TAK SAMA

TAK SAMA
109


__ADS_3

. Setelah bersiap, kedua anak kembar itu kembali berpapasan di depan kamar mereka. Raisa yang merasa bersalah atas apa yang diucapkannya kemarin langsung memalingkan wajahnya dan bergegas mendahului dengan langkah cepat.


"Rais..." panggil Arisa dengan setengah berteriak namun tak cukup membuat Raisa berhenti.


Arisa pun memutuskan untuk segera bergegas karena jam sudah menunjukkan pukul 07:38. Seperti biasa, ia selalu di antarkan oleh mang Ujang menuju perusahaan Pratama. Namun, tak seperti biasanya, kini terlihat Rayyan tengah berdiri didepan gedung sambil terus melirik jam di tangannya.


Arisa sendiri di buat heran mengapa Rayyan sudah berada di kantor sepagi ini. Biasanya, di jam ini Rayyan belum terlihat sama sekali. Arisa turun dari mobil dengan wajah yang cemberut karena melihat karyawan wanita yang enggan memalingkan pandangannya dari Rayyan.


Meski begitu, Arisa masih bersikap formal pada Rayyan. Dari menunduk hormat, sampai berjalan di belakang Rayyan. Namun, saat memasuki lift, Rayyan meminta Daffa untuk meninggalkannya berdua dengan Arisa saja. Semula Daffa menolak karena ia berpikir bahwa Rayyan akan macam-macam pada Arisa, namun Rayyan meyakinkan Daffa bahwa ia tak akan bertindak macam-macam. Dan dengan terpaksa, Daffa pun menurut kemudian ia beralih ke lift lain.


Kecanggungan diantara keduanya hilang saat Arisa terkejut karena Rayyan bersandar dengan tiba-tiba. Melihat Rayyan yang sama terkejut, Arisa pun tak dapat menahan tawanya.


"Tertawa saja sepuasmu." Delik Rayyan dengan membenahkan pakaiannya.


"Kau kenapa? Belum sarapan? Atau..."


"Belum memelukmu." Ucap Rayyan menyela dan langsung merangkul Arisa dengan manja.


"Aihhh apa kau begitu manja?" ~Arisa.


"Hanya padamu." ~Rayyan.


"Benarkah?" ~Arisa.


"Kau tak percaya?" ~Rayyan.


"Dulu kau pernah bilang, semua laki-laki itu tak bisa di percaya." ~Arisa.


"Memang kapan aku bilang begitu?" ~Rayyan.


"Entah. Tapi, aku rasa kau pernah bilang begitu." ~Arisa.


Rayyan semakin gemas memeluk Arisa, bahkan sampai pintu lift terbuka ia masih enggan melepaskannya. Keduanya masih terlihat santai karena berpikir yang diluar lift adalah Daffa. Namun Arisa mematung menepuk lengan Rayyan yang terus melingkar di lehernya.


"Aray... lepaskan cepat." Bisiknya dengan sedikit nada isyarat.


"Aku masih--Wahhhh ayah." Pekiknya saat mendongak dan dengan cepat melepaskan rangkulannya. Mendapati tatapan tajam dari Danu, keduanya mendadak gugup dan salah tingkah. Untung saja Danu sedang sendiri disana, jika ada orang lain Arisa tak tahu harus membuang mukanya kemana karena malu.


"Risa... jika ada yang bersikap tidak baik padamu, jangan segan untuk melapor. Ayah pastikan orang itu di pecat." Tutur Danu mengejutkan Rayyan seketika.

__ADS_1


"Wahh ayah bercandanya berlebihan." ~Rayyan.


"Ayah serius. Kau Aray... harusnya bisa menjaga sikap saat di kantor. Ayah tahu kau dan Risa memang pacaran, tapi jangan memperlihatkan kemesraan kalian disini. Bagaimana jika tadi bukan ayah yang memergoki kalian. Nama baikmu akan tercoreng Aray. Dan bisa saja nama baik keluarga Putra juga."


"Ma-maafkan Aris ayah." Ucap Arisa menunduk dan tanpa ia sadari Danu begitu tertegun mendengar panggilan Arisa padanya.


