TAK SAMA

TAK SAMA
80


__ADS_3

. Arisa memutuskan untuk menceritakan pertemuannya dengan Daffa yang dirasanya sudah tak bisa di sembunyikan lagi. Reza dengan terkejut menyuruh Arisa agar diam di apartemennya agar nanti jika Tio mencari Arisa, ia tak akan menemukannya. Ditengah kebimbangan Arisa, ia melamun sambil terus berjalan menyusuri setiap ruangan dan tak sengaja kembali menabrak Fahri membuat kacamatanya terjatuh.


"Aduh... maaf kak." Ucapnya dengan suara khas Arisa yang manja. Fahri seketika membeku, ternyata benar yang didepannya ini adalah Arisa.


"Ka-kau masih hidup? La-lalu siapa yang meninggal dalam kecelakaan itu Aris? Ke-kenapa kau bisa disini?" Arisa termangu dan ikut membeku mendapati pertanyaan beruntun dari Fahri.


"Aris? Ternyata benar ini kau?" Lagi, Fahri bertanya dan mencoba meyakinkan diri bahwa memang yang didepannya ini adalah Arisa. Arisa menunduk lalu menangis tanpa suara didepan Fahri.


"Apa karena Rayyan dan saudara kembarmu?" Arisa mendongak mendengar pertanyaan yang tiba-tiba, dan mungkin tak pernah terpikirkan olehnya.


"Ti-tidak. Ak-aku tidak...."


"Jadi benar kau Arisa?" Arisa mengangguk pelan seraya menunduk tak berani menatap pada Fahri.


"Arisa... bagaimana bisa kau ada disini? Dan... bukankah di berita kau sudah--"


"Itu bukan aku. Itu.... Citra." Tegas Arisa menyela ucapan Fahri.


"Citra? Arisa aku kira kau.. ternyata kau mengorbankan temanmu demi kepentinganmu sendiri." Kini nada bicara Fahri berubah menjadi terasa menyesakkan bagi Arisa. Ada benarnya, namun tidak seperti itu kebenarannya.


"Kak... tidak seperti itu. Aku tidak tahu akan ada tragedi. Jika saja aku tahu, aku tak akan pergi dan meminta bantuan Citra. Lebih baik aku saja yang mati."


"Apapun alasanmu, kau tetap harus bertanggung jawab atas kematian temanmu."


"Iya aku tahu kak. Tapi... sudahlah. Kakak tak akan mengerti dengan yang aku alami."


"Iya. Memang. Aku tak mungkin mengerti dengan masalah orang-orang kaya yang seharusnya bersyukur memiliki segalanya, tapi malah--" 'plak' Fahri berhenti bicara saat tamparan keras Arisa mendarat tepat dipipinya.


"Jadi selama ini kakak memandangku seperti itu? Ku kira kakak berbeda. Ku kira kakak tak seperti mereka. Kenapa melihatku seperti anak orang berada yang bahagia dan semua apapun bisa aku dapatkan. Nyatanya tidak kak." Arisa beranjak lalu bergegas pergi dari hadapan Fahri yang terdiam membeku mendengar pernyataan Arisa.


***


. Arisa memutar pensil sambil melamun di meja kerjanya. Eva menggeleng menyikapi Arisa yang akhir-akhir ini kualitas kinerjanya menurun. Ia lebih banyak melamun dan seakan acuh pada pekerjaan. Sampai ia dipanggil oleh Eva sendiri ke ruangannya dan diberikan teguran keras oleh Eva.


"Maaf bu... saya akan lebih fokus lagi." Ucap Arisa menunduk lalu kembali ke meja kerjanya.


"Apa kau melupakan ini?" Tanya Zain yang meletakkan kacamata Arisa di mejanya.


"Oh... terimakasih." Ucap Arisa menoleh sesaat lalu mengambil dan memakainya dengan terlihat sendu.


"Kamu kenapa? Tidak biasanya?" Tanya Zain lagi dengan menarik kursi di samping dan duduk disebelah Arisa.


"Kakak senior ku sudah tahu aku masih hidup." Jawab Arisa kembali memutar pensil di depannya.

__ADS_1


"Terus?" Arisa mendesah mendengar pertanyaan konyol yang Zain lontarkan.


"Ya cepat atau lambat keluargaku pasti tahu dan bisa jadi, Fabio juga akan menemukanku." Bukannya ikut panik, Zain malah terlihat santai dengan jawaban Arisa.


