
. "Kenapa kau bisa menyuruhnya pergi malam-malam begini? Apa lagi sekarang hujan. Arghhhh kau memang gila Za. masuk saja kau ke rumah sakit jiwa." Zain terus menggerutu sendiri di samping kemudi.
"Diam kau. Memangnya aku tahu sekarang mau hujan?"
"Jangan karena dia bukan adik kandungmu, jadi kau bersikap seenaknya pada Putri Za. Bagaimanapun dia anak orang."
"Ku bilang diam!" Bentak Reza berhasil membuat Zain terdiam. Reza terus menyusuri jalanan yang memungkinkan di lewati Arisa. Satu persatu taman ia singgahi untuk memastikan ada Arisa di sana.
"Sudah 3 taman. Apa kau gila mencarinya di tempat terbuka begini? Harusnya kita cari di cafe atau semacamnya." Protes Zain lagi.
"Kalau kau tak mau membantuku mencari Putri, sebaiknya kau ke mobil dan tunggu aku saja." Dan lagi, Reza tak kalah kesal karena sikap Zain yang selalu protes. Hanya tinggal taman selanjutnya, taman yang ia ketahui di buat oleh pihak perusahaan Mega.
. Rayyan berbalik haluan setelah lama ia menonton pemandangan yang membuatnya sesak. Dan baru beberapa langkah, ia mendapati Juna yang berdiri tegap sembari memegang payung berwarna hitam.
"Tuan Rayyan." Ucapnya begitu hormat. Rayyan menyernyit tak mengenali siapa yang berada di hadapannya ini.
"Siapa kau?"
"Saya pengawal nona Arisa." Jawabnya masih hormat. Rayyan berjalan mendekat dan 'bugh' Juna terhuyung karena serangan mendadak Rayyan.
"Kau bilang kau pengawalnya? Tapi kau membiarkan Risa kehujanan." Geram Rayyan mencengkram kerah kemeja Juna.
"Ma-maaf tuan. Saya pun baru sampai." Mendengar alasan Juna, Rayyan langsung menghempaskan Juna dengan keras.
Menyadari ada yang mendekat, Rayyan melirik ke arah Arisa yang berjalan berdua dengan Rega dalam satu payung. Arisa terbelalak ia tak percaya bahwa Rayyan ada disana.
"Apa karena ini kau pergi?" Tanya Rayyan dengan nada yang datar.
"Aray...." lirih Arisa hendak mendekat namun di saat yang sama, suara petir begitu memekik telinga hingga Arisa memejamkan matanya dan menutup telinga sembari menghimpit pada Rega.
Rayyan berdecih kesal, ia segera berlalu meninggalkan Arisa yang masih berada di pelukan orang lain. Tepat ketika keluar dari taman, langkahnya terhenti karena sebuah mobil melaju tepat menerjangnya.
Di dalam mobil, Reza dan Zain mematung setelah keduanya terbentur karena berhenti mendadak.
"Kau menabrak orang sialan." Ucap Zain dengan polosnya.
"Tidak terlihat. Dia pakai pakaian serba hitam." Jawab Reza yang mulai panik.
"Aray...." pekik Arisa langsung berlari tanpa mempedulikan tubuhnya yang sudah gemetar karena hujan. Reza dan Zain menoleh bersamaan ke arah gadis yang tengah berlari.
"Putri?" Pekik keduanya yang kemudian saling bertatapan, lalu bergegas keluar dari mobil. Reza terkejut melihat Rayyan yang tergeletak dengan darah mengalir entah dari mana. Zain memegangi kepalanya, kejadian-kejadian ini sangatlah familiar. Trauma kehilangan Nadhira membuatnya tak bisa mengontrol rasa takutnya.
"Aray... bangun! Aray..." teriak Arisa dengan tangis yang menjadi. Arisa mendongak menatap tajam pada Reza lalu beranjak dan memukuli dada, wajah dan lengan Reza.
"Kalau kakak marah padaku, benci padaku, kenapa tidak bunuh aku saja? Jangan melibatkan Aray..." rengek Arisa semakin lemas karena kedinginan. Reza diam saja mendapati kemarahan Arisa. Wajar saja Arisa marah, karena kekasihnya sudah ia lukai begini.
"Tuan... kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Ucap Juna melerai kemarahan Arisa. Akhirnya mereka membawa Rayyan menuju rumah sakit.
