
. Meskipun Rayyan sadar akan kehadiran orang-orang yang bersangkutan, seperti Reza, Zain dan Rega pasti ada di sana, namun ka berpura-pura tidak tahu. Rayyan memberitahu Tio mengenai hal ini, jadi Tio duduk bergabung dengan Arisa. Benar saja, Arisa terus mengoceh tentang Reza.
"Aris... mungkin kau halusinasi. Ini acara besar, tak heran jika ada yang mirip." Jelas Tio berharap Arisa mengerti dan berhenti memikirkan Reza.
"Kalau begitu aku mau ke toilet dulu kak." Ucap Arisa setelah ia menenangkan pikirannya. Setelah mendapat izin dari Tio, Arisa beranjak dan berlalu menuju toilet yang berada di bagian belakang aula. Kali ini, ia tak salah melihat. Matanya membulat dan langkahnya semakin cepat. Arisa segera menarik seseorang yang begitu ia kenali. Arisa menghimpit tubuh pria itu ke tembok dengan memegangi kedua lengannya.
"Kak Zain. Jawab jujur! Dimana kak Reza? Kakak tahu kan? Kalau kakak ada disini, berarti kak Reza juga ad--"
"Aku disini karena undangan Put. Aku menghadiri acara ini dengan tunanganku. Setelah aku ke Surabaya, aku sudah tak ada kontak lagi dengan Reza. Bahkan aku mendengar perusahaannya di jual." Balas Zain menyela dan menghentikan celotehan Arisa yang jelas memojokkannya.
"Sebenarnya kenapa mereka? Aku datang ke rumah, tapi sudah tak ada siapapun. Kak Zain! Aku merindukan mereka." Lirih Arisa mulai menjauh dari Zain.
"Putri... aku sungguh tak tahu kabar mereka. Maaf."
"Kenapa tidak di cari? Aku yakin kalau kak Zain yang mencari, pasti kak Reza akan cepat di temukan lokasinya."
"Putri. Maafkan aku. Setelah lepas dari Reza, aku sudah tak bisa kemana-mana lagi. Aku harus meneruskan usaha ayahku." Jelas Zain berharap Arisa bisa mengerti pada alasannya.
"Kak Zain. Aku benar-benar merindukan mereka. Setiap hari aku selalu menunjukkan wajah palsu. Bahkan pada keluargaku sendiri, pada Aray, pada teman kerja, semuanya aku bodohi. Padahal siapa Reza? Harusnya aku senang dengan ketidak hadiran mereka, tapi sebaliknya, aku malah bersedih kehilangan orang yang sudah merebut kebahagiaan keluargaku. Kak Zain. Ayolah kumohon bantu aku mencari mereka!" Meski memohon, Zain terus menolak permintaan Arisa, dan dari pada masalah semakin runyam, Zain memilih untuk berlalu dari hadapan Arisa.
Di balik dinding lain, Reza bersandar dengan wajah yang suram mendengar keluhan Arisa pada Zain.
"Memang benar. Harusnya kau membenciku. Tak sepantasnya kau bersedih atas kepergianku. Aku dan bunda sudah merebut kebahagiaan keluargamu. Karena itu, aku dan bunda memilih untuk menjauh darimu." Tutur Reza dengan lirih.
. Ketika Arisa kembali ke mejanya, wajahnya benar-benar sendu. Tio terbelalak saat melihat Reza duduk tepat di belakang Arisa.
__ADS_1
"Apa-apaan dia? Dia memintaku untuk tidak memberitahu Aris tentang keberadaannya. Tapi dia sendiri malah duduk di belakang Aris. Memang gila. Kalau perjanjiannya bukan Aris, sudah aku singkirkan dia dari sana." Batin Tio mendelik kesal.
"Kenapa kau mendelik begitu? Kau membenciku?" Tegur Arisa yang jelas di luar dugaan. Ia menatap kepala Reza dari tadi, tapi malah Arisa yang marah.
"Sial. Aku lupa di depanku ini Aris." Batin Tio menyesali sikapnya.
"Maaf Aris. Bukan. Kakak tidak membencimu. Hanya saja kakak kesal dengan sikapmu. Sekarang bukan waktunya bersedih." Mendengar ceramah dari Tio, Arisa balik berdelik dan seakan tak ingin mendengar celotehan Tio.
