
. Pagi hari, Arisa sudah bersiap. Saat menutup pintu, Arisa menoleh pada Raisa yang sama-sama keluar dari kamar.
"Mau kuliah?" Tanya Raisa menatap sayu pada Arisa.
"Apa lagi?"
"Kau yakin?"
"Jangan memasang wajah seperti itu. Aku tak selemah yang kau pikirkan. Mama juga tahu aku ini kuat kan?" Keduanya berjalan beriringan menuruni tangga.
Mama yang kebetulan lewat, tertegun melihat kedua putrinya kembali mengobrol bersama.
"Ayo sarapan." Ucap mama meraih tangan putri kembarnya.
"Apa mama menangis?" Tanya Arisa memiringkan kepalanya.
"Ah... tidak.. tadi ada sesuatu yang masuk ke mata mama." Jawab mama mencoba memalingkan wajahnya.
"Ayah dimana?" Raisa menoleh kesana-kemari mencari sang ayah.
"Mungkin sudah berangkat."
"Mungkin?" Raisa merasa ada yang janggal dengan setiap jawaban mama.
"Ah.. sudah! Ayo sarapan mumpung masih pagi. Kalian harus kuliah kan?"
"Apa mama dan ayah bertengkar?" Tanya Arisa membungkam rapat-rapat mulut mama dan tak bisa menjawab.
"Bi.... makanannya sudah siap?" Mama berteriak dan berjalan lebih dulu kemudian diikuti Raisa dan Arisa.
"Kau merasa ada yang aneh?" Arisa mengangguk seraya terus mengikuti langkah mama didepannya.
Arisa berbinar saat melihat bi Ina yang kini berada di ruang makan. Arisa setengah berlari menghampiri lalu memeluk bi Ina tepat di depan mama. Bi Ina terbelalak kemudian melirik ke arah mama yang terlihat acuh.
"Apa bibi sesibuk itu sampai tak pernah menemuiku lagi?" Tanya Arisa manja.
"Non... bibi masih ada--"
"Bibi membenciku? Bibi selalu menghindar dariku." Arisa menyela dengan melepas pelukannya.
"Bu-bukan begitu non..."
"Bibi tahu aku kesepian, tapi bibi juga meninggalkanku." Lirih Arisa menutup wajahnya.
"Non.... bibi tak bermaksud. Bibi memang banyak pekerjaan." Bi Ina tak kalah lirih menenangkan Arisa yang mulai terisak.
"Memangnya kenapa kalau banyak pekerjaan? Apa sekedar membangunkan ku dan mengingatkanku untuk makan itu tak bisa bibi lakukan disela kesibukan bibi.?"
Mama terdiam mematung, keputusannya memang salah. Keegoisannya membuat Arisa semakin kesepian. Raisa menghampiri lalu memeluk Arisa yang masih menangis.
"Maafkan bibi non..." ucap Bibi pelan seolah tak ingin terdengar oleh mama.
"Apa hanya maaf? Apa bibi tidak sayang Aris lagi?"
"Bukan begitu non..."
"Lalu apa bi? Apa aku harus mati dulu baru bibi peduli lagi padaku?" Raisa tersentak dan menoleh pada Arisa.
"Maaf non.. bibi ada pekerjaan lain." Ucap bibi berbalik dan bergegas meninggalkan Arisa yang terduduk dan menangis karenanya.
Arisa mematung dengan air mata yang terus berderai.
"Aris.... sudah... kamu makan nak." Ucap mama menghampiri lalu mengusap lengan Arisa. Dirinya sama ingin menangis saat itu juga, karena sudah tega memisahkan anaknya dari pengasuh yang sudah mengurusnya dari kecil.
"Ma... bibi membenciku?" Arisa menoleh pada mama dengan wajah yang berantakan. Namun mama lebih terkejut pada darah yang keluar dari hidungnya.
"Aris..... kau mimisan? Tissue Rais. Tolong ambilkan tissue." Raisa meraih tissue dengan panik melihat mama yang tak kalah panik darinya.
"Kita ke dokter... atau panggil Dimas." Ucap mama seraya membersihkan wajah Arisa. Arisa hanya menggeleng ketika melirik Raisa yang terdiam dengan air mata yang ikut berderai.
"Aku... ingin bawa bekal saja ma. Sarapan dikampus saja dengan Wina." Ucap Arisa.
"Kenapa tidak disini saja?"
__ADS_1
"Agar tidak terlalu tergesa-gesa ma." Arisa tersenyum meyakinkan.
