TAK SAMA

TAK SAMA
164


__ADS_3

. "Kau yakin tidak mau ke dokter?" Tanya Rayyan yang merasa tak yakin pada kondisi Arisa saat ini. Meskipun Arisa bersikeras meyakinkan Rayyan bahwa dirinya baik-baik saja, namun mata sayu Arisa tak bisa berbohong.


"Aih... Rayyan disini?" Tanya Rahma tepat ketika ia memasuki rumah dan mendapati Rayyan di ruang tamu.


"Memangnya kenapa tante?" Rayyan tak kalah terheran atas pertanyaan Rahma yang seakan berpikir Rayyan ada di tempat lain.


"Kata Rais hari ini ada meeting dengan perusahaan Pratama. Tante kira kamu yang memimpin meetingnya."


"Ehehehe sebenarnya iya tante. tapi....." Rayyan sengaja menggantungkan ucapannya, ia sekilas melirik ke arah Arisa lalu ke arah Rahma kembali.


"Rayyan... bukannya tante melarangmu bertemu putri tante. Tapi, jangan meninggalkan tanggung jawabmu hanya karena hal sepele." Bukannya menerima nasehat, Rayyan malah terlihat lebih tersinggung.


"Maaf tante. Tapi bagi saya Risa itu...."


"Tante mengerti Rayyan. Sepenuhnya sangat mengerti. Tanggung jawabmu yang sekarang kau tinggalkan itu, sangat menentukan kau di masa depan. Kesehatan Aris masih bisa di bilang stabil. Kau bisa menjenguknya saat meeting selesai, atau saat pekerjaanmu semuanya sudah beres hari ini." Seketika mata Rayyan berbinar, dan ia mengangguk mengerti dengan apa yang di katakan Rahma. Ia tersenyum malu karena sudah berpikir Rahma tak suka jika ia menemui Arisa.


"Maaf tante. Saya hanya khawatir pada Risa, dan jika di bilang saya lari dari tanggung jawab, sangat jelas. Tapi, kalau mendengar Risa tak baik-baik saja, rasanya semua dunia saya tak ada artinya." Mendengar hal demikian, Rahma tersenyum tipis lalu tertawa kecil.


"Kalau kau tak punya uang untuk menghidupi Aris, justru akan lebih memusingkan. Kau akan berpikir keras bagaimana kau menepati janjimu pada ayahnya untuk membahagiakan Aris. Meski kau pikir meeting hari ini hanya sebuah pertemuan yang tak akan merugikan, kita tak tahu dampak dari hal sepele yang kau abaikan itu Rayyan. Saran tante, kau hadiri dulu meeting dengan klienmu. Lalu, bereskan dulu pekerjaanmu. Laki-laki itu di nilai dari tanggung jawabnya, buka dari waktu yang kau habiskan bersama pasanganmu saja. Tante tak akan melarangmu bertemu Aris, jika urusanmu sudah selesai." Lagi, Rahma menegaskan agar Rayyan tidak salah faham.


Mendadak, raut wajah Rayyan menjadi sendu, ia dengan ragu kembali menatap manik Rahma yang sedari tadi tak memalingkan perhatiannya dari Rayyan. "Maaf tante. Apa saya boleh bertanya?"


"Silahkan." Rahma menjawab dengan begitu ramah.


"Tante tidak berniat menjodohkan Risa dengan pria lain kan?"


Namun, Rahma sekilas menyernyit atas pertanyaan Rayyan tersebut. "Kenapa kau berpikir begitu?"


"Karena kesalahan saya ini sepertinya membuat tante sangat kecewa."


"Tidak Rayyan. Tante tidak kecewa, mungkin naluriah seorang ibu yang punya anak laki-laki. Kau sendiri tahu Tio. Tio itu pekerja keras, apapun dia lakukan sesuai aturan. Jadi, saat melihat anak lain bersikap tidak seperti Tio, rasanya tante ingin menegurnya. Tante hanya ingin kau tidak salah melangkah Rayyan. Apalagi, kau akan menjadi menantu tante." Dengan tiba-tiba, Rayyan beranjak dari duduknya lalu mencium tangan Rahma seraya melemparkan senyum dan tatapan berbinar.

__ADS_1


"Kalau begitu saya meeting dulu tante. Setelah meeting, saya kesini lagi. Tante mau di bawakan apa?"