"Sudahlah jangan dipikirkan. Dia tak akan berani membocorkan rahasia ini." Ucap Zain membuat Arisa merasa heran, ia menatap Zain dengan lekat dan wajah yang penasaran.


"Aku sudah mengaturnya. Tenang saja!" Lagi, Zain hanya menjawab dengan nada bercanda membuat Arisa mendesah kesal.


"Apa aku bunuh diri saja ya?" Cetus Arisa.


"Ehhh jangan. Kau gila. Nanti aku juga dibunuh Reza jika kau sampai terluka." Kembali Arisa merasa heran, mengapa Reza sampai sebegitunya melindungi Arisa lewat pengawasan Zain.


. Singkatnya, saat istirahat Fahri menemui Arisa. Ia mengajak Arisa untuk berbincang di tempat yang mungkin tak terlalu banyak orang berlalu lalang untuk mengantisipasi ada yang mendengar percakapan mereka.


"Aris..."


"Putri. Sekarang namaku adalah Putri. Arisa sudah mati." Cetusnya menyela dengan cepat.


"Ar-- maaf Putri. Mungkin kata-kataku melukai hatimu. Aku memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu. Maaf." Ucapnya menunduk di samping Arisa.


"Tak apa kak. Orang lain pun pasti akan berpikir demikian jika tak tahu yang sebenarnya. Yaa mungkin aku akan di cap sebagai pembunuh. Aku hanya perlu menunggu saja kapan keluarga dan polisi menjemputku." Jawabnya terdengar santai.


"Aris... apa kau pikir aku akan memberitahu keluargamu? Kau tak percaya padaku? Arisa... aku tak akan menyebarkan keberadaanmu tanpa seizinmu. Meskipun kakakmu sudah menjanjikan memberikan imbalan yang besar bagi siapa saja yang menemukanmu, aku rasa itu tak akan berarti jika kau tak ingin kembali pada keluargamu. Aku mendengar rumornya. Saat itu, kakak kembarmu akan menikah dengan Rayyan, dan kau akan menikah dengan pengusaha muda yang sedang banyak di perbincangkan dimana-mana. Dia kakak dari Fabian kan? Arga Fabio." Arisa ikut menunduk dan terdiam tak menanggapi apapun ucapan panjang lebar Fahri.


"Apa kak Tio mencariku?" Tanya Arisa saat mencerna sedikit ucapan Fahri. Fahri menoleh dan mengangguk menjawab pertanyaan Arisa.


"Aku juga bertemu Daffa tempo hari." Seketika Fahri terkejut dengan menatap lekat wajah Arisa.


"Aris..." lirih Fahri dengan ragu hendak melanjutkan ucapannya.


"Panggil aku Putri kak. Jangan memanggil nama itu lagi." Tegas Arisa menyela cepat.


"Baiklah maafkan aku."


"Hanya kakak yang tahu aku masih hidup. Aku akan melakukan apa saja untuk kakak jika kakak tidak memberitahu siapapun tentang aku."


"Baiklah Ar--emmm Putri."


"Terima kasih."


"Tapi mau sampai kapan?"


"Entahlah. Aku tak tahu.... mungkin sampai aku benar-benar melupakan semuanya. Apalagi Rayyan. Aku tak ingin mengingatnya lagi. Jika boleh, aku ingin hilang ingatan saja agar aku lupa dengan semua yang terjadi." Ucapnya menoleh pada Fahri dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Fahri merasakan sakitnya jika melepaskan orang yang dicintai harus menikah dengan orang lain.

__ADS_1


"Jika kau bisa menerima takdirnya, maka kau juga akan bisa melupakan semua yang ingin kau lupakan."


***


. Hari-hari berganti, waktu berlalu, suatu ketika, setelah Arisa menekan pintu lift, ia mencari-cari siapa tamu yang akan bertemu dengan Reza dengan resmi. Kenapa harus Arisa yang menjemputnya. Arisa menghela nafas kesal saat ia mengingat bahwa beberapa hari ini Zain sangat sibuk mengurus jadwal Reza yang padat.


Arisa berjalan menuju meja resepsionis dan menunggu tamu yang dimaksud Reza.


"Haih... kakak ini bagaimana? Dia tidak memberitahuku siapa tamunya." Gerutunya yang mengeluarkan ponsel dan mulai memainkannya dengan fokus.


"Bu... emmm Bu Putri." Panggil gadis di balik meja.


