TAK SAMA

TAK SAMA
188


__ADS_3

. Malam ini Arisa tidur di kediaman Rayyan karena keluarganya yang belum pulang. Meski hari sudah gelap, namun Arisa masih menatap langit dari jendela kamar yang ia tempati di lantai bawah. Rayyan yang kebetulan berada di samping kamar tersebut, melihat Arisa begitu lekat menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Rayyan membuyarkan lamunan Arisa.


"Aray? Sedang apa kau disana?" Arisa balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari Rayyan.


"Aku sedang keliling saja. Dan kenapa kau belum tidur? Angin malam tak baik untukmu. Apa lagi kau sedang sakit."


"Aku sudah mendingan Aray. Jadi biarkan aku melihat bintang sebentar."


"Haih... kau selalu saja keras kepala. Aku adukan pada bunda."


"Ehh jangan. Kau tega mengadukanku pada bunda."


"Kalau begitu, cepat tidur. Sudah malam Risa. Jangan menyepelekan angin malam."


"Sebentar saja Aray." Keduanya terlibat perdebatan yang sama-sama tak ingin ada yang mengalah.


"Aray.... di panggil ayah." Teriak Sonya dari arah teras.


"Tuh!! Di panggil." Ejek Arisa tersenyum penuh kemenangan.


"Iya bunda." Sahut Rayyan pun sama berteriak. Rayyan menoleh sesaat pada Arisa dengan ragu, kemudian ia mencium bibir Arisa sebelum ia benar-benar berlalu dari tempat itu.


"Selamat tidur." Ucap Rayyan dan segera meninggalkan Arisa yang mematung. Wajah Arisa menjadi merona akibat kelakuan Rayyan yang tiba-tiba.


. Esoknya, setelah sarapan bersama, Arisa bergegas ke kantor karena kantor tidak libur meskipun pimpinan tertingginya tidak ada semua. Seperti biasa, Arisa mengerjakan semua pekerjaannya dengan Wina di ruangan Tio. Di tengah sibuknya ia dengan laptop, terdengar suara telepon di meja Tio berbunyi. Wina yang melihat Arisa terlalu sibuk pun menggantikannya mengangkat telepon tersebut.


"Hallo. Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"...... "maaf. Tuan Tio sedang ada urusan, beliau belum masuk kerja."...... "baiklah. Akan saya sampaikan."..... "sama-sama."


Arisa yang mendengar Wina, beberapa kali melirik dan merasa penasaran siapa yang menelepon.


"Siapa?" Tanya Arisa dengan masih sibuk pada laptopnya.


"Dari Ali Fahreza. Katanya ada hal penting." Jawab Wina di tanggapi anggukan oleh Arisa. Namun, tiba-tiba Arisa terhenti dari aktifitasnya, ia menoleh dan menatap lekat pada Wina.


"Kenapa Aris?" Tanya Wina yang terheran akan tatapan Arisa.


"Win... telepon lagi. Cepat!" Titahnya dengan panik.


"Tenang Aris. Kau kenapa?"

__ADS_1


"Itu kak Reza Win. Itu kak Reza." Dengan memohon, tangis Arisa pecah seketika membuat Wina tak bisa mengabaikannya.


"Tapi aku mau kau tenang dulu. Kalau kau tak tenang, aku tak akan menghubunginya lagi."


"Win... kau tega? Aku mencarinya kemana-mana, tapi aku tak bisa menemukan jejaknya."


"Iya tapi kau harus tenang Aris. Dan sepertinya itu nomor ponsel." Mendengar ucapan Wina, Arisa segera meraih ponselnya dan hampir menekan tombol panggilan ke nomor Reza.


"Win... pakai ponselmu. Aku takut jika nomorku yang menelepon, kak Reza tak mau menjawab." Dan dengan cepat pula, Wina segera menyalin nomor Reza dari ponsel Arisa. Ia mencoba menghubungi dan keduanya tersenyum girang mendengar panggilan tersambung. Arisa mengusap air matanya dan bersiap untuk berbicara.


"Hallo." Ucap Reza dari seberang. Bukannya bicara, Arisa malah mematung tak tahu harus berkata apa. Ketika ia sudah bersiap melontarkan kata, ia malah mendapat panggilan dari Tio.


