didepan ayah.


'Plak' pipinya panas ketika ayah menamparnya.


"Apa yang kau pikirkan?" Teriak ayah penuh amarah. Arisa menyentuh pipi yang terkena tamparan itu.


Terdengar Arisa sesenggukan sambil terus mengusap pipinya.


Ayah terdiam melihat Arisa yang hanya menangis tanpa suara.


"Ma-maafkan ayah.." ayah berjongkok mencoba meraih wajah Arisa. Namun dengan cepat Arisa menepis tangan ayah.


"Kenapa ayah menghalangiku? Biarkan saja aku mati ayah... untuk apa aku hidup. Ayah dan mama sudah jelas membenciku. Ayah tidak pernah menyayangiku. ayah membenciku kan?" Ucap Arisa dengan menutupi wajahnya. Semakin lama, tangisannya semakin keras.


Terdengar seperti sebuah amarah yang terluapkan dalam satu waktu.


"Tidak... ayah tidak membencimu nak.. ayah menyayangimu." Lirih ayah menenangkan.


"Tidak. Ayah tidak pernah menyayangiku. Buktinya ayah tanpa ragu menamparku, sedangkan pada Raisa ayah selalu lemah lembut." Lirih Arisa.


Ayah terdiam lalu beranjak berdiri menatap Arisa yang masih terduduk. Hatinya tidak tenang, kemudian menarik tangan Arisa dengan paksa masuk kedalam kamarnya.


Ayah mengunci pintu balkon dan menyita kuncinya, takut hal itu akan terulang lagi.


"Ayah, ayah jangan... kembalikan kuncinya." Arisa kembali menangis keras.


"Tidak. Ayah tidak ingin kau melakukan hal berbahaya seperti tadi." Tegas ayah meninggalkan dan menutup pintu kamar Arisa.


Arisa terduduk disamping tempat tidurnya.


"Harusnya tidak begitu... harusnya ayah mengerti bukan hanya Raisa yang membutuhkan kasih sayang."


Bibi membuka pintu kamar dan menghampiri Arisa yang tak henti menangis.


Arisa lalu merangkul bi Ina dengan erat kala bi Ina ikut terduduk disampingnya, diiringi sesenggukan yang tak bisa dihentikan.


Siapa yang tahu, dari balik tembok samping pintu, Raisa yang diam dibalik tembok. Nafasnya seakan terasa sesak, saat melihat Arisa yang kembali semakin melemah dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu Rama bi..." lirih Arisa sebelum benar-benar terlelap dipangkuan bibi.


-bersambung


__ADS_2