TAK SAMA

TAK SAMA
163


__ADS_3

. Rayyan melemparkan ponselnya ke atas meja, namun karena terlalu keras, ponsel itu berhasil jatuh, sedangkan Rayyan tak berniat memungutnya karena kesal Raisa yang memutuskan panggilan ketika ia hendak bertanya keadaan Arisa sekarang.


"Mau semarah apapun, aku tetap khawatir saat mendengar kabar buruk tentangmu Risa." Batin Rayyan berdecih dan menggebrak meja dengan keras, Daffa terkejut saat ia masuk dengan mendapati Rayyan tengah mengamuk. Segera Daffa memungut ponsel milik Rayyan yang masih menyala di lantai.


"Kakak Putri dengan gambar hati berwarna merah. Hemmmm kau sangat mengistimewakan dia. Tapi sekarang, kau malah menjauhinya. Huhffttt Aray... Aray! Apa kau lupa Aris itu banyak yang mengincar. Apa kau juga lupa, si dokter itu masih jomblo. Terus sekarang si Fabio mulai mendekati Aris saat hubungan rumah tangganya sedang tidak baik. Di tambah, sekarang ada orang baru dari Bandung yang rela terluka demi menyelamatkan Aris. Yaa wajar saja Aris sangat memperhatikan Rega, saat penculikan, kita dimana Ray?" Rayyan melirik tajam mendapati pertanyaan Daffa di kalimat terakhirnya.


"Diam Daf. Aku sedang tidak ingin mendengar celotehanmu."


"Harusnya kau tak perlu cemburu melihat Aris dengan yang la--"


"Ku bilang diam sialan." Teriak Rayyan melempar semua yang ada di meja. Tatapannya begitu suram, dan auranya sangat mencekam.


"Jangan lupa hari ini ada meeting."


"Kosongkan jadwalku hari ini Daf." Ucap Rayyan cepat dengan melirik tajam pada Daffa. Tanpa ingin mendengar jawaban Daffa, Rayyan bergegas pergi dengan merebut ponselnya dan tak menoleh kembali ke belakang.


"Sial. Aku pasti di marahi om Danu lagi." Umpat Daffa sembari membereskan semua barang-barang yang berserakan.


. Arisa kembali membuka matanya setelah ia rasa sudah lama tertidur. Ia beranjak dan berjalan ke arah pintu, langkahnya terhenti saat merasakan ada hembusan angin yang terasa menusuk tubuhnya.


"Aihh kenapa anginnya dingin?" Gumamnya pelan sambil berjalan menuju lemari. Diambilnya sebuah jaket tebal lalu ia kenakan dan kembali berjalan ke arah pintu. Ketika membuka pintu, ia merasa rumahnya terlalu sepi, kemana orang-orang? Arisa mencoba menuruni tangga dan memanggil ibunya serta bi Ina berharap mereka langsung menampakkan diri. Namun ketika ia berada di ujung anak tangga, tak ada satupun orang yang ia lihat.


"Sudah minum obat, kenapa kepalaku pusing?" Gumamnya lagi dengan memijit pelipisnya pelan serta merapatkan jaket yang ia kenakan. Arisa berjalan ke halaman belakang, ia termangu melihat semua ART nya berkumpul dan makan bersama. Apa ini peraturan baru? Begitu pikir Arisa.


"Bi..." panggil Arisa sehingga semuanya menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Iya non kenapa?" Bi Ina bergegas menghampiri Arisa dengan tergesa.


"Tidak bi. Hanya ingin menanyakan mama saja. Bibi lanjutkan saja makannya." Ucap Arisa tersenyum namun masih terlihat matanya yang masih sayu.


"Oh... ibu ke kantor non. Katanya tadi berkas non Rais tertinggal." Jawab bi Ina dengan di tanggapi anggukan oleh Arisa.


"Ya sudah. Em... kalau bibi selesai makannya, tolong belikan obat sakit kepala ya bi. Maaf."


"Iya non. Tapi kalau darurat, bibi bisa beli sekarang."