"Tuh kan... kau yang membenci kakak. Kakak sedih loh." Kali ini Tio berubah murung membuat Arisa terlihat menyesalinya.
"Bukan begitu kak. Aris hanya--"
"Diana... lihatlah adik iparmu. Dia sudah tak menganggapku kakak. Bagaimana ini, selama ini aku bekerja keras untuknya tapi dia tidak menganggapku." Rajuk Tio dengan menunduk ke bahu Diana dengan nada seperti anak kecil yang tengah menangis. Rayyan menahan tawa melihat tingkah Tio yang di luar dugaan. Jelas dalam hati Tio, ia begitu senang melihat Arisa yang gelisah karenanya dan sedikit mengalihkan perhatian Arisa dari Reza.
"Kak... maafkan Aris."
"Kau mau aku melakukan apa?"
"Kakak ingin memelukmu." Jawaban Tio ini sontak membuat Arisa melongo. Ia merasa malu jika harus di peluk oleh Tio di depan umum begini, meskipun ia sering memeluk Tio, tapi rasanya saat ini ia ragu. Arisa semakin panik melihat Tio beranjak dari duduknya menghampiri Arisa. Rayyan sudah tak bisa menahan tawa melihat wajah Arisa yang memucat dan jelas ia tak ingin di peluk oleh kakaknya.
"Iihhhh gemasssssss." Ucap Tio seraya memeluk Arisa dengan erat.
"Aku ternodai." Ucap Arisa begitu menyesal seraya masih memeluk tubuhnya.
"Itu kakakmu juga." Balas Rayyan dengan nada ejekan.
__ADS_1
Setelahnya, Tio beralih ke orang yang ada di belakang Arisa.
"Toilet." Ucapnya dengan nada berbisik. Karena suasana masih ramai dan acara belum di mulai, Reza bisa leluasa kesana kemari tanpa di curigai Arisa. Setelah mendengar bisikan Tio, Reza beranjak dan di susul oleh Tio dari belakang.
"Mau kemana?" Tanya Arisa yang terheran dan curiga kenapa tiba-tiba Tio pergi.
"Ke toilet. Mau ikut?" Arisa langsung menggeleng menanggapi. Hal itu membuat Rayyan dan Diana tertawa membuat wajah Arisa merona karena malu.
"Kau ini tak bisa jauh dengan kakakmu." Kali ini Diana yang mengejek Arisa.
"Kakak ih diam. Aku hanya bertanya." Elak Arisa masih merasa malu.
Di depan toilet, Tio mendorong tubuh Reza dengan satu tangan tepat di dada Reza sampai bersandar di tembok.
"Apa maksudmu?" Tanya Tio dengan nada geram.
"Kau kenapa Tio?" Reza balik bertanya karena ia tak paham dengan yang di tanyakan Tio.
"Kau dengan santainya duduk di belakang Aris. Padahal kau sendiri yang memintaku untuk menyembunyikan keberadaanmu." Mendengar jawaban Tio, Reza hanya tersenyum tipis dan bagi Tio itu terasa sebuah senyum merendahkan.
"Tio. Apa kau berpikir, jika aku duduk yang jauh dari pandangan Putri, dia akan menemukanku karena dalam pikirannya aku sedang menjauhinya. Dia itu teliti, tapi mudah terkecoh. Buktinya dia tak menyadari keberadaanku kan?" Tio terdiam, ia tak percaya rencana Reza hanya untuk mengecoh Arisa.
"Pastikan keberadaanmu tidak di ketahui." Tegas Tio berlalu dari hadapan Reza.
"Tapi sebenarnya aku hanya ingin mendengar suara adikmu. Ingin melihat senyumnya, dan aku juga ingin memeluknya setidaknya untuk yang terakhir." Lirih Reza bergumam sendiri.
__ADS_1
. Acara di mulai setelah semua tamu hadir. MC memberi salam kepada beberapa pimpinan yang sudah di kenal khalayak ramai, seperti Tio dari jakarta yang sudah lama menjabat sebagai pengusaha muda di kotanya, dan ada beberapa lainnya. Terakhir, nama yang membuat Arisa tercengang, ialah Reza dari Bandung. Arisa beranjak menarik perhatian semua tamu.
-bersambung