"Oh iya Risa. Hari ini bisa wakilkan saya untuk bertemu dengan pihak perusahaan B. A Respati Group. Saya ada kepentingan dan Aray harus--"


"Tidak ayah... kenapa tidak Daffa saja. Atau lebih baik aku yang menemui Bayu. Jangan Risa. Jika ayah tak mengizinkan, batalkan saja sekalian perjanjiannya." Ucap Rayyan dengan kesal menyela kalimat Danu yang belum selesai.


"Kau cemburu?" Ejek Danu membuat Rayyan kembali gugup.


"Ya.... ya jelas lah. Ayah sendiri tahu perasaanku pada calon menantu ayah ini." Jawab Rayyan memalingkan wajahnya yang sedikit memerah karena malu.


"Kalau begitu, kamu ikut saya bertemu dengan perwakilan pihak perusahaan lain. Kebetulan, saya dengar kau mengenalnya, jadi tak ada salahnya jika saya membawa kamu." Ucap Danu kemudian.


"Ayah ini bagaimana? Risa itu sekertarisku. Jadi..."


"Jangan membantah. Kau temui saja Bayu dan jangan sampai perjanjian ini batal. Karena proyek ini sangat penting untukmu."


"Sepenting apa ayah? Dan mengapa harus Bayu? Bagaimana jika dia berencana merebut Risa dariku."


"Tunggu aku pulang sayang..." ucap Rayyan dengan manja ketika pintu lift perlahan tertutup.


"Tak ada sayang-sayangan. Sudah pergi sana." ~Danu.


"Ishh dasar orang tua menyebalkan." Ucap Rayyan memangku tangan dengan begitu kesal saat lift sudah tertutup sempurna.


"Ishh kau lihat Risa. Suamimu sangat menyebalkan. Aku sendiri saja tak percaya jika dia itu putraku." Mendengar keluhan Danu, Arisa hanya tertawa kecil menanggapi meskipun benaknya bertanya-tanya siapa yang akan ia temui. Mengapa jantungnya berdebar keras.


Singkatnya, Rayyan sampai di titik pertemuannya dengan Bayu yang tak lain adalah sebuah cafe dengan ruang VVIP yang sudah dipesan oleh petugas mereka.


"Untung yang datang bukan Risa." Ucap Rayyan dengan menatap tajam pada Bayu yang begitu santai. Sangat bertolak belakang dengan Rayyan, tatapan Bayu begitu hangat dan sangat ramah.


"Langsung saja pada intinya. Aku tak punya banyak waktu." Ucap Rayyan kemudian.


"Ahh mengecewakan sekali. Padahal aku sudah berharap yang datang itu adalah mantan calon istriku." Mendengar candaan Bayu, Rayyan mendadak emosi dan ia beranjak dari duduknya dengan amarah yang tiba-tiba meluap.


"Rayyan tenangkan dirimu." Tegur Daffa dengan suara rendah.

__ADS_1


"Aku tak bisa tenang Daf. Bajingan ini harus di enyahkan dari hidup Risa." Daffa yang sudah pasrah dengan kemarahan Rayyan, ia hanya bisa menghela nafas dalam sambil menggelengkan kepala.


Bukannya terpancing emosi, Bayu yang melihat Rayyan marah justru malah mengajaknya berjabat tangan.


"Selamat." Ucapnya membuat Rayyan terheran.


. Di waktu yang sama, Arisa semakin gelisah ketika melangkahkan kaki di tempat pertemuan yang tak jauh dari gedung perusahaan Pratama. Saat ia melihat punggung sosok yang ia kenal, seketika ia tak bisa mengendalikan dirinya.


"Kak Zain." Lirihnya ketika tepat di belakang Zain. Mendengar namanya di sebut, Zain menoleh dan matanya berbinar melihat Arisa kini berada di hadapannya.


"Putri." Panggil Eva yang beranjak dari duduknya.


"Bu Eva..." lirihnya beralih menoleh pada Eva.


"Berhubung kalian sudah saling mengenal, jadi kita bahas saja inti dari pertemuan kita." Ucap Danu yang ditanggapi serius oleh Arisa. Ia langsung menjadi seperti orang yang berbeda jika sudah memulai pekerjaan. Namun saat pekerjaannya selesai, ia akan menjadi Arisa kembali.


