TAK SAMA

TAK SAMA
53


__ADS_3

. Raisa membuka pintu kamar Arisa dengan tiba-tiba, hingga Arisa terkejut dan seketika menjatuhkan kalung yang ia genggam.


"Wahhhh apa itu...." ejek Raisa yang duduk disamping Arisa.


"Ehh kalung? Dari siapa? Dari Rayyan ya?" Tanya Raisa lagi tanpa jeda. Arisa hanya tersenyum kemudian menggeleng dan kembali meletakkan kalung itu di tempatnya.


"Dari kak Bayu?" Tanya Raisa lagi menebak.


"Dari kak Fariz." Cetus Arisa membuat Raisa menyernyit tak percaya. Arisa tertawa melihat raut wajah Raisa yang terlihat sangat terkejut.


"Aku bercanda. Mana mungkin kak Fariz memberiku kado." Ucap Arisa lagi sambil berusaha menghentikan tawanya.


"Tidak lucu Aris." Tegas Raisa mendelik kesal.


"Maafkan aku. Dan selamat ulang tahun." Ucap Arisa tertawa kecil lalu memeluk Raisa dengan manja. "Selamat ulang tahun juga" ucap Raisa tersenyum tipis.


"Kau tak berniat memberiku hadiah?" Tanya Arisa mendongak dan masih enggan melepas pelukannya.


"Kau yang tak berniat memberiku kado adik dingin." Balas Raisa melirik Arisa dengan mengejek.


"Kau mau apa?"


"Aku mauuuuu.... hari ini kau mengiyakan apa kataku."


"Hemmm rasanya gelisah. Perasaanku menjadi tidak enak. Kau mau menjahiliku kan?" Tanya Arisa melepas peluknya dari Raisa.


"Ehhh tidak... pokoknya kau tak boleh menolak apa yang aku katakan."


"Emmmm oke. Sebagai gantinya, kau juga turuti satu permintaanku." Ucap Arisa dengan serius.


"Deal." Raisa menjabat tangan Arisa dan keduanya tersenyum sinis bersamaan, lalu tertawa bersama pula.


Pagi hari, Tio memasuki kamar Arisa dan menyingkapkan selimut Arisa. Tio menatap nanar perbedaan wajah kedua adiknya. Arisa kini terlihat sedikit tirus, padahal beberapa tahun yang lalu, keduanya sama-sama chuby. Namun sekarang, mungkin karena penyakit yang sempat menyerang Arisa, hingga tubuhnya menjadi kurus.


"Ishhhh kalian mau sampai kapan tidurnya? Ayah sudah menunggu." Ucap Tio menepuk pipi kedua adiknya bergantian.


"Ih kakak... aku masih ingin tidur." Rengek Raisa menggeliat lalu memeluk Arisa yang masih enggan membuka mata. Tio menarik kaki kedua adiknya hingga keduanya berteriak bersamaan.


"Kakak"


"Hahahha..." Tio tertawa sambil berlalu keluar dari kamar Arisa.


"Ihhh aku masih mengantuk." Ucap Raisa sambil menahan rasa kantuknya.


"Ayah mau kemana? Lagian aku ada kelas hari ini." Keluh Arisa yang ikut terbangun.


"Aku juga ada. Pagi..... eh ini jam berapa?" Raisa terbelalak lalu membuka matanya lebar-lebar.


"Rais jam 8." Arisa tak kalah terkejut dan berteriak lalu sibuk berlarian mengambil handuk. Sementara Raisa bergegas lari ke kamarnya.


"Sial... aku terlambat." Ucap Raisa sambil terus sibuk bersiap.


Setelah selesai bersiap dan hanya membutuhkan waktu setengah jam, Raisa berlari menuruni tangga dengan sibuk membenahkan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Mau kemana?" Tanya Tio yang bersandar di ujung tangga dengan santai.


"Mau kuliah kak." Jawab Raisa masih dengan wajah panik.


"Sudah kakak atur surat izinmu." Cetus Tio lalu menguap dan berjalan menuju ruang tamu. Raisa masih mematung diam di tempatnya menatap konyol kepergian Tio.


"Kak... maksudnya apa?" Tanya Raisa yang menyusul Tio ke ruang tamu.


"Aris mana?" Tanya Tio yang mengabaikan pertanyaan Raisa.


"Masih di kamarnya." Jawab Raisa polos dan menunjuk ke arah kamar Arisa.


"Ganti baju." Titah Tio membuat Raisa semakin heran. "Eh... ganti baju." Ucap Tio mengulang perintahnya.


