
. "Kak Fab--" Raisa terhenti saat ia dengan jelas melihat Fabio tengah meraih pipi Arisa dengan begitu panik. Tatapannya sungguh berbeda, begitu hangat dan tampak bukan seperti Fabio.
"Katakan Aris. Siapa yang berani menyakitimu?" Tanyanya lagi dengan nada lebih dingin.
"Tidak kak. Ta-tadi hanya salah faham saja. Jadi mama tak sengaja menamparku. Aku yang menyinggung perasaannya. Jadi, pantas mama menamparku." Mendengar penjelasan Arisa, tatapan Fabio kembali menjadi sendu. Ia benar-benar merasa ada sebuah penyesalan karena dulu tak jadi menikahi Arisa. Jika sekarang ia menjadi suami Arisa, Fabio pikir ia sudah melindungi gadis ini dari siapapun yang menyakitinya, sekalipun orang tuanya sendiri.
"Maaf Aris... aku tak bisa melindungimu." Ucap Fabio kemudian dengan terpaksa berbalik dan berlalu memasuki lift tanpa menoleh kembali pada Arisa.
Sebenarnya Fabio masih ingin berbicara lebih lama dengan Arisa saat ini, namun ia harus tersadar pada kenyataan bahwa ada putri kecil yang harus ia jaga melebihi Arisa yang hanya seorang wanita yang ia simpan sebuah rasa melebih rasa empati, ia yang begitu dalam menaruh harapan dan seketika harapan itu hancur dan ia harus menerima orang lain sebagai pendampingnya.
Melihat Arisa yang mematung, Raisa segera menghampiri dan menepuk pundak Arisa pelan, namun cukup membuat Arisa tersadar.
"Apa kau mencintai Fabio?" Tanya Raisa dengan ragu.
"Entahlah Rais. Aku tak tahu. Yang aku ingat hanya saat dia ke apartemen saja."
"Apartemen? Kau punya apartemen?" Tanya Raisa lagi kini dengan nada terkejut. Seingatnya Arisa tak di berikan apartemen oleh ayahnya ataupun Tio. Jika benar pun Arisa di berikan tempat tinggal, ayahnya pasti memberikan sebuah rumah bukan apartemen.
"A-anu...mak-maksudnya apartemen bunda." Jawab Arisa mendadak gugup. Raisa hanya mengangguk pelan dengan masih memasang wajah curiga dan penasaran pada jawaban awal Arisa.
"Dan mengapa kau kesini?" Tanya Raisa selanjutnya.
"Ini ponsel ayah tertinggal di kamarku. Sekalian saja aku mau jalan-jalan." Jawab Arisa pun mendadak antusias.
"Ohh... kau bolos kerja? Ku adukan kau pada om Danu. Dan ku pastikan kau akan dimarahi olehnya." ~Raisa.
"Silahkan saja. Om Danu tak akan memarahiku." ~Arisa.
"Dihhh percaya diri sekali kau." ~Raisa.
"Jelas lah... aku kan karyawan kesayangan." ~Arisa.
"Ya ya ya... aku percaya." ~Raisa.
. "Argghhh kenapa ponselnya mati." Teriak Rayyan menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kesal saat puluhan panggilannya tak kunjung tersambung ke nomor Arisa.
"Risa..." teriaknya lagi berbaring dan memejamkan matanya.
"Berisik sialan." Teriak Daffa dari ambang pintu.
"Daf. Aku tak mau tahu, cari Risa. Dan kenapa hari ini tidak masuk kerja." Titah Rayyan dengan tanpa adanya rasa sabar.
"Kenapa kau segila itu? Bukankah saat Aris masuk kerja dan bersamamu sepanjang hari, kau selalu mengabaikannya. Dan kau malah asyik dengan Clara. Kau pikir aku tak tahu kau hanya berniat membuat Aris cemburu kan?" Jawab Daffa yang duduk di seberang Rayyan dengan santai.
"Kau menyalahkanku? Siapa suruh dia tidak cemburu. Padahal aku sudah membuatnya merasa terbakar saat ada Clara disini."
