TAK SAMA

TAK SAMA
191


__ADS_3

. Seluruh tamu undangan menoleh ke arahnya, bahkan MC pun bertanya apa yang di inginkannya. Arisa sendiri merasa terkejut karena tanpa sadar ia beranjak dan menoleh kesana kemari mencari keberadaan Reza.


"Maaf... tidak ada apa-apa." Jawab Arisa tersenyum dengan paksa. Untuk merasa malu pun rasanya sudah tak ia hiraukan lagi. Reza tersenyum tipis saat mendengar suara Arisa, ia merasa ingin berbalik dan menepuk dahi gadis itu dengan gemas karena sudah bersikap memalukan.


"Aku refleks. Maaf." Lirih Arisa pada Rayyan yang menatapnya penuh tanya.


"Ya sudah tak apa." Ucap Rayyan menenangkan agar hal ini tak membuat Arisa menjadi gelisah dan malu.


. Sepanjang acara, Arisa benar-benar merasa hampa. Ia merasa Reza ada di sana, tapi ia tak menemukan Reza sama sekali. Hingga acara menjelang usai, Arisa memilih untuk lebih dulu ke mobil dan menunggu Rayyan menyelesaikan urusannya. Saat di ujung lobby, langkahnya semakin cepat menyusul seseorang yang sangat familiar. Segera Arisa tarik tangan orang tersebut tanpa bicara, dan hal itu berhasil membuat dia menoleh lalu terlihat pula raut wajahnya yang panik.


"Apa kau mau menjauhiku lagi? Setidaknya katakan apa salahku! Jangan menjauh tiba-tiba tanpa alasan kak." Teriak Arisa yang tak bisa menahan kekesalannya di hadapan Reza.


"Apa aku membuat kesalahan? Sampai kau dan bunda pergi tanpa memberitahuku apapun. Meninggalkan jejak, dan bersembunyi di tempat yang sulit aku cari." Lanjut Arisa masih bernada kesal.


"Lepaskan!" Titah Reza dengan sedikit geram.


"Ku bilang lepaskan!" Tegas Reza yang lebih terdengar seperti membentak. Perlahan Arisa melepaskan genggamannya dari Reza dan langkahnya sedikit mundur menjauh.

__ADS_1


"Apa kau tidak pernah bertemu dengan orang yang membencimu? Atau kau pura-pura? Atau kau terbiasa mengemis perhatian dari orang lain? Serendah itukah harga dirimu Arisa?." Lanjut Reza kini tersungging senyum meremehkan yang di lemparkan pada Arisa.


"Jadi kau membenciku?" Lirih Arisa semakin menunduk.


"Tentu saja. Kakak mana yang tidak membenci orang yang sudah mengambil adiknya? Kau merenggut Nadhira dariku. Kau tertawa dengan hati orang lain di tubuhmu. Kau benar-benar licik Arisa. Cih aku sangat membencimu. Aku lelah Arisa, selama 4 tahun aku harus berpura-pura menyayangimu untuk menebus kesalahanku karena sudah membuatmu amnesia. Harusnya kau ingat lagi, sebelum kau amnesia, sikapku padamu bagaimana. Tak mungkin aku menyayangimu dengan perasaan tulus." Mendengar kalimat panjang ini, nafas Arisa semakin terasa sesak. Dan entah sejak kapan air matanya berderai tanpa ia sadari. Hatinya begitu tersayat, ia tak menyangka Reza akan mengatakan hal yang mungkin tak akan di katakan oleh seorang kakak kepada adiknya.


"Baiklah. Maaf sudah mengganggumu. Kalau begitu, aku akan mengembalikkan hati Nadhira padamu, tapi maaf jika aku tak bisa mengembalikkan adikmu padamu." Tutur Arisa menyeka air matanya dan kemudian ia berlalu dari hadapan Reza. Selepas Arisa pergi, Reza terus memikirkan maksud dari ucapan Arisa yang mungkin bisa nekat bunuh diri dengan membuka kembali hati yang sudah melekat di tubuhnya itu. Dalam hati Reza, ia mulai khawatir akan ucapan Arisa yang membuatnya menyesali perkataannya sendiri. Niat ingin membuat Arisa menjauh dengan sendirinya, ia malah di hadapkan dengan ancaman kepergian Arisa.


