TAK SAMA

TAK SAMA
192


__ADS_3

. Di hadapkan dengan Sarah, Arisa benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya. Ia menunduk di meja dan lagi-lagi terisak mengingat perkataan Reza yang membuatnya kembali menyerah pada hidup. Kata yang bisa mematahkan semangat hidup, dan menghancurkan semua kepercayaannya pada orang-orang terdekat. Tio meraih Arisa ketika ia baru kembali dari luar. Ia terkejut mengapa Arisa menangis di meja kerjanya?


"Aris? Hei. Kau kenapa? Baru satu jam kakak tinggalkan, tapi kau malah menangis." Arisa semakin keras sesenggukan dan enggan mendongak.


"Yahhh tambah parah." Cetus Tio yang tak tahu harus membujuknya bagaimana.


"Kakak panggil ayah ya!" Lagi, Arisa masih enggan menanggapi Tio. Ia hanya menangis saja di meja.


"Diam kau Tio. Kenapa kau banyak bicara." Teriak Arisa tanpa merubah posisinya.


"Kak Reza membenciku. Untuk apa bunda menghubungiku? Bunda mau memakiku juga? Bunda tenang saja. Secepatnya aku akan mengembalikan hati Nadhira. Cari saja orang yang mau menerima donor hatinya agar aku tenang mati tanpa ada orang orang lain di tubuhku." Celoteh Arisa membuat Tio terkejut. Dengan sirat amarah, Tio memaksa Arisa untuk bangun dan ia menampar wajah Arisa hingga rambutnya menghalangi wajahnya. Dengan masih berpaling, Arisa meraih pipinya yang panas dan sudah pasti akan ada bekas tamparan disana. Tio merebut ponsel Arisa saat ia menyadari Arisa tengah menelepon seseorang.


"Putri... bunda tidak membencimu nak. Jangan dengarkan Reza. Bunda minta maaf karena sudah pergi tanpa memberitahumu." Tutur Sarah tanpa tahu siapa yang tengah mendengarkannya.


"Aku Tio. Aku harap anda jangan menghubungi adikku lagi." Tegas Tio kemudian memutuskan panggilan sesegera mungkin.


"Sudah puas mengocehnya? Kalau kau berani macam-macam, aku tak akan segan lagi padamu. Sebaiknya kau berhenti kerja dan jangan keluar dari kamar." Tegas Tio tanpa menghiraukan tangisan Arisa. Terdengar ayahnya memanggil dari belakang membuat Tio menoleh dengan masih memasang wajah marah. Yugito datang setelah mendapat laporan dari ruang CCTV.


"Tio. Apa yang kau lakukan? Tindak kekerasan di dalam perusahaan itu pelanggaran. Apa lagi kau seorang presdir. Kau mau mencontohkan pada bawahanmu? Hah?" Tegur Yugito seraya meraih Arisa yang terus memegangi pipinya.

__ADS_1


"Apa ayah akan menyalahkanku jika ayah tahu kalau Aris mau bunuh diri? Dia mau membuka kembali organ hatinya dan memberikannya pada istri simpanan ayah itu. Dia gila ayah. Aris gila. Harusnya aku kurung saja dia di rumah." Umpat Tio yang sudah tak bisa menahan diri dan emosinya. Mendengar jawaban tersebut, Yugito segera menarik kedua anaknya memasuki ruang presdir. Kemudian ia menutup pintu rapat-rapat, lalu 'plak' kini giliran Tio yang berpaling dengan kasar. Tio terbelalak tak percaya, mengapa ia di tampar?


"Semarah apapun kau pada adikmu, jangan melemparkan makian seperti tadi. Gila? Siapa yang gila? Hem? Dan kau juga Aris. Apa yang membuatmu berpikir sampai begitu hah? Kau juga mau meninggalkan ayah? Jika kau sudah di percaya untuk menjaga hati Nadhira, jaga baik-baik. Jangan dengarkan apa kata orang. Biarkan saja. Lagi pula, sejak kapan kau mudah tersinggung? Dari dulu kau selalu acuh pada apa saja yang di katakan orang lain." Keduanya menunduk mendapati nasehat dari Yugito. Meskipun amarahnya di redam, namun tetap saja Yugito merasa kesal pada kedua anaknya ini.