Arisa terus menangis menatap Rayyan yang dibawa petugas memasuki ruang UGD.
__ADS_1
Rayyan tersenyum tipis saat melihat Arisa begitu bersedih karena dirinya yang terluka, sampai akhirnya ia kembali terlelap.
2 hari berselang, Arisa tak sedikitpun meninggalkan Rayyan yang belum sadar juga.
"Kenapa kau tidur lama sekali? Sudah dari kemarin kau tak bangun. Apa kau tak lapar? Apa kau tak merindukanku? Aray... ayo bangun. Kita pulang. Kasihan Sein pasti merindukanmu." Lirih Arisa dengan terus menggenggam tangan Rayyan dan selalu membelaikan di pipinya. Namun tiba-tiba, EKG di samping Rayyan berbunyi semakin lambat. Arisa panik dan langsung memanggil dokter dan perawat. Ia menunggu di luar dengan gelisah dan berharap Rayyan baik-baik saja.
Sesuai pemberitahuan, Danu, oma Galuh, dan Clara sampai di sana. Baru ingin menyapa Danu, Clara lebih dulu berhadapan dengan Arisa dan 'plak' wajah Arisa terhempas kasar hingga rambutnya ikut menutupi wajahnya sebagian.
"Wanita ******. Apa yang kau lakukan pada kak Rayyan?" Oma segera menahan Clara yang hendak menjambak rambut Arisa. Dan Danu pun segera menjauhkan Arisa dari jangkauan Clara.
"Clara. Apa yang kau lakukan? Ini di rumah sakit." Tegur Oma namun tak memudarkan amarah Clara.
"Gadis sialan ini Oma. Pasti karena dia kak Rayyan kecelakaan. Dasar pembawa sial." Rasanya dada Arisa begitu sesak mendapati cobaan dari segala arah. Sampai ada yang memakinya dengan begitu menyakitkan.
"Sudha... jangan di dengar. Mungkin Clara sedang emosi." Ucap Danu menenangkan Arisa agar tak membalas Clara. Karena jika sampai terjadi keributan, mereka tak akan di ijinkan masuk.
"Keluarga pasien." Ucap perawat yang ditanggapi langsung oleh Danu.
"Saya ayahnya sus."
"Silahkan anda boleh masuk. Pasien sudah sadar."
"Apa saya boleh masuk sus?" Tanya Arisa dengan lirih.
"Jangan harap kau bertemu kak Rayyan." Ucap Clara menyela.
"Silahkan nona. Nona sudah di tunggu oleh pasien." Arisa mendadak berbinar mendapati jawaban perawat yang sesuai ekspetasinya.
"Aray..." lirih Danu di tanggapi senyum oleh Rayyan.
"Kak Rayyan..." rengek Clara manja dan bersiap memeluk Rayyan. Namun, Rayyan memberi kode agar Clara tidak memeluknya. Rayyan malah menyipitkan matanya seakan bertanya siapa kau?
"Aray... kau tidak amnesia kan?" Tanya Oma membuat Arisa semakin khawatir. Namun bukannya menjawab, Rayyan malah meraih bagian belakang kepalanya yang di perban memutar ke dahinya. Melihat Arisa yang masih terisak, Rayyan melempar senyum sembari merentangkan tangan. Dan secepat kilat Arisa memeluk Rayyan dengan erat.
"Jangan amnesia Aray. Aku tak mau kau melupakanku. Maafkan aku, tapi jangan melupakanku." Rengek Arisa di dalam pelukan Rayyan. Oma menatap nanar keduanya, ia benar-benar menyesal karena hampir membuat mereka terpisah.
"Aku yang harusnya minta maaf Risa. Aku tak bermaksud. Sungguh yang aku maksudkan agar kau tetap bersamaku." Lirih Rayyan memberi kecupan di dahi Arisa dengan lembut.
"Bu... sebaiknya kita tinggalkan mereka dulu." Ucap Danu yang pergi terlebih dahulu. Melihat Oma dan Danu berlalu, Clara melirik sesaat pada Rayyan dan dengan terpaksa ia mengikuti Danu keluar ruangan.
"Oma..." rengek Clara yang tak di tanggapi oleh Oma. "Kenapa Oma membiarkan kak Rayyan dengan gadis itu."
