TAK SAMA

TAK SAMA
78


__ADS_3

. "Besok aku akan ke luar negeri. Jadi anggap saja ini sebagai salam perpisahan sebelum aku berangkat." Ucap Rayyan yang berjalan beriringan dengan Raisa.


"Kau seperti tak akan lagi bertemu denganku saja." Tutur Raisa yang masih berjalan tanpa menoleh sedikitpun pada Rayyan.


"Kenapa sikapnya seperti Risa?" Batin Rayyan menatap lekat pada wajah dingin Raisa.


"Risa." Panggil Rayyan menghentikan langkah Raisa. "Bolehkan aku memanggilmu seperti itu?" Lanjutnya bertanya dengan ragu.


"Terserah kau saja. Lakukan sesukamu" balas Raisa yang seolah tidak peduli namun hatinya merasa teriris karena panggilan itu adalah panggilan khusus Rayyan untuk Arisa.


"Kau marah?" Tanya Rayyan mendekatkan wajahnya pada Raisa membuat Raisa menjadi salah tingkah.


"Sudah. Cepat pulang. Aku ingin istirahat." Lagi, Raisa hanya memasang wajah datar dengan memalingkan wajahnya, kemudian berlalu ke arah parkiran.


"Kau hanya menganggapku sebagai pengganti Aris saja. Kau hanya menjadikanku sebagai bayangannya saja. Kau tak pernah melihatku, kau juga tak pernah menganggap kehadiranku." Gumam Raisa yang diam seribu bahasa sampai ia dan Rayyan tiba di makam.


Raisa terkejut ketika melihat Fabio sedang memanjatkan doa dengan menghadap makam bertuliskan nama Arisa.


"Akan aku pastikan kecurigaanku bahwa kau masih hidup. Dan yang terkubur disini bukanlah dirimu Arisa. Aku akan mencarimu sampai manapun. Akan aku buktikan aku tidak main-main denganmu. Aku tak akan berhenti sampai aku menemukanmu." Gumam Fabio mencengram bunga yang hendak ia taburkan.


***


. Esoknya, di kantor, Arisa terhenti di loby saat mendengar riuh yang menyebutkan nama Rayyan dan Raisa. Hatinya terasa sesak menyaksikan kebersamaan mereka.


"Mereka pasangan muda yang membuat kita semua iri."


"Hei lihat... Rayyan Pratama benar-benar tampan. Raisa sangat beruntung ya."


"Iya. Ku dengar, dibalik kebersamaan mereka, sempat ada konflik dengan saudari kembar Raisa."


"Bukankah kembaran Raisa meninggal?"


"Kudengar iya."


Arisa berdecih mendengar rumor yang sangat menyesakkan baginya.


"Bahkan mereka tidak memikirkanku." Gumam Arisa berlalu dengan wajah yang kesal. Hal itu di lihat oleh Fahri yang merasa curiga bahwa dia adalah Arisa.


Segera Arisa berlalu ke tempat ia bekerja, dan kembali mendapat panggilan dari Reza via telepon.


"Ada apa?" Tanya Arisa setelah membuka pintu.


"Diam disini." Jawab Reza singkat membuat Arisa terheran.


"Apa?" ~Arisa


"Kau tak dengar?" ~Reza


"Mak-maksudku..." ~Arisa


"Menurut atau kau di pecat." Tegasnya tanpa menoleh pada Arisa. "Aku hanya khawatir saja." Gumam Reza menghela nafas berat.


"Kak... biarkan aku bekerja." Rengek Arisa yang berjalan ke samping kursi Reza lalu meraih tangannya sambil berlutut untuk mencoba membujuk agar Reza membiarkannya bekerja.

__ADS_1


"Sudah ku bilang tidak." Tegas Reza lagi.


"Ishhhh kakak...." rengek Arisa dengan berkaca-kaca. Ia benar-benar merindukan Tio saat ini. Air matanya berderai deras saat menatap wajah Reza. Sikapnya yang tegas semakin mengingatkannya pada sang kakak tercinta.


"Apa kak Tio juga percaya bahwa yang meninggal itu adalah aku?" Batin Arisa semakin keras terisak.


Reza mendadak gelisah kenapa Arisa sampai menangis seperti itu. Padahal ia hanya menyuruhnya untuk diam disana saja.


"Ehhh kau kenapa?" Tanya Reza meraih pundak Arisa yang sesenggukan lalu menangis keras. Saat Reza hendak membantunya berdiri, Arisa kemudian memeluk Reza dengan erat.


