
. "Baik. Kita lanjutkan ke acara pelemparan bunga dari pengantin. Yang masih single, yang jomblo, atau yang sudah ada pasangan dan ingin menikah, silahkan maju ke depan altar dan dapatkan keberuntungan anda." Ujar MC mengumumkan acara yang di nanti-nanti oleh tamu lajang. Beberapa dari mereka berbondong-bondong ke depan altar untuk mendapatkan bunga keberuntungan yang mitosnya akan cepat menyusul si pengantin untuk menikah. Wina menyemangati Daffa yang maju sendirian di garis depan. Namun tak di duga, Tio ikut maju dengan menarik seseorang ke dalam barisan para lajang.
"Kau gila Tio." Reza memaki dengan menolak dan beberapa kali ia berusaha kabur dari Tio.
"Kau harus ikut Za. Siapa tahu kau langsung menikah setelah mendapatkan bunga dari Aris." Meski semua orang bertanya-tanya, namun Arisa tersenyum melihat usaha Tio agar Reza bisa ikut berpartisipasi ke dalam barisan. Setelah kedua mempelai berbalik lalu bersiap untuk melempar bunga. Dengan mengikuti aba-aba dan arahan dari MC, dalam hitungan ketiga Arisa dan Rayyan melempar bunga ke belakang sekuat tenaga. Keduanya pun berbalik dan mencari tahu siapa yang mendapatkan bunga dari Arisa. Ia terkejut saat mendapati bunga tersebut berada di tangan Reza dan Daffa secara bersamaan. Keduanya saling pandang dan saling menarik sehingga bunga tersebut terbagi menjadi dua. Setelah mendapatkan bunga, Reza kembali ke tempatnya dengan perasaan sesal karena sudah berusaha untuk saling berebut dengan Daffa.
"Apa yang aku lakukan? Aku saja belum ada calon untuk menikah." Ujar Reza dengan bergumam sendiri.
"Ehemmm tadi ada yang menolak, tapi sekarang malah berebut." Sindir Tio dengan seringai puas yang menyebalkan.
"Hanya refleks." Jawabnya dengan ketus.
"Hemmm refleks? Refleks tapi tak mau kalah...."
"Tio. Mau sampai kapan kau mengejekku hah?"
"Oke oke maaf. Tapi aku senang kau ada niat untuk menikah."
"Apa maksudmu sialan?"
"Tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja aku tak sabar melihatmu menjadi pengantin dan bersanding di pelaminan. Iya kan bunda?" Tio beralih menatap pada Sarah yang berada di sampingnya. Sarah hanya tersenyum seraya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Tio tersebut.
__ADS_1
"Bunda... kan banyak teman Aris yang datang, apa bunda tidak menemukan gadis yang menurut bunda cocok untuk Reza?" Tanya Tio selanjutnya.
"Entahlah Tio, jika ada pun belum tentu Reza mau kan?"
"Memangnya siapa bunda?" Tio semakin penasaran, gadis mana yang membuat Sarah merasa tertarik untuk menjadi menantunya.
"Gadis yang menjadi bridesmaid itu Tio. Tapi sepertinya dia sangat dekat dengan teman Rayyan." Tunjuk Sarah pada seorang gadis yang kini tengah tertawa bahagia bersama Daffa di tempatnya berdiri.
"Maaf bunda. Dia memang pacar Daffa, dan juga teman terbaik Aris. Dia anak yang baik, meskipun dia dari panti asuhan dan tak tahu dimana orang tuanya, tapi perilakunya seperti anak yang terdidik." Mendengar obrolan Tio dan ibunya, Reza melirik ke arah Wina yang sebenarnya memang memancarkan aura untuk menarik perhatiannya. Dilihat dari manapun, sudah jelas gadis itu sangatlah terlihat baik.
Kali ini, terlihat seorang pria tengah memeluk kedua mempelai dengan tangis yang di buat-buat.
"Huaaaa Aris. Kau tega menikah dengan pria lain padahal aku sudah melihat jelas tubuh polosmu." Sontak Arisa mendorong Marcel dengan kuat dan memukul lengannya dengan keras.
