
. "Aris?" Pekik Wina kemudian beranjak dan keduanya berpelukan dengan girang.
"Apa kabarmu?" Tanya Wina kemudian.
"Aku baik. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik. Aaaaa Aris... aku merindukanmu...." rengek Wina dan mulai berkaca-kaca.
"Aku juga merindukanmu." Arisa pun tak kalah manja merengek karena merindukan Wina.
"Apa kau kesini untuk menghadiri acara Rayyan?" Kini Wina melepas pelukan Arisa dan tatapannya mendadak serius.
"Iya. Sein memaksaku untuk datang. Padahal aku sedang banyak pekerjaan."
"Syukurlah kau baik-baik saja Aris. Apa kankermu sudah bersih sepenuhnya?"
"Kata kak Marcel, aku sudah sembuh saat pencangkokan hati. Karena memang kankernya terletak tepat pada hati. Dan untungnya, belum menyebar kemana-mana."
"Ihhhh Aris.... aku ingin menangis." Keduanya kembali berpelukan seakan tak ingin saling melepaskan lagi.
"Pokoknya aku ingin memberi kejutan untuk Ar--is" suara Raisa menjadi hilang setelah ia keluar dari ruangan ayahnya dan mendapati pemandangan yang menyesakkan baginya. Raisa mematung sesaat