
. Rayyan mengiringi langkah Arisa menyusuri setiap sudut mall dengan langkah santai. Setelah menghabiskan waktu di kampus dan menonton beberapa acara, Rayyan mengajak Arisa untuk pergi ke mall. Arisa hanya ikut saja kemanapun Rayyan pergi. Karena Rayyan yang terus menggenggam tangannya selama mereka berjalan. Arisa sedikit kesal saat mendapati seluruh pandangan wanita mengarah pada Rayyan. Saat itu juga, Rayyan langsung melingkarkan tangannya pada pundak Arisa seakan mengatakan 'tak perlu khawatir. Aku hanya milikmu'. Keduanya masih enggan singgah ke sebuah counter, dan hanya berjalan tanpa tujuan. Namun, tiba-tiba Rayyan berbelok memasuki counter aksesoris. Walaupun heran, Arisa terus mengikuti tanpa protes sedikitpun. Rayyan mengambil sebuah jepitan rambut berbentuk rangkaian bunga dan kemudian menyesuaikannya pada rambut Arisa.
"Huhfttt tambah cantik." Keluhnya dengan raut wajah sangat berbeda dengan pujian yang ia katakan.
"Wajah apa itu? Dia memuji atau mengejek?" Batin Arisa yang tak mengerti dengan ekspresi Rayyan saat ini. Dengan masih acuh, Rayyan mengambil jepitan yang lain dan hendak memberikannya pada Arisa.
"Yang coba-- eh? Wajahmu kenapa?" Ia sedikit terkejut mendapati tatapan Arisa.
"Kau ini memuji atau mengejekku?"
Rayyan memiringkan kepalanya sembari menaikkan alisnya sebelah. "Hah?" Cetusnya yang masih tak paham dengan ucapan Arisa.
"Ucapanmu memuji, tapi wajahmu sebaliknya." Semula Rayyan masih berpikir keras, namun ia langsung tertawa saat mengingat hal yang di maksud Arisa.
"Jelas lah sayang. Rasanya aku kesal kalau kau terlihat semakin cantik. Sainganku banyak." Ucapnya menghela nafas pasrah.
"Yaaa nasib jadi cantik memang begini." Dengan sombong, Arisa sedikit melemparkan senyum ejek pada Rayyan.
"Ohhhh begitu? Jadi kau bangga di kejar bapak-bapak yang sudah punya anak?"
"Hah? Apa maksudmu? Bapak-bapak? Siapa?"
"Fabio lah... siapa lagi? Terus si Dimas, si Bayu." Yang semula ingin protes, Arisa malah tertawa dan kembali melempar senyum ejek membuat Rayyan menyipitkan matanya.
"Kau salah tuan Rayyan. Aku juga punya berondong." Ucapnya penuh percaya diri.
__ADS_1
"Apa? Ohh jadi sudah berani buka lowongan untuk berondong ya? Hemmm?" Geram Rayyan dengan gemas mencubit hidung Arisa yang tertawa karenanya. Terlihat dari tatapan keduanya yang sama-sama berkata bahwa mereka berharap momen seperti ini terus berlanjut.
. Di sisi lain, Raisa dan Rahma masih sibuk dengan persiapan pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari. Meski begitu, Raisa merasa lega jika undangan sudah tersebar, gaun pengantin yang sudah selesai, dan WO yang sudah di konfirmasi. Raisa hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya agar Arisa bisa tetap di rumah dan tak pergi-pergi ke Bandung dalam waktu satu minggu ini.
"Apa yang sedang kau pikirkan Rais?" Tanya Rahma ketika ia melirik ke arah Raisa yang tengah melamun.
"Ma... bantu bujuk Aris untuk tidak pergi lagi! Aku ingin sebelum acara, Aris menemaniku terus." Jawabnya memohon dengan sangat. Bahkan raut wajahnya begitu memelas dengan harapan Rahma menyanggupi keinginannya.
"Mama sudah sempat bicara. Tapi Aris bersikeras ingin pergi. Justru... mama memikirkan bagaimana caranya agar Aris melepas jabatannya sebagai presdir disana."
Raisa terdiam, ternyata ibunya lebih memikirkan hal yang tak ia pikirkan sebelumnya. Namun, wajahnya sangat sendu mengingat keduanya yang selalu bertengkar.
