
. Rayyan mendekat dan melepas paksa tangan Arisa yang masih bergelayut manja pada Dimas. Dimas menjadi gugup dengan keringat dingin sudah mengalir di pelipisnya.
"Jika dia memukulku, aku akan menyutikkan racun padanya. Awas saja." Gumam Dimas yang berusaha menghindari kontak mata dengan Rayyan.
"Risa... aku ingin bicara." Ucap Rayyan menatap wajah Arisa dengan serius. Arisa menghela nafas malas kemudian menoleh pada Dimas.
"Maaf pak dokter." Ucap Arisa melempar senyum menyebalkannya. Dimas mendelik lalu menatap tajam pada Rayyan yang sedari tadi menatapnya tak kalah tajam. Dimas berlalu dan terdengar ia berdecih kesal keluar dari ruangan.
Sesaat ketika Raisa hendak masuk menyusul Rayyan, Dimas menarik tangan Raisa agar diam di tempat.
"Jangan mengganggu mereka." Ucap Dimas yang langsung berlalu setelah melepas tangan Raisa. Raisa terdiam menerawang kedalam ruangan dan menebak apa yang sedang mereka lakukan didalam. Ia memutuskan untuk duduk menunggu diluar sendirian.
Didalam, Rayyan kembali meraih tangan Arisa dengan tatapan yang tak berpaling sedikitpun. Sedangkan Arisa, ia menatap Rayyan dengan tatapan malas dan tak peduli. Rayyan kemudian meraih bahu Arisa dan sedikit mencengkramnya.
"Kau kenapa Risa?"
"Lambungku kambuh." Jawabnya santai.
"Sikapmu." ~Rayyan.
"Sikapku biasa saja." ~Arisa
"Tidak. Kau berbeda." ~Rayyan
"Beda apanya?" ~Arisa
"Risa... aku serius." ~Rayyan
"Aku tiga rius." ~Arisa
"Apa seperti ini sikap aslimu?" ~Rayyan
"Apa maksudmu? ~Arisa
"Semenjak acara ospek itu, kau selalu menjauhiku. Apa karena Clara?" Bukannya menjawab, Arisa hanya mengedikan bahunya seolah tidak peduli membuat Rayyan semakin marah.
"Hentikan sikapmu itu Risa. Aku hanya mencintaimu. Dan selalu mencintaimu. Aku tidak peduli pada siapapun selain dirimu. Entah itu Clara atau kakakmu sendiri. Yang aku inginkan hanyalah dirimu. Camkan itu." Tegas Rayyan beranjak dari duduknya dan sedikit menghempaskan tubuh Arisa yang semula ia cengkram.
"Aray..." lirih Arisa yang menunduk lesu dengan jantung yang mendadak berdetak keras. Rayyan terhenti namun tidak berbalik menatap Arisa.
"Jika kau tak bisa mencintaiku, biarkan aku pergi." Ucap Rayyan yang hanya sedikit saja menolehkan wajahnya.
"Maaf..." lirih Arisa lagi tersenyum dengan air mata yang berderai. Rayyan yang tak mengetahuinya, menganggap bahwa memang Arisa sudah tak peduli padanya. Ia bergegas pergi keluar dari ruangan dan melirik sejenak pada Raisa yang mendongak menatapnya.
"Ray--" belum selesai Raisa mengucapkan nama Rayyan, Rayyan berlalu pergi begitu saja dengan sirat amarah diwajahnya.
Raisa bergegas memasuki ruangan dan mendapati Arisa yang sedang mengusap wajahnya dan masih memasang senyum getir.
"Aris... apa yang terjadi? Kenapa Rayyan terlihat marah?" Tanya Raisa menghampiri lalu meraih Arisa.
"Dia tahu aku tak mencintainya."
"Bohong." Tukas Raisa cepat.
"Aku tidak bohong. Aku memang mencintai Rama sampai mati."
"Aris kumohon jangan begitu. Kau mencintai Rayyan kan? Jangan terus berpura-pura."
"Lantas?" Lagi, pertanyaan singkat itu tak bisa Raisa jawab. Benar. Jika mereka saling mencintai pun, untuk apa jika akhirnya mereka berpisah.
. Hari demi hari, waktu bergulir dengan cepat, kembali Arisa melakukan rutinitasnya di kampus setelah dinyatakan sembuh oleh dokter.
Sengaja Arisa dan Citra berjalan di koridor depan ketika mereka keluar dari ruangan Seno. Terdengar suara jeritan-jeritan mahasiswi saat melihat aksi Rayyan yang bermain basket. Sejak hari itu, komunikasi Arisa dan Rayyan sudah tak seperti biasanya. Bahkan saat di kelas pun Arisa menunjukkan sikap yang seakan menjauhi Rayyan.