"Kak Reza..." lirih Arisa yang merasa tak berani menyapa Reza dengan suara yang lantang. Arisa memilih untuk menjawab panggilan Tio daripada harus berbicara pada Reza, yang pada akhirnya Reza akan menjauh lagi darinya. Mengetahui nomornya yang masih sama pun hatinya sudah merasa lega. Dengan begitu, Wina meminta maaf dan mengatakan bahwa ia salah sambung.


"Hallo kak." Ucap Arisa setelah menggeser tombol penerima panggilan.


"Aris.. kau baik-baik saja? Kata Rayyan kau sakit."


"Aku sudah sembuh kak. Kemarin sudah ke dokter."


"Apa kau di rumah?"


"Aku di kantor."


"Obatnya masih ada kak. Kau tenang saja."


"Bukan masalah obatnya masih ada atau tidak Aris. Ishh kau selalu menyepelekan kondisi tubuhmu. Pulang sekarang."


"Tidak mau. Aku banyak pekerjaan."


"Bisa di kerjakan besok."


"Besok aku mau cuti."


"Mendadak?"


"Iya."


"Mau kemana kau?"


"Apa urusanmu? Kau menyuruhku pulang sekarang, jadi harusnya tidak apa-apa aku bekerja sekarang dan besok cuti."

__ADS_1


"Ish Aris.... kau keras kepala."


Namun Arisa memutuskan panggilan tanpa ingin mendengar ceramah kakaknya. Arisa beralih menelepon Rayyan dan tak perlu menunggu lama, Rayyan pun menjawab panggilan Arisa.


"Aray... kak Reza.... dia ada menelepon ke kantor. Aku ingin mencarinya Aray."


"Sayang maaf. Aku mau meeting. Setelah meeting, aku telepon lagi ya." Dengan kecewa, Arisa hanya mengiyakan dan memutus panggilannya dengan ekspresi sendu.


. Di perusahaan Pratama, Daffa menatap lekat pada Rayyan yang kini tepat berada di hadapannya.


"Kenapa kau berbohong?" Tanya Daffa dengan nada sedikit kesal.


"Bukan urusanmu." Jawab Rayyan memalingkan wajahnya membuat Daffa semakin merasa kesal.


"Memang bukan urusanku."


"Daf. Jika Risa meminta tolong untuk mencari bundanya atau Reza, jangan membantunya." Mendengar permintaan Rayyan, Daffa tersenyum ketus seraya beranjak dari duduknya.


"Kan ini bukan urusanku?"


"Daf... kak Tio yang memintanya." Meski demikian, Daffa memilih untuk berlalu dari hadapan Rayyan.


Untuk menebus kesalahannya karena sudah menyembunyikan fakta keberadaan Sarah dan Reza dari Arisa, Rayyan menemani kemanapun Arisa mau selepas pulang kerja. Seperti halnya malam ini, ia menemani Arisa untuk nonton bioskop untuk menghibur hatinya yang berantakan karena tadi siang. Namun, Arisa terus mengoceh ingin mencari keberadaan Reza meskipun Rayyan sudah berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Hingga sampai ia di puncak kesabarannya, Rayyan secara tak sadar membentak Arisa dan membuat Arisa terdiam seketika.


"Risa... bukannya aku tidak mau. Tapi.... ayolah mengerti. Kalau pun bisa terlacak, aku tak yakin itu Reza. Bisa saja ia menggunakan orang lain untuk mengecoh perhatianmu."


"Aku mau pulang." Cetus Arisa yang jelas tak ingin mendengar Rayyan mengoceh. Dengan sama-sama kesal, Rayyan mengantarkan Arisa ke kediaman Yugito. Dan kebetulan seluruh keluarganya sudah sampai. Tanpa berkata apa-apa, Arisa memasuki rumah dengan tergesa. Bahkan ia tak menyapa keluarganya sama sekali.


"Aris..." panggil Tio yang tak menghentikan langkah Arisa. Terlihat Rayyan masuk dan meminta waktu pada Tio untuk bicara. Keduanya memilih berbincang di teras rumah.


"Jadi Reza menghubungi kantorku?"


"Dari cerita Risa, sepertinya begitu kak."


"Lalu, apa kau akan memberitahunya?"


"Jika kak Tio melarang, aku tak akan melakukan itu kak."


"Saranku, sebaiknya kalian segera menikah. Agar Aris tak terus menerus memikirkan Reza dan bunda."


"Tetap saja. Sebelum mereka bertemu, Risa akan terus mencari mereka."

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2