TAK SAMA

TAK SAMA
91


__ADS_3

. "Jika anda bertanya kenapa Arisa tidak mengingat anda, Arisa mengalami amnesia karena kecelakaan, dan saya yang bertanggung jawab atas insiden itu. Jadi, saya mencoba untuk menyembuhkan Arisa dengan cara saya sendiri, namun ternyata saya tidak bisa. Hingga saya tahu bahwa anda pernah menjadi bagian hidup Arisa, dan saya berharap anda bisa membantu penyembuhan ingatan Arisa." Jelas Reza membuat Bayu semakin sendu.


"Alasan Reza tidak ingin memberitahu siapapun tentang Arisa, karena keluarga Putra mungkin akan menyalahkan Reza dan tante Sarah. Dan juga kita hanya melakukan apa yang diinginkan Arisa dulu. Arisa tak ingin kembali pada keluarganya, dan menyembunyikan identitasnya. Jadi, sebisa mungkin kami menutupi fakta bahwa Arisa masih hidup." Kini giliran Zain yang menjelaskan. Zain tahu, Reza tak akan sanggup menjelaskan secara rinci karena ia benar-benar tak akan siap jika berpisah dengan Arisa.


Bayu perlahan berjalan mendekati Arisa yang masih bersembunyi di belakang Zain. Melihat air mata Bayu yang terus berderai, Arisa memberanikan diri untuk mendekati Bayu. Dan perlahan Bayu meraih wajah Arisa, ia membelai lembut pipi chuby dan wajah yang selama ini ia rindukan.


"Kau benar-benar Arisa...." lirihnya langsung memeluk dengan erat. "Kenapa kau tak mengenaliku? Apa kau juga membenciku?" Masih dengan suara lirih dan tersenggal, Bayu semakin erat memeluk Arisa dan seakan tak mempedulikan keberadaan Zain dan Reza.


"Apa kau pacarku?" Tanya Arisa lirih namun cukup membuat Bayu tersentak. Ia belum merasa terbiasa dengan keadaan Arisa yang lupa akan semua tentangnya.


"Ayo pulang." Balas Bayu tak menjawab pertanyaan Arisa dan malah semakin erat memeluknya. Rasanya ia begitu merindukan gadis dingin yang sudah menjadi begitu hangat ini.


"Maaf... aku tidak mau." Jawabnya perlahan melepaskan pelukan Bayu. Kemudian Arisa berbalik hendak pergi dari hadapan Bayu.


"Apa kau juga melupakan Rama? Rayyan? Dimas? Dan semua orang-orang terdekatmu?" Pertanyaan Bayu berhasil membuat Arisa berhenti dan mematung seketika. Ia mencoba mengingat siapa saja orang yang disebutkan Bayu tersebut. Namun bukannya mendapat jawaban, lagi-lagi kepalanya malah berdenyut keras membuatnya meringis dan sedikit berteriak. Rasa sakit kali ini melebihi sakit yang biasanya. Arisa ambruk terduduk di lantai dengan masih meringis kesakitan. Wajah-wajah asing mulai bermunculan dibenaknya. Terdengar juga tangisan Arisa yang membuat ketiga pria di ruangan itu segera menghampirinya.


"Putri..." panggil Reza yang terlebih dahulu meraih Arisa.


"Kak..... sakit lagi... dan kenapa semuanya terasa tak asing? Tapi kenapa hatiku sakit juga? Apa lagi saat mencoba mengingat orang yang bernama Rayyan." Rengeknya menangis tersedu-sedu.


Mendengar itu, Bayu pun berpikir untuk tidak memberitahu keberadaan Arisa, ia merasa ingin egois kali ini. Ia ingin memiliki Arisa sepenuhnya tanpa ada pengganggu seperti Rayyan dan Dimas. Hingga ia memutuskan untuk menetap lebih lama di kota itu, ia ingin lebih dekat dengan Arisa dan menjalani hidup dari garis awal. Tak jarang Bayu menceritakan kenangannya dengan Arisa, dan Arisa pun masih tak bisa mengingatnya.


