TAK SAMA

TAK SAMA
157


__ADS_3

. "Aris! kamu mau tinggal dimana? Bersama mama atau Sarah?"


"Eh?" Arisa mendadak gugup, ia tak mengerti mengapa Rahma memberinya pilihan yang sulit ia putuskan.


"Apa Aris harus memilih?" Meski tak harus di jawab pun, Arisa mengerti mengapa ibunya bertanya demikian.


"Untuk saat ini, mungkin Aris akan di sini dulu, selain untuk memulihkan kondisi Aris, Aris juga harus menghadiri persidangan nanti kan?" Sambung Arisa berikutnya.


"Apa setelah kasus ini selesai, kau akan kembali ke Bandung?" Tanya Rahma kini semakin lirih. Arisa menoleh ke arahnya sesaat, lalu menoleh pada Sarah untuk memastikan Sarah tidak tersinggung.


"Aris punya tanggung jawab di sana. Jadi, kemungkinan Aris akan kembali ke Bandung. Selain itu, Aris harus membalas budi kak Rega yang sudah berusaha menyelamatkan Aris."


"Itu terserah kamu saja. Kami semua tak akan melarang ataupun menghalangimu. Kau sudah dewasa, kau tahu keputusan mana yang menurutmu baik." Rahma mengusap bahu Arisa dengan memberikan dukungan tentang apapun yang Arisa putuskan.


"Apa mama marah jika nanti Aris ke Bandung?" Lirih Arisa mulai menunduk sendu.


"Bukan marah. Tapi lebih tepatnya terasa berat. Ibu mana yang rela jauh dengan anaknya? Mama sangat merindukanmu, berharap kau selalu ada disini berkumpul bersama. Tapi, mungkin karena cara mama yang salah menunjukkan kepedulian mama padamu, kamu sampai merasa bahwa mama tidak menyayangimu." Arisa termangu mendengar ungkapan dari Rahma. Beberapa kali ia memang mendengar ungkapan yang serupa, namun akhirnya Rahma masih mempedulikan Raisa dari pada dirinya.


"Aris mau istirahat. Perut Aris masih linu." Ucapnya seakan mengelak dari topik pembicaraannya.


"Jangan lupa obatnya Putri... dan maaf. Hari ini bunda dan Reza akan kembali ke Bandung." Arisa terhenti seketika dari langkahnya yang baru saja beranjak. Ia terdiam dengan rasa tak rela, namun jika ikut pun ia rasa bukan waktunya. Entah apa yang membuatnya tertahan di rumahnya, Arisa berbalik dan melempar senyum pada Sarah.


"Hati-hati bunda. Bunda jaga kesehatan ya..." tuturnya seakan membiarkan Sarah pergi begitu saja.


"Kak Tio...." panggil Arisa selanjutnya. Dengan cepat, Tio segera menghampiri Arisa dan membantunya menaiki tangga.


"Apa putriku mengingatkanmu pada putrimu?" Tanya Rahma membuyarkan lamunan Sarah yang tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari Arisa.


"Sangat mbak. Hanya melihat Putri, rasanya sudah membuatku lega."

__ADS_1


"Aku juga sama. Sangat merindukan Aris. Banyak orang di rumah ini yang kehilangannya. Semua orang bersyukur Aris masih hidup, tapi mereka tetap bersedih karena tak bisa menatap wajahnya, dan melihat senyumnya. Yang mereka tatap hanya pintu kamarnya dan fotonya saja, itu pun foto beberapa tahun yang lalu. Aris banyak berubah. Aku sangat berterima kasih padamu karena sudah menyembuhkan penyakitnya yang kemungkinan sulit di sembuhkan."


"Anggap saja sebagai penebus dosaku saja mbak. Bagaimana pun, aku sangat bersalah meskipun pada awalnya aku tak tahu apa-apa."


"Tapi tetap saja, aku tak bisa melupakan kenangan itu. Dan aku damai denganmu bukan karena aku sudah benar-benar memaafkanmu, tapi ini semua untuk Aris." Sarah menunduk mendengar ungkapan Rahma, benar, jika ia berada di posisi Rahma pun mungkin akan sulit memaafkan wanita yang sudah menjadi simpanan suaminya.


"Aku permisi mbak." Rahma beranjak ketika Sarah berbalik dan berlalu dari ruang keluarga.