__ADS_1
"Hufft.... sudahlah Rayyan. Jangan terus meninggikan egomu. Jika Aris tak ada, kau jadi gila seperti ini. Dan kau sok mau menunjukkan bahwa dirimu bisa hidup tanpanya? Aktingmu buruk Rayyan. Sekarang sebaiknya kau jujur saja pada perasaanmu, jangan terus mendiamkannya. Kau mau Aris di ambil orang lagi? Bagaimana jika Fabian yang sekarang sudah menjadi presdir di perusahaan Narendra yang Fabio siapkan untuknya? Kau juga tahu kedekatan mereka saat kuliah. Dan kau harus ingat! Sainganmu bukan hanya aku. Tapi Dimas, kak Bayu, dan bahkan asisten Fahreza" Ucap Daffa panjang lebar.
"Sejak kapan kau menjadi cerewet padaku? Sudahlah! Kembali saja bekerja. Aku tak butuh nasehat dari buaya sepertimu."
"Hahaha maaf Rayyan. Tapi kau juga harus tahu, Aris yang membuatku berhenti menjadi buaya yang hina itu." Rayyan hanya mendelik malas meladeni perdebatan dengan Daffa. Ia mengingat kembali ucapan Daffa sebelumnya dan hatinya merasa bahwa ucapan yang Daffa katakan memang benar sepenuhnya.
"Pertimbangkan lagi Rayyan. Karena kesempatan tak akan datang dua kali. Jika datang pun, tak akan sama. Sekarang kau sudah di beri kesempatan kedua itu, kau hanya tinggal memilih untuk melewatkannya, atau memanfaatkannya. Jika kau mengabaikannya, lepaskan Aris dan biarkan dia bahagia dengan orang lain. Tapi jika sebaliknya, maka bawa Aris sekarang dan bahagiakan dia seperti yang ingin kau lakukan sedari dulu." Ucap Daffa kemudian. Setelahnya ia beranjak dan berlalu tanpa menoleh kembali pada Rayyan.
Rayyan terdiam mendapati sikap serius dari Daffa dengan kata-kata yang membuatnya tertegun. Daffa ada benarnya, jika ia terus mendiamkan Arisa, bisa saja para saingannya terdahulu akan kembali merebut Arisa darinya.
Segera Rayyan menekan nomor Daffa dan memberitahunya sesuatu. Di seberang, Daffa tersenyum dan menyanggupi perintah dari teman sekaligus atasannya saat ini.
Di kantor Artaris, Tio sedang bersandar di kursi kebesarannya dengan memijit dahinya pelan.
"Apa kau lelah?" Tanya seseorang setelah membuka pintu membuat Tio mendongak.
"Tumben kesini? Mana Ghava?" Tanyanya pada sosok yang kini menghampirinya dan memberikan sebuah kotak makan berisi sandwich buatannya.
"Kau selalu lupa sarapan." Ucap Diana yang duduk di sofa.
"Kau tak menjawab pertanyaanku." Balasnya menyusul sang istri dan duduk di sampingnya.
"Ghava sedang bermain dengan adikmu di ruang tunggu."
"Aih.. bukannya Raisa ada meeting dengan Fabio hari ini?"
"Aris? Aris kesini?" Tanyanya terkejut.
"Ehhh adik kesayangan datang, kau sendiri tak tahu?" Ejek Diana dengan membuka kotak makan dan membiarkan Tio menyantapnya.
"Yasudah. Nanti aku akan suruh dia kesini atau aku yang kesana." ucapnya sembari menyantap sandwich dengan lahap.
"Makan dulu. Kau itu sudah tua. Harusnya tahu kalau bicara ketika makan itu dilarang. Nanti kau tersedak." Dan dengan menurut, Tio tak berbicara lagi setelah mendengar teguran istrinya. Dan setelah selesai makan, Tio segera ke ruang tunggu untuk menemui Arisa. Saat membuka pintu, ia termangu melihat keduanya yang sedang berlarian layaknya anak seumuran dengan Ghava. Raisa pun seperti seakan melepas beban hidupnya dalam satu waktu. Tertawanya lepas, senyumnya begitu mengembang, dan ia kembali ceria seperti dulu.
"Mereka sudah tua kan?" Tanya Tio tanpa memalingkan pandangannya dari kedua adiknya.
"Kupikir begitu." Jawab Diana sama yang enggan memalingkan pandangannya dari kedua bocah di depannya.
"Hai kak... mau ikutan?" Tanya Raisa setengah berteriak dengan melambaikan tangan dan wajah polosnya. Tio dan Diana hanya saling pandang dan keduanya seakan saling melempar pertanyaan konyol dan di jawab dengan gelengan kepala dari salah satunya.
"Eh kak Tio. Kakak kenapa disini?" Timpal Arisa ikut melambaikan tangan.
