
. Menjelang pernikahan, Raisa sudah di larang untuk keluar rumah. Sebagai gantinya, Arisa yang menjadi sekertaris presdir dan menjalankan tugas Raisa. Sikap semua karyawan tak berbeda pada Arisa meskipun hanya sebatas pengganti. Bahkan Arisa dapat berbaur dalam waktu singkat dengan karyawan lain seakan ia sudah lama menghandle pekerjaan tersebut.
"Mantan presdir memang beda ya? Kerjanya totalitas banget." Ucap seorang karyawan yang memasuki lift bersama temannya.
"Iya, tapi jujur aku takut. Yang namanya presdir itu kan galak. Pasti sifat itu masih melekat pada Arisa." Jawab temannya.
"Kupikir juga begitu."
Lift berdenting, lalu pintu terbuka dan mereka yang tengah membicarakan Arisa pun terkejut saat mendapati orangnya kini berada di hadapannya. Arisa menyernyit melihat kegugupan kedua karyawannya. Mereka tersenyum ramah lalu segera meninggalkan lift dengan tergesa.
"Mereka seperti ketakutan." Ucap Wina sembari memasuki lift bersama Arisa.
"Memangnya kita hantu?"
"Tidak... tapi aku dengar mereka menganggapmu pimpinan galak karena pernah menjadi presdir."
"Aihh... aku yang imut begini di sebut galak? Sepertinya mereka semua sedang sakit." Bukannya ikut kesal, Wina malah tertawa terbahak-bahak mendapati ungkapan tersebut.
"Kenapa?" Tanya Arisa dengan wajah polos.
"Kau bisa bercanda? Sejak kapan?"
"Win... jangan mengejekku."
"Haha iya iya nona Pratama. Saya minta maaf." Wina masih mengejek Arisa dan keduanya terus tertawa sampai pintu lift terbuka. Ketika keduanya hendak memasuki ruang direktur, Wina sempat menegur Arisa karena di anggap salah ruangan.
"Aku ada urusan pada ayah Win."
"Haihhh dasar kau." Keluh Wina sembari menyalakan monitor komputernya.
"Begitulah ayah. Aku sudah berjanji. Jadi, aku harap ayah tidak memberitahunya." Ucap Tio yang berbicara dengan serius menghadap pada Yugito.
"Siapa? Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Arisa yang Tio rasa tiba-tiba berada di belakangnya.
__ADS_1
"Aris?" Pekik Tio membulatkan kedua bola matanya. Hal itu semakin membuat Arisa yakin bahwa Tio memang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ayah... bagaimana?" Tanya Arisa beralih menatap sang ayah. Yugito sekilas melirik pada Tio dan kemudian menghela nafas dalam sesaat.
"Sayangnya, mereka tidak menemukan jejak Sarah nak."
"Oh baiklah. Ayah bohong." Ucap Arisa kemudian berbalik dan menutup pintu dengan keras. Wina yang berada di mejanya berhasil terlonjak karena terkejut.
"Apa-apaan kau?" Tegur Wina ketika Arisa melewatinya dan pergi begitu saja tanpa menjawab.
"Kenapa lagi dia?" Lagi-lagi Wina mengeluh mendapati sikap Arisa yang menjadi random begini.
. Sampai hari H tiba, Arisa, Wina, Deby, dan Sofia di rias dan mengenakan gaun bridesmaid. Sebagai saudari kembar, Arisa yang lebih bertanggung jawab pada Raisa.
"Ehhh kau menikah? Jadi, mulai besok kamar yang ada di sampingku itu sudah kosong?" Sindir Arisa ketika ia memasuki kamar rias pengantin.
"Haha tentu saja. Dan kau akan merindukanku."
"Baguslah. Dengan begitu, aku tak perlu khawatir lagi kau akan membenciku." Mendengar hal tersebut, ternyata Arisa juga merasa hatinya sendu.
"Kak Fariz sudah sampai. Sekarang sedang acara penyambutan. Bukan saatnya untuk menangis." Ucap Arisa yang mengintip keadaan di luar.
"Kau benar." Kali ini Raisa tersenyum lebih ikhlas dari pada sebelumnya.