Melihat Sarah berlalu dengan Reza meninggalkan kediaman Putra, Yugito berani keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri Rahma yang hendak menaiki tangga.


"Apa kau melarang Sarah untuk menemui Aris?" Tanyanya menghentikan langkah Rahma.


"Aku tak pernah melarangnya menemui putriku. Lagi pula, Aris sendiri yang mau di sini memulihkan diri."


"Lalu.."


"Aris... kenapa di luar? Katanya mau istirahat?" Rahma menghampiri Arisa yang tengah duduk di sofa luar sembari menatap bunga-bunga yang tengah bermekaran.


"Disini lebih nyaman ma..." jawabnya tanpa menoleh.


"Boleh mama lihat perutmu? Apa kau bisa ceritakan mengapa sampai memar begitu? Apa kau terbentur?" Arisa menggeleng sembari mengangkat sedikit bajunya memperlihatkan luka memar yang jelas terlihat karena kulitnya yang putih bersih.


"Lalu?" Tanya Rahma kemudian dengan berkaca-kaca. Hatinya begitu teriris melihat semua memar di tubuh putrinya.


"Clara yang lakukan ma." Lirihnya menjawab dengan sedikit ragu.


"Dia memukulmu? Atau..."


"Menendang." Rahma terhenyak. Bagaimana cara Clara menendangnya? Pikiran Rahma mulai menebak-nebak hal yang kemungkinan terjadi sampai Arisa seperti ini.

__ADS_1


"Aku di ikat di kursi, lalu Clara menampar dan memukulku dengan brutal, kemudian aku terjatuh beserta kursinya dan dia melakukannya." Ungkapnya menjelaskan. Karena sudah tak kuat menahan kesedihannya, Rahma memeluk erat Arisa yang terlihat masih trauma. Bagaimana tidak, harusnya menjadi malam yang bahagia, tapi malah menjadi malam yang kelam.


"Aris... kau di balkon?" Panggil Raisa yang menghampiri ke balkon dengan langkah yang masih lambat.


"Eh mama." Ucapnya terlihat terkejut. Rahma menyuruh Raisa diam dengan bahasa isyarat karena Arisa sudah tertidur. Raisa yang merasa lemas pun ikut bersandar pada ibunya dan memejamkan matanya di dalam dekapan Rahma.


. Malam tiba, terdengar bi Ina memanggil majikannya karena kedatangan tamu. Dengan dugaan bahwa itu adalah keluarga Fariz, Yugito dengan hangat menyambut kedatangan tamu tersebut. Namun, ia begitu terkejut, bukan Fariz yang datang. Melainkan Bayu dan orang tuanya.


"Arya... bagaimana kabarmu?" Sapa Yugito.


"Kami baik... lalu, bagaimana dengan Aris?" Balas Arya sembari melirik pada Bayu.


"Begitulah. Keadaannya masih belum bisa di katakan baik-baik saja."


"Apa saya bisa melihatnya om?" Pinta Bayu dengan nada memaksa.


"Oh... silahkan." Yugito membawa mereka menuju kamar Arisa yang sudah banyak orang. Bayu terkejut dengan keberadaan Rayyan di sana.


"Lagi-lagi aku terlambat." Batin Bayu menatap Rayyan sesaat lalu melirik pada Arisa yang babak belur. Matanya membulat, bagaimana bisa Arisa sampai begitu parahnya? Ia menghampiri Arisa yang tengah bersama Rayyan dan Seina di ranjangnya.


"Aris..." lirihnya yang tak tahu harus berkata apa. Untuk bertanya apakah Arisa baik-baik saja pun ia sudah tahu jawabannya. Tak ada pertanyaan lain yang muncul di benaknya sekarang.


"Kak Bayu. Sepertinya Risa tak bisa kemana-mana untuk beberapa hari ini. Kondisinya masih kurang fit, dan harus banyak istirahat." Ucap Rayyan seakan menegaskan bahwa Arisa tak bisa datang ke pernikahannya.


"Cih... aku tidak bicara denganmu Rayyan." Decih Bayu memalingkan wajahnya dengan ekspresi kesal.


"Alihkan pandanganmu dari calon istriku Bayu Andra Respati." Tegas Rayyan menatap tajam pada Bayu.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2