
. "Apa maksudmu?" Rayyan terhenti dari langkahnya dan menatap lekat Arisa yang ikut terhenti juga. Semula Arisa menunduk, lalu menoleh dan melemparkan senyuman pada Rayyan.
"Tak ada..."
"Berhenti bersikap seperti itu didepanku." Rayyan meraih kasar bahu Arisa dan menatapnya lebih tajam.
"Apa kau akan terus berada dalam bayang-bayang Rama? Sementara kau tak melihat orang yang ada di sekelilingmu dan sudah menyayangimu, bahkan mungkin diantara mereka ada yang mencintaimu dengan sungguh-sungguh dan ingin melihatmu bahagia setiap harinya." Lanjut Rayyan dengan seketika merubah raut wajah Arisa menjadi datar, namun juga sendu.
"Apa kau juga melihat orang yang mencintaimu?" Rayyan menyernyit mendapati pertanyaan itu.
"Siapa? Mereka yang berteriak ketika melihatku? Tidak Risa. Aku tidak melihat ada ketulusan dimata mereka."
"Ada... aku melihatnya tulus mencintaimu."
"Jika bukan dirimu, Katakan siapa?"
"Jika aku mengatakannya, apa kau akan mencintainya juga?"
"Tergantung. Jika aku bisa berpaling darimu, mungkin aku bisa mencintainya."
"Dia Rai-- ehh apa maks--"
"Mungkin sekarang aku harus mengatakannya. Aku.. hanya mencintaimu! Arisa Fandhiya!. Tak ada yang lain. Mereka, ataupun kakakmu sendiri. Tak ada tempat di hatiku selain dirimu." Arisa diam dengan sorot mata tak percaya. Kini hatinya terasa sakit, seperti ada sesuatu yang menekan.
"Argh.." lututnya menjadi lemas, Arisa tak kuat menahan sakit di hatinya. Kini Arisa seakan memeluk dirinya sendiri.
"Risa.. kau kenapa? Risa.." Rayyan manahan Arisa agar tidak ambruk, dan tak bisa menahan kekhawatiran diwajahnya.
"Sakit..." rengeknya.
"Ap-apa yang sakit?"
"Hati...." Arisa mendongak, dan terlihat jelas wajahnya kian memucat.
Rayyan dengan sigap menggendong Arisa dan kembali ke ruangan Dimas. Beberapa perawat dan petugas menyuruh Rayyan untuk membawa Arisa di brankar dorong, namun Rayyan tak menggubrisnya dan tetap membawa Arisa setengah berlari ke ruangan Dimas. Dimas terkejut mendapati Arisa yang kesakitan.
"Apa yang kau lakukan pada Aris?" Tanya Dimas setengah berteriak sambil membantu menidurkan Arisa.
"Kau pikir aku akan melakukan apa hah?" Rayyan tak kalah berteriak. Kini Dimas tak lagi melihat wajah dingin Rayyan, yang dilihatnya hanya ekspresi panik, khawatir, dan gelisah.
"Biar aku periksa dulu."
"Aku tak ingin keluar." Dimas menoleh pada Rayyan yang menatapnya dengan tatapan memohon. Namun Dimas tak mempedulikannya dan langsung memeriksa keadaan Arisa. Dibantu seorang perawat yang ikut masuk kedalam.
"Sudah kuduga. Harusnya Arisa segera di operasi. Tapi apa operasinya akan berhasil? Bagaimanapun kau harus hidup Aris. Aku tak ingin melihatmu pergi." Gumam Dimas berdecih.
"Aku ingin bicara dengannya." Ucap Dimas pada perawat, dan ditanggapi anggukan. Setelah perawat meninggalkan ruangan, Dimas beralih menatap Rayyan.
"Apa ada yang salah? Apa dia baik-baik saja? Apa yang membuatnya kesakitan seperti itu? Katakan dok.. aku ingin tahu."
"Diamlah. Aku tak mau mengatakannya jika Arisa sendiri tidak mengatakannya padamu." Dimas meraih ponselnya, lalu memanggil nama yang familiar.
"Tio. Segera ke rumah sakit dan temui aku. Aku ingin bicara." Tak ada sapaan ataupun jawaban, Tio memutus panggilannya.
Dimas menoleh pada Rayyan dan menatapnya dengan lekat.
"Kau menyukai Aris?"
"Lebih dari itu. Aku mencintainya."
"Tapi apa kau sudah tahu Aris mencintai adikku?"
