TAK SAMA

TAK SAMA
127


__ADS_3

. Arisa kembali menatap Tio setelah ia menoleh pada Reza.


"Apa?" Tio memasang wajah angkuh pada Arisa.


"Dasar gila." Jawabnya tak kalah angkuh membuat Tio menganga.


"Kau berani?"


"Kenapa tidak?"


"Ohhhh sini kalau berani." Kini nada suara Tio berubah keras. Ia seperti akan memukul dan dengan refleks, Arisa menutup matanya karena takut.


"Jangan nakal oke! Dan jangan membuat onar di tempat kerja. Jika ada yang mendekatimu, katakan pada orang gila ini. Jangan mudah tergoda. Meskipun kau di iming-iming harta yang melimpah dan tahta yang tinggi." ~Tio.


"Iya iya aku tahu. Kak Reza juga selalu menasehatiku." ~Arisa.


"Kenapa kau selalu membandingkan aku dengan orang ini?" ~Tio.


"Kenapa? Kakak tidak terima? Aku juga begitu saat aku selalu di bandingkan dengan Raisa. Kakak pikir aku tidak sakit hati?" ~Arisa.


"Kenapa kau malah mengungkit itu?" ~Tio.


"Sudahlah. Sebaiknya kakak minta maaf pada kak Reza. Jika tidak, sekarang aku akan pulang lagi ke Bandung."


"Ini sudah malam Aris."


"Terus?"


"Harusnya kau tahu bahayanya."


"Bahaya apa? Justru aku lebih mengkhawatirkan bunda. Aku tidak percaya jika hanya Juju yang menjaganya."


"Juju tidak ikut denganmu?"


"Untuk apa? Aku tak butuh di kawal. Lagi pula, ayah terlalu berlebihan. Mengapa menyuruh Juju mengawalku. Padahal ayah sendiri tahu aku tak suka dikekang. Tapi ayah malah sengaja membuatku seperti di penjara. Dengan aku pergi dari kehidupan ayah, sudah jelas aku tak mau lagi berurusan dengan ayah. Ayah itu..."


"Cukup Aris.!" Bentakan Tio berhasil membungkam Arisa seketika.


"Apa diam ku membuatmu menjadi seenaknya bicara?"


"Kenapa? Kakak juga mau mengusirku?"


"Kau..." Tio hanya bisa menahan emosinya dan menghela nafas berat dan kesal mendapati sikap Arisa yang benar-benar diluar kendalinya.


"Lakukan saja! Lakukan saja apa yang kau mau." Ucap Tio memalingkan wajahnya kearah lain. Ia begitu enggan menatap kembali wajah angkuh Arisa yang membuatnya terasa sesak nafas.

__ADS_1


"Ayo kak. Kita pulang. Orang-orang disini terlalu jahat untuk kita." Balas Arisa tak kalah kesal dengan menarik tangan Reza dan pergi dari hadapan Tio. Setelah jauh dan tak lagi berada di jangkauan Tio, Reza terhenti dan melepaskan tangan Arisa darinya.


"Putri. Apa tak terlalu berlebihan jika kau bersikap begini? Tio itu kakak kandungmu, dan ayahmu sedang membutuhkan kehadiranmu."


"Tidak. Ayah tak pernah mengharapkan kehadiranku. Dia tak peduli padaku. Biarkan saja. Ada Raisa di samping ayah. Dan mama juga. Apa gunanya aku?"


"Lantas? Apa alasanmu datang kemari?" 'Deg' Arisa terdiam tak berkutik, ia tak bisa menjawab pertanyaan Reza. Jelas, hatinya kini sangat bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya.


"Kakak tahu. Kau sangat ingin bicara dengan keluargamu kan? Kenapa di pendam? Kau mau menangis? Menangis saja! Atau nanti tenggorokanmu sakit dan dadamu sesak." Lanjut Reza yang terus menyentuh pelan bekas pukulan Tio.


"Obati wajah kakak dulu." Ucap Arisa beralih kembali menarik tangan Reza menuju sebuah ruangan yang sering ia kunjungi. Dengan tanpa berpikir panjang, Arisa langsung membuka pintu dan Dimas hanya menaikan alisnya sebelah ketika Arisa duduk di depannya dengan seorang pria yang tak ia kenali.


