
. Berhari-hari sudah, Rayyan dan Raisa sudah mulai menyerah karena tak mendapati keberadaan Arisa di manapun. Seina yang tak bisa berhenti menangis karena ingin kembali bertemu dengan Arisa, membuat Rayyan menyimpan sebuah amarah untuk Arisa. Dadanya sesak, tenggorokannya terasa tersenggal.
"Kau sudah membuat adikku menangis lagi Risa. Lihat apa yang akan aku lakukan jika aku menemukanmu. Aku pastikan hidupmu benar-benar tak akan tenang." Batinnya menggertakkan gigi dan mengepalkan tangan dengan kuat sambil menatap jalanan yang ia lalui.
"Daf.... setelah sampai di perusahaan itu, pastikan kau mencari gadis itu." Daffa menyernyit dengan panggilan Rayyan pada Arisa yang sudah tak sehangat dulu.
"Apa kau menjadi membencinya?" Tanya Daffa dengan fokus menyetir. Ia yang kini menjadi asisten pribadi Rayyan dari beberapa hari yang lalu setelah Rayyan yang meminta langsung pada Yugito untuk mengambil Daffa, dan disetujui langsung oleh Yugito sendiri. Bahkan kunjungannya ke perusahaan Reza pun Yugito meminta Rayyan yang melakukannya dengan alasan ada sesuatu yang harus Yugito selesaikan. Meskipun Rayyan belum resmi menjadi presdir di perusahaan Pratama, namun Danu mempercayakan tanggung jawab besar itu pada putra sulungnya.
Sampai di perusahaan yang dituju, Daffa menatap kagum pada nama Artaris yang tertulis di atas gedung. Terlihat Zain sudah stay di depan loby menyambut kedatangan Rayyan dan Daffa. Namun Rayyan menyernyit saat melihat tatapan tajam yang di lemparkan Daffa pada Zain. Sangat jarang, bahkan tak pernah Daffa menatap orang sampai begitu tajamnya seakan menyimpan sebuah dendam.
Ketiganya memasuki lift dan secara tak sengaja, Arisa melewati lift yang hampir tertutup rapat itu. Daffa dan Rayyan mematung dengan mata membulat, keduanya saling berpandangan saat pintu lift benar-benar tertutup sempurna.
. Arisa menatap wajahnya pada cermin toilet dan menatap pada ponselnya yang ia lihat sebuah artikel tentang putri keluarga Yugito yang begitu mirip dengannya. Beberapa kali ia menyimpulkan bahwa gadis itu adalah kembarannya, namun disisi lain Arisa tak ingin berharap lebih bahwa ia memang terlahir dari keluarga yang begitu dikenal oleh semua orang.
"Wah wah wah... bukannya bekerja, kau malah bersantai disini" Tegur Vera dengan memangku tangan dan menyeringai menyebalkan di depan Arisa. Arisa yang tak ada hati berurusan dengan Vera, mencoba untuk berlalu dan Vera sendiri tak membiarkan Arisa pergi begitu saja.
"Jangan karena kau adik tuan Reza, kau seenaknya di kantor ini pelacur." Batas kesabaran Arisa mulai mencapai batasnya, ia mendelik kemudian berhadapan dengan Vera, tatapannya begitu tajam dan seakan bukan Putri yang Vera kenal.
"Siapa yang kau panggil pelacur itu hah?" Tanya Arisa dengan suara sedikit tinggi.
"Jika bukan pelacur apa namanya? Kau menggoda Zain, lalu kau menggoda tamu penting dan kalian berpelukan didepan umum. Mungkin sekarang kau juga akan menggoda tamu kita yang datang hari ini. Aku bertaruh.!" Jawabnya tak kalah mengintimidasi Arisa.
"Terserah kau mau berasumsi apa, tapi aku peringatkan, jangan pernah mengusik hidupku! Kau akan tahu akibatnya." Ancam Arisa yang berlalu melewati Vera yang terdiam. Tak biasanya Arisa mengancam dirinya sampai begitu tegas. Vera merasa ada yang tidak beres pada gadis yang ia benci sejak lama itu.