"Justru karena itu. Aku tak ingin melihat Risa terus menerus berada dalam bayang-bayang adikmu. Aku ingin membuat hidupnya bahagia."
"Karena apa kau mencintainya?"
"Apa kau pikir aku punya alasan? Aku sendiri tak tahu. Aku hanya mengikuti perasaan aneh yang selalu ingin bersamanya. Arggghhh kau tahu itu menyebalkan. Aku tak bisa tidur memikirkan senyumnya, bahkan dalam langkahku, terasa hampa jika Risa tak ada." Rayyan kini terlihat frustasi dengan jawabannya.
"Jika dia tidak mencintaimu?"
"Aku tak peduli. Dan mengapa kau bertanya semua itu?"
__ADS_1
"Ada sesuatu hal yang tak bisa aku beritahu padamu, namun menjadi alasan mengapa Arisa tidak ingin lagi mencintai orang lain selain adikku." Rayyan semakin tak mengerti dengan yang dikatakan Dimas.
Rayyan menghampiri Arisa kini terlihat tenang. Dengan ragu, Rayyan meraih dahi Arisa, membelai sampai ke ujung poni nya.
"Kenapa aku mencintai gadis sepertimu?" Gumam Rayyan.
---
. Tio datang lalu meraih adiknya.
"Aris... apa yang sakit?"
"Sekarang sudah tidak." Jawab Arisa tersenyum.
"Kenapa tidak mau menurut?" Tanya Tio kembali menjatuhkan air matanya.
"Aku tak apa kak. Sungguh."
"Besok kita jadwalkan dan kau jangan menolak."
"Tapi aku ingin ke makam Rama dulu. Boleh?" Semula Tio terdiam, namun akhirnya mengangguk menanggapi permintaan Arisa.
"Rayyan.. bolehkah kau pergi dulu? Aku ingin berbicara pada Tio secara pribadi." Rayyan melirik Arisa.
"Nanti aku menyusul. Sampaikan maafku pada Sein." Rayyan mengangguk lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Apa yang dia sembunyikan?" Gumam Rayyan seraya menutup pintu.
Kedua pria itu saling mengobrol dengan wajah serius. Arisa hanya memejamkan matanya, bicarapun tak ada artinya jika sang kakak sudah tahu kebenarannya.
"Aku akan menghubungi temanku. Dan aku berharap dia bisa membantu Aris." Dimas mengangguk.
"Kenapa tidak hatiku saja?"
"Kau becanda Tio? Jika hatimu kau berikan pada Aris, kau bukan saja mati, tapi bisa jadi Aris menjadi tak punya perasaan."
"Apa maksudmu?"
"Ahh tidak... aku hanya menebak."
"Memang kakak tak punya perasaan kan?" Tanya Arisa menyela.
"Aris... kau jahat pada kakak." Tio mendelik pada Arisa. Arisa tertawa kecil dan terbangun lalu beranjak melangkah.
"Mau kemana?" Tanya Tio menghampiri dan meraih tubuh kecil adiknya.
"Sein menungguku kak."
"Sein atau Rayyan?" Ejek Tio.
"Ckk. Sein kak. Adiknya." Ucap Arisa berdecak kesal.
"Tapi...."
"Besok aku tak bisa menemuinya. Bukankah harus menuruti ucapan kakak? Jadi kakak juga harus mengizinkanku untuk hari ini." Tio terdiam tak menanggapi.
"Kakak...." rengek Arisa menarik ujung kemeja Tio.
"Iya iya baiklah... kakak antar." Dimas hanya terdiam menghela nafas panjang melihat Tio dan Arisa berlalu setelah berpamitan padanya.
"Jika ada yang mencintaimu lebih dari pada aku dan adikku, aku akan melepaskanmu Aris." Ucap Dimas menunduk di mejanya.
. Arisa membuka pintu ruangan tanpa mengetuk.
"Kakak putri." Teriak Seina antusias merentangkan tangannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rayyan setelah Arisa berada disampingnya. Arisa hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Rayyan.
"Mau peluk." Pinta Seina.
Arisa menyalami bunda terlebih dahulu sebelum memeluk Seina. Bunda sedikit terkejut saat melihat Tio masuk.
__ADS_1
Sedingin-dinginnya Tio, tapi Tio tahu cara beretika pada yang lebih tua.
"Dimana yang satunya?" Tanya bunda pada Tio.
"Ohh Raisa tidak ikut tante. Mereka berbeda kampus." Jawab Tio.
"Hemmm padahal bunda ingin melihat lagi mereka berdampingan."
