TAK SAMA

TAK SAMA
155


__ADS_3

. Raisa yang berada di kamar lain, terus merengek pada Rahma ingin segera bertemu dengan Arisa. Alasan keduanya tak di satukan dalam satu kamar, Tio khawatir keduanya akan saling menyalahkan lagi.


"Nanti kalau kalian sudah membaik, mama dan ayah akan mempertemukan kalian." Bujuk Rahma agar Raisa merasa lebih tenang.


"Apa benar kondisi Aris sangat parah? Lalu? Bagaimana dengan pelakunya? Apa ayah dan kak Tio sudah menangkapnya?"


"Pelakunya.... Haidar dan Clara."


"Apa? Clara? Apa-apaan anak itu? Apa dia dendam masalah kemarin? Atau karena Aris yang menjadi calon istri Rayyan? Apapun itu, dia benar-benar gila. Kalau karena masalah kemarin, sudah jelas dia yang salah. Dan wajar saja jika ia kalah saing dengan Aris. Memang dari awal kan hanya Aris yang di inginkan Rayyan. Ma... apa Clara dan ayahnya sudah masuk penjara?" Rahma menggeleng membuat Raisa semakin geram.


"Kenapa? Harusnya mereka di penjara ma." Protesnya seakan langsung pada polisinya.


"Jika Haidar mungkin bisa saja di penjara. Tapi jika untuk Clara, mama rasa itu tidak perlu. Karena Clara masih punya masa depan, dan perjalanan hidupnya masih panjang. Sebagai gantinya, untuk menghukum Haidar, Tio menghapus nama perusahaan Haidar dari daftar bisnis dan membuatnya tak akan mendapatkan kerja sama dari perusahaan manapun."


"Hanya itu? Aih mama... itu sama saja tidak menghukum mereka."


"Dengarkan dulu. Jangan menyela!"


"Hehe iya ma... silahkan lanjutkan!"


"Semua saham yang di berikan pada Haidar, akan di cabut oleh pemiliknya. Lalu, ia di jatuhi denda sebesar 5 M. Jadi, kemungkinan ia akan bangkrut. Namun Seno tidak setuju dengan semua itu, ia bersikeras ingin Haidar di penjara."


"Lalu? Apa yang akan terjadi?"


"Ya kita akan saksikan nanti di pengadilan."


"Emmm ohh ma... bagaimana keadaan Juju?"


"Masih kritis. Malam itu, Juju langsung menjalani operasi. Tapi sampai sekarang belum siuman. Kata Dimas, Juju masih hidup pun karena alat bantu."


"Jadi artinya..."

__ADS_1


"Iya Rais. Jika alat bantu itu di lepaskan, maka Juju akan meninggal." Raisa langsung menutup mulutnya karena tak percaya jika yang di ucapkan ibunya ini adalah benar. Tak mungkin Juna meninggal dengan mudah. Mungkin karena perawakan Juna yang tinggi berotot yang membuatnya berpikir bahwa Juna itu orang yang kuat dari apapun.


. "Ju..." lirih Arisa yang kini sudah berada di kamar Juna. Ia begitu sesak melihat semua peralatan medis yang mengelilingi tubuhnya. Suara EKG menandakan Juna masih hidup namun tetap membuat Arisa seakan mati rasa. Tubuhnya menjadi kaku melihat kondisi Juna. Apa lagi saat mendengar penjelasan dari Dimas, ia semakin tak percaya bahwa nyawa Juna akan melayang hanya dengan melepaskan alat bantu ini.


"Setidaknya bicara denganku dulu Ju. Kenapa kau ada di kota ini? Padahal aku menyuruhmu untuk tetap di Bandung dan menjaga bunda saja. Kalau saja kau menuruti ucapanku, kau tak mungkin seperti ini kan?" Ucap Arisa yang merenung sendiri di samping Juna. Tio dan Rayyan berada di luar dan membiarkan Arisa di dalam atas permintaannya.


"No... na...." lirih Juna terdengar samar oleh Arisa. Arisa beranjak dari kursi roda dan melangkah menghampiri Juna.


"No-na. Baik-baik sa-ja?" Arisa mengangguk dengan air matanya mulai berderai deras di pipinya.