Saat Arisa bergegas dengan wajah yang kesal meninggalkan toilet, ia tak sengaja menabrak seseorang yang baru keluar dari lift. Keduanya terjatuh bersamaan. Ia meringis memegangi dahinya dan masih terduduk membenahkan rambutnya. Dan seketika itu, Daffa mematung menatap Arisa yang begitu nyata. Saat Arisa memarahinya, ia benar-benar tak percaya bahwa nyatanya Arisa memang masih hidup. Ketika Arisa menghampirinya, segera Daffa menjauh dengan masih terduduk di lantai. Rambut hitam panjang, dengan wajah yang begitu mirip dengan Raisa.
__ADS_1
"Arisa..." lirih Daffa hampir tak bersuara.
"Aku bukan hantu sialan." Daffa merasa terkejut dengan bahasa yang dilontarkan Arisa. Sejak kapan gadis ini menjadi kasar dan pemarah? Namun Daffa tak terlalu memikirkannya, yang ia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana caranya ia membuktikan bahwa ini memang Arisa.
"Ayolah tuan. Aku tidak akan memakanmu. Aku hanya ingin meminta maaf, kenapa kau begitu takut padaku." Ucap Arisa kembali berjalan, dan Daffa masih menjauh ketakutan.
"Ahhhhhh.... Jangan mendekat. Diam disitu.!" Titah Daffa yang ditanggapi patuh oleh Arisa meskipun merasa heran. Nyata. Ini benar-benar nyata. Daffa melihat kaki Arisa yang menginjak lantai, dan ia pun menghela nafas lega. Melihat sikap Daffa yang begitu aneh, Arisa menghela nafas berat lalu dengan paksa meraih tangan Daffa untuk membantunya berdiri. Namun, lagi-lagi Daffa menjauh dari Arisa sambil berteriak. Arisa menoleh kesana kemari melihat tatapan semua karyawan tertuju padanya seakan mereka bertanya ada apa disana.
"Tidak ada apa-apa... ini hanya salah faham. Kalian boleh kembali bekerja." Ucap Arisa tertawa kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Melihat itu, Daffa mulai tak bisa mengontrol perasaannya. Bulir bening terlihat mengalir dari sudut matanya. Ia kemudian bangkit dan meraih bahu Arisa yang terlihat terkejut.
"I-ini benar-benar kau?" Ucap Daffa pelan.
"Eh?" Arisa menyernyit mencoba mengingat siapa pria tampan yang ada dihadapannya sekarang. "A-anda siapa?" Bagai sebuah petir menyambar, Daffa mematung seketika mendapati pertanyaan yang sangat asing di telinganya.
"Kau tidak ingat padaku?" Tanyanya kemudian yang ditanggapi gelengan kepala oleh Arisa. Lalu, terlihat Arisa seperti tersadar dan ia membalas tatapan Daffa dengan dalam.
"Arisa... apa yang terjadi padamu?" Teriak Daffa semakin erat mencengkram bahu Arisa.
"Kau tahu nama asliku? Siapa kau? Katakan siapa kau?" Arisa tak kalah keras meninggikan suaranya membuat Daffa menjadi tak bertenaga untuk sekedar berdiri.
"Aku tanya ada apa denganmu? Kau benar-benar Arisa kan? Jadi memang yang meninggal itu Citra? Kenapa Aris? Kenapa kau mengorbankan temanmu demi kepentingan dirimu sendiri? Dan kenapa kau pura-pura tidak mengenalku."
"Aku memang lupa. Semuanya. Aku sendiri tidak tahu aku siapa. Meskipun kakak dan bunda bilang aku putri dari pria yang bernama Yugito, tapi aku tak bisa merasakan sebuah ikatan dengan mereka. Siapa dia? Jika dia memang ayahku, harusnya dia menemuiku. Dan kau, kau berkata seolah kau mengenalku dimasa lalu, tapi aku tak bisa sedikitpun mengingatmu." Daffa benar-benar mematung dan membisu mendengar penuturan putus asa Arisa yang ia simpulkan gadis dihadapannya ini tengah lupa segalanya, atau amnesia.
"Bahkan kau melupakan Raisa?" Tanya Daffa dengan lirih dan menunduk, ia tak punya tenaga untuk menatap mata yang begitu ia rindukan tatapannya. Senyumnya, tawanya, bahkan ketegaran Arisa yang begitu ia kagumi.