Sampai suatu hari, setelah Bayu kembali ke Jakarta, Reza dan Sarah bermaksud untuk membawa Arisa kembali ke keluarga Yugito. Ketika sudah sampai di kota, Arisa yang meminta izin untuk pergi ke sebuah coffee shop dengan menggunakan hoodie dan masker, hampir menabrak seorang anak yang di perkirakan berumur 10 tahun, dan masih memakai seragam sekolah.


"Maaf... kau baik-baik saja?" Tanya Arisa saat mendengar gadis kecil itu meringis kesakitan.


"Tak apa kak.... Sein yang salah. Sein minta maaf ya..." jawabnya melemparkan senyuman tulus yang begitu manis membuat Arisa merasakan kepalanya berdenyut kembali. Kata 'Sein' terus berulang-ulang di kepalanya, dan tanpa sadar ia meraih wajah Seina yang sekarang sudah setinggi bahunya.


"Se-Sein?" Lirihnya membuat Seina tersentak saat mendengar suara Arisa yang begitu berbeda dari sebelumnya. Suara lirih itu membuatnya mengingat sang kakak ipar yang begitu ia rindukan.

__ADS_1


"Kakak putri." Seina tak kalah lirih meraih tangan Arisa dan begitu erat mencengkramnya.


"Kau tahu namaku?" Tanya Arisa mulai tersadar dari lamunannya yang menghanyutkan pikiran dan perasaannya. Saat Seina akan memeluk Arisa, Oma memanggil Seina bersamaan dengan Sarah yang memanggil Arisa. Arisa membuka maskernya sambil melemparkan senyum pada Seina sebelum ia pergi. Seina semakin terkejut dan tanpa sadar ia berlari menyusul Arisa yang sudah memasuki mobil.


"Kakak Putri....." panggil Seina berlari mengejar mobil yang ditumpangi Arisa. Mungkin karena musik yang Reza putar membuat ketiganya tak mendengar panggilan Seina yang menangis keras di jalan.


"Kaka putri..... Sein rindu...." lirihnya terduduk dan menangis tersedu-sedu membuat Oma merasa heran akan sikap cucu kesayangannya itu. Baru kali ini Oma melihat Seina menangis keras setelah empat tahun terakhir terasa seperti boneka hidup tanpa semangat dan bahkan terlihat tanpa adanya emosi dalam diri Seina. Selama ini, Seina hanya mengikuti apa yang di ucapkan orang tua dan neneknya. Ditinggalkan Arisa, dan Rayyan yang harus menjalani kuliah di luar negeri membuat Seina begitu kesepian.


"Sein... ya ampun kamu kenapa?" Tanya Oma meraih Seina yang menghalangi jalan. Dan terlihat juga nafasnya terengah dan memegangi dadanya. Asmanya kambuh membuat Oma semakin panik. Sebelum Seina terlelap kehilangan kesadarannya, ia bergumam pelan memanggil Arisa.


. Rayyan berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa dan tak jarang hampir menabrak setiap orang. Ia kemudian membuka pintu dengan keras dan segera meraih Seina yang tengah menangis.


"Kak Aray.... kakak putri.... Sein bertemu dengan kakak putri..." rengeknya yang langsung memeluk Rayyan dengan erat.


"Kamu lihat dimana?" Tanya Rayyan yang memang menyadari bahwa ada Arisa di kota ini.


"Omong kosong apa ini? Tidak mungkin orang yang sudah mati kembali hidup." Ucap Oma menyela kesedihan kakak beradik yang masih berpelukan. Dan seketika itu, Rayyan melepas pelukannya dari Seina dan kembali berlalu dengan tergesa.


"Kakak janji akan membawa kakak putri untukmu Sein." Batin Rayyan mengepalkan tangannya dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Bunda... Sein tidak berbohong. Sein benar-benar bertemu dengan kakak putri. Kakak putri masih hidup. Sein yakin. Ayah percaya kan pada Sein?" Seina beralih menatap harap pada Danu setelah ia tak mendapati tanggapan yang ia inginkan dari Sonya.


"Sein sebaiknya tidur ya... agar sakitnya berkurang." Jawab Danu meraih kepala Seina dan mengusapnya pelan. Seina dengan kasar menepis tangan Danu dan menatapnya tajam.


