
. Daffa berjalan menuju teras rumah keluarga Yugito. Bi Ina yang kebetulan sedang membereskan ruang tamu menghampiri Daffa.
"Cari siapa den?"
"Arisa ada?" Tanya Daffa ragu.
"Non Arisa nya sedang pergi den." Jawab bi Ina sopan.
"Siapa bi?" Tanya Mama terdengar menghampiri.
"Ada temannya non Aris bu."
"Siapa?" Kini mama tepat berada dihadapan Daffa.
"Bu.. eh.. mam.. eh.. tante. Sa-saya Daffa. Teman kampus Arisa." Daffa meraih tangan mama dan menciumnya dengan sopan.
"Arisa nya tadi pergi. Katanya ada urusan penting mau ke rumah temannya." Ucap Mama seraya mengingat kembali.
"Kira-kira siapa tante?"
"Aris tidak memberitahu. Tapi Aris hanya bilang bahwa adik temannya menunggu Aris." Jelas mama.
"Adik?" Lirih Daffa dan mama hanya mengangguk.
"Tidak salah lagi. Arisa pasti ke rumah Rayyan."
"Kalau begitu. Daffa pamit tante. Maaf sudah mengganggu waktunya. Dan tolong sampaikan salam saya untuk Arisa."
"Tak apa nak. Nanti kalau Aris pulang, mama sampaikan!"
"Terima kasih tante." Daffa menunduk sopan kemudian berlalu dengan motor kesayangannya.
. "Banyak yang khawatir ya bi?" Tanya mama tanpa menoleh pada bibi dan terus menatap kearah gerbang yang lumayan jauh dari teras.
"Non Aris itu gadis yang baik dan perhatian bu. Jadi tidak heran jika ada yang merasa kehilangan saat non Aris tak ada." Jawab bibi tersenyum mengingat kembali wajah Arisa yang tak bisa lagi ia gapai.
Terlihat mobil Raisa memasuki pekarangan rumah.
"Aku pulang ma..." Raisa berlari kecil menghampiri mama lalu memeluknya.
"Mama menungguku? Atau..." Raisa mencoba menebak sedang apa mama dan bibi berada di luar.
"Kebetulan saja. Tadi ada temannya Arisa."
"Siapa ma?" Raisa semakin penasaran.
"Daf..."
"Daffa?" Raisa menyela dengan antusias.
"Punya nyali juga dia mencari adikku." Lanjut Raisa dengan wajah jahil.
"Ahh iya Daffa. Kau tahu?" Mama tak kalah heran menatap Raisa.
"Tentu saja. 2 minggu lalu dia masih satu kampus denganku. Tapi sekarang sudah pindah ke kampus Aris." Raisa menghela nafas lesu.
"Kau lelah?" Raisa mengangguk.
"Mandilah."
"Baiklah!" Raisa berjalan menaiki tangga dan meraih pintu. Raisa terdiam melihat pintu kamar Arisa yang terlihat tidak tertutup rapat. Padahal seingatnya, pagi tadi pintu itu masih rapat. Raisa berjalan dan mendorong sedikit, namun tidak menemukan siapa-siapa.
"Kapan kau pulang adik bodoh?" Raisa menutup kembali pintu kamar Arisa dan beralih memasuki kamar nya.
. Di kediaman Danu, Rayyan terdiam dengan wajah yang malu untuk menatap Arisa. Kini keduanya duduk di sofa ruang tengah. Hanya berdua. Ayah dan bunda sengaja membiarkan mereka untuk berbicara secara pribadi.
"Maaf." Lirih Rayyan tanpa memalingkan wajahnya.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Arisa yang tak begitu mendengar kata yang terucap dari Rayyan.
"Aku minta maaf sudah memelukmu sembarangan didepan ayah dan bunda." Rayyan baru menoleh pada Arisa dengan wajah bersalah.
"Aku yang seharusnya meminta maaf Aray. Aku yang tak menepati janjiku untuk menemui Sein. Padahal aku sendiri tahu Sein pasti menungguku." Arisa menunduk lebih merasa bersalah dari Rayyan.
"Tapi aku lega kau baik-baik saja."
"Aku memang baik-baik saja." Arisa mendongak dengan senyum untuk meyakinkan Rayyan.
__ADS_1
"Ku harap kau tak menyembunyikan sesuatu dari ku Risa" gumam Rayyan menatap dalam wajah Arisa.
"Aray." Rayyan tersadar dari lamunannya.
"Maaf aku melamun." Arisa mengangguk kecil menanggapinya.