Saat Danu hendak beranjak dan mengajak Arisa kembali ke kantor, Arisa masih duduk diam seakan ia tak mau beranjak dari tempat duduknya.


"Ayah... bisakah Aris meminta izin untuk berbicara pada Kak Zain dulu? Ada hal penting yang ingin Aris bicarakan" ucapnya begitu sopan dan penuh harap.


"Baiklah..." jawab Danu singkat dan ia pergi meninggalkan Arisa disana.


"Kak Zain.. kak Reza apa kabarnya? Bunda bagaimana? Apa mereka baik-baik saja? Semalam Aris menelepon bunda dan Aris dengar suara bunda berbeda. Dan bunda bilang dia sedang flu. Apa flu nya sudah sembuh?" Zain seketika menunduk mendengar pertanyaan beruntun dari Arisa dan ia tak tahu harus menjawab jujur atau berbohong. Karena jika menjawab jujur, Arisa pasti khawatir dan Reza pun akan marah padanya. Dan jika berbohong pun ia tak bisa.


"Tante Sarah.... memang sempat sakit, tapi sekarang katanya sudah membaik. Mungkin karena cuaca yang berubah-ubah sekarang. Yaa kau tahu sendiri, ini sudah memasuki musim penghujan." Jelas Zain mencoba mencari-cari alasan logis yang bisa dimengerti oleh Arisa dan tak membuatnya semakin khawatir pada Sarah.


"Begitu ya... sebenarnya aku mau mengunjungi bunda. Tapi kak Tio dan mama tidak mengizinkannya." Balas Arisa yang menunduk lesu penuh rasa sesal.


"Tak apa Putri. Nanti akan ada waktunya kalian bertemu." Ucap Zain dengan menenangkan.


"Kalau begitu sampaikan salam dan maafku pada bunda." Ucap Arisa kemudian berlalu dengan memasang senyuman khasnya. Zain semakin sendu menatap kepergian Arisa dari sana. Ia begitu merindukan gadis cantik yang tak lama meninggalkannya dengan tiba-tiba. Ia memanfaatkan perjanjian hari ini dengan perusahaan Pratama agar ia bertemu dengan Arisa dan melepas kerinduannya meskipun hanya melihat wajah dan senyumnya tanpa bisa bertindak lebih jauh.


. Di waktu yang sama, Raisa yang harus menjalani survey karena kontrak kerjasama antara perusahaan Artaris dengan mall Fariz, mengharuskan keduanya bertemu dan kembali bertatap muka. Disini, Raisa terus menghindari kontak dengan Fariz yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya. Ia masih merasa sesak karena ucapan Fariz kemarin malam.


Ditengah pembahasan mereka, Raisa menyadari bahwa Wina yang menemaninya kini tengah tak sehat. Terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat dan matanya yang sayu. Melihat kondisi Wina, Raisa mendapat sebuah kesempatan untuk mempercepat pertemuan mereka. Sebelum benar-benar pergi, Raisa memilih untuk ke toilet karena ia merasa sudah tak bisa menahan embun di kelopak matanya. Raisa menatap datar pada pantulan wajahnya di cermin.


"Apanya yang mirip? Aku dan Aris berbeda." Ucapnya pelan dan mencoba mengendalikan dirinya.


"Tenang Rais. Sekarang kak Fariz hanya rekan kerjamu saja." Ucapnya lagi kini dengan sedikit semangat. Setelah itu, Raisa kembali menuju tempat pertemuan dengan santai. Namun, saat ia berjalan semakin dekat, tubuhnya mematung seketika saat ia menyaksikan Fariz yang merangkul Wina dari samping dengan penuh perhatian. Tak terasa embun yang sedari tadi ia sembunyikan, kini mengalir deras di pipinya. Ia berbalik haluan dan menelepon asistennya untuk menjemput Wina. Hatinya benar-benar hancur dan ia berpikir bahwa Fariz memang memiliki wanita lain di belakangnya dan itu adalah Wina. Raisa yang putus asa memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang sering ia kunjungi. Dan secara kebetulan, Ia bertemu dengan Arisa yang sama-sama tengah menenangkan diri. Namun amarah Raisa semakin memuncak, sehingga ia tak sadar menangis sejadi-jadinya di hadapan Arisa.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2