TAK SAMA

TAK SAMA
187


__ADS_3

. "Risa.. apa bunda boleh bertanya?" Tanya Sonya memecah keheningan karena Seina suda tertidur di samping Arisa.


"Silahkan bunda."


"Apa kau dan Aray pernah melakukan 'itu'? Jawab jujur Risa."


"Apa bunda berpikir Aris dan Aray melakukannya?" Arisa balik bertanya dengan tatapan yang sudah sendu.


"Jika benar pun, bunda tak akan percaya. Sangat tak mungkin kau melakukan hal yang bisa merusak masa depanmu, kehilangan kehormatanmu, dan juga mencoreng nama baik keluarga."


"Tidak bunda. Kami masih aman. Memang saat itu Aray kehilangan kendalinya, tapi tak terjadi apa-apa diantara kami. Aris pun sempat tak percaya Aray senekat itu." Tuturnya dengan menahan rasa malu yang sudah menyelimuti dirinya.


"Maafkan anak bunda ya Risa. Bunda juga tak pernah terpikirkan Aray akan nekat begitu. Dia hanya tidak terima dengan perpisahan kalian, dan dia sangat tak rela melihatmu dengan Fabio. Sampai sekarang, Aray masih membenci Fabio. Sikap ramahnya hanya di tunjukkan ketika didepan orangnya saja."


"Aris pun minta maaf bunda. Kalau Aris tidak kabur, mungkin sekarang Aray dan Rais sudah menikah. Bahkan bunda mungkin sudah punya cucu."


"Tidak nak. Jangan meminta maaf. Semua sudah ditentukan. Jangan ada yang di sesali. Kita hanya menjalankan peran dan alur semesta." Setelah dirasa cukup meringankan tubuh Arisa, mereka memutuskan untuk kembali ke ruang keluarga. Bersamaan dengan itu, Rayyan keluar dari kamar dengan memakai pakaian santai. Ia mengacak rambutnya yang basah dan belum menyadari ada Arisa di ruang keluarga.


"Bunda... laptop Aray dimana ya?" Tanya Rayyan melewati Arisa begitu saja.


"Di bawa Sein. Coba lihat di kamarnya." Terdengar Rayyan berdecak kesal seraya melangkah ke kamar Seina. Tak lama, Rayyan keluar dan ia langsung duduk di samping Arisa.


"Bagaimana? Sudah mendingan?" Tanya Rayyan ditanggapi anggukan oleh Arisa.


"Emm.. Aray. Sudah mau malam." Tutur Arisa dengan suara yang pelan.


"Ah iya. Mau makan? Atau mau membersihkan diri?"


"Aku mau pulang Aray."


"Jangan Risa. Disana tak ada yang menjagamu."

__ADS_1


"Banyak."


"Tapi aku tak menjamin keselamatanmu."


"Ayah akan khawatir jika aku tak pulang."


"Tak akan jika aku dan ayah memberitahunya bahwa kau menginap disini. Lagi pula ayahmu belum pulang kan? Paling cepat besok keluargamu kembali dari Jogja."


"Tapi aku tak bawa baju ganti."


"Memangnya kau tidur pakai apa?"


"Piyama lah."


"Ya sudah kau tahu beres saja. Kalau mau mandi, mandi saja sana!" Arisa terbelalak mendapati bahasa Rayyan yang sedikit berbeda.


"Kau mengusirku?"


"Tapi baju gantiku bagaimana?"


"Sudah mandi saja dulu. Nanti juga ada."


"Tapi..."


"Jangan banyak tapi. Cepat!!" Rayyan menarik Arisa untuk mandi di kamarnya.


"Loh... kenapa di kamarmu?" Protes Arisa yang sempat terhenti karena takut dan waspada jika Rayyan berniat macam-macam.


"Memangnya mau dimana? Di kamar bunda? Nanti ada ayah. Atau di kamar Sein? Sabunnya anak-anak?" Kini Arisa menggeleng kasar, memang tak ada pilihan lain. Ia terpaksa harus membersihkan diri di kamar Rayyan walaupun rasanya sangat memalukan.


"Bunda... jangan cari Risa. Risa mau mandi di kamar Aray." Teriak Rayyan berharap ibunya mendengar.