"Baju apa?" Tanya Raisa yang memang tak mengerti dengan apa yang dikatakan Tio.


"Baju biasa. Kita joging." Jawab Tio seraya menyesap white coffee ditangannya.


"Tapi..."


"Ajak Aris." Ucap Tio lagi menyela Raisa.

__ADS_1


"Kita ada kelas kak." Rengek Raisa dengan wajah kesal. Bisa-bisanya Tio mengesampingkan urusan kampusnya.


"Rais.... ayo." Teriak Arisa yang berlari melewati Raisa.


"Aris tunggu." Teriak Raisa menghentikan langkah Arisa di teras.


"Apa lagi? Ini sudah siang." Delik Arisa sangat kesal. Tio tertawa terbahak-bahak dengan sikap kedua adiknya itu.


"Sudah kubilang kalian tak perlu masuk kuliah. Ada acara penting yang harus di--"


"Cuman joging." Cetus Raisa menyela sebelum Tio menyelesaikan ucapannya.


"Apa? Joging? Kakak ingin membunuhku? Sudah tahu aku tak boleh berlari, kakak malah mengajakku joging? Kakak mau melihatku mati di hari ulang tahunku?" Ucap Arisa yang menggerutu tanpa jeda.


"Sudah suttt sutttt... kau ini jadi cerewet ya?" Tio beranjak lalu mengajak kedua adiknya memasuki mobil.


"Barusan kau berlari tapi masih hidup." Ucap Tio yang melajukan mobil meninggalkan rumah. "Kita jalan-jalan hari ini" lanjut Tio.


"Isshh kakak tidak meminta izin pada ayah." Ucap Raisa yang fokus pada ponselnya di kursi belakang.


"Ayah sudah tahu. Justru ayah sudah menunggu." Jawab Tio dengan santai mengemudi.


"Dimana?" Tanya Arisa dan Raisa serentak.


"Di taman." Jawab Tio lagi dengan santai.


"Sedang apa?" Tanya Arisa dengan polos. Tio menghela nafas berat mendapati pertanyaan konyol Arisa.


"Kan sedang menunggu kalian" jawab Tio mendelik kesal.


"Maksudku, ayah sedang apa ditaman?" Lagi, Arisa mengulang pertanyaan yang sama.


"Sedang menunggu kalian!." Tegas Tio.


"Ishh kakak tidak mengerti. Dasar bodoh." Cetus Arisa memalingkan wajahnya.


"Kau yang bodoh. Sudah dibilang ayah sedang menunggu. Masih saja bertanya dengan pertanyaan yang sama." Tio tak ingin kalah. Raisa hanya melirik pada adik dan kakaknya bergantian.


"Mereka yang sama-sama bodoh." Gumam Raisa menggeleng pelan.


"Hallo." Ucapnya ketika menggeser tombol dilayar tanda menerima panggilan.


"Raisa... kenapa kau tak masuk kuliah?" Tanya Sofia yang setengah berteriak dari seberang. Raisa tertawa kikuk mendengar suara panik dari Sofia.


"Aku ada urusan keluarga." Jawab Raisa yang melirik pada Tio yang masih fokus menyetir dan berhenti berdebat ketika menyadari Raisa sedang menerima panggilan telepon.


"Hemmm tapi nanti malam kau ada dirumah kan?" Tanya Sofia dengan ragu.


"Emmm... ada..... mungkin." Jawab Raisa tak kalah ragu.


"Ish kau tak yakin Raisa...." rajuk Sofia.


"Aku tak tahu Sofi... nanti jika aku tak ada acara, aku kabari kamu oke?" ucap Raisa sedikit menenangkan.


"Baiklah.... sudah ya.. aku tutup. Aku mau ke kelas lagi."


"Eh memangnya kau sedang dimana?"


"Aku di toilet."


"Ya sudah... cepat ke kelas. Bisa mati kau jika ketahuan pak Hasan." Ejek Raisa tertawa kecil.


"aku tutup ya... byeee..." panggilan terputus namun Raisa masih tersenyum tipis menatap layar ponselnya.


Sedangkan Arisa masih mendiamkan ponsel yang sedari tadi terus berdering. Entah berapa pesan yang terus mengganggu pendengaran Arisa.


Sampai akhirnya bunyi kicauan ponsel milik Arisa terhenti, Arisa mengambil lalu membuka satu persatu siapa saja yang mengirimnya pesan. Namun Arisa terheran karena hanya tiga orang saja yang mengirimnya pesan. Tak lain adalah Rayyan, Daffa, dan Citra. Sejak Wina pergi entah kemana, kini Arisa lebih dekat dengan Citra. Meskipun tak sedekat Wina.