"Aku tidak melayani penyakit perasaan." Ucap Dimas dengan santai.


"Rasaku sudah mati, tak ada gunanya jika hanya datang pada dokter amatir sepertimu." Balas Arisa dengan santai. Dimas menganga mendapati sikap Arisa yang begitu berbeda.


"Maaf nona, saya salah mengenali anda. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dimas beralih menatap Arisa dengan serius. Namun Arisa hanya melirikkan matanya pada Reza, dan Dimas mengerti akan hal itu.


"Apa ini pacarmu?" Tanya Dimas kembali menatap Arisa yang mendelik tak menjawab pertanyaan Dimas.


"Jadi kau sudah melupakan adikku sepenuhnya, dan juga Rayyan? Padahal kalian saling mencintai kan? Apa karena rumor Clara?" Dan Arisa masih tetap diam. "Arisa yang ku kenal dulu itu sangat sulit melupakan orang yang dicintainya. Bahkan dalam kondisi apapun, cinta Arisa untuk pria yang dia cintai itu tak pernah pudar. Apalagi hanya karena sebuah rumor, aku tak yakin Arisa yang sekarang benar-benar berubah." Lanjutnya sambil terus menatap pada Reza yang membalas tatapannya tak kalah santai.


"Apa yang kau bicarakan sialan? Tentu saja aku masih mencintai Rama. Kau gila? Menyebut kakak ku sebagai pacarku?" Dan, seketika mata Dimas membulat lalu menyipit ketika menoleh pada Arisa yang masih santai.


"Ka-kakak?" Ucapnya gugup ditanggapi tatapan datar dari Arisa dan Reza.


"Apa maksudmu hei." ~Dimas.


"Tak ada maksud apa-apa." ~Arisa.


"Kau membawaku ke sini untuk apa?" ~Reza.


"Tidak apa-apa." ~Arisa.


"Kau bertengkar?" Tanya Dimas beralih pada Reza.


"Tidak." Jawab Reza menggeleng pelan.


"Lalu?" Dimas menyernyit meski sesaat ia menyimpulkan jawaban yang muncul di pikirannya.


"Yaa kau mungkin mengerti." ~Reza.


"Siapa yang berani memukulmu?" Dimas menghela nafas pelan sambil memberikan salep untuk luka memar.


"Tuhh... kakaknya." Jawab Reza menunjuk Arisa dengan lirikan matanya. Arisa hanya memangku tangan dengan menghindari tatapan datar dari Dimas.

__ADS_1


"Udah dapat obat kan? Ayo pergi!" Ujar Arisa beranjak dan seakan mengabaikan kekesalan Reza.


"Ini pembayarannya.." ~Reza.


"Tak apa. Kebetulan itu punya Gilang. Dan tadi siang tak sengaja terbawa." Jawab Dimas ikut beranjak dan mengikuti langkah kedua tamu sampai ke luar ruangan.


"Terima kasih Dimas. Kau memang kakak iparku yang baik." Ucap Arisa sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Dimas.


"Emmm Aris. Sesekali datang lagi ke makam. Sudah lama kan kau tak mengunjungi Rama. Agar ingatanmu sedikit pulih." Ucap Dimas menatap sendu pada Arisa yang hendak berbalik.


"Aku sudah ingat Dim." Jawab Arisa dengan melempar senyum meyakinkan. Dan lagi-lagi, mata Dimas membulat seakan tak percaya dengan yang dikatakan Arisa. Dimas tak bicara lagi sampai Arisa sudah berlalu semakin menjauh darinya.


"Semoga rumor itu tidak benar Aris. Meski bagaimana pun, aku ingin melihatmu bahagia. Dan aku tahu, bahagia mu ada pada Rayyan. Jika bukan pun, ku harap dia adalah orang yang akan mencintaimu dengan istimewa." Batin Dimas semakin sendu menatap kepergian Arisa. Ia kembali terpesona dengan senyum khas Arisa yang sekian lama tak pernah ia lihat lagi.


"Kau yakin akan pulang?" Tanya Reza yang kesekian kalinya. Ia tak yakin jika Arisa benar-benar ingin kembali ke Bandung secepat ini. Reza sendiri merasa bahwa Arisa masih ingin di sana lebih lama walau sekedar bertegur sapa dengan Yugito dalam obrolan yang baik. Tidak seperti malam ini, Arisa sangat emosional pada ibu dan kakak kembarnya.