__ADS_1


"Iya." Sahut Sonya dari arah dapur. "Jangan ikut! Kau kesini Aray. Awas saja kalau kau ikut masuk dan mengintip Risa." Lanjut Sonya masih berteriak dan kali ini dengan nada mengancam.


"Kapan lagi melihat Risa mandi, bunda." Balas Rayyan terkekeh namun membuat Arisa malu setengah mati.


"Haha aku bercanda Risa. Cepat masuk. Atau aku ikut kedalam!" Mendengar ucapan Rayyan, Arisa langsung masuk dan menutup pintu dengan keras tepat di depan wajah Rayyan. Terdengar suara pintu terkunci dari dalam membuat Rayyan tak berhenti tertawa sepanjang langkahnya menuju dapur.


Ketika Arisa berbalik, matanya membulat tak percaya dengan pemandangan yang ada di dalam kamar Rayyan. Perlahan ia melangkah dengan langkah yang berat. Matanya mulai berkaca-kaca saat menatap satu persatu gambar dirinya yang berjejer rapi di pajang di setiap sudut ruangan. Dan yang paling membuatnya terharu ialah foto yang di pajang di atas tempat tidur dengan ukuran tak kalah besar dari yang ada di kamar milik Arisa. Foto itu adalah foto yang di ambil Fahri secara diam-diam. Dimana saat itu Arisa dan Rayyan tengah bercanda bersama di kampus dan memang keduanya sangat terlihat bahagia. Tak di sangka, Rayyan meminta hasil fotonya pada Fahri dan di pajang dengan ukuran sebesar ini. ada pula foto saat dirinya menjadi model untuk promosi kampus dengan memakai almamater dan rambut terurai. Terlihat manis. Senyum Arisa mengembang melihat foto tersebut. Bahkan dirinya saja sudah lupa ia pernah menjadi model. Yang membuatnya heran, salah satu foto yang di pajang, adalah foto saat dirinya tengah mencoba gaun pemberian ayahnya di hari ulang tahunnya. Tak lain saat Fahri diam-diam mengambil foto saat dirinya mencoba gaun tersebut. Foto itu terletak di seberang tempat tidur dengan ukuran yang sama besar.


"Bahkan aku belum memajang fotomu Aray. Satupun aku belum memajangnya." Lirih Arisa kembali mengingat suasana kamar miliknya.


Kemudian Arisa beralih ke foto yang berada di atas nakas. Ia tersenyum melihat foto tersebut. Dimana pose nya adalah saat pipi Rayyan yang ia cium dengan gemas. Dan Rayyan sendiri tersenyum dengan manisnya.


"Aray... kau sungguh manis." Ucap Arisa ketika membaca note yang ada di sudut foto dengan bertuliskan 'Love You more Risa'


Setelah puas melihat-lihat, Arisa segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.


. Singkatnya, ia selesai dan keluar dengan menggunakan jubah handuk. Karena tak ada baju ganti, ia membuka pintu kamar dan hanya menjulurkan kepalanya saja mencari-cari Rayyan.


"Aray!" Panggil Arisa yang tak berniat keluar karena akan sangat memalukan jika ia keluar dari kamar dengan hanya menggunakan jubah handuk. Beberapa kali Arisa memanggil, namun Rayyan tak kunjung terlihat. Ia mulai kesal dan memilih untuk kembali masuk ke kamar. Arisa duduk di ujung ranjang menunggu Rayyan memberinya baju ganti. Tak lama, pintu terbuka dan Rayyan masuk dengan membawa kantong belanjaan. Sontak Arisa naik ke atas ranjang lalu membalut tubuhnya dengan selimut.


"Kenapa kau masuk sialan?" Pekik Arisa dengan wajah yang sudah merona.


"Ehhh. Kau sudah tak sabar sayang? Sudah berani naik ke atas ranjangku." Seringai muncul di bibir Rayyan membuat Ariss menjadi semakin panik.


"Jangan macam-macam kau." Sontak Rayyan kembali tertawa lalu bergegas keluar kamar meninggalkan Arisa dan kantong yang semula ia bawa.


"Pakai itu ya. Setelah itu kita makan, lalu....."


"Aku pukul kau Aray!"


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2