"Kenapa kak?" Tanya Arisa polos.


"Tuan Arga sudah sampai." Jawabnya melempar senyum. Arisa tak menyadari dengan nama yang dilontarkan Rina itu. Ia tak berpikir bahwa yang kini ia jemput adalah Fabio. Arisa mematung ketika melihat Fabio yang santai memasuki pintu utama dan berjalan menghampirinya. Terlihat alis Fabio menyernyit menatap lekat wajah Arisa yang jelas terlihat gugup.


"Ke-kenapa Fabio?" Batin Arisa yang masih membeku.


"Kau adik Reza?" Tanya Fabio memalingkan pandangannya dari Arisa yang mengangguk menanggapi dan mengikuti langkahnya dari belakang.


"Kau ceroboh Reza. Aku tak sebodoh yang kau kira." Batin Fabio tersenyum sinis lalu memberi kode pada asistennya untuk meninggalkan dirinya dan Arisa berdua didalam lift.


"Siapa namamu?" Tanya Fabio tanpa menoleh pada Arisa yang berdiri di belakangnya.


"Pu-Putri tuan." Jawab Arisa gugup. Ia semakin panik saat Fabio berbalik dan berhadapan dengannya. Tubuh kekarnya semakin dekat dan wajahnya semakin jelas berada didepan Arisa. Perlahan Fabio membuka kacamata Arisa lalu meraih rambutnya dan mencium wanginya.


"Kau mengingatkanku pada calon istriku sayang." Mendengar itu, Arisa memalingkan wajahnya kasar menahan agar dirinya tidak panik. "Apa kau tahu ceritanya? Katanya dia meninggal dalam kecelakaan, dan namanya tertulis rapi di batu nisan. Makamnya berdampingan dengan kekasih yang dicintainya sampai mati. Bahkan dia meninggalkanku saat aku hendak melamarnya. Dia sangat membenciku sampai memilih mati dari pada menikah denganku. Sungguh miris bukan. Aku yang sudah jatuh cinta padanya, malah dia khianati seperti itu. Apa menurutmu, dia akan mati dengan tenang?" Arisa terdiam membisu mendengar Fabio benar-benar menyimpan rasa untuknya.


"Sa-saya tidak tahu tuan." Jawab Arisa masih gugup.


"Kenapa kamu gugup sekali sayang? Apa kau takut aku memakanmu? Atau kau ingin menangis karena aku ada di depanmu dan mengenalimu?" 'Deg' Arisa menatap tajam pada Fabio mendengar ucapan Fabio.


"Arisa sayang. Kenapa kau berpura-pura tidak mengenaliku? Apa kau benar-benar membenciku? Kau memalsukan kematianmu. Kau meninggalkanku saat aku akan menikahimu. Kau menghancurkan perasaan, hati, dan kepercayaanku. Kau pikir kau merubah dirimu seperti ini akan membuatku tak mengenalimu? Arisa.... kau tahu hatiku hancur hanya karena gadis sepertimu. Kenapa kau yang membuatku jatuh cinta hah?" Teriak Fabio membuat Arisa menghimpit dan terduduk lesu dengan menangis pelan dan masih menahan diri.


"Cih.... kenapa kau satu-satunya wanita yang tak bisa membuatku marah. Padahal kau sudah membuatku kecewa."


"Cukup Fabio. Jangan bicara lagi." Arisa balas membentak Fabio dengan menatap tajam wajah Fabio.


"Kau berani menatapku?" Fabio meraih dagu Arisa dengan kasar dan tatapannya jauh lebih tajam dari Arisa.


"Ternyata benar. Kau memang Arisa. Tapi kenapa kau membenciku hah? Aku mencintaimu. Aku tak ingin kehilanganmu." Teriak Fabio melepaskan tangannya dari dagu Arisa dengan kasar.


"Sekarang, pulang denganku." Fabio meraih tangan Arisa lalu memaksanya untuk bangkit.

__ADS_1


"Tidak kak. Aku tidak mau." Teriak Arisa mencoba melepaskan diri dari Fabio. Kemudian lift terbuka dan Arisa menggigit tangan Fabio sampai Fabio melepaskan genggamannya dari Arisa. Arisa berlari menuju ruangan Reza dengan masih menangis keras. Ia berlindung di belakang Reza saat Fabio menyusulnya dengan wajah yang masih marah.


-bersambung.


__ADS_2