"Aku juga ingin menikah di rumah seperti ini." Ungkap Arisa yang tak memalingkan pandangannya dari suasana rumah yang begitu mewah. Sampai di acara inti, Arisa mengiringi langkah Raisa yang terbalut gaun mewah dan elegan. Di ujung altar, Rayyan yang menjadi pasangan Arisa pun ikut mengiringi Raisa menuju tempat Fariz. Semua mata benar-benar tertuju pada Raisa yang memukau. Namun sebagian orang menyayangkan batalnya pernikahan Raisa dan Rayyan dulu. Banyak yang berandai-andai juga Raisa sudah bersama Rayyan dari lama.
"Aku harap kalian jangan mendengarkan mereka." Ucap Raisa pelan ketika genggaman Arisa kian erat dan tatapannya menjadi sendu. Sebelum duduk di samping Fariz, Raisa sempat membisikkan sesuatu pada Arisa hingga Arisa menarik senyumnya tipis. Meski begitu, senyuman tersebut berhasil membuat beberapa orang tersipu. Rayyan melirik Arisa dengan tajam hingga Arisa kembali menarik senyumnya lalu kembali fokus pada Raisa.
Setelah sah, Arisa masih mematung tak percaya kakaknya sudah menikah. Hingga saat pengantin hendak berpindah ke pelaminan pun, Arisa masih melamun. Kalau bukan Tio yang menenangkan, mungkin Arisa akan menangis saat itu juga karena terharu. Arisa mengikuti pengantin dari belakang dengan menjampi-jampi Fariz hingga pengantin pria itu tersenyum kaku karena ancaman Arisa.
"Kalau sampai kak Fariz membuat kakakku menangis, maka kakak sudah berurusan dengan 3 pimpinan perusahaan." Ancam Arisa yang terus terngiang-ngiang di telinga Fariz. Semula Fariz iya iya saja, namun iya merasa ganjil. 3? Siapa satu pimpinan lagi? Yang ia tahu hanya Tio dari Artaris dan Rayyan dari Pratama.
"Jangan lupakan aku kak Fariz. Aku juga seorang pimpinan. Bahkan aku lebih jahat dari kak Tio." Lanjutnya masih tak ingin diam.
__ADS_1
"Iya iya adik iparku. Kau tenang saja." Jawab Fariz tersenyum meyakinkan Arisa.
Ketika pengambilan foto keluarga, Arisa sangat gugup. Bahkan saat Tio menikah pun, ia tak segugup ini.
"Nona kembar senyumnya yang lebar ya!" Teriak kameramen yang mengarahkan. Arisa menghela nafas sesaat lalu tersenyum dengan begitu manis.
"Nah... seperti itu. Tahan ya... 'jpret' ya bagus. Nona kembar memang sangat manis." Sontak Rayyan beralih menatap tajam pada kameramen tersebut.
"Badanku mendadak panas dingin." Batin kameramen yang meraih tengkuknya karena terasa ada angin yang mendadak mengarah kepadanya.
Arisa yang kembali ke tempatnya, ia langsung menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan.
"Yang! Nanti doakan aku dapat bunganya ya."
"Ehhh aku juga mau."
"Tidak. Kau disini saja. Biar aku yang berjuang."
"Tidak mau. Aku juga mau ke sana. Nanti kalau hanya kau yang dapat, aku tak mau di tinggal nikah."
"Kan aku nikahnya sama kamu Yang!"
"Tapi..."
"Sudah! Jangan tapi tapi." Ditengah perdebatan Arisa, ada Daffa dan Wina yang sama-sama memiliki rencana untuk mendapatkan bunga dari pengantin.
"Heh Daf. Aku dulu." Ucap Rayyan melirik ke arah Daffa yang membalas lirikannya tak kalah mengejek.
"Oh maaf bos. Aku sudah tidak jomblo lagi. Jadi, kali ini aku yang akan maju lebih dulu dari pada kau hahaha."
"Ohhh jadi Daffa begitu sekarang? Ehhh asisten tak boleh mendahului bosnya tau..." Arisa tak kalah puas membalas ejekan Daffa dan berhasil membuat Daffa terdiam tak berkutik.
-bersambung
__ADS_1