__ADS_1
"Siapa lagi? Sudahlah kumohon jangan menambah beban pikiranku. Aku benar-benar tak ing-- akhhhh" dengan tiba-tiba Arisa meraih kepalanya dengan tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya, Daffa menahan agar Arisa tetap berdiri meskipun kesakitan, ia mendadak khawatir dan ikut meraih kepala Arisa. Arisa memejamkan matanya dan sebuah wajah yang mirip dengannya muncul bersamaan dengan rasa sakit yang teramat. Lalu Arisa seakan tersadar dan ia mengingat satu persatu wajah keluarganya termasuk Tio. Ia melihat wajah Tio begitu jelas muncul di benaknya dengan tersenyum kearahnya.
"Siapa? Siapa dia? Kak Tio?" Lirihnya lalu menatap harap pada Daffa.
Adegan itu dilihat jelas oleh Vera yang tersenyum penuh kemenangan.
"Sekali pelacur tetap pelacur." Ucap Vera berlalu dengan ponsel yang baru saja ia gunakan untuk memotret adegan Arisa dan Daffa.
. Rayyan dengan santai duduk menyilangkan kaki di sofa berhadapan dengan Reza. Reza tahu dan mengerti arti tatapan Rayyan yang seakan menusuk kedua matanya. Tak lain, adalah ingin mencari tahu kebenaran tentang Arisa. Karena Reza sudah menyadari bahwa semua orang-orang terdekat Arisa mulai mencurigainya. Dan kenapa Yugito tak datang langsung, tapi malah menyuruh anak kecil yang baru lulus S2. Niat Reza hanya ingin mempertemukan Yugito dengan Arisa secara langsung.
Zain melihat ponselnya yang bergetar tanda sebuah pesan masuk, ia seketika menjadi geram saat melihat Arisa tengah begitu dekat dengan Daffa.
"Zain... kenapa kau mendadak marah?" Tanya Reza yang tak sedikitpun menoleh pada Zain di belakangnya. Ia mengerti dengan deru nafas Zain yang sedikit menahan kesal.
"Maaf tuan.... sepertinya teman yang bersama anda tadi, sekarang sedang membuat ulah pada salah satu karyawan kami." Ucap Zain semakin tajam menatap Rayyan. Rayyan hanya tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya ke arah jendela dan menatap lekat pada gedung-gedung di sekitarnya.
"Ahhh aku jadi semakin merindukan gadis itu. Dia selalu menatap keluar seperti ini." Ucap Rayyan yang jelas tak menanggapi kekesalan Zain.
Zain berdecih kemudian berlalu kemana Arisa berada. Ia dengan masih menahan kesal terus mengepalkan tangannya dan beberapa kali memukul dinding lift untuk meluapkan amarahnya. Saat ia keluar, Daffa masih meraih bahu Arisa yang menangis dihadapan Daffa. Lalu Zain terdiam saat Arisa beberapa kali memanggil nama Rayyan.
"Iya... kau selalu memanggilnya dengan Aray. Dia orang yang mencintaimu, sampai saat ini dia selalu memikirkanmu. Dia orang pertama yang tidak mempercayai kematianmu. Dan dia juga yang bisa membuatmu lupa pada kekasihmu yang sudah pergi meninggalkanmu."
"Tapi aku masih tidak ingat. Maaf!" Lirih Arisa yang perlahan melepaskan tangan Daffa dari bahunya. Saat Arisa hendak berlalu, ia seketika mematung saat menatap sosok yang sering muncul di mimpinya. Namun saat ingin menyebutkan nama, lidahnya mendadak kelu tak bisa melontarkan siapa dia. Arisa hanya mematung saat pria yang begitu merindukannya memeluknya dengan erat sambil menangis haru. Beberapa kali Rayyan mengecup kepala dan dahi Arisa sangat dalam, ia benar-benar tak menyangka gadis yang dicintainya masih hidup dan kini ia nyata ada dipelukannya.
"Aku merindukanmu sayang." Lirih Rayyan yang melepaskan pelukannya dan meraih kedua pipi Arisa.
__ADS_1
"Anda siapa?" Lagi, pertanyaan Arisa bagaikan sebuah petir menyambar Rayyan seketika.
-bersambung