TAK SAMA

TAK SAMA
66


__ADS_3

. Melihat Arisa yang terjatuh, Daffa segera berlari menghampiri dan meraih Arisa. Ia memeluk Arisa dengan erat namun tatapan yang tajam menatap Clara.


"Apa yang kau lakukan hah?" Bentak Daffa membuat Clara tersentak.


"Dia yang menabrakku." Clara menunjuk Arisa dengan sedikit menunjukkan sikap manja nya.


"Kau pikir aku tidak melihat? Kau yang sengaja menabraknya bukan?" Bentak Daffa lagi membuat Clara sedikit menciut ketakutan. Sampai Rayyan menghampiri mereka, dan meraih Arisa dari dekapan Daffa. Clara menatap harap pada Rayyan yang menatapnya begitu tajam.


"Kau berulah? Apa masalahmu?" Tanya Rayyan menatap datar pada Clara. Clara terkesiap dan merasa malu sendiri dengan tatapan orang-orang yang tertuju kearahnya. Melihat wajah Rayyan, Clara tak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh calon presdir perusahaan Pratama itu.


"Kakak... dia menabrakku. Mengapa kalian menatapku seakan aku yang bersalah." Rengeknya meraih tangan Rayyan. Dengan pelan, Rayyan menepis dan menjauhkan tangan Clara darinya.


"Sudah bilang aku melihatnya." Lagi-lagi Daffa membentak keras. Yugito yang tengah berbincang dengan beberapa orang,termasuk Danu merasa penasaran berlalu menghampiri kerumunan. Terlihat juga beberapa team keamanan menghampiri mereka. "Ya ampun Aris... jangan di tekan seperti itu. Itu akan lebih sakit." pekik Rahma dengan cepat meraih Arisa saat melihat putrinya yang terpingkal-pingkal merasakan sakit di dadanya dalam pelukan Daffa.


"Kakak putri....." rengek Seina yang ikut menangis mendekap kepala Arisa dan mengusap pelan berharap Arisa merasa tenang.


"Sa-kit ma..." lirih Arisa dengan nafas tersenggal.


"Jika ada apa-apa padanya, kau harus bertanggung jawab." Tegas Rayyan menatap Clara dengan tatapan yang seakan menembus mata hitam Clara.


"Aku tidak melakukan apa-apa kak. Dia mungkin hanya pura-pura agar aku di salahkan." Rengek Clara kini mulai berkaca-kaca.


"Katakan itu pada dirimu sendiri." Decih Rayyan.


"Kakak tidak percaya padaku?" Rengeknya lagi dan masih menatap manja pada Rayyan.


"Lalu? Atas dasar apa aku harus percaya padamu?" Rayyan tersenyum sinis kemudian berbalik dan merebut Arisa dari Daffa dan membawanya menembus orang-orang.


Tio dan Raisa terkejut ketika melihat Rayyan keluar dari gedung dengan Arisa di pangkuannya.


"Rayyan Aris kenapa?" Tanya Tio berlari dengan memasang wajah paniknya.


"Kak... sekarang ke rumah sakit." Ucap Rayyan tak kalah panik dengan tak menjawab pertanyaan Tio. Tio bergegas membawa keduanya kedalam mobil dan berlalu ke rumah sakit.


"Rais..." panggil Diana menatap manik Raisa yang tajam namun sendu menatap kepergian Arisa. Kemudian Raisa menoleh kasar pada Daffa yang baru saja keluar beserta orang tuanya.


"Rais... cepat susul Aris... mama khawatir." Ucap Rahma yang kini berhadapan dengan Raisa.


"Aris kenapa ma?" Tanya Raisa seketika tatapannya berubah hangat didepan sang ibu.


"Dia terjatuh." Jawab Rahma kemudian menyusul Yugito ke mobil.

__ADS_1


"Terjatuh?" Raisa menyernyit menatap heran pada Rahma yang sudah berlalu.


"Mama duluan saja... Rais nanti menyusul." Ucap Raisa setengah berteriak karena Rahma sudah menjauh.


"Daf... Aris jatuh dimana?" Tanya Raisa beralih menatap Daffa.


"Tatapan apa itu? Kau seperti ingin membunuhku." Ucap Daffa bergidik melihat tatapan tajam dari Raisa.


"Jawab saja pertanyaanku."