Keduanya terdiam beberapa saat.
"Jadi? Bagaimana?" Arisa menoleh pada Rayyan.
"Apa?" Tanya Arisa tak mengerti.
"Tentang perasaanku. Apa kau menerima kehadiranku sebagai orang baru yang ingin menjadi bagian penting dalam hidupmu." Arisa hanya terdiam tak menanggapi.
"Aku tidak menyuruhmu melupakan Rama. Tapi... aku hanya ingin melihatmu bahagia dengan sisa hidupmu bersamaku. Terdengar egois memang. Tapi aku serius." Wajah Rayyan benar-benar menampakkan keseriusan pada Arisa yang masih termangu.
"Aku takut Aray." Ucap Arisa pelan.
"Risa... aku tak tahu masalahmu, dan juga tak tahu tentang masa lalu mu, tapi apapun itu, aku ingin menemanimu dalam keadaan apapun." Terlihat mata Arisa berkaca-kaca mendengar apa yang dikatakan Rayyan.
Apa benar ini saatnya bagi Arisa untuk kembali membuka hati setelah kepergian Rama.
"Tapi aku benar-benar takut Aray..."
"Taku tentang apa? Aku tak akan mengkhianatimu."
"Bukan itu. Tapi aku takut meninggalkanmu." Rayyan menyernyit tak mengerti.
"Aku takut.. saat kau benar-benar mencintaiku, aku akan meninggalkanmu dalam kesedihan."
"Maka berjanjilah untuk tidak meninggalkanku." Rayyan mendekap Arisa dalam hangat pelukannya.
. Daffa berbalik ketika menyaksikan apa yang tak seharusnya ia tahu.
"Apa ini yang namanya harus berkorban perasaan untuk teman?" Lirih Daffa yang kembali berlalu meninggalkan kediaman keluarga Danu.
. Malam hari tepatnya jam 7 malam, Seina masih menempel pada Arisa ketika Arisa hendak pulang.
"Kakak Putri tak boleh pulang."
"Eh... nanti kamu dianggap penculik." Ucap Arisa mensejajarkan tubuhnya dengan Seina.
"Kenapa kakak?"
"Karena kak Aray menyukai kakak Putri." Jawab Seina polos.
"Diam kau peri kecil nakal." Rayyan dengan wajah gemas menghampiri Seina yang kemudian terperanjat dan berlindung dibalik tubuh Arisa.
"Kakak Putri. Tolong Sein.!" Arisa hanya tertawa melihat tingkah kakak dan adik ini. Mengingatkannya pada Tio.
"Kak Tio." Ucap Arisa tiba-tiba dengan terkejut.
"Ada apa?" Tanya Rayyan khawatir.
"Kak Tio pasti sudah pulang. Aku juga harus segera pulang." Arisa sedikit memohon pada Rayyan.
"Kita makan malam dulu sebentar."
"Aku makan dirumah."
"Tidak. Disini saja."
"Aray....."
"Risaaa..."
"Kak Tio pasti khawatir karena aku belum pulang."
"Dan aku juga akan khawatir jika kau pulang sekarang."
"Kakak Putri!" Panggil Seina menarik tangannya.
"Nak Risa... ayo makan. Bunda sudah siapkan makan malam." Ucap bunda menghampiri.
"Bunda... Risa pamit pulang. Sudah malam bunda. Takut kakak khawatir." Ucap Arisa dengan wajah sedikit memelas.
"Tapi makan dulu ya... sudah makan, baru kamu boleh pulang." Semula Arisa hanya terdiam terlihat raut wajahnya tengah menimbang keputusan.
__ADS_1
"Baiklah bunda." Jawab Arisa akhirnya membuat anak dan bunda nya tersenyum.
"Yee aku mau duduk di samping kakak Putri." Seina berlari kecil menuju ruang makan.
'Bugh' "bunda............." teriak Seina kemudian langsung menangis.
"Nah kan..." cetus Rayyan mendapati adik kecilnya menangis di lantai dan tak ingin di sentuh oleh orang lain. Melihat itu, Rayyan dan Arisa dengan kompak meraih Seina. Bak seperti keluarga kecil, semua yang melihat menjadi tersipu malu.
"Aku mau kakak Putri.!" Rengek Seina memeluk Arisa.
"Kakak Putri kelelahan." Ucap Rayyan kemudian menggendong Seina dan duduk di samping Arisa.