"Syu-kur-lah."


"Juju baik-baik juga kan?" Tanya Arisa dengan memaksakan tawa agar Juna bisa lebih baik.


"Su-dah-wak-tu-nya-non."


"Ju... ahaha apa yang kau bicarakan? Waktu apa? Kau mau makan?"


"Sudah Ju... jangan bicara lagi. Atau aku pecat sekarang." tangis Arisa semakin menjadi mendengar celotehan Juna.


"Kak Tio! Dimas!" Teriak Arisa selanjutnya. Tio segera masuk dan ia mendadak khawatir saat melihat Arisa tak lagi di kursi roda.


"Kenapa malah berdiri? Kau masih lemah."


"Kak... panggil Dimas. Aku tak mau Juju kenapa-kenapa." Rengeknya mendadak menjadi manja dan seakan mengadukan Juna. Juna hanya tersenyum, sikap manja Arisa sangatlah langka baginya.


"Rayyan. Tolong panggil Dimas." Titah Tio langsung di tanggapi oleh Rayyan yang bergegas memanggil Dimas.


"Aku masih butuh Juju." Arisa masih merengek di dekapan Tio.


"Ju... jangan bicara sembarangan oke. Aku pastikan kau sembuh ya." Bujuk Tio namun Juna malah menggeleng sembari menarik senyum pada Tio.

__ADS_1


"Mas Tio. Te-rima kasih. Su-dah memberi saya kesempatan un-tuk bekerja dengan ke-luarga Putra."


"Aku juga berterima kasih Ju. Kau sudah menjaga Aris sampai kau menjadi begini."


"Sudah men-jadi tanggung jawab saya Mas."


"Juju..." rengek Arisa menyela perbincangan keduanya.


"Saya mau tidur non." Ucapnya masih begitu pelan.


"Tapi Ju... ini masih siang. Jangan dulu ya... Ju... aku masih membutuhkan Juju."


"Aris tenang." Tio menahan Arisa yang ingin meraih Juna.


"Tio." Dimas menghampiri Tio dengan langkah cepat. Ia segera mengambil tindakan ketika bunyi EKG sudah berubah menjadi berdenging dan menampilkan garis lurus yang membuat Arisa histeris.


"Juju.... Dimas kembalikan Juju." Arisa beralih mencengkram kemeja Dimas dengan keras. Dimas yang sudah tak bisa bertidak lebih lanjut, hanya bisa menunduk dan melepaskan satu persatu alat yang terpasang di tubuh Juna. Arisa semakin keras menangis ketika melihat wajah Juna yang begitu pucat. Ia tak bisa menahan kesadarannya saat melihat Tio mengusap wajah Juna. Rayyan segera membawa Arisa kembali ke kamarnya.


Kabar itu sudah terdengar oleh Yugito, ia segera pulang dari kantornya dan bergegas ke rumah sakit. Sebelum ke kamar mayat, Yugito lebih dulu memastikan kondisi kedua putrinya baik-baik saja. Saat di kamar Arisa, terlihat Rahma sedang menunggu beserta Raisa yang duduk di kursi roda sambil memegangi cairan infus. Wajah khawatirnya terlihat jelas menatap adiknya yang masih pingsan karena syok kehilangan Juna.


"Ayah.." lirih Raisa saat Yugito meraih kepalanya dengan lembut. Segera Raisa memeluk Yugito dan menangis tersedu-sedu.


"Juju ayah..." lirihnya kemudian. Nafasnya tersenggal sembari membenamkan wajahnya pada Yugito.


"Iya ayah tahu nak. Tenangkan dirimu. Bagaimana kondisi Aris?"


"Aris sudah siuman. Dan tadi langsung meminta di antar menemui Rega, lalu ke kamar Juju." Jawab Tio yang berada di samping ranjang.


"Haidar!!!" Geram Yugito dengan mengepalkan tangannya melihat wajah Arisa yang penuh memar. Sudut bibirnya masih terlihat kemerahan. Tio mengerti pada kemarahan Yugito, ayah mana yang tega melihat putrinya di siksa oleh orang lain. Meski begitu, ia tak setega Haidar saat marah kepada anak orang.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2