"Dia tidak jatuh." Jawab Daffa mendadak terdengar datar.


"Apa maksudmu?" Raisa semakin dibuat heran dengan jawaban Daffa. Jika tidak jatuh, lalu kenapa Arisa sampai kesakitan seperti itu.


"Putri tunggal SM group yang melakukannya." Jelas Daffa lagi.


"Apa? Maksudmu gadis itu?" Raisa menunjuk Clara yang baru keluar dan berada jauh di belakang Daffa. Daffa berbalik dan kembali menoleh pada Raisa.


"Iya. Dia sengaja menabrakkan dirinya pada Aris. Dan dia bersikap seolah Aris yang menabraknya. Sepertinya dia ingin menarik perhatian Rayyan." Ucap Daffa tersenyum sinis dengan tatapan mengejek Clara. Daffa pikir urusannya hanya sampai disini saja. Membuat Raisa cukup tahu siapa pelaku yang membuat Arisa terjatuh, dan hanya tinggal membawa Raisa menyusul Arisa ke rumah sakit. Namun siapa sangka, Raisa berjalan melewati Daffa yang masih bertatapan dengan Clara. Raisa berhenti didepan Clara, lalu menatapnya dengan tajam. Dan 'plak' wajah Clara terhempas kasar membuat rambutnya yang terurai berantakan menutupi wajahnya. Diana menutup mulutnya karena terkejut dengan yang dilakukan Raisa. Bagai mana bisa Raisa yang di kenal sangat anggun, ramah, dan baik hati itu menampar orang lain. Daffa tak kalah terkejut dengan yang ia saksikan. Setahunya Raisa adalah gadis yang sangat jauh dari sikap kasar. Dan yang lebih tak terduga, Raisa menjambak rambut Clara didepan semua orang yang menyaksikan, termasuk keluarga Clara sendiri dan Oma Galuh. Clara meringis dan sedikit berteriak saat cengkraman Raisa tak bisa ia lepas.


"Lepaskan tanganmu. Sakit." Rengeknya dengan terisak keras.


"Rasa sakitmu ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dirasakan adikku karena ulahmu."


"Jangan macam-macam pada keluargaku. Atau kau akan tahu akibatnya. Jika sampai aku mendengar Arisa harus di operasi lagi, akan ku pastikan hatimu ini yang akan menggantikannya." Ucap Raisa dengan tatapan mata yang menakutkan, raut wajah yang teramat menyeramkan, datar dan tak berperasaan. Raisa mengatakan hal itu dengan menunjuk pada dada letak organ hati milik Clara. Clara meringis kesakitan memegangi kepalanya dan air matanya berderai mendengar ancaman Raisa.


"Lepaskan aku gadis sialan. Kau pikir kau melawan siapa?" Teriak Clara memekik telinga Raisa.


"Aku tak peduli kau siapa, yang jelas kau adalah serangga pengganggu." Lagi, tak ada kelembutan dari setiap kata dan tatapan Raisa untuk Clara. Sampai Diana dengan paksa memisahkan Raisa dari Clara. Dan terlihat Oma Galuh beserta keluarga Clara menghampiri mereka.


"Ayah.... lihat... aku di siksa." Tangis Clara pecah saat ayahnya meraih dan memeluknya.


"Apa Yugito tak mengajarimu cara bersikap?" Tanya Haidar pada Raisa dengan amarah karena menyaksikan putrinya yang teraniaya.


"Apa anda juga tidak mendidiknya menjadi putri dari seorang ayah sehebat anda? Saya merasa ragu apa dia di besarkan di lingkungan keluarga bangsawan atau tidak?" Cetus Raisa yang tak kalah tajam menatap kedua orang didepannya.


"Dia sedang memuji atau menghina?" Gumam Daffa menatap datar punggung Raisa. Meskipun Diana berusaha menenangkan, namun tetap saja Raisa merasa gejolak amarahnya tak padam jika belum melihat Clara terluka.


"Ahhh... aku tegaskan sesuatu. Kau tak usah menarik perhatian Rayyan. Dia sudah memiliki kekasih." Tegas Raisa kemudian menyeringai jahat.


"Kau siapa berani bicara seperti itu. Kak Rayyan sudah jelas dijodohkan denganku." Clara tak ingin kalah dengan argumennya.