"Ehh tidak bi. Bibi sedang makan. Nanti saja. Aku tidak separah itu kok bi. Aku tunggu di kamar ya bi."


"Mau bibi antar ke kamarnya?"


"Tidak usah bi. Aku bisa sendiri, lagi pula mau ambil minum dulu ke dapur." Arisa segera berlalu agar bi Ina melanjutkan makannya. Setelah mengambil air, Arisa duduk di kursi meja makan dan ia memakan beberapa buah anggur. Ia merasa sedikit mual, dan kembali minum berharap rasa mualnya hilang.


"Sebentar." Teriaknya dan bergegas beranjak untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya. Tak lupa, ia membawa air minum untuk berjaga-jaga jika mual tiba-tiba. Namun, karena tak hati-hati Arisa tersandung dan ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga 'prang' suara kaca pecah membuat Rayyan segera berlari memasuki rumah meskipun belum ada yang menyuruhnya masuk. Ia khawatir jika di dalam ada apa-apa.


"Yah... pecah." Ucap Arisa dengan santai dan memunguti pecahan gelas yang berserakan. Ia meraih dahinya yang masih berdenyut akibat benturan langsung ke lantai. Lalu, tangannya semakin turun meraih hidungnya yang sudah lembab.


"Yah... mimisan." Umpatnya lagi dengan sikap masih dingin. Ia menutupi hidungnya dengan tangan agar darahnya tidak terus keluar.


"Risa." Panggil seseorang yang sangat familiar berada di hadapannya sekarang.


"Aray? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau sibuk bekerja?" Pekik Arisa yang langsung membelakangi Rayyan.

__ADS_1


"Jangan di sentuh. Nanti kau terluka." Ucap Rayyan tanpa menjawab pertanyaan Arisa dan malah fokus memunguti pecahan gelas yang di pecahkan Arisa. Ingin sekali Arisa melarang Rayyan untuk membersihkan ulahnya, namun darah di hidungnya tak bisa di tahan hanya dengan di tutupi oleh tangan. Arisa beranjak lalu berlari kecil menuju toilet yang ada di dekat dapur.


"Apa dia marah? Bahkan saat aku datang saja dia memalingkan wajahnya begitu." Batin Rayyan dengan membawa pecahan kaca itu menuju tempat sampah yang berada di bagian belakang dapur. Ia menunggu Arisa keluar dari toilet, dan ingin memastikan bahwa dugaannya hanya sekedar kecurigaan saja. Lagi pula, ia sendiri yang menjauh dari Arisa karena cemburu. Saat Arisa keluar, Rayyan segera menghampirinya lalu merangkulnya.


"Aray.... aku..."


"Jangan katakan kau memilih pria yang sedang di rumah sakit itu."


"Eh? Aray. Apa yang kau katakan?"


"Kau tidak jatuh cinta padanya kan? Kau merawatnya hanya membalas budi saja kan?"


"Lepaskan aku dulu. Kita bicara di ruang tamu ya." Bujuk Arisa agar Rayyan melepaskan pelukannya. Dengan masih merangkul Arisa dari samping, Rayyan berjalan beriringan menuju ruang tamu.


"Kau mau minum apa?"


"Tidak mau minum apa-apa." Jawabnya dengan nada menyesal karena sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan. Untung saja yang menjawab teleponnya itu Raisa. Jika seandainya Arisa, maka penyesalannya akan semakin membesar.


"Jadi, kenapa kau kemari? Bukankah kau sangat sibuk kemarin, sampai-sampai aku datang pun tidak kau temui. Dan malam, aku menunggu kabarmu, tapi tidak kau beri. Bahkan ucapan selamat tidur pun, tidak kau balas. Aku hanya ingin tahu keadaanmu setelah seharian bekerja. Tapi kau malah menghilang."


"Iya maaf. Aku menghindar karena melihatmu lebih dekat dengan pria lain dari pada aku."


"Ohhh jadi kau sengaja menghindar? Ya sudah pulang saja sekarang!"


"Aku menyesal Risa. Aku begitu karena aku cemburu."

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2