TAK SAMA

TAK SAMA
102


__ADS_3

. Ditengah perbincangan antara Sonya dan Arisa, terlihat seorang gadis muda yang begitu mereka kenal datang dan ikut masuk kedalam obrolan.


"Selamat malam bunda.." ucapnya yang langsung meraih lengan Rayyan.


"Ehhh kak Arisa.." Sapanya melambaikan tangan. Arisa hanya tersenyum tipis menanggapi dan lebih memilih ikut ke dalam saat Seina menariknya memasuki rumah.


"Apa kakak putri tidak marah melihat kak Rayyan dengan kakak antagonis itu?" Tanya Seina pelan dengan sorot mata yang tajam namun terlihat sangat sendu.


"Sut... tak boleh seperti itu. Bagaimana pun, Clara itu yang akan menjadi kakak ipar Sein."


"Tapi Sein maunya kakak putri yang menjadi kakak ipar Sein." Teriak Seina yang melepaskan genggaman tangannya dari Arisa dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"Sein.." panggil Arisa yang ikut berlari menyusul Seina.


Sonya yang terkejut dengan teriakan Sein pun berniat hendak ikut menyusul ke atas, namun Danu menahan Sonya agar tetap diam.


"Biarkan mereka saja berdua. Siapa tahu dengan bicara empat mata dengan Sein, Aris akan sedikit mengingat tentang keluarga kita." Ucap Danu dengan nada pelan seakan tak ingin Rayyan mendengarnya. Danu menoleh ke belakang dimana Rayyan yang begitu santai di gandeng oleh Clara. Sonya tahu bagaimana perasaan putranya saat ini, tak mungkin Rayyan dengan mudah menyukai Clara. Dan jika memang Rayyan bisa berpaling dari Arisa, yang lebih memungkinkan Rayyan hanya akan membuka hatinya untuk Raisa.


"Sein... buka pintunya. Kakak ingin bicara sayang." Bujuk Arisa masih mengetuk pintu kamar Seina yang terkunci dari dalam.


"Sein tidak mau bicara dengan kakak putri. Kakak putri tidak mau jadi kakak Sein, Sein juga tidak mau bertemu dengan kakak putri lagi."


"Sein marah?" Tanya Arisa tanpa mendapat jawaban dari Seina.


"Sein... apa Sein mau makan di pangkuan kakak lagi? Seperti dulu?" Lanjutnya mencoba membujuk Seina dengan sebuah ingatan yang mungkin itu hanya ilusi sesaat yang bahkan mungkin juga itu hanya sebuah ingatan yang Arisa sendiri tak menghiraukannya. Tak lama, terdengar kunci terbuka dan pintu perlahan melebar menampilkan wajah Seina saja.


"Kakak ingat?" Arisa tersenyum dan mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Seina. Niatnya ingin membuat anak ini tak marah, namun siapa sangka Arisa malah membuat Seina menangis keras.


"Sein rindu kakak putri. Sein benar-benar rindu." Rengeknya sembari menangis memeluk erat Arisa yang mematung masih tak mengerti kenapa Seina menangis hingga seperti itu.


Danu segera meraih Seina dan menenangkannya agar Seina berhenti dari tangisnya.


Sampai Seina benar-benar tenang, mereka kemudian beralih ke ruang makan dan memilih membahas apa yang ingin mereka bicarakan disana sambil menyantap hidangan yang di siapkan oleh Sonya dan ART nya.


Setelah semua duduk di masing-masing tempatnya, Seina tersenyum girang saat Daffa memasuki ruang makan.


"Hai Sein.... asma nya sudah sembuh?" Tanya Daffa menyapa Seina lebih dulu.


"Sudah kak." Jawabnya antusias. Arisa heran mengapa bisa sikap Seina berubah drastis setelah Daffa datang.

__ADS_1


"Kenapa kau kemari?" Tanya Rayyan dengan dingin.


"Untuk beberapa hal." Jawabnya santai sembari duduk di samping Arisa.


"Pertama, untuk undangan makan om Danu, dan yang kedua, untuk menjalankan perintah calon kakak iparku." Seketika Rayyan menyernyit mendengar jawaban tambahan dari Daffa. Kakak ipar? Siapa? Beberapa pertanyaan kian muncul di benak Rayyan saat ini.