"Amnesianya lebih parah dari yang ku duga." Cetus Tio menghela nafas berat sesaat.
"Yeee Ava menang." Ucap Ghava dengan antusias meraih lengan Arisa.
__ADS_1
"Kamu curang." ~Arisa.
"Ava tidak curang. Anty saja yang..." ~Ghava
"Apa?" Arisa menyela dengan menatap tajam pada Ghava yang mulai ketakutan.
"Bundaaaaa.... Anty...." teriak Ghava berlari menghampiri Diana dan bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Aris...." tegur Tio.
"Iya iya maaf." Jawab Arisa yang menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Kak... jika aku bertemu bunda bo--"
"Tak boleh. Saat ini ayah lebih membutuhkanmu." Tio menyela dengan cepat. Ia sudah tahu jalan pikiran Arisa saat ini. Dan melihat Arisa yang memalingkan wajahnya, Tio menyernyit mencoba memperjelas penglihatannya pada pipi Arisa yang terlihat memerah. Tio berjalan cepat dan langsung meraih pipi Arisa tanpa hati-hati.
"Aww kakak sakit...." Arisa menepis tangan Tio dengan kasar dan meraih pipinya dengan berkaca-kaca.
"Ayah menamparmu?" Dengan pelan, Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Tio.
"Siapa? Apa Fabio?" Lagi, Arisa menggeleng membuat Tio semakin merasa penasaran.
"Mama." Lirih Arisa seketika membuat mata Tio membulat. Ia merasa tak percaya jika ibunya begitu berani menampar Arisa.
"Jangan bercanda Aris."
"Aku tidak bercanda. Tanyakan saja pada Rais. Dia ada di sana dan melihat dengan jelas bagaimana mama menamparku." Kali ini Arisa yang menjawab cepat. Tio langsung menoleh pada Raisa yang memalingkan wajahnya menghindari tatapan Tio.
"Apa kau penyebabnya?" Tanyanya tanpa memikirkan perasaan Raisa. Ia hanya menyernyit saat menoleh kasar pada sang kakak dengan seringai tak percaya.
"Kakak menuduhku?" Tanya Raisa tak kalah menunjukkan rasa kesal.
"Bukankah memang biasanya kau yang menjadi penyebab Aris dimarahi mama?" Mendengar itu, Raisa kembali tertawa sinis dengan mata yang sudah berkaca-kaca tak kuasa menahan perih di hatinya. Bisa-bisanya kakak kandung yang ia hormati selama hidupnya dengan mudah menyalahkannya hanya karena adik tersayangnya terluka.
"Haha iya. Aku lupa kak. Sudah jelas kakak sangat menyayangi Aris dari pada aku. Kakak selalu tidur bersama dengan Aris, bahkan kakak sering makan sepiring bersama dengannya. Sedangkan denganku, kakak seolah merasa asing walaupun aku berada dipelukan kakak sekali pun. Aku merasa bukan siapa-siapa di hidup kakak. Dari kecil, kakak selalu mengabaikanku. Sampai sekarang, jika Aris terluka, kakak selalu menyalahkanku. Sebenarnya aku ini adik kakak atau bukan?" Teriaknya tak membiarkan siapapun menyela.
"Rais.." lirih Arisa.
"Sudahlah Aris. Percuma kau mau menenangkanku. Kau saja tak ingat bagaimana kak Tio memperlakukanmu dan aku bagaimana." Ucap Raisa yang menyela saat Arisa hendak menghampirinya. Dengan kondisi menangis, Raisa berlalu meninggalkan ruang tunggu dan melewati Tio begitu saja.
"Rais tunggu." Panggil Diana yang berniat mengejar Raisa namun ditahan oleh Tio sehingga dirinya tetap disana dengan membiarkan Arisa yang mengejar Raisa.
"Rais... tunggu." Panggil Arisa dengan terengah. Langkahnya semakin sempoyongan karena dadanya mulai terasa sesak. Ia berhenti dan meraih apa saja disampingnya. Dengan hati-hati, Arisa berjalan pelan sambil menopang tubuhnya pada tembok dengan terus menekap dadanya. Ia mulai terbatuk semakin keras dan pandangannya memudar seketika.
"Aris...." panggil seseorang yang terlihat berlari menghampirinya dengan panik.
__ADS_1
"Wina...." lirihnya sebelum benar-benar terlelap.
-bersambung