"Apa ada makanan yang tak kau sukai?" Tanya bunda setelah semua ada pada posisinya, kecuali ayah yang masih berada di ruang kerja. Dan bunda membiarkan Seina duduk di pangkuan Rayyan.
"Saya hanya alergi pada telur bunda." Sontak semua penghuni rumah itu menyernyit dan menatap dalam pada Arisa yang tiba-tiba gugup.
"Kau serius?" Bisik Rayyan dan Arisa hanya mengangguk.
"Baiklah... maafkan bunda. Aray tolong pindahkan telur itu." Ucap bunda mengulurkan tangannya.
"Maaf bunda." Lirih Arisa.
"Tak apa nak. Justru bunda yang minta maaf."
"Maaf ayah telat. Kalian sudah lapar?" Tanya ayah yang kini duduk dan tersenyum pada Arisa.
"Kakak. Aaa" Rayyan menyuapi Seina dengan susah payah. Arisa yang melihatnya ikut merasa risih jika Rayyan sendiri yang makan sambil menyuapi gadis kecil dipangkuannya. Arisa merebut sendok dan garpu dari tangan Rayyan.
"Aku bisa sendiri Risa..." namun Arisa tidak bicara dan menyodorkan makanannya pada Rayyan.
"Aaa" melihat Arisa yang seakan membujuknya, Rayyan membuka mulut dan menyantap makanan yang disodorkan Arisa. Rayyan terus menatapnya yang sibuk makan untuk dirinya sendiri, Seina, lalu pada Rayyan. Namun terlihat Arisa tidak sesibuk Rayyan saat menyuapi kakak beradik itu. Bunda dan ayah hanya saling lirik lalu melempar senyum.
Arisa mengambil tissue dan mengelap bibir Seina yang belepotan karena makanan. Kemudian Arisa lanjut mengelap bibir Rayyan yang sama berantakan. Wajahnya yang serius membuat Rayyan gemas. Jika tak ingat ada ayah dan bunda nya, rasanya ingin mencubit, mencium, dan ingin mengacak-acak wajah menggemaskan itu.
"Ehemmm... uhuk uhuk... bunda air bunda." Ucap Ayah bertingkah seolah sedang tersedak karena makanan. Tapi sebenarnya tak kuat menahan tawa melihat adegan romantis anaknya. Romantis memang, apalagi dengan adanya Seina di pangkuan Rayyan. Membuat pasangan itu benar-benar seperti satu keluarga kecil yang bahagia.
. Seluruh keluarga Danu mengantar Arisa sampai teras.
"Aray antarkan ya... bunda khawatir terjadi apa-apa padamu." Ucap bunda menatap lembut pada Arisa.
"Tidak bunda.. Aris sendiri saja. Lagian Aris kan bawa mobil sendiri."
"Mobil kamu simpan dulu. Nanti biar Rayyan yang mengantarkan ke rumahmu."
"Tapi bunda..."
"Atau begini saja. Mobil Rayyan dibawa sama pak Aman. Terus Aray bawa mobil kamu ya? Jadinya kan mobil kamu sama kamunya aman sampai rumah."
"Bunda cerdas! Aray makin sayang sama bunda." Cetusnya terlihat antusias. Namun bunda dan ayah menatap datar wajah Rayyan yang tiba-tiba berubah gugup.
"Ehem.. aku.. aku hanya takut Risa di marahi kak Tio saja jika pulang sendiri." Ucap Rayyan memalingkan wajahnya kearah lain.
"Ya sudah... hati-hati di jalan nak!" Bunda memeluk Arisa sebelum membiarkannya pergi dari rumahnya.
"terima kasih bunda" Arisa membalas pelukan bunda, laOlu beralih menyalami ayah.
"Ayah Aris pamit."
"Baiklah. Hati-hati menantu. Jika suamimu macam-macam, segera telpon ayah." Seketika keduanya terbelalak mendengar candaan sang ayah. Bunda hanya tertawa kecil.
"Janji ya.. kakak Putri main lagi"
"Iya kakak janji."
. Rayyan dan Arisa berlalu meninggalkan kediaman Danu.
"Menurutmu bagaimana mas?" Tanya bunda.
"Apanya?"
"Aku malah khawatir." Cetus bunda masih menatap kedepan.
"Apa yang kau khawatirkan?" Tanya ayah dengan heran.
"Rayyan menyukai Arisa, adiknya. Dan yang akan kita jodohkan itu dengan kakaknya. Berarti itu Raisa."
"Kenapa kau begitu khawatir? Kakak atau adik sama saja kan?"
__ADS_1
-bersambung.