"Ayah sama saja. Ayah tak pernah percaya pada Sein. Sein tidak berbohong. Sein serius bertemu dengan kakak putri. Jangan karena Sein sudah berumur 10 tahun, Sein dianggap pembohong. Sein tak pernah berbohong pada siapapun. Kak Aray yang mengajari Sein. Bunda dan ayah tak pernah mengerti Sein." Teriak Seina dengan putus asa dan kembali menangis meskipun di abaikan oleh Oma.


. Saat setengah perjalanan menuju kediaman Yugito, Arisa mendadak gelisah dan merasa ketakutan. Ia segera mengungkapkan keinginannya agar Reza tidak melanjutkan perjalanannya dan memilih untuk putar balik. Dengan ragu, Reza menyetujui keinginan Arisa yang lebih memilih untuk ke hotel terlebih dahulu sebagai penginapan sementara.


Sampai malam tiba, Rayyan yang tak henti mencari keberadaan Arisa, tak sedikitpun menemukan jejak. Ia dengan putus asa berdiam di taman yang sering ia kunjungi dengan Arisa dulu. Sampai Daffa, Wina dan Raisa pun menyusulnya dan bersama mencari keberadaan Arisa. Mengingat Seina anak yang jujur dan bukti Raisa tak bertemu dengan Seina hari ini, Rayyan semakin yakin dengan yang dikatakan Seina.

__ADS_1


"Dimana kau Risa? Aku merindukanmu." Batin Rayyan yang tak bisa menahan embun di kelopak mata untuk mengalir pelan di pipinya.


Esoknya, Arisa memilih untuk berjalan-jalan di sepanjang jalan yang mungkin pernah ia kunjungi. Bahkan Reza mengajaknya ke kampus tempat ia kuliah dulu. Namun ingatan itu tak muncul sedikitpun.


Sampai ia rehat di sebuah cafe untuk sekedar berdiam diri, ia melihat seorang anak berusia 2 tahun lebih menatapnya begitu antusias. Ia yang merasa gemas, segera meminta ijin pada pengasuhnya untuk menggendong anak itu.


"Anty...." panggilnya memeluk leher Arisa. Arisa tak menghiraukan panggilannya, ia hanya membalas pelukan yang begitu nyaman dan seakan tak ingin melepaskan anak kecil yang menggemaskan ini.


"Putri... ayo!" Panggil Reza dari seberang membuat Arisa melepaskan anak yang ia sendiri tak tahu bahwa itu adalah keponakannya.


"Anty.... antyyyyy...." teriaknya meronta-ronta tak ingin berpisah dengan Arisa. Diana yang baru keluar dari butik, melihat putranya menangis tak bisa ditenangkan, segera berlari menghampiri Ghava dan pengasuhnya.


"Kenapa sayang?" Diana meraih dan mencoba menenangkan Ghava yang terus memanggil "Anty" panggilan yang biasa ia sebut jika pada Raisa saja.


"Maaf nyonya... Ghava tidak ingin lepas dari wanita yang menggendongnya. Ghava juga memanggilnya anty." Jelas Lia, yang bertanggung jawab mengasuh Ghava.


"Siapa?" Tanya Diana mulai penasaran dengan gadis yang di maksud Lia.


"Saya tidak tahu nyonya. Baru kali ini saya bertemu dengan dia. Dan dia juga memakai masker, jadi saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas." Jawabnya lagi.


"Ciri-cirinya?" Entah kenapa, Diana merasa begitu tertarik ingin tahu siapa yang dipanggil anty oleh putranya jika bukan Raisa.


"Hampir sama dengan nona Raisa. Dan mungkin umurnya juga sama." Seketika, Diana terbelalak. Pikirannya langsung tertuju pada Arisa. Segera ia masuk lalu menghubungi Tio agar pulang lebih cepat. Mendengar suara panik dari Diana, Tio segera bergegas pulang dan memastikan bahwa tak ada sesuatu yang terjadi pada istri dan anaknya.


Dan, Tio mendapati kabar yang sama dengan kasus Seina yang bertemu dengan Arisa kemarin. Ia semakin yakin pada firasatnya selama ini.


. Di waktu yang sama, Reza memasuki ruangan Yugito sendiri dan ia meminta agar Yugito berkenan untuk mengunjungi perusahaannya di Bandung. Dan Yugito pun menyetujui undangan Reza meskipun dirinya merasa curiga.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2