Tatapan Arisa menjadi sayu dan tak seperti biasanya. Sebelumnya ia selalu menjawab dengan percaya diri bahwa dirinya ingin cepat-cepat kembali ke Bandung, dan sekarang, Reza tahu jawabannya tanpa Arisa bicara.


"Kita cari hotel saja. Aku tahu, kau tak akan mau jika tidur di rumah kan?" Arisa mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Reza. Ia bisa saja tidur di rumah Tio jika tak ingin bermalam di rumahnya, tapi rasanya sekarang ia menjadi begitu asing. Pada Yugito pun, ia sendiri tak tahu kenapa sampai nekat berangkat demi melihat kondisinya setelah mendengar ucapan Fariz.


"Hotel Pratama saja." Ujar Arisa ketika Reza hendak menghubungi asistennya untuk menyiapkan penginapan mereka.


"Jika di hotelnya, tak akan bertemu kan? Lagi pula, ini sudah larut. Tak mungkin dia berkeliaran diluar. Ishhhh kenapa aku memikirkannya? Padahal biarkan saja, sudah bukan urusanku lagi." Batin Arisa yang kesal sendiri membuat Reza merasa heran.


"Dia yang meminta, dia juga yang kesal. Dasar anak labil." Kini Reza yang bergumam dalam hati dengan mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya.


. Singkatnya, keduanya sampai dan Reza diantarkan oleh salah satu pelayan menuju kamarnya, sedangkan Arisa diantarkan oleh managernya langsung. Ia tak tahu bahwa yang mengantarnya ini adalah seorang pimpinan, dan ia menurut saja.


"Ini kamar nona." Ucapnya berhenti di lantai paling atas di hotel itu. Ia tahu, ini adalah kamar untuk para anggota keluarga Pratama. Dan kenapa ia dibawa ke sana? Arisa tersentak ketika menyadari ada hal yang tidak beres di sini.


"Sepertinya anda salah kamar pak. Kakak saya tidak mungkin memesan kamar ini. Saya tahu kamar ini adalah kamar untuk anggota keluarga Pratama kan?" Dan manager itu hanya tersenyum menanggapi kecemasan Arisa.


"Tidak nona. Tuan yang meminta agar nona tidur di kamar ini." Jawabnya dengan santai.


"Tu-tuan? Si-siapa maksud anda?" Mata Arisa membulat dengan rasa panik yang mulai menyelimuti dirinya. Ia menyesal karena merekomendasikan hotel ini pada Reza, karena berpikir bahwa tak akan ada masalah jika hanya menjadi seorang pengunjung. Namun kecemasannya semakin meningkat ketika seseorang membuka pintu kamar yang ada di seberang kamarnya.


"A-Aray?" Lirihnya terbata. Jantungnya semakin cepat berdetak saat mendapati sikap dingin Rayyan terhadapnya.


"Ada apa ribut-ribut? Aku mau tidur. Atau aku pecat kau." Ucap Rayyan begitu menusuk jantung. Benar-benar seperti sedang berada di dalam lemari es.


"Maaf tuan. Saya tidak bermaksud. Saya permisi, dan silahkan anda lanjutkan istirahat." Ucapnya dengan penuh kesopanan dan kemudian ia pergi tanpa menoleh kembali ke belakang. Saat Arisa hendak mengejar, dengan cepat Rayyan meraih tangan Arisa dan mencengkramnya kuat hingga Arisa meringis kesakitan.


"Siapa yang mengizinkanmu menginjakkan kaki di hotelku?" Arisa semakin panik dengan mata yang sudah berkaca-kaca akan sikap dan nada bicara Rayyan yang begitu menusuk hatinya.


"Aray lepaskan aku. Biarkan aku pergi."

__ADS_1


"Jika kau ingin pergi, kenapa kau datang? Harusnya kau tak usah datang sekalian. Kau membuatku gila, kau pergi begitu saja, kau meninggalkanku tanpa perasaan, dan sekarang, kau ada di hadapanku. Kau pikir aku akan melepaskan mu?" Lagi, Arisa semakin gemetar dengan penuturan Rayyan yang dirasanya sangat menyeramkan.


-bersambung.


__ADS_2