"Ya sudah.. mama buatkan kamu bekal. Rais juga kah?" Mama menoleh pada Raisa yang masih berdiri di sampingnya. Raisa mengangguk tak kuasa jika menolak. Padahal dirinya sedang tidak berselera makan.
. Keduanya berangkat dengan masing-masing mobilnya. Raisa mengikuti dari belakang, merasa khawatir jika ada sesuatu yang terjadi pada Arisa.
Sampai didepan gerbang kampus Xxx, Raisa menyaksikan Rayyan yang memasuki mobil Arisa, dengan Rayyan yang mengemudi memasuki wilayah kampus. Raisa kembali melajukan mobilnya menuju kampus Yyy.
"Apa sudah baikan?" Tanya Rayyan ketika mobil berhenti. Arisa hanya mengangguk menanggapi.
"Aku sempat khawatir. Tapi mendengar alasanmu tadi, aku lega." Kini Arisa terdiam tak menanggapi apapun.
"Lain kali, jangan lagi membuatku khawatir." Arisa terbelalak saat Rayyan mengusap kepalanya dengan lembut. Ditambah kata-kata yang sering di ucapkan Rama itu.
"Kenapa?" Lirih Arisa yang semakin menunduk.
"Hmmm?"
"Kenapa kau seperti Rama?" Terlihat bulir bening jatuh dari kelopak matanya. Rayyan lalu meraih wajah Arisa dengan heran dan khawatir.
"Maaf... aku tak bermaksud" ucap Rayyan menjauhkan rasa kesal dan cemburunya.
Kaca diketuk mengejutkan keduanya. Terlihat Wina yang mungkin akan mengajak Arisa untuk sarapan.
Wina terkejut kemudian menutup mulutnya saat Rayyan yang keluar dari kursi kemudi. Sedangkan Arisa keluar dari sisi yang lain.
"Bodohnya aku... kenapa aku mengganggu mereka." Gumam Wina menepuk dahinya.
"Maaf.. aku... ke sana... duluan." Ucap Wina gugup.
"Wina..." panggil Arisa terdengar lesu. Wina menatap tajam wajah sahabatnya itu. Terlihat jelas badan Arisa sedang tidak vit. Wina menghampiri lalu meraih dahi Arisa.
"Mengapa kau memaksakan?"
"Aku tidak sakit Wina..."
"Lalu?"
Wina menahan tawa tak berani jika harus tertawa didepan Rayyan yang dingin itu.
"Aray... kau mau sarapan?" Tanya Arisa.
"Aku sudah sarapan." Jawab Rayyan tersenyum. Wina mematung melihat pemandangan yang langka. Karena sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah Rayyan tersenyum seperti itu.
"Aku mau sarapan dulu dengan Wina."
"Baiklah.. aku langsung ke kelas saja." Rayyan sedikit mengacak rambut Arisa dan melangkah melewati Arisa.
"Jika ada yang mengganggumu, panggil aku." Lanjut Rayyan yang terhenti dari langkahnya dan ditanggapi anggukan oleh Arisa.
"Manis sekali Aris..." Wina menatap gemas pada Arisa.
"Dia pacarku. Kau jangan macam-macam." Tegas Arisa membuat Wina tertawa.
"Uuuu aku takut.... dan bisakah kau ceritakan mengapa kau bisa membuka hati untuknya?" Tanya Wina dengan menggoda Arisa yang wajahnya kian memerah. Sejak kapan Rayyan pacarnya? Dan benar apa yang Wina katakan, sejak kapan juga dirinya membuka hati untuk Rayyan?
Arisa dan Wina berjalan menuju kantin. Namun dihadang oleh Daffa.
"Hai! Selamat pagi bidadariku." Sapa Daffa hingga Arisa tersenyum.
"Mau kemana? Kelas kita disana kan?" Tanya Daffa menunjuk kearah sebaliknya.
"Ke kantin." Jawab Arisa.
"Ohh... mau sarapan?" Arisa mengangguk.
Dering ponsel Arisa berbunyi. Namun Arisa heran mengapa Rayyan menelponnya, padahal beberapa saat yang lalu mereka sudah bertemu.
"Iya.." ucapnya setelah menggeser tombol di layar ponselnya.
"Bukankah sudah ku katakan. Jika ada yang mengganggumu, telpon aku." Ucap Rayyan dari sebrang.
"Tidak ada yang menggangguku." Arisa menyernyit heran.
__ADS_1
"Hemmm jadi kau menikmati di rayu olehnya?"
"Kebetulan bertemu."
"Ya ya baiklah. Aku percaya padamu." Rayyan menutup sambungan telponnya.
"Cieeee..." ejek Wina menyenggol lengan sahabatnya.
