TAK SAMA

TAK SAMA
136


__ADS_3

. Oma Galuh menatap lekat wajah Rayyan yang mendadak gugup dibuatnya. Jelas ia merasa marah atas apa yang dilakukan Arisa, karena ini bukan hanya menyangkut harga diri keluarga.


"Apa karena Oma yang sempat menghalangi hubungan kalian?" Tanya Oma Galuh selanjutnya. Rayyan hanya memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tak bisa membalas menatap mata Oma yang tanpa ia sadari kini berubah menjadi sendu.


"Maafkan Oma. Tapi--"


"Jika benar Risa sudah memiliki kekasih, Aray akan menerima siapapun yang Oma inginkan sebagai pendamping Aray. Kali ini Aray sungguh-sungguh. Tanpa syarat dan perjanjian apapun. Jika memang Oma ingin Aray dengan Clara, baiklah. Aray akan terima." Tutur Rayyan menyela ungkapan Oma. Seketika Oma dan Sonya terkejut mendengar penuturan Rayyan yang tiba-tiba. Sonya tak percaya dengan kalimat itu. Ia tahu bagaimana Rayyan selama ini. Meskipun terasa hal yang dulu kembali terulang, namun perasaan Rayyan pada Arisa tidaklah memudar. Sempat Sonya berpikir bahwa Rayyan akan menemukan kekasih ketika di Amerika selama bertahun-tahun. Namun kenyataannya Rayyan masih menutup hatinya untuk wanita lain. Seakan wanita di dunia ini hanyalah Arisa saja.


"Aray...." lirih Oma merasa bersalah.


"Maaf Oma. Aray izin pulang." Ucap Rayyan yang langsung berlalu begitu saja.


"Mau sampai kapan kita begini Risa? Apa benar perasaanmu padaku memang sudah hilang?" Batin Rayyan yang enggan menghentikan langkahnya.


. Sore menjelang malam, Arisa yang keasyikan menghabiskan waktu dengan Tio dan Raisa, ia terlupa akan jadwal take out pesawat yang sudah menunggunya di landasan keluarga Pratama atas perintah Reza.


"Ayo pulang." Ajak Tio menyadarkan Arisa seketika.


"Ya ampun. Ini jam berapa? Kak aku harus kembali. Kak Reza pasti menunggu." Ucap Arisa dengan panik setelah ia melihat jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 17:12.


"Tidakkah kau berniat pulang ke rumah? Bagaimana pun kau ini putri ayah dan mama. Kau adikku. Tak akan ada yang bisa memutus ikatan kita sebagai keluarga. Kakak mohon. Pulanglah sebentar. Meskipun hanya semalam. Kasihan mama. Dia selalu menanyakan keadaanmu." Jelas Tio menahan Arisa yang hendak pergi.


"Tapi...."


"Kak Reza biar aku yang bicara." Timpal Raisa meyakinkan. Dengan berpikir berulang-ulang, akhirnya Arisa menyetujui keinginan Tio untuk pulang bersamanya.


"Tak ada salahnya bukan? Meskipun aku tak merindukan mama." Batin Arisa sembari mengikuti langkah kakak sulungnya.


"Mau ikut denganku atau dengan Raisa?" Tanya Tio berhenti tiba-tiba.


"Emmm..." terlihat Arisa kebingungan, ia menatap Raisa dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa?" Tanya Raisa dengan nada ejekan.


"Kak Tio saja." Jawab Arisa memalingkan wajahnya gemas. "Kalau dengan Raisa, bisa-bisa aku di buang di tengah jalan." Lanjutnya kembali melangkah dan melewati Tio kemudian langsung memasuki mobil Tio.


"Pak supir.... ayo!!" Teriak Arisa dari dalam. Tio terkekeh dan menyusul Arisa ke mobilnya. Raisa yang menyaksikannya hanya tersenyum tipis sambil meraih dadanya perlahan. Ada sedikit rasa sesak yang mulai mengganggu pernafasannya.


. Hingga malam, Reza beberapa kali melirik jam ditangannya, ia gelisah mengapa Arisa tak kunjung mendarat. Saat ia hendak menelpon Arisa, layarnya menyala mendahului menampakkan nama kontak ibunya.


"Hallo bunda." Sapanya.


"Za... kamu dimana? Apa Putri denganmu? Mengapa belum pulang?"