"Clara. Mereka sudah terikat tali pertunangan. Harusnya kau bisa jaga sikap pada Risa. Selain itu, dia seorang presdir. Hormatlah sedikit padanya." Tegur Danu membuat Clara terdiam. Clara membungkam serasa di permalukan oleh Danu. Bahkan oma Galuh pun sekarang tak membelanya.
"Jahat sekali kau. Sedang bersama pria lain tapi menangis karena aku. Apa itu pantas?"
"Tetap saja aku hanya menyayangimu." Jawab Arisa merengek seperti anak kecil.
"Jadi, apa aku boleh memasangkan kalung yang sempat kau kembalikan?" Perlahan Arisa menjauh dan ia mengangguk menyimpulkan senyum di wajah Rayyan.
__ADS_1
"Tapi pakaianku dimana?" Tanya Rayyan menoleh kesana kemari dan tak mendapati dimana pakaiannya.
"Sudah aku bersihkan." Jawab Arisa sembari merogoh tasnya. "Dan aku menyimpannya." Lanjutnya memperlihatkan kotak perhiasan. Rayyan tersenyum sembari mengambil kotak itu lalu perlahan membukanya. Jelas terlihat liontin Phoenix yang membuat Arisa kembali menangis.
"Kenapa kau bersikeras memberikannya padaku sialan.?"
"Bagai mana mungkin aku memberikan pada orang yang bukan pemiliknya?"
"Apa alasanmu sebenarnya? Setelah aku di kabarkan meninggal, kau masih tak mau membuka hati. Dan kata Michelle, kalian itu pacaran."
"Jangan dengarkan. Hanya kau saja. Sudah ku bilang kan? Kenapa kau tidak percaya?"
"Bagaimana aku bisa percaya, kau tampan, punya wawasan luas, punya jabatan tinggi, punya banyak uang, dan banyak penggemar wanita."
"Apa karena itu kau menjauhiku?"
"Bukan hanya itu, kau bilang kau menyayangi Rais sambil erat memeluknya. Apa maksudnya itu? Kau tak tahu, hatiku sangat sakit."
"Oooowwww sayangku..... kau sakit hati karena aku... sini aku peluk."
"Jangan bercanda terus" namun Rayyan tak mendengarkan rengekan Arisa, ia memeluk sang kekasih dengan gemas dan menyelipkan kecupan di dahinya.
"Biar aku jelaskan. Aku dan Raisa saat itu bukan main api denganmu. Tapi aku refleks karena rencananya untuk memberimu kejutan sangat membuatku senang. Dia berencana untuk membuat kejutan lamaran resmi untukmu dari keluargaku." Mendengar penjelasan Rayyan, Arisa terdiam tak berniat menjawab atau menyela. Dia sangat salah sangka pada Rayyan. Dan untungnya urusan dengan Rega hanya pura-pura saja.
"Maaf..."
"Hemmm baru sekarang kau minta maaf?" Ejek Rayyan terkekeh puas.
"Ayo sembuh. Kita pulang." Manja Arisa terus merengek. Melihat wajah Arisa yang seperti anak kecil membuat Rayyan merasa gemas dan tak berpikir lama ia melahap pipi Arisa membuat Arisa berteriak. Danu dan Oma segera membuka pintu mendengar teriakan Arisa, namun ketika melihat ke dalam, tak ada yang mencurigakan. Hanya terlihat Arisa yang sesenggukan membelakangi pintu keluar. Terlihat pula, Rayyan terus menenangkan sembari mengelus lembut kepala Arisa.
"Sudah sayang... maafkan aku."
"Sakit sialan." Arisa memukul lengan Rayyan yang terus terkekeh sendiri.
"Aray. Kenapa Risa berteriak?" Tanya Danu yang terheran.
"Tidak ayah. Aku yang jahil." Jawab Rayyan masih terkekeh.
"Kau bisa bicara juga ternyata." Ejek Oma yang menghampiri mereka. Namun ia begitu terkejut ketika melihat pipi Arisa yang terdapat bekas gigitan.
"Pipimu kenapa Risa?" Pekik Oma yang langsung meraih wajah Arisa.
"Aray yang gigit." Jawabnya polos.
Sebelum Oma, ternyata Danu lebih cepat menjewer telinga Rayyan membuatnya meringis kesakitan.
"Aww ayah ampun... ini kepalaku perih tertarik."
"Anak orang kau buat menangis."
__ADS_1
-bersambung