"Rayyan ya?" Tanya Daffa ditanggapi senyuman oleh Arisa.
"Kalian berpacaran?" Tanya Daffa dengan tersenyum. Arisa tahu itu senyum paksa.
"Maaf Daffa. Aku mau lewat. Jika terlalu lama disini--"
"Ohhh yaa aku mengerti.. silahkan tuan putri..." Daffa memberi jalan dengan masih melemparkan senyuman.
Arisa dan Wina berlalu melewati Daffa yang mematung menatapnya yang kian menjauh.
"Apa aku terlambat? Padahal tinggal satu langkah lagi untukku mendapatkanmu Arisa. Aku yang sibuk memutuskan hubunganku dengan semua yang ku pacari kemarin, ternyata itu usaha yang sia-sia." Gumam Daffa menyentuh pipinya.
Teringat beberapa tamparan karena memutuskan hubungan dengan beberapa orang gadis sekaligus.
"Bahkan aku lupa nama mereka." Ucap Daffa terkekeh mengingat adegan kekerasan itu.
Saat Arisa sedang asik memakan bekal dari mama, Seno mengejutkan dengan menepuk bahunya keras dari belakang.
"kakak...." rengek Arisa.
"Hemmmm ku kira kau lupa dengan kuliah mu." Seno duduk berhadapan dengan Arisa.
"Dasar hantu. Bisanya hanya mengejutkanku saja. Bagaimana jika jantungku lepas dari tempatnya kak?"
"Hei... kau selalu becanda." Seno menepuk pelan dahi Arisa.
Dirinya merasa senang kini Arisa sedikit demi sedikit kembali ceria. Seno sudah tak peduli apapun alasannya, asalkan Arisa benar-benar bahagia sekarang.
"Biasanya kau lupa untuk sarapan." Sindir Seno melirik tajam pada Arisa yang terlihat lahap pagi ini.
"Mama membuatkanku bekal. Sayang jika tak dimakan." Jawab Arisa dengan masih mengunyah makanannya.
"Lebih sayang mana antara bekal dan Aray?" Sontak Arisa lalu tersedak mendengar pertanyaan konyol Seno. Wina memberikan air dan mengusap punggung Arisa.
"Kakak duluan. Dan kau! Jangan terlambat masuk kelas." Seno beranjak dengan wajah tegas.
"Dan satu lagi. Jangan mengabaikan dosen saat jam pelajaran. Aku sudah lelah mendapati komplain setiap dosen yang mengajar di kelas mu, karena seorang Arisa Putri selalu memalingkan wajahnya ketika dosen memberikan pelajarannya." Namun Arisa tak menanggapi ocehan Seno. Seno menghela nafas panjang dengan sikap Arisa yang tak beda jauh dengan kakaknya, Tio. Ketika Seno berlalu sedikit jauh dari mejanya, Arisa beranjak kemudian sedikit berteriak.
"Dasar tidak bertanggung jawab." Sontak semua pandangan menatap ke arahnya.
"Hah?" Seno menyernyit. Apa maksudnya?
Bisikan itu semakin keras berkata bahwa Seno dan Arisa bukan sekedar dosen dan mahasiswa. Apalagi mendengar 'tanggung jawab' terlontar dari seorang gadis pada pria. itu mengartikan bahwa Seno sudah melakukan hal yang tidak pantas pada Arisa. Seno heran sendiri dengan anggapan singkat yang mereka pikirkan.
"Tanggung jawab apa?"
"Kakak membuatku tersedak, tapi dengan wajah tanpa dosa, kakak pergi begitu saja tanpa membelikan ku minum. Aku ingin lemon tea." ucap Arisa dengan wajah angkuh.
Semua yang berada di kantin menatap datar pada Arisa.
"Kau membuat mereka salah mengira Aris." Seno menghela nafas berat sembari menepuk dahinya.
"Hehe" Arisa duduk kembali dan melanjutkan makannya.
"Kau membuatku terkejut Aris." Ucap Wina menatap tajam pada Arisa.
"Apa?" Tanya Arisa dengan wajah polos. Wina hanya mendelik. Apakah karena Arisa merasa bahagia, sampai semua dibuat becanda.
. Arisa duduk di bangkunya, mengabaikan Rayyan yang sedari tadi menatapnya.
"Kau mengabaikanku nona?" Rayyan mendekatkan wajahnya pada Rambut Arisa.
Arisa menoleh dan terbelalak ketika mendapati wajah Rayyan kini sangat dekat didepan wajahnya. Dan hanya berjarak beberapa cm saja.
-bersambung.
__ADS_1