"Yaa padahal Raisa sudah pulang, dan kak Tio juga tidak sibuk. Kenapa dia menyuruhku menjaga adiknya jika bukan karena mereka memberikan sinyal agar aku dan Aris bersama. Iya kan sayang?" Sindir Daffa yang menggoda Arisa disampingnya, Daffa terkekeh meskipun Arisa hanya tersenyum tipis menanggapinya. Rayyan mengepalkan tangannya dan menahan emosi agar tak meluap disana. Clara merasakan aura mencekam dari Rayyan saat ini, ia menebak bahwa Rayyan benar-benar cemburu melihat kebersamaan Daffa dan Arisa.


Dan ketika mereka tengah menikmati kebersamaan langka ini, terdengar suara para pelayan yang serempak menyambut kedatangan nyonya besar keluarga Pratama. Yang tak lain adalah Oma Galuh. Segera Daffa beranjak dan melepas jaketnya, kemudian ia memakaikan pada Arisa dan menutupkan resleting sampai leher Arisa tertutup sempurna.


"Ingat! Jangan perlihatkan kalung itu pada nyonya besar." Bisik Daffa langsung ke telinga Arisa. Arisa hanya mengangguk pelan dengan rasa penasaran yang teramat besar mengapa ia tak boleh menunjukkan kalung yang ia kenakan sekarang. Jika memang ia yang di pilih keluarga Pratama untuk menjadi menantunya, tak mungkin nyonya besar akan menentang keputusan mereka.


Lalu Oma Galuh mulai menampakkan dirinya dari balik ruangan dan menghampiri Danu.


"Oma...." sapa Clara seakan dirinya begitu akrab dengan Oma.


"Hai sayang. Apa kabar?" Balas Oma yang cipika-cipiki dengan Clara.


"Baik Oma..." jawabnya lagi membuat Arisa merasa sesak. Ia hanya tersenyum saat Oma melirik kearahnya.


Lalu, Oma beralih menatap tajam pada Danu yang masih santai menyantap makanannya.


"Bu-bukan begitu bu... bukankah ibu sedang di luar kota? Katanya ada acara arisan yang harus ibu hadiri?"


"Sudah selesai."


Ditengah perdebatan antara ibu dan anak yang menegangkan, entah kenapa Arisa mendadak gemetar dan menunduk merasa ketakutan saat Oma Galuh menatapnya dengan dalam. Saat Oma mendekatinya, secara refleks Arisa beranjak dan menghindari Oma begitu saja.


"Aris..." panggil Oma dengan lembut.


"Maaf oma... saya sudah tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Aray. Jadi Oma tak usah khawatir" ucapnya dengan gelisah bercampur panik. Ia sendiri tak mengerti mengapa dirinya begitu ketakutan melihat sosok orang tua didepannya ini. Bahkan ia semakin tak mengerti mengapa air matanya berderai begitu saja.


"Tidak Aris... sekarang Oma hanya..."


"Sekali lagi saya minta maaf. Saya tak akan mengganggu Aray dan Clara lagi. Saya pamit Oma, bunda terima kasih atas makanannya." Ucapnya lagi menyela cepat lalu bergegas dengan terburu-buru meninggalkan ruang makan.


"Kakak putri..." panggil Seina yang berlalu mengejar Arisa.


"Risa, Sein...." Sonya ikut menyusul Seina ke ruang tengah. Daffa pun yang diberi tugas oleh Tio untuk menjaga Arisa, segera menyusul Arisa dan beberapa kali memanggil Arisa.

__ADS_1


. "Ayah.... aku mau menjemput Aris sebentar. Perasaanku tidak enak ayah. Aku khawatir." Ucap Raisa menutup pintu ruang kerja Yugito setelah mengatakan niatnya.


"Rais..." panggil Yugito yang samar terdengar karena Raisa sudah berlalu ke luar rumah.


"Rais tunggu." Tegas Yugito menghentikan langkah Raisa.


"Apa lagi ayah?"


"Kau pergi dengan ayah."


"Apa? Ayah... aku bukan anak kecil lagi." Rengeknya menghentakkan kaki dengan kesal.