"Apa mama bisa janji kalau Aris disini, mama akan bersikap layaknya mama memperlakukanku sedari kecil?" Meski ragu, Raisa berusaha dan berharap agar Rahma kembali dekat dengan Arisa agar tak ada satu pun orang yang pergi lagi.
"Apa kau berniat membuat mama menangis?"
"Rais... bukankah sudah mama bilang, tak ada ibu yang rela anaknya jauh darinya. Meskipun memang mama akui mama salah, tapi mama tak pernah berpikir sedikitpun bahwa Arisa akan pergi dan menemukan kenyamanan di pelukan orang lain yang ia anggap sebagai ibu pengganti. Dan yang lebih membuat mama menolak menerima kenyataan, kenapa wanita itu harus Sarah?" Setelah mendengar nama tersebut, Raisa memilih untuk diam. Ia tak ingin Rahma akan kembali terlarut dalam masalahnya yang jelas mungkin sudah selesai itu.
"Bahkan mama sempat berharap Sarah itu seharusnya menghilang dari jangkauan Aris." Lanjut Rahma membuat Raisa terbelalak seketika. Apa luka hati ibunya terlalu dalam sampai ia berharap hal tersebut.
. Singkatnya, malam tiba dan Rayyan masih membantu Arisa untuk mengemas beberapa barang yang akan di bawa besok. Namun malam ini Arisa terlihat murung karena siang tadi ia mendapati kabar Rega sudah tak ada di rumah sakit. Sempat marah pada Dimas karena tak memberitahunya lebih awal dan malah menyembunyikan hal itu dari Arisa.
Ditambah, ia khawatir pada Sarah karena ia tak bisa menghubungi orang-orang yang ada di Bandung. Tak biasanya, telepon rumah pun tak ada yang menjawab. Sementara itu, Arisa mendapati kabar bahwa Zain sudah kembali ke Surabaya pagi tadi dengan alasan Reza menyuruhnya pulang.
"Aris?" Tegur Rahma yang terheran melihat Arisa terus melamun.
__ADS_1
"Hemm? Apa ma?" Sahutnya masih enggan memalingkan pandangannya dari apa yang tengah ia tatap sekarang.
"Kenapa melamun? Sakit lagi? Pusing?" Kali ini, Arisa membuyarkan lamunannya sendiri dan menggeleng meyakinkan Rahma bahwa dirinya sehat-sehat saja.
"Apa kau memikirkan Rega?" Tanya Rayyan yang sama-sama enggan memalingkan perhatiannya dari barang-barang Arisa yang tengah ia rapikan.
"Aku masih merasa bersalah padanya Aray.."
"Iya iya aku tahu. Mana mungkin tuan putri akan begitu mudah melupakan jasa sang pahlawan yang sudah menyelamatkan hidupnya. Iya kan?"
"Aray... ih kau selalu saja begitu."
"Lalu? Aku harus bagaimana?"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Aray."
"Aku tidak berpikir yang tidak-tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja."
"Saat aku di culik, apa kau ada menyelamatkanku?" Sontak Rayyan langsung terdiam, ia mengiyakan apa yang di katakan Arisa. Saat insiden itu, ia tahu ketika bawahannya yang memberi laporan ketika acara sudah hampir selesai. Yang lebih membuatnya menyesal, ketika ia mendapati kondisi Arisa yang begitu mengkhawatirkan. Mengapa ia tak menyadari ada bahaya yang mengincar kekasihnya. Dan mungkin itu akan menjadi sebuah penyesalan paling mendalam di hidupnya.
. Esoknya, sesuai jadwal penerbangan, Arisa berangkat meninggalkan Rayyan dan Raisa yang melepas kepergiannya. Arisa sempat menatap lekat pada kedua orang yang melambaikan tangan saat dirinya menjauh. Ia berpikir apakah seperti ini pemandangannya jika seandainya Raisa dan Rayyan jadi menikah dulu. Namun dengan kenyataan Rayyan menjadi miliknya, Arisa sebisa mungkin menjauhkan pikiran negatifnya dan ia menghibur diri selama perjalanan karena hatinya terus merasa gelisah.
__ADS_1
Ketika sampai, alangkah terkejutnya saat melihat apa yang tertera di pagar rumah Sarah dengan bertuliskan "rumah ini di sita."
-bersambung