Sarah hanya menggeleng pelan sembari tersenyum. "Tidak Rayyan. Tante tidak mau apa-apa. Hati-hati saja di jalan."


"Terima kasih tante." Ucapnya bergegas meninggalkan kediaman keluarga Putra.


"Kau sudah baikan?" Tanya Rahma beralih pada putrinya setelah memastikan Rayyan berlalu dari kediamannya.


"Tambah parah ma." Jawabnya dengan santai.


"Mau ke dokter?" Namun Arisa malah menggeleng menanggapinya.


"Mau panggil Dimas?" Kali ini gelengan kepalanya semakin cepat di iringi wajah paniknya.


"Tidak lucu ma kalau Rayyan datang lalu dia melihat Dimas di sini. Pastinya dia tambah marah."


"Masih pacaran memang begitu. Ya sudah, kalau tidak mau ke dokter, sebaiknya kau istirahat."


"Iya ma.. tadi juga aku sudah meminta bibi untuk mengantarkan obat sakit kepala."


"Aduh ma... jangan begitu... kepalaku tambah pusing." Protesnya memejamkan mata dan tertidur di atas sofa.


"Tidurnya di kamar, Aris..."


"Iya ma... nanti."


"Jangan nanti nanti."


"Malas ke atasnya ma..."


"Kalau begitu di kamar tamu saja."

__ADS_1


"Ah mama...." meski masih protes, namun Arisa beranjak dan memasuki kamar tamu. Arisa berbaring dan menatap langit-langit kamar, ia menebak sedang apa Rega di rumah sakit sekarang.


. "Kamu yakin? Bagaimana jika Aris kesini?" Tanya Dimas yang ragu akan permintaan Rega.


"Apa wajah saya terlihat bercanda dok?"


"Kau suka pada Aris kan?" Sontak Rega menatap Dimas dengan sendu.


"Bohong jika aku menjawab tidak. Yang awalnya penasaran, membuat perjanjian, dan sandiwara, malah membuatku terjebak dalam perasaan yang jelas mustahil terbalas."


"Aku tak tahu apa yang pernah terjadi pada kalian berdua. Yang jelas, tak semudah itu memenangkan hati Aris."


"Tapi, jika dia tidak dengan Rayyan, hanya selangkah lagi aku bisa mendapatkannya."


"Apa maksudmu?"


"Dia pernah bilang, bahwa aku seperti adikmu."


"Siapa? Gilang? Beda lah... Gilang itu..."


"Rama. Pacar Aris yang meninggal namanya Rama kan?" Rega segera menyela cepat membungkam Dimas seketika. Kini, Dimas hanya terdiam menunduk, secara tak langsung, ia seakan menjawab iya.


"Tak perlu di rawat lagi, kau hanya perlu memulihkan kakimu saja. Sering-sering di gerakkan agar tidak kaku. Dan retakan di tulangnyanya sudah pulih. Jadi kau tak perlu khawatir akan semakin parah. Jika perlu pakai tongkat saja sambil melatih sedikitnya otot kakimu." Tutur Dimas dengan berbalik dan membelakangi Rega.


"Iya dok terima kasih. Tapi, sebelumnya.... apa boleh aku melihat foto adikmu?" Tanya Rega dengan sedikit keraguan. Wajahnya berpaling dan ia tak siap jika Dimas menceramahinya atau tiba-tiba pergi karena tersinggung. Dimas menghela nafas berat lalu kembali berbalik menghadap Rega yang mendadak gugup dan panik.


"Ehehehe dok... jangan marah... aku hanya... hanya ingin tahu saja, lelaki seperti apa yang membuat Putri sulit melupakannya."


"Kebetulan." Ucap Dimas dengan singkat dan memberikan foto Rama di ponselnya yang memperlihatkan Rama tengah di gandeng tangannya oleh Arisa.


"Ini Putri?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat melihat wajah Arisa yang begitu berseri tersenyum riang bersandar pada bahu Rama yang tersenyum manis menatap pada kamera.

__ADS_1


"Cantiknya.... disini Putri seperti lepas dari beban apapun. Andaikan aku bertemu dengannya di versinya yang dulu, mungkin sekarang aku sudah lebih dari sekedar jatuh cinta." Batin Rega yang terkagum dengan perbedaan Arisa saat ini.


-bersambung.


__ADS_2