"Aku merindukan kakak.... aku ingin memeluk kakak. Kumohon jadilah pengganti kak Tio sebentar." Lagi, Arisa menangis keras semakin erat memeluk Reza. Reza termangu lalu perlahan membalas pelukan Arisa. Rasa yang sama ia rasakan sekarang, ia juga sangat merindukan Nadhira saat ini.


"Putri..." panggil Zain yang terkejut saat membuka pintu dengan terdengar tangisan dari balik meja. Terlihat juga Reza ikut terisak kecil sambil menenangkan Arisa.


"Za... hei.. kalian kenapa?" Seketika Reza melepas pelukannya pada Arisa mendengar suara Zain yang kini tepat di belakang Arisa. Reza menatap Arisa yang masih mencoba menghentikan tangisnya, namun Reza malah semakin ikut bersedih.


"Ya ampun! Kalian kenapa?" tanya Sarah segera meraih Arisa kedalam pelukannya. "Kenapa menangis? Reza? Kamu apakan Putri?" Sarah menatap tajam pada Reza yang terheran dengan sikap ibunya yang lebih menyayangi Arisa.


"Sudah nak... ada bunda. Sudah yaa...." Sarah mengusap lembut kepala Arisa dan sesekali mencium kepalanya.


Reza beranjak sambil berdecih kemudian berlalu dari ruangan entah kemana. Zain mungkin mengerti dengan yang di rasakan Reza, bagaimana pun Reza pasti merasa sikap Sarah terlalu berlebihan pada Arisa.


. Beberapa hari setelahnya, sikap Reza pada Arisa menjadi dingin dan seakan tidak peduli. Bahkan Zain pun merasa lelah membujuk Reza agar bersikap baik pada Arisa. Karena bagaimanapun Arisa tak punya siapa-siapa disini selain dirinya. Mendengar itu, hati Reza sedikit luluh. Hari ini ia berniat untuk meminta maaf pada Arisa dan mungkin mengajaknya makan. Namun, saat ia memanggil Arisa via telepon, beberapa kali tak menjawab. Kemudian ia memeriksa absen Arisa yang ternyata hari ini tidak masuk kerja.


"Kemana dia? Apa dia di temukan Yugito?" Batinnya gelisah. Seketika ia bergegas menuju apartemen Arisa. Saat di depan ruangan, ia berpapasan dengan sekertarisnya.


"Tuan... sekarang jadwal pertemuan dengan perusahaan--"


"Tapi tuan. Tuan Fab--"


"Suruh Zain saja." Lagi, Reza menyela dengan semakin kesal.


"Pak Zainnya..."


"Kenapa? Tidak bisa menggantikanku? Pecat saja kalau tidak bisa di andalkan." Teriak Reza membuat sekertarisnya menunduk dan membiarkannya pergi. Dan saat didepan lift, ia bertemu dengan Zain yang hendak masuk.


"Za... kau mau kemana? Sekarang kau harus--" ~Zain


"Gantikan aku.!" ~Reza


"Apa?" ~Zain


"Kau tak dengar?" ~Reza.


"Maksudmu apa? Kau mengajukan kontrak kerjasama dengan Arga Fabio Nalendra, dan sekarang kau malah mengabaikannya saat dia datang jauh-jauh kesini?" Teriak Zain dengan tatapan menusuk.


"Jika ini penting menurutmu, lakukan semaumu. Aku ada urusan." Ucap Reza menegaskan dengan tatapan tak kalah menusuk.


"Urusan apa? Apa yang lebih penting dari kontrak ini?"


"Minggir. Kubilang minggir." Lagi, Reza berteriak namun tak membuat Zain merasa takut atau berniat mengalah. Sebaliknya, Zain semakin kesal dengan sikap Reza yang tiba-tiba.


"Tidak. Kau harus menemui Fabio." Zain sedikit mendorong tubuh Reza memasuki lift.

__ADS_1


"Kau saja. Aku khawatir pada adikku." Tegas Reza yang memalingkan wajahnya membuat Zain terdiam. Akhirnya, Reza mengakui keberadaan Arisa.


"Pergilah!" Lirih Zain menekan tombol lift lalu mendorong tubuh Reza keluar. "Aku juga belum melihatnya hari ini. Fabio biar aku yang tangani." Ucapnya selanjutnya.


Setelah pintu tertutup, Reza memanggil Zain lewat telepon.


"Apa kau melihat di apartemennya?" Tanya Reza dengan nafas terengah karena berlari.


"Tidak. Aku berkali-kali mengetuk pintunya namun tak ada sahutan apapun dari dalam. Saat aku ingin masuk, pintunya terkunci. Kupikir dia sudah berangkat." Jelas Zain.


"Oke baiklah. Maaf untuk semuanya." Kemudian Reza memutuskan sambungan teleponnya dan melajukan mobil dengan cepat menuju rumahnya. Sepanjang jalan ia merasa gelisah karena tak biasanya Arisa hilang tiba-tiba seperti ini. Dan biasanya, ketika ia menelepon, Arisa pasti selalu mengangkat dengan cepat. Dan tak pernah membiarkan panggilan sampai tiga kali tak di angkat.


"Apa mungkin Fabio yang menyuruh anak buahnya untuk membawa Arisa? Dia tahu Arisa masih hidup? Ahh harusnya aku tidak gegabah mengajukan kontrak dengan Fabio. Tapi ini sudah lama sebelum Arisa datang kesini aku mengajukannya. Mengapa baru sekarang dia mengadakan pertemuan denganku? Sial... kenapa aku gelisah? Padahal biarkan saja dia dibawa calon suaminya itu." Decih Reza membatin sendiri.


Sampai ia tiba didepan rumah dan langsung berlari mencari keberadaan Arisa. Namun ia hanya menemukan Sarah saja.


"Bunda... apa Arisa kesini?"


"Tidak. Bukankah sekarang dia bekerja?"


"Dia tidak masuk bunda. Apa dia marah pada Reza? Atau Yugito yang membawanya? Atau Fabio?"


"Apa? Maksudmu Fabio yang dia sebut sebagai calon suaminya?" Reza mengangguk dengan masih gelisah menebak dimana Arisa berada.


"Yaampun Reza.... cepat cari Aris... kita ke apartemennya." Sarah ikut sibuk lalu bergegas menuju apartemen Arisa.


"Kan... sudah bunda bilang. Aris tinggal saja dengan kita. Bisa bahaya jika sendiri." Omel Sarah tak henti-hentinya menyalahkan Reza didalam mobil.


"Kan Zain disampingnya bunda... jadi harusnya tak ada bahaya." Reza tak ingin kalah dengan sang bunda.


. Sampai di depan pintu apartemen, beberapa kali Reza mengetuk, tetap tak ada yang membuka. Hingga ia memutuskan untuk menghubungi nomor Arisa, dan samar terdengar suara ponsel berbunyi dari dalam.


"Za... mungkinkah?"


"Sepertinya begitu bunda." Mendengar jawaban itu, Sarah semakin gelisah jika sampai Arisa nekat melukai dirinya sendiri.


Saat ia menghubungi petugas, pintu berhasil dibuka dan sungguh mengejutkan melihat Arisa yang tergeletak di lantai tepat didepan kamarnya. Wajahnya begitu pucat, suhu tubuhnya sangat panas.


"Cepat Reza... bawa Aris ke rumah sakit..." rengek Sarah tak bisa menahan air matanya.


Segera Reza membawa Arisa menuju rumah sakit. "Kenapa kau begini?" Gumamnya yang semakin panik.


*beberapa jam yang lalu, ketika Arisa terbangun, tubuhnya sangat lemas, kepalanya terasa berputar. Karena lututnya yang terasa lemas, ia ambruk dan kemudian tertidur di lantai. Hingga saat ia terbangun kembali, terdengar seseorang yang mengetuk pintu. Di jam ini bisa dipastikan itu adalah Zain. Ia biasa berangkat dengan Zain jika Zain tak ada janji dengan pacarnya. Jangankan membuka pintu, untuk duduk saja ia kewalahan. Ia menebak bahwa tekanan darahnya kembali menurun drastis.


"Kak... Zain..." lirih Arisa yang berniat berteriak namun tak bisa.


"Dim-mas..... kak Tio...." lirihnya lagi terisak dan masih tergeletak di lantai.


. Arisa perlahan membuka matanya, dan pandangannya masih berputar-putar. Ruangan yang asing, namun memiliki bau yang khas. Ia mengerjapkan matanya lalu menoleh ke samping dan mendapati Reza sedang menunduk di tumpu dengan tangan. Arisa menebak bahwa Reza tengah tertidur.


"Kak..." panggil Arisa lirih. Reza mendongak dan menatap lekat wajah Arisa. "Aku merepotkan kakak?" Tanya Arisa kemudian, Reza menggeleng lalu tersenyum membuat Arisa semakin merindukan Tio.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2