. Setelah acara selesai, Rayyan menyusul Arisa ke mobil, dan saat itu juga Arisa masih terisak menangis. Malah semakin keras tangisannya melihat Rayyan datang menyusulnya.


"Risa. Ada apa? Apa ada yang berbuat jahat padamu? Katakan siapa orangnya!" Namun, Arisa memeluk Rayyan dengan erat dan tangisannya semakin keras. Rayyan di buat heran akan sikap Arisa yang tiba-tiba, ia khawatir jika ada yang mencoba menculiknya lagi dan menimbulkan trauma bagi Arisa.


"Apa aku sejahat itu Aray?" Lirih Arisa semakin membuat Rayyan kebingungan.


"Bukan aku yang menginginkannya kan? Kalau saja akan seperti ini, kenapa tidak aku saja yang mati?"


"Ehhh kau ini bicara apa? Tak ada yang menginginkan kematian seseorang yang kita sayangi. Sudah ya! Jangan berpikir begitu. Aku tak suka Risa. Apapun alasannya, hidupmu adalah anugrah yang harus di syukuri." Lagi, Rayyan mencoba membujuk Arisa agar lebih tenang.

__ADS_1


"Tapi tidak dengan merebut hidup orang lain kan? Dan juga tidak merebut orang yang berharga bagi kakak dan ibunya. Itu malah membuatku semakin sakit Aray. Meskipun Nadhira itu adikku, tapi bukan berarti aku bisa seenaknya menggunakan hatinya untuk hidupku. Percuma aku hidup, tapi keluarganya tak bahagia karena sumber kebahagiaan mereka sudah aku renggut. Aray.... aku tak mau hidup, jika kak Reza tak menginginkannya."


"Sssttt sudah. Aku tak mau dengar lagi Risa. Jangan bicara begitu. Aku sangat bersyukur kau hidup. Dan kepergian Nadhira itu bukan kehendak kita. Memang sudah jalannya, dan dia yang mendonorkannya dengan ikhlas. Aku yakin, Nadhira tak pernah menyesali ini. Kau juga harus memikirkan perasaan orang-orang sekitarmu. Aku, keluargaku, dan juga keluargamu sangat bersyukur kau masih hidup sayang. Aku tak tahu sekarang bagaimana hidupku jika saat itu kau pergi. Mungkin juga aku tak hidup karena memberikan hatiku padamu. Banyak orang yang menyayangimu sayang. Wina, dan Daffa juga sangat menyayangimu. Jadi aku mohon jangan bicara yang tidak-tidak. Aku mencintaimu, kami menyayangimu. Kami bahagia dengan keberadaanmu. Bagaimanapun kondisinya." Setelah Rayyan bicara panjang lebar, barulah tangis Arisa mulai mereda. Terlihat matanya semakin sayu dan ia masih memeluk Rayyan. Setengah perjalanan pulang, Rayyan yang sedari tadi hanya mengelus kepala Arisa pun menyadari bahwa Arisa sudah terlelap. Wajah Rayyan yang semula hangat kini berubah dingin, dan di kepalanya hanya terpikirkan satu nama.


"Reza. Apa yang kau katakan pada Risa?" Batin Rayyan dengan tatapan yang semakin tajam layaknya elang tengah mengincar ular.


. Singkatnya, beberapa hari kemudian, Arisa yang tengah bekerja, mendapat paket makanan setiap harinya. Sudah 3 hari ia mendapat kiriman tanpa nama. Namun tak satu pun yang ia makan karena merasa curiga. Dan hari ini, ia mendapat telepon dari nomor asing.


"Hallo." Sapa Arisa sedikit ragu.


"Putri!" Panggil seseorang dari seberang. Arisa membeku seketika, ia benar-benar seperti patung sekarang, suara yang begitu familiar. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya mendadak gemetar.


"Bu-bunda...." lirihnya dan kembali menitikkan air mata haru.


"Putri apa kabar?"


"Cih... bunda bertanya tentang kabarku? Jika bunda tidak pergi, dan bersembunyi dariku, pertanyaan itu tak akan bunda tanyakan padaku. Jika ingin tahu, temui aku!" Teriak Arisa dengan kesal dan nafas yang terengah.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2