__ADS_1
Lagi, Rayyan merasa risih dengan teriakan Clara yang mengganggu pendengarannya karena pengakuan konyol Clara bahwa Rayyan adalah pacarnya. Dan Rayyan berdecih ketika mengingat ekspresi Arisa yang biasa saja dan tidak menunjukkan rasa cemburunya semakin membuat Rayyan kesal. Seketika itu, Rayyan melempar bola ke sembarang arah. Namun bagaikan takdir dan kebetulan, bola yang Rayyan lempar mengarah pada Arisa yang tengah berdiri diam di dekat tiang koridor sekitar lapangan basket. Ia juga semula terpaku pada permainan Rayyan, namun saat ia memalingkan wajahnya, ia tak menyadari lemparan yang di arahkan Rayyan. Dan, akhirnya terjadi lagi, Arisa memegangi kepalanya seketika setelah kepalanya terbentur tiang tembok dengan keras.
"Aris... darah." Teriak Citra saat melihat darah mengalir dari hidung Arisa. Terlihat mata Arisa menyipit menatap Citra, dan kemudian ia semakin lemah dan hampir tersungkur jika Daffa tak sigap menahan tubuh Arisa. Rayyan mematung menatap Daffa yang berlari membawa Arisa ke ruang kesehatan. Bukan ia tak peduli, namun Rayyan begitu terkejut mengapa harus pada Arisa ia melempar bolanya. Rayyan mencengkram rambutnya kuat lalu menggeram kesal. Rasa sesalnya kini melebihi rasa marahnya pada Arisa.
"Kumohon Risa jangan terjadi apa-apa padamu." Ucapnya yang kemudian berlari menyusul Daffa.
Didepan ruangan kesehatan, Daffa memukul wajah Rayyan dengan keras dan menatap tajam pada Rayyan.
"Kau gila. Kau gila Ray. Kau mau membunuh Aris hah? Aris baru sembuh. Jika sampai terjadi apa-apa padanya, kau yang akan ku bunuh." Teriak Daffa mengundang perhatian mahasiswa lain.
"Daf aku tak sengaja." Jawab Rayyan hendak masuk namun Daffa menahan Rayyan agar diam dengannya.
"Apa masalahmu? Kenapa kau selalu melibatkan Aris dalam bahaya?"
"Sudah ku bilang aku tidak sengaja sialan." Kini Rayyan yang berteriak memekik telinga. Seno dengan cepat memisahkan keduanya agar tak bertindak lebih jauh.
"Hentikan. Apa yang kalian lakukan?" Seno tak kalah berteriak menatap keduanya bergantian.
"Aku ingin bertemu Risa kak."
"Tidak. Kau diam disini. Kakak tak akan mengizinkanmu menemui Aris."
"Tapi kak...."
"Aray..." tegas Seno menghentikan celotehan Rayyan.
Seno berlalu memasuki ruang kesehatan dan mendapati Arisa masih terlelap.
"Apa aku harus memanggil Dimas?" Tanya Seno pada dokter didepannya.
"Sepertinya begitu pak." Jawabnya ikut gelisah. Dengan cepat Seno menghubungi Dimas untuk segera ke kampus, mendengar nama Arisa yang di lontarkan, Dimas bergegas beranjak dan bahkan meninggalkan pasien lain di klinik. Ia malah memberikan tugas pada dokter lain.
. Sampai di kampus, Dimas setengah berlari menuju ruang kesehatan. Ketika didepan ruangan, tatapannya tertuju pada Rayyan dan keduanya saling melempar tatapan sinis. Daffa pergi entah kemana setelah berselisih dengan Rayyan.
"Kau pikir peran dokter apa?" Dimas berdecih seraya menyunggingkan seringai sinis dan berlalu kedalam ruangan.
"Sial. Kau hanya mencari kesempatan untuk mendekati Risa saja kan?" Gumam Rayyan ikut berdecih dan mondar-mandir tak karuan.
Ingin rasanya Citra menegur Rayyan yang membuatnya merasa risih. Tapi Citra tak memiliki keberanian untuk itu.
"Kenapa kau selalu sial jika bersama dengan dia Aris?" Batin Dimas yang fokus memeriksa Arisa dengan menahan kesal. Sampai, akhirnya Arisa terbangun, Dimas masih di sampingnya.
"Kau ingat aku?" Tanya Dimas dengan cepat ketika Arisa melirik ke arahnya.