"Memang bunda sudah melihat mereka berdua bersama?" Tanya Rayyan.
"Pernah.... saat sebelum pindah ke Surabaya."
"Itu sudah lama bunda.... aku saja masih SD kan?"
"Yaaa mungkin."
"Pasti berbeda lah bunda... hampir 12 tahun kita di Surabaya. Dan baru pindah lagi ke sini 2 tahun yang lalu." Perdebatan diantara ibu dan anak itu membuat tamu mereka terdiam.
"Raisa dan kamu pasti sama." Tebak bunda menatap dalam wajah Arisa. Namun Arisa hanya tersenyum tak menjawab.
"Tidak bunda... meskipun wajahnya sama, tapi tetap saja mereka orang yang berbeda." Jawab Rayyan dengan acuh tak memperhatikan ada seseorang yang terbelalak heran dan seakan ucapan itu mengingatkan pada Rama yang sama persis mengatakan itu.
Arisa menunduk mencoba menghilangkan rasa sesak dan melupakan kembali kata-kata itu.
"Jadi, berarti kau sudah memperhatikan salah satunya? Lalu siapa kira-kira yang akan menjadi menantu bunda?" Tanya Bunda menatap Rayyan serius, namun sangat jelas nada itu adalah sebuah ejekan.
"Entahlah bunda. Aku belum mendapatkan jawabannya. Tapi jika pilihanku ini salah, aku tak akan memilih keduanya." Arisa menoleh pada Rayyan yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.
"Kakak... kata kakak dokter tampan, Sein besok pulang. Kakak ke rumah Sein ya.. Sein ingin main dengan kakak putri." Arisa kembali terdiam menatap Seina, kemudian menatap Tio. Tio hanya memalingkan wajahnya seakan menghindari tatapan Arisa yang selalu membuatnya luluh.
"Aris. Bukankah kau ada janji sore ini? Kemarin kau terus mengingatkan kakak. Tapi kau sendiri lupa. Ayo sebelum terlambat." Arisa menyernyit mencoba mencerna dengan yang dikatakan Tio. Tapi Arisa langsung mengerti bahwa Tio mencoba menghindari pembicaraan agar tidak lebih jauh.
"Iya kak."
"Kakak putri mau pergi?"
"Kakak ada urusan sayang." Ucap Arisa melemparkan senyuman.
"Kau tak bilang ada urusan." Rayyan semakin lekat menatap Arisa.
"Dia seakan ingin menghindar. Tapi dari apa dan dari siapa?" Gumam Rayyan.
"Bu-bunda... Arisa pamit." Kembali Arisa mencium tangan bunda sebelum pergi.
"Aku juga tante..." ucap Tio ikut menyalami.
"Hati-hati kalian. Sampaikan salam bunda pada ayah dan mama.!"
"Baik bunda." Jawab Arisa tersenyum dengan manis.
Arisa dan Tio berlalu meninggalkan ruangan, meskipun berat hati karena Seina merengek dan menangis saat Arisa pergi.
"Kakak.. besok.. jemput... kakak.. putri.! Sein... mau ketemu lagi sama... kakak putri. Sein mau... pas sein pulang... kakak putri ada dirumah." Ucapnya disela isak tangis yang kemudian menjadi keras.
"Sein tak boleh seperti itu. Sein jangan egois. Kakak tidak janji bawa kakak putri besok ya..." namun Seina hanya menangis tersedu-sedu.
"Sudah... kenapa kamu menangis sampai seperti itu? Sini bunda peluk." Ucap Bunda yang memeluk putri bungsunya.
"Kakak putrinya bunda...."
"Iya.. kakak putrinya ada urusan dulu sayang...."
"Tapi Sein mau kakak putri besok..."
"Jangan begitu... nanti kakak putrinya tidak bisa fokus dalam urusannya kalo Sein seperti itu."
"Tapi Sein mau nunggu kakak putri ya bunda."
"Iya... semoga saja besok kakak putrinya tak ada urusan. Jadi bisa ke rumah ketemu lagi sama Sein."
"Iya... Sein mau nunggu kakak putri. Kalo kakak putri tidak datang besok, Sein akan tunggu terus sampai kakak putri ke rumah." Rayyan berdecih mendengar rengekan adiknya. Diluar terlihat kesal, namun hatinya sama seperti Sein yang tak ingin Arisa pergi.
__ADS_1
"Otakku benar-benar kacau." Ucap Rayyan dengan kesal.
-bersambung.