"Ini Reza sedang tunggu Putri bunda. Tadi Putri ada keperluan. Mungkin sebentar lagi pulang."


"Ya sudah... jangan malam-malam ya."


"Iya bunda...." sejenak, Reza menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan ketika sambungan telepon sudah terputus.


"Mungkin aku harus menunggu sedikit lebih lama lagi." Gumam Reza dengan suara pelan yang penuh perasaan optimis. Sesekali ia menyalakan layar ponselnya untuk sekedar memastikan jikalau ada pesan dari Arisa. Entah itu kabar baik atau buruk. Ia pikir, Arisa tak akan mengingkari ucapannya saat siang tadi.


Malam semakin larut, supirnya membangunkan Reza yang tertidur bersandar di dalam mobil.

__ADS_1


"Kenapa mang? Putri sudah sampai?" Tanya Reza langsung.


"Bukan tuan. Tapi menurut penjaga, tidak ada informasi akan ada pesawat yang landing tuan." Mendengar jawaban itu, Reza seketika menahan sesak di rongga dadanya. Rasa kecewa terlintas di hati Reza karena Arisa yang tak memberi kabar apapun.


"Baiklah mang. Kita pulang." Ujar Reza mencoba menenangkan perasaannya. Sepanjang jalan, Reza gelisah tak karuan. Apa yang harus ia katakan pada Sarah nanti.


"Mang. Ke apartemen Zain saja. Dan katakan pada bunda bahwa Putri pulang ke apartemen denganku."


"Tapi...."


"Aku tidak mau bunda cemas mang. Katakan saja sesuai yang aku bilang."


"Ba-baik tuan." Jawabnya dengan masih memperhatikan Reza dari kaca spion dalam yang memperlihatkan wajah Reza yang sendu dan pandangannya yang tak berpaling dari pemandangan luar.


. Di kediaman Yugito, Arisa tengah menyelimuti Rahma yang sudah terlelap tidur. Lalu ia melirik ke arah pintu, seakan menembus pintu menatap pada ruang kerja Yugito. Ia begitu terkejut saat tepat ketika ia tiba di rumah, Rahma ambruk tak sadarkan diri. Bukan hanya dirinya, Tio dan Raisa pun bersamaan meraih Rahma dan membawanya ka kamar.


Dan Arisa tak menyangka dari cerita bi Ina bahwa Rahma terus berdiam diri di teras rumah berharap Arisa datang. Namun hari ini, harapan Rahma terwujud dan malah di sambut dengan ketidak sadaran dirinya. Arisa menatap lekat wajah Rahma. Ia begitu merindukan sentuhan dan perhatian ibu kandungnya ini. Di tengah lamunannya, terasa sebuah tangan meraih bahunya. Arisa menoleh melihat siapa pemilik tangan kekar itu.


"Apa ini karena Aris?" Tanya Arisa kembali menatap wajah Rahma.


"Tidak.. jangan di pikirkan. Mama sakit bukan karena kau." Jawab Tio meyakinkan.


"Anty..." panggil Ghava di ambang pintu. Sontak Arisa membalikkan tubuhnya dan langsung merentangkan tangannya menyambut Ghava.


"Dahimu kenapa?" Tanya Arisa yang terheran karena melihat ada memar di dahi Ghava.


"Biasa... dia tidak bisa diam. Jadi terbentur meja." Jawab Diana dengan wajah yang datar.


"Tak apa... laki-laki memang begitu." Ejek Arisa.


"Rais.... apa yang di maksud Ghava itu kak Fariz?" Tanya Arisa beralih menoleh pada Raisa yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Hemmm?" Sahut Raisa yang menolehkan wajahnya saja tanpa memalingkan pandangannya.


"Lupakan. Lanjutkan saja pekerjaanmu." Ucap Arisa memalingkan wajahnya.


"Eh...." kali ini Raisa melirikkan bola matanya tepat menatap Arisa. Tanpa sadar, Raisa begitu dalam menatap sorot mata Arisa yang terasa berbeda. Meskipun sikapnya masih dingin, namun kini tatapannya sedikit hangat dan tenang. Didikan macam apa yang membuat Arisa berubah. Sesaat Raisa pun merasa ingin berada di posisi Arisa. Ia penasaran kasih sayang yang bagaimana yang diberikan Sarah pada adik kembarnya itu.