"Kau pikir aku amnesia. Ughh..." ucap Arisa meringis lalu memukul keras tangan Dimas.
"Ya bisa saja kan?"
"Dim... kenapa aku bangun ya? Padahal langsung saja aku mati, agar aku bisa bertemu Rama lebih cepat."
"Ishhh apa yang kau bicarakan. Terbentur sedikit tak akan membuatmu mati."
"Ya bisa saja kan." Ejek Arisa menirukan gaya bicara Dimas.
"Ohhh kau mengejekku?" Dimas menyeringai licik penuh rencana menakutkan bagi Arisa.
"Adududuh dokter... kepalaku sakit." Mendadak, Arisa merengek sambil memegangi kepalanya dengan manja. Terdengar keduanya bercanda ria membuat Rayyan mengepalkan tangannya kuat saat ia baru membuka tirai. Rayyan tahu, Arisa menyadari kehadirannya, tapi Arisa terlihat seolah ia tak peduli dengannya lagi.
Di semester ke-7 ini, jadwal Arisa benar-benar sangat padat. Apalagi beberapa pekan kemudian, ia akan menjalani magang. Sudah diputuskan ia akan magang di perusahaan Fabio. Sedangkan Rayyan, harus magang diperusahaan Artaris. Berselang beberapa waktu, Raisa pun magang di perusahaan Artaris. Bahkan Raisa sedikit merubah penampilannya agar tak diketahui semua orang. Namun tidak dengan Rayyan.
Selama magang, Tio diam-diam memperhatikan kerja Raisa, takut jika terjadi sesuatu. Karena kebanyakan anak magang selalu diberikan tugas berat oleh atasannya. Namun, nyatanya, Raisa yang ia tatap, tapi Arisa yang sangat ia khawatirkan. Meskipun Daffa bersamanya, tetap saja Tio merasa khawatir jika Arisa sampai dibahayakan oleh Fabio.
Suatu hari, Arisa di tugaskan untuk menyerahkan proposal ke ruangan Direktur. Sangat jarang seorang mahasiswa magang di tugaskan untuk suatu hal penting seperti ini. Siapa sangka, dibalik kursi kerja yang membelakangi Arisa, terdapat seorang pria yang sangat ia kenal. Ia memutar kursi lalu tersenyum kearah Arisa yang termangu menatapnya.
__ADS_1
"Kak Bian?" Tanyanya berbinar. "Bukankah kakak...."
"Kebetulan aku pulang karena belum ada jadwal kuliah, dan menggantikan ayah sebentar disini." Jawabnya beranjak lalu menjabat tangan Arisa. Rasanya ingin sekali Bian memeluk Arisa dengan erat saat ini.
"Kenapa magang disini? Bukankah berbahaya untukmu?"
"Bahaya kenapa? Aku disini untuk tugas akhirku. Bukan masuk kandang singa." Cetus Arisa membuat Bian merasa gemas.
"Bolehkah aku memelukmu?" Rengek Bian merentangkan tangannya dan bersiap memeluk Arisa.
"Boleh... paling nanti malam Rama akan menemui kakak. Dia sangat pencemburu." Ejek Arisa memangku tangan dengan angkuh.
"Ishhh jangan seperti itu Aris."
"Kakak takut?"
"Ti-tidak. Si-siapa yang takut?"
"Benarkah?"
"I-iya.... su-sudahlah. Kau kembali saja bekerja."
"Ohh ya sudah... aku pamit ya... hati-hati Rama menemani kakak disini." Ejekna terus menerus.
"Aris..." teriaknya ikut berlalu keluar ruangan.
"Kakak takut kan?" Ejeknya lagi.
"Ishhh tidak..." lagi, Fabian tak ingin kalah.
"Lalu? kenapa kakak mengikutiku?"
"aku hanya ingin udara segar."
"Benarkah?"
"Aris.... jangan mengejekku terus."
"Hahaha maaf pak direktur."
"Kau bisa tertawa juga?"
"Memangnya aku patung?"
"Hemmmm kau sangat cantik."
"Apa?"
"Tidak... tak ada apa-apa."
"Hemmmmm"
"Sutt sudah.. jangan mengejekku terus. Aku sudah malu."
"Memangnya kakak punya malu?"
"Aris...."
. "Wah... wah wah... bukannya bekerja, kau malah pacaran." Seketika itu, Arisa dan Bian mematung mendengar suara yang mereka kenal.
"Fabio" gumam Arisa melirik tajam kearah Fabio yang tersenyum sinis membalas tatapannya.
"Ada apa sayang?" Fabio berjalan mendekati Arisa yang mulai gemetar.
__ADS_1
-bersambung.