"Kalian sudah dewasa. Tio, kau sudah punya anak. Harunya bisa bersikap lebih bijak. Dan kau Aris. Kau bukan anak kecil lagi. Sekarang ada ayah dan mama yang memelukmu dari belakang. Kau tak perlu lagi menyalahkan takdir ataupun hidupmu. Ayah akan menemanimu apapun keadaannya. Sudah cukup kau kesepian dalam waktu yang lama. Sekarang biarkan ayah menyayangimu dan menebus semua kesalahan ayah." Kembali Yugito meraih Arisa dan mendekapnya dengan hangat.


"Kalau sudah tenang minta maaflah pada kakakmu. Dan kau juga Tio. Minta maaflah pada Aris!" Titah Yugito di tanggapi anggukan oleh keduanya. Yugito pun tak menyangka Tio bisa menampar Arisa sebegitu keras.


"Apa Tio semarah ini sampai bekasnya pun sangat jelas." Batin Yugito ikut meraih pipi Arisa yang sedikit membiru. Bayangan tamparan yang ia lakukan dulu pun kembali terlintas di ingatannya. Sampai Yugito kembali memeluk Arisa dengan erat dan kali ini ia ikut terisak menyesali perbuatannya meskipun sudah berlalu cukup lama.


"Maafkan ayah nak. Sungguh ayah minta maaf." Lirih Yugito membuat Tio tertegun. Kemudian ia beralih pada sisi dimana pipi Arisa yang ia tampar. Matanya membulat melihat bekasnya yang berbeda dari pada saat ayahnya yang menampar. Dirasanya sangat pelan, namun bagi Arisa itu sangat keras. Jelas saja, dari postur tubuh pun, Tio terlihat berotot dan kekuatan pukulannya pun tak bisa di ragukan. Ia pun perlahan meraih pipi Arisa, namun dengan cepat Arisa menepis jelas tak ingin Tio menyentuhnya.


"Rais. Boleh minta waktunya sebentar?" Tanya Arisa setelah makan malam selesai.


"Boleh. Mau bicara dimana?"


"Di kamarku." Jawab Arisa dan keduanya bergegas ke lantai atas. Raisa duduk di sofa dan menikmati teh hangat yang ia bawa. Sedangkan Arisa, ia memilih bersandar di tepi balkon dengan menatap ke langit yang di selimuti awan sehingga malam ini bintang-bintang sudah tak terlihat.


"Rais. Aku berhenti jadi penggantimu. Kau sudah cukup istirahatnya kan? Kau sudah bersenang-senang sebulan ini. Dan sudah waktunya juga aku fokus pada rencana pernikahanku."

__ADS_1


"Kau serius akan menikah sekarang?"


"Aku rasa, itu lebih baik." Raisa yang terlihat senang pun berubah heran melihat ekspresi Arisa yang tak sesuai dengan ucapannya.


"Aris. Kau bilang mau menikah. Tapi kenapa kau terlihat bersedih?" Mendengar pertanyaan itu, Arisa meraih pipinya yang masih terasa linu.


"Aku ingin segera berpisah dengan kalian." Jawabnya cukup membuat Raisa ikut merasa sedih.


"Tapi kenapa? Aris. Jika ada masalah, cerita saja. Aku masih ada untukmu."


"Rais. Apa kau akan menamparku jika aku bilang akan melepaskan organ hati dan memilih mati?" Sontak Raisa terkejut mendapati pertanyaan tak masuk akan Arisa ini.


"Apa yang kau bicarakan Aris? Aku tidak suka. Kalau kau ada masalah, sebaiknya kau cerita saja. Aku akan mendengarkan sampai selesai. Dan aku tak akan menamparmu. Jadi cepatlah bicara, atau aku akan marah padamu."


"Rais. Aku sudah merenggut Nadhira dari bunda dan kak Reza."


"Tidak Aris. Itu tidak benar. Jika kau mati, maka separuh hidupku juga mati Aris." Mendengar percakapan kedua adiknya, Tio hanya terdiam di balik tirai.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2