"Kapan kau akan kembali ke Bandung?" Tanya Raisa tiba-tiba, ditengah keheningan keluarganya, semua mata tertuju pada Raisa yang kini terlihat menunduk lesu.


"Tak tahu. Aku melihat kondisi mama dulu. Jika sudah baikan, aku akan langsung kembali. Tapi jika masih sakit, mungkin akan lebih lama. Karena mengandalkanmu itu mustahil. Kau lebih sibuk sekarang." Mendengar jawaban Arisa, Raisa mengepalkan tangannya perlahan. Ucapan Arisa ada benarnya. Jadwal Tio sangatlah padat semenjak Yugito sakit. Dan secara tidak langsung, ia pun semakin sibuk mengatur agenda dan semua keperluan Tio.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu? Bukankah menjadi presdir itu sangat sibuk." Balas Raisa beralih menatap Arisa.


"Jadi dengan tidak langsung kau menginginkan ku pergi secepatnya?"


"Tidak bukan begitu...."


"Lalu? Apa aku harus meninggalkan mama dan ayah saat kalian sibuk bekerja? Dan apa kau mengandalkan bi Ina dan kak Diana saja? Jangan bodoh Rais. Pekerjaan kak Diana juga sangat banyak di butik. Dan bi Ina juga tidak terus menerus ada di samping mereka." Entah kenapa, ucapan yang di lontarkan Arisa ini membuat dada Raisa merasa sesak. Meskipun benar adanya, namun ini terasa menjadi sebuah sindiran dan tamparan baginya.


"Apa kau menyalahkan ku?" Tanya Raisa beranjak dari duduknya.


"Kenapa kau berpikir begitu?" Balas Arisa dengan tenang dan melepaskan Ghava dari pangkuannya.

__ADS_1


"Karena dari setiap kata yang kau ucapkan itu seakan sedang menyalahkan ku karena aku tidak bisa mengurus mama."


"Aku tidak menyalahkanmu."


"Lalu apa?"


"Aku hanya bicara apa adanya. Kau memang sibuk."


"Aku sibuk pun demi keluarga. Dan kau? Apa yang kau lakukan? Kau minggat tak mau pulang, dan saat ayah sakit pun, kau malah memilih kembali pada wanita penghancur keluarga kita."


"Rais hentikan." Tegur Tio dengan suara geram.


"Kakak hanya menegurku saja? Hemmm? Ohh... haha aku lupa. Aris ini kesayangannya kakak. Jadi pantas jika kakak tidak menegurnya."


"Bukan begitu Rais. Kakak hanya...."


"Hanya apa? Iya kan? Aris ini adik kesayangan kakak. Selama aku hidup, kakak tak pernah menyayangiku." Teriak Raisa kini diiringi isak tangis yang begitu sesak.


"Bisakah kau tidak berteriak? Mama akan terbangun nanti." Tegur Arisa sembari memberi kode pada Diana untuk membawa Ghava keluar bersamanya.


"Rais... kakak bilang hentikan." Tegas Tio meraih kedua bahu Raisa.


"Kenapa? Kakak memang begitu kan?"


"Ayo keluar. Mama bisa terganggu nanti." Dengan bujukannya yang halus, Tio membawa Raisa keluar kamar ibunya.


"Ada apa?" Tanya Yugito yang baru keluar dari ruang kerja setelah ia mendengar keributan dari arah kamarnya.


"Hanya salah faham ayah." Jawab Tio meyakinkan.


"Lalu kenapa Rais menangis?"


"Emmm.... ta-tadi...."


"Ayah... Aris ijin ke kamar." Ucap Arisa menyela dan berlalu begitu saja melewati Yugito.


"Baiklah." Jawab Yugito menatap nanar kepergian Arisa.


"Rais... sebaiknya kau juga tidur. Besok kita harus--".


"Apa aku bisa libur satu hari?" Yugito menyernyit mendapati pertanyaan Raisa yang menyela ucapannya.


"Aku mau merawat mama besok. Aku tak mau membebani Aris."


"Apa kalian bertengkar?"


"Jangan dengarkan dia ayah." Teriak Arisa dari atas.


"Aris!" Tegur Tio yang ditanggapi delikan malas oleh Arisa.


Setelah menutup pintu, Arisa langsung berlalu menuju balkon miliknya yang sudah lama ia tinggalkan.


Bayangan percobaan bunuh diri mulai terlintas dibenaknya.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2