"Jangan membantah." Tegasnya lagi. Raisa hanya bisa menurut dan tak ingin menambah masalah dengan Yugito saat ini. Sepanjang jalan, Raisa terus diam dan menunjukkan rasa tidak nyamannya pada Yugito yang mengemudi.


"Kau kesal? Ishhh kekhawatiran orang tua itu tak boleh kau anggap remeh. Ayah khawatir padamu bukan hanya karena ayah yang menganggapmu sebagai anak kecil, tapi kau terlalu berharga, dan dunia ayah akan berantakan jika sampai kau terluka. Cukup dengan kepergian Nadhira saja yang membuat ayah hancur. Kalian jangan ikutan melukai hati ayah nak." Raisa semakin membeku mendengar ucapan Yugito yang begitu menyentuh hatinya.


"Maaf ayah." Lirihnya tak berani menoleh pada Yugito. Namun, Yugito merasa lega jika Raisa mudah meminta maaf dan memaafkan meskipun dalam keadaan sedang marah.


. Sesampainya di kediaman Danu, Raisa berlari setelah membanting pintu saat mendapati Arisa yang terduduk di pangkuan Daffa dengan meraih kepalanya dan jelas terlihat begitu kesakitan.


"Aris...." teriak Raisa saat Arisa semakin lemah dan tak lagi meringis kesakitan. Matanya tertutup, dan sedikitpun tak menanggapi teriakan Raisa.


"Kumohon bangun Aris...." Raisa mencoba mengguncangkan tubuh Arisa namun tetap saja ia tak bangun. Daffa segera membawa Arisa memasuki mobil yang dibawa oleh Yugito.


"Aku mengizinkanmu membawa Aris bukan untuk membuatnya tersiksa oleh keluargamu Danu. Aku menginginkan kesembuhan putriku. Bukan kesakitannya." Sebelum Yugito kembali memasuki mobil, ia menoleh dengan melirik sinis pada Danu yang masih panik dengan kejadian yang tiba-tiba. Dimana beberapa saat yang lalu, saat pelarian Arisa, Danu ikut menyusul dan terlihat Seina berhasil meraih tangan Arisa dan membuatnya berhenti di depan rumah.


Saat Danu dan Sonya mencoba membujuk Arisa agar tidak pergi. Namun, mendadak Arisa meraih kepalanya dan ia terhuyung dan dengan sigap Daffa meraih Arisa agar tak jatuh. Entah dari mana asal suara yang begitu menyakitkan hatinya terus terngiang di telinga Arisa. Suara itu sangat familiar dan sama persis dengan suara Oma dimana saat di meja makan, Oma menyalahkannya atas kejadian yang terjadi padanya dan Rayyan saat di apartemen Rayyan dulu. Ucapan Oma yang menyebutnya murahan terus memenuhi pikirannya saat ini, hingga tanpa sadar ia terus mengulang kalimat yang sama.


"Aku bukan wanita murahan." Ucapnya semakin meringis kesakitan. Ia terjatuh di pangkuan Daffa yang semakin panik dibuatnya.


"Aris.... tenangkan dirimu.." ucap Daffa yang mencoba menenangkan Arisa. Begitupun dengan Seina yang menangis melihat Arisa yang kesakitan, bahkan Sonya dan Danu yang ikut panik membuat Daffa semakin gelisah tak karuan.


. Danu menghela nafas dalam saat Yugito berlalu dari kediamannya, ia kemudian bergegas kembali ke ruang makan berniat ingin memberitahu Oma atas kebenaran bahwa kalung yang hilang itu ada pada Arisa dan mereka sudah memutuskan agar Arisa yang menjadi menantu mereka. Namun, saat di balik ruangan, Danu mematung mendengar Oma yang tengah memarahi Rayyan dan pengakuan diluar dugaannya pun membuat Danu tersentak dan menghela nafas lega.


"Dan kau Clara. Sudah Oma katakan jangan terlalu dekat dengan Aray. Cucuku tidak pernah mencintaimu."


"Apa Oma juga merestui hubungan kak Rayyan dengan kak Arisa?" Rengek Clara yang manja membuat Rayyan memalingkan wajahnya berkali-kali.


"Tentu saja. Jika Aray memilih Aris, maka Oma pun tak akan menghalangi mereka." Jawab Oma dengan tegas menyunggingkan senyum di bibir Rayyan.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2