"Hehehe maaf Rayyan. Aku hanya bercanda. Aku sangat suka melihatnya marah-marah begini."
"Bercanda mu kelewatan kak." Lagi-lagi Arisa protes, namun Marcel yang hanya bercanda dan ingin menjahili Arisa pun hanya tersenyum dan tertawa kikuk.
"Sebaiknya kau segera menikah kak. Agar kau tidak terus-terusan memikirkan istriku." Ucap Rayyan yang jelas-jelas mengejek Marcel yang sampai saat ini belum menikah juga.
"Aku berencana untuk menikahi istrimu Rayyan." Bukan hanya Rayyan yang terkejut, Arisa pun sama-sama terhenyak sehingga ia refleks memukul lengan Marcel lagi dengan kesal.
__ADS_1
"Kau memang gila kak." Pekiknya tak habis pikir.
"Hahaha aku bercanda Aris. Aku masih menunggunya untuk lulus S2 dulu, baru kita menikah."
"Ohhh kau sudah dapat calon istri?" Pertanyaan Rayyan ini masih terdengar seperti sebuah ejekan bagi Marcel, seakan-akan Rayyan tak percaya jika Marcel akan menikah.
"Yaaa doakan saja." Jawabnya kemudian berpamitan dan berlalu dari hadapan Arisa. Ketika sampai di depan Tio, Marcel hendak mengobrol dengan Tio dan beberapa orang disana, namun pandangannya tertuju pada Raisa yang sempoyongan dengan menopang pada suaminya di dekat teras rumah. Segera Marcel berlari dan menghampiri Raisa yang kini sudah terlelap tak sadarkan diri. Ia segera memeriksa kondisi Raisa dengan teliti dan memastikan apa yang di alami Raisa sampai pingsan.
"Tak ada yang salah. Dia harus full istirahat, efek hamil muda kebanyakan memang membuat para bumil merasakan beberapa keluhan. Apa lagi Rais baru pertama kali, jadi dia mungkin akan sedikit kewalahan. Aku tidak bawa obat-obatan, jadi aku akan memberikan resepnya saja. Ada vitamin untuk kandungan, ada juga untuk Raisa agar tidak terlalu parah saat mual atau pusing." Jelas Marcel pada Fariz yang setia menemani sang istri.
"Baiklah. Terima kasih. Nanti aku akan beli obatnya segera. Tapi apa tak masalah jika obat dari rumah sakit belum habis? Atau harus menunggu habis dulu?"
"Jika tak ada keluhan yang parah selama mengonsumsi, tak apa jika mau di habiskan. Tapi jika tak ada efek setelah mengonsumsi obat tersebut, sebaiknya minum sesuai resep yang aku berikan. Meskipun aku dokter bedah, tapi aku sering menangani pasien yang hamil, dan sudah tahu beberapa resep." Mendengar Marcel berkata demikian, Faris terkekeh lalu menoleh ke arah Raisa yang begitu lemas dan masih terlelap belum sadar kembali.
"Aku percaya. Dokter sehebat anda, tidak seharusnya saya ragukan lagi."
"Jangan formal begitu. Aku tidak... emm yaaa kenyataannya aku memang hebat. Hahahaha" Faris merubah senyumnya menjadi kikuk mendengar pengakuan Marcel yang begitu percaya diri.
"Ternyata dokter luar negeri bisa sekonyol ini."
. Acara demi acara berlangsung khidmat, Rayyan dan Arisa sudah sampai di penghujung resepsi. Arisa yang susah kelelahan terlihat beberapa kali melirik Rayyan dengan keluhan dadi sorot matanya. Dan Rayyan yang sebagai suami, hanya bisa menyemangati Arisa untuk tetap semangat menjadi ratu hari ini.
__ADS_1
"Sayang. Gilang itu terlihat menyayangimu ya?" Tanya Rayyan menyisakan sebuah keraguan di benak Arisa, mengapa tiba-tiba membahas Gilang?
-bersambung