"Arisa... apa kau sakit lagi?" Begitu isi pesan Citra yang langsung menanyakan kondisinya.


"Aku ada acara keluarga." Balas Arisa cepat.


"Syukurlah... ku kira kau sakit lagi. Aku sudah khawatir." Balas Citra kemudian.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Balas Arisa dengan memasang senyum sambil mengetik pesan untuk Citra.

__ADS_1


"Ehemmmm ehemmm.... pasti dari Rayyan." 'Deg' rasanya sedikit ngilu di bagian hati Raisa ketika mendengar ejekan Tio pada Arisa.


"Bukan..." jawab Arisa menoleh sesaat pada Tio, kemudian kembali fokus pada ponselnya.


"Benarkah... atau dari Bayu?" ejek Tio lagi.


"Bukan kak. Dari Citra. Teman kelasku."


"Aih... perempuan?" Arisa mengangguk menanggapi Tio.


"Rayyan tidak menanyakan keadaanmu?" Tanya Tio kemudian, lalu Arisa menunjukan pesan beruntun dari Rayyan yang belum ia balas.


Mulai dari nama Arisa, panggilan sayangnya, hingga panggilan-panggilan random yang membuat Arisa tertawa.


"Sayang kau kemana?" Pesan terakhir yang menjadi pesan yang paling menggelikan bagi Arisa.


"Aku tidak kemana-mana." Balas Arisa.


"Kenapa tidak masuk kuliah?" Tanya Rayyan yang sudah dipastikan dirinya kini tengah duduk sendiri di bangkunya, dan menghindari kontak komunikasi dengan teman sekelasnya.


"Iya... aku salah masuk." Pesan itu cukup membuat Rayyan berpikir dan menyernyitkan dahinya.


"Memangnya kau masuk kemana?" Tanya Rayyan.


"Masuk ke hatimu. Aku tersesat dan tak tahu jalan keluarnya." Sontak Rayyan tertawa kecil membaca pesan dari Arisa.


"Wahhh sudah pandai merayu ya..." ejek Rayyan masih dengan memasang senyumnya.


"Siapa yang merayu?" Arisa pun tak kalah berseri, senyumnya mengembang dengan masih fokus mengetik pesan.


"Risa... aku merindukanmu... kau dimana sekarang?"


"Aku di jalan."


"Mau kemana?"


"Ke hatimu."


"Sudah lama juga kau ada di hatiku."


"Hemmm benarkah?"


"Iya benar. Kau tak percaya?"


"Tidak."


"Akan aku buktikan"


"Caranya?"


"Kita menikah besok."


"Kau gila." Teriak Arisa setelah membaca pesan Rayyan.


"Kalau aku tak mau?" Balas Arisa menghela nafas panjang.


"Aku akan bersedih."


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Baiklah. Tapi aku ingin lulus dulu." Dan seketika senyum Rayyan memudar melihat balasan Arisa. Tatapannya mendadak sendu lalu mendiamkan ponselnya tanpa menjawab pesan Arisa. Daffa terus melirik ke arah Rayyan dan menyernyit mengapa Rayyan menjadi sendu. Beberapa kali Daffa melirik ponselnya, namun tak kunjung ada jawaban dari Arisa. Hingga akhirnya ada sebuah pesan yang ia tunggu-tunggu.


"Aku ada urusan keluarga Daf." Balas Arisa mengembangkan senyum di wajah Daffa. Namun kini senyum itu terasa menyakitkan bagi Daffa sendiri. Memang Arisa membalas pesannya, namun tidak membuatnya menjadi prioritas pertama. Tak seperti Rayyan yang selalu di utamakan oleh Arisa.


"Tak ada harapan." Ucap Daffa pelan kemudian menunduk di meja.


"Oke... jangan lupa makan, jaga kesehatan, dan jaga hatimu juga." Ucap Daffa dalam sebuah voice note lalu di kirimkan pada Arisa. Arisa tertawa kecil lalu membalas pesan Daffa.


"Iya.. kau juga." Sontak pesan itu berhasil membuat Daffa terkekeh dan menyentuh dadanya. Rayyan melirik sinis pada Daffa yang sedari tadi terdengar cekikikan.


"Sedang apa dia?" Gumam Rayyan yang menyipitkan matanya dan ditanggapi delikan mata mengejek dari Daffa.


"Jangan menghubungi Daffa." Tegas Rayyan dengan ponsel yang menempel di telinganya. Arisa menjauhkan ponselnya seketika setelah menggeser tombol terima panggilan.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2