__ADS_1


"Haha... di jodohkan? Kalau begitu aku ungkap sebuah kebenaran yang sangat mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat. Rayyan Pratama adalah tunanganku. Aku dan dia akan menikah setelah lulus kuliah. Jadi sebaiknya kau jauh-jauh dari calon suamiku. Atau... aku pastikan akan mempersembahkan hatimu pada adikku. Camkan itu!." Tegasnya lagi dengan seringai yang mengerikan.


"Kau pikir aku akan percaya?" Teriak Clara lagi.


"Oma? Bunda? Apa Rais salah menjelaskan?" Raisa beralih menatap pada oma Galuh yang berada tak jauh dari mereka.


Sonya termangu melihat Raisa yang sangat berbeda. Entah ini tipuan atau memang dia mengutarakan yang sebenarnya, padahal Raisa tahu bahwa putranya dan Arisa saling mencintai.


"Benar." Singkat padat dan jelas. Jawaban yang di lontarkan Oma membuat Clara merasa dipermalukan.


"Ayah..." rengek Clara menatap harap pada ayahnya dengan manja.


Raisa tersenyum penuh kemenangan kemudian berlalu menuju jalan raya. Ia memberhentikan taksi dan memasukinya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan kecanggungan di antara Oma Galuh dan Haidar.


"Saya harap anda bisa menjelaskan semuanya." Ucap Haidar pada Oma dengan penuh penegasan.


"Saya rasa tak ada yang perlu di jelaskan, menantu keluarga Pratama sudah menjelaskannya bukan?" Oma tersenyum dengan sumringah membalikkan pertanyaan. Haidar mengepalkan tangannya menatap kepergian Oma yang kembali memasuki gedung dan menenangkan riuh yang sedari tadi berisik memekik telinganya.


"Tak ada apa-apa hanya kecelakaan sedikit dan kesalah fahaman saja. Mohon jangan dipermasalahkan. Maaf sudah membuat anda semua merasa tak nyaman. Silahkan kembali menikmati acaranya." Ucap Oma Galuh. Sesaat setelah mengatakan hal itu, Seno menghampiri Oma dan berbisik kepadanya.


"Apa yang terjadi Oma? Kenapa keluarga Putra mendadak pergi?" Tanya Seno yang penasaran.


"Tak apa. Tadi ada sedikit masalah antara adik Raisa dan Clara." Jawab Oma dengan santai.


"Apa? Mak-maksud Oma Aris?" Tanya Seno kini sedikit keras.


"Iya. Tapi masalahnya sudah selesai." Ucap Oma seakan acuh tak acuh.


. Rayyan dan Tio mengikuti perawat yang membawa Arisa yang kini memasuki ruangan UGD beserta Dimas. Dengan gelisah, Rayyan mondar-mandir tak karuan saat Dimas dan beberapa perawat menangani Arisa.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu, melihatmu seperti ini saja, rasanya aku ingin menggantikan posisimu. Aku ingin mati saja agar aku tak melihatmu bersedih dengan perpisahan kita. Dan aku pun tak sanggup jika melihatmu dengan orang lain." Gumam Rayyan yang bersandar lemah di tepi kursi tunggu.


"Sudah... Aris akan baik-baik saja." Ucap Tio menenangkan kekhawatiran Rayyan padahal dirinya pun tak kalah khawatir. Terlihat dari alisnya yang berkerut menatap nanar pada Arisa yang tengah ditangani. Ia seakan tak ingin memalingkan wajahnya dari Arisa. Ketakutan-ketakutan mulai menghantui pikirannya. Hingga akhirnya, Yugito dan Rahma sampai dan menghampiri Tio yang sedari tadi masih tak beranjak dari posisinya.


"Bagaimana?" Tanya Rahma lalu ikut menatap ke arah Arisa.


"Dimas belum keluar ma..." jawab Tio dengan lirih. Ia tak cukup kuat untuk menjawab pertanyaan sang ibu. Tenaganya seakan habis seketika. Lututnya sudah lemas dan tubuhnya pun sudah gemetaran.


"Tak pernah ada yang bisa membuatku takut, selain takut kehilanganmu Aris. Kakak menyayangimu melebihi apapun. Jadi kakak harap kau baik-baik saja." Batin Tio tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.


"Maafkan aku Aris... aku tak berniat merebut Rayyan darimu." Gumam Raisa yang menangis sesenggukan dipelukan Diana.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2