
. "Apa kalian benar-benar pacaran?" Tanya Daffa sekali lagi.
"Tidak." Jawab Rayyan dan Arisa bersamaan.
"Lalu?" Daffa masih heran dengan panggilan keduanya yang sangat begitu akrab.
"Tidak ada. Sudah pergilah. Kau membuat selera makanku hilang." Rayyan mendelik dan tatapannya tertuju pada Arisa yang masih melahap makanannya dengan tenang dan seakan tak mempedulikan keberadaan Daffa.
"Ya ya ya baiklah. Dah Arisa..." Arisa tersenyum ramah menanggapi Daffa.
Rayyan merasa tak nyaman dan kesal melihat senyuman Arisa pada Daffa yang begitu manis.
Daffa sudah berlalu jauh dibalik pintu utama resto, namun Arisa masih memasang senyumnya yang dari tadi belum ia tarik kembali.
"Daffa sudah jauh. Berhentilah tersenyum." tegur Rayyan membuat Arisa mengubah wajahnya menjadi tak berekspresi lagi.
"Kau suka Daffa?" Tanya Rayyan tiba-tiba.
"Apa?" Arisa menggantungkan makanannya yang tak jadi dimasukan kedalam mulutnya karena pertanyaan Rayyan.
Rayyan meraih tangan Arisa yang memegang sendok berisi makanan Arisa, kemudian melahapnya tanpa ragu.
"Apa?" Tanya Rayyan dengan nada ejekan.
"Kau memakan makananku Aray." Rengek Arisa membuat Rayyan merasa gemas, kemudian berhenti mengunyah dengan wajah menatap Arisa.
"Sedingin apapun dirinya, tetap saja dia sama seperti wanita pada umumnya. Dia menunjukan sisi kekanakannya didepanku? Dan kenapa dia begitu menggemaskan?" Gumam Rayyan memalingkan wajahnya dari pandangan Arisa.
Tiba-tiba, dering ponsel Arisa berbunyi.
"Hallo." Tanda Arisa menjawab panggilan telponnya.
"..."
"Aku lapar. Jadi aku makan."
"...."
"Aku akan segera pulang. Tapi.." Arisa menunduk dan berhenti menyantap makanannya.
"Tapi kakak harus dirumah saat aku datang." Lanjut Arisa. Rasa penasaran Rayyan kian besar pada gadis didepannya. Rayyan menyernyitkan dahinya sambil terus memakan hidangan di depannya, dan masih mendengarkan setiap kata yang terlontar dari Arisa.
Kata yang menunjukan bahwa dirinya sangat kesepian, tapi tak ingin ada orang lain yang mengganggu ketika dia sedang sendirian. Rayyan masih menatap Arisa bahkan setelah Arisa meletakkan kembali ponselnya.
"Maaf apa kau sudah selesai makan?" Tanya Arisa ragu-ragu.
"Kau mau pulang?" Arisa mengangguk menanggapi pertanyaan Rayyan
"Tapi kau tak menghabiskan makananmu?" Lanjut Rayyan menatap makanan yang didepan Arisa.
"Aku sudah kenyang." Jawab Arisa datar.
"Benarkah?" Lagi-lagi Arisa hanya mengangguk dengan tatapan lurus yang entah kemana, tapi bukan pada mata Rayyan. Pada dadanya, tidak. Pada bibirnya, juga tidak. Seperti tatapan kosong namun ada sebuah beban disana.
Rayyan memanggil pelayan dan berbicara dengan nada pelan pada pelayan itu.
Setelahnya, Rayyan beranjak sesaat setelah melihat bill yang dibawa pelayan lain.
"Tunggu disini." Arisa pun kembali mengangguk.
"Baru pertama kali aku menemukan gadis sedingin ini." Rayyan menghela nafas ketika dirinya melangkah menjauhi Arisa.
Selesai melakukan transaksi, Rayyan kembali menghampiri Arisa. Namun Rayyan sedikit merasa heran dengan tingkah Arisa yang sangat terkejut ketika melihatnya datang. Arisa dengan cepat meremas tissue yang semula dipakai untuk menutup hidungnya, lalu ketika menyadari sesuatu, Arisa cepat-cepat mengambil tissue baru dan menutup kembali hidungnya.
"Apa itu?" Arisa menggeleng menanggapi Rayyan.
"Kau menyembunyikan sesuatu?" Lagi-lagi Arisa menggeleng. "Bukan apa-apa."
"Bukan apa-apa tapi kau sangat takut aku mengetahuinya."
"Penciumanku sedang tak enak. Jadi rasanya tak nyaman. Ucap Arisa memalingkan pandangannya dari tatapan Rayyan.
"Tidak Risa. Aku melihatnya. Kau mimisan kan?" Arisa tercengang. Mengapa Rayyan tahu dirinya mimisan?.
__ADS_1
"Ak-aku...."
"Sudahlah Risa. Jangan mengelak dan menyembunyikannya dariku. Itu sangat terlihat darah yang terserap tissue. Apa kau masih pusing?" Rayyan semakin dekat lalu meraih dahi Arisa dan pipinya yang terasa hangat.
"Ayo pulang." Lanjut Rayyan kini menatap mata milik Arisa yang hanya berjarak tak sampai 10 cm darinya. Arisa sedikit melebarkan kelopak matanya dan sangat terlihat gugup.
Mata yang bulat dengan pupil berwarna coklat dan bulu mata yang lentik menjadi pesona tersendiri untuk gadis dingin seperti Arisa.
Begitupun Rayyan. Kini dihadapan Arisa sorot matanya begitu lembut dan hangat. Jelas mengingatkannya pada Rama.
Mata Arisa perlahan sayu, mengapa tak Rama saja yang kini berada dihadapannya sekarang.
Rayyan menyadari perubahan sikap Arisa yang sedikit menahan diri untuk tidak menangis.
"Aray..." lirih Arisa membuyarkan lamunan Rayyan.
"Maaf Risa. Aku..."
"Tak apa. Bisakah kita pulang sekarang? Aku takut kak Tio khawatir."
Rayyan mengangguk dan kemudian berjalan beriringan dengan Arisa dengan dahi yang masih berkerut tanda dirinya masih heran. Biasanya jika anak gadis belum pulang menjelang malam, yang khawatir itu ayah dan ibunya, tapi mengapa Arisa hanya mengatakan kakaknya saja. Apa ayah dan ibunya tidak khawatir padanya? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Rayyan.
Ditengah perjalanan, Arisa hanya terdiam, terlihat melamun namun jelas wajahnya sedang gelisah.
"Maaf." Ucap Rayyan memecah keheningan.
Arisa menoleh, lalu menggeleng dan tersenyum kearah Rayyan.
"Tak apa. Aku juga ingin sesekali keluar malam." Rayyan semakin heran. Biasanya gadis seusianya selalu menghabiskan malam diluar. Tapi Arisa berkata seolah dirinya tak pernah keluar malam.
"Terimakasih sudah menemui Sein." Lagi-lagi Arisa menanggapi dengan senyuman.
"Apa sabtu ini kau ada jadwal?" Tanya Rayyan lagi.
"Ada." Jawab Arisa
"Kemana?"
"Ke makam." Sontak Rayyan menoleh kasar mendapati jawaban Arisa. Mengapa makam?
"Tapi...."
"Kau keberatan?"
"Ti-tidak... tapi apa kau tak ada acara?"
"Justru aku bosan akhir pekan ku hanya dihabiskan di ruangan ayah." Ucap Rayyan dengan nada lesu. Arisa sejenak berfikir maksud dari ucapan Rayyan.
"Setiap aku libur, ayah selalu menyuruhku membantunya di kantor." Lanjut Rayyan malas seolah menjawab pertanyaan Arisa. Arisa hanya mengangguk dan sesekali menoleh pada Rayyan.
"Apa kau punya acara tersendiri?" Tanya Rayyan lagi.
"Selain itu tak ada." Arisa menundukan pandangannya mencoba menghindari percakapan dengan Rayyan.
"Begitu ya?" Kali ini Rayyan yang mengangguk mengerti.
. Sampai di depan gerbang, Arisa menyuruh Rayyan berhenti dan menurunkannya disana.
"Mengapa tidak sampai depan rumah? Jika seperti ini kakakmu berpikir aku tidak bertanggung jawab menjagamu."
"Sudah kubilang. Sesekali Aku ingin berjalan-jalan malam." Jawab Arisa tersenyum meyakinkan. Padahal Rayyan menyadari Arisa dengan sengaja tak ingin mengajaknya bertemu dengan keluarganya.
Arisa keluar dari mobil dan menutupnya kembali, meninggalkan Rayyan yang tiba-tiba kesal dibuatnya.
Arisa menatap Rayyan yang berubah menjadi lebih dingin dari beberapa saat yang lalu.
"Maaf." Gumam Arisa memasang wajah yang dingin menatap kearah Rayyan.
"Apa kau sedingin ini pada orang lain? Tapi aku harap kau bisa lebih dingin pada orang selain aku." Rayyan kembali melajukan mobilnya meninggalkan Arisa yang masih mematung menatap kepergian Rayyan dari kediamannya.
. "Non." Sapa mang ujang yang berada di pos gerbang.
"Amang... bolehkah aku diam disini sebentar?" Tanya Arisa sesaat menoleh lalu duduk di bangku pos.
__ADS_1
"Tap-tapi non... jika tuan besar dan nyonya besar tahu, mang ujang akan kena--"
"Ayah dan Mama tak akan peduli padaku mang." Arisa menyela dengan melempar senyuman yang jelas sangat dipaksakan.
"Non jangan bicara begitu... meskipun tuan sibuk, tapi tuan--"
"Ahh... mang. Sepertinya malam ini akan terasa dingin ya?" Arisa tiba-tiba Arisa mengalihkan pembicaraan dengan jelas tak ingin membicarakan tentang ayahnya.
"Non..." lirih Mang ujang.
"Aku ingin jalan-jalan mang." Ucap Arisa sekali lagi mencoba meyakinkan mang ujang dengan senyumannya.
"Jangan lama-lama diluar ya non. Angin malam ga baik untuk kesehatan non. Apalagi non baru kemarin keluar dari rumah sakit. Dan kondisi non juga belum membaik."
"Mang ujang berlebihan. Aku baik-baik saja mang." Arisa tertawa kecil ketika supir pribadi ayahnya begitu mengkhawatirkan dirinya.
Diteras terlihat Tio sedang berdiri dan sepertinya menatap kearah Arisa. Merogoh saku celananya, kemudian mengotak-atik ponselnya, dan menempelkannya ke telinga. Bersamaan dengan itu, ponsel Arisa pun berbunyi.
"Apa?" Kata Arisa ketika menjawab panggilan Tio.
"Jangan lama-lama diluar." Ucap Tio terdengar kesal.
"Jemput." Rengek Arisa berhenti dengan manja.
"Dimana temanmu? Mengapa dia menurunkanmu di gerbang? Apa dia bukan laki-laki? Jika tahu seperti ini, aku tak akan membiarkanmu pergi dengannya." Tio terdengar semakin kesal.
"Itu bukan salahnya. Aku yang mau diturunkan di gerbang."
"Dasar kau ini... lalu, mengapa kau berhenti disana?"
"Aku lelah."
"Memang siapa yang menyuruhmu jalan kaki hah?" Ejek Tio terkekeh sembari melangkah menghampiri adik kesayangannya.
Arisa terduduk di tembok yang menjadi pembatas antara jalan dan taman.
"Aku tak ingin ayah melihat Aray." Lirih Arisa.
"Apa? Kau bilang apa?"
"Tidak... lupakan."
"Apa kau takut Raisa akan sakit hati melihatmu dengan anak itu?"
"Dia Aray. Bukan anak itu."
"Hemmm mengapa kau kesal?"
"Ihhh... jangan mengejekku. Cepat kesini dan gendong aku."
"Apa?" Teriak Tio lalu berhenti dari langkahnya. "Sebaiknya aku kembali ke rumah." Lanjutnya berbalik dan hendak kembali melangkah ke teras rumah.
"Kakak..." teriak Arisa berlari, kemudian memeluk lengan Tio dengan cepat. "Gendong." Rengek Arisa dengan manja.
"Kau bukan anak kecil lagi." Delik Tio melihat kelakuan adiknya.
"Tapi aku belum sembuh."
"Tapi barusan kau berlari?"
"Pokonya aku ingin digendong..." Arisa beralih kebelakang Tio, lalu melompat-lompat. Tio menghela nafas berat, dan dengan terpaksa berjongkok lalu dengan cepat Arisa melingkarkan tangannya pada leher Tio.
"Jalan...." ucapnya antusias.
"Kau berat Aris..." ucap Tio dengan susah payah berdiri, dan melangkah menuju teras rumah.
"Tentu saja berat. Aku kan sudah besar." Delik Arisa semakin erat memeluk Tio, dan menyandarkan dagunya pada pundak Tio.
"Iya kau sudah besar. Rasanya baru kemarin aku menggendongmu ditaman sambil berlari. Tapi sekarang, jangankan berlari, melangkah saja aku sudah tidak kuat." Tio terkekeh mengingat kenangannya dengan Arisa.
"Semangat kakak ku yang ganteng..." ejek Arisa memberi kecupan pada pipi Tio.
Benar-benar ikatan persaudaraan yang harmonis. Mungkin kata itu yang terlintas dibenak Raisa saat menyaksikan kakak dan adiknya dari jendela kamar. Rasa iri mulai merasuki dirinya. Namun mengingat ketidakadilan perhatian ibunya pun tak jauh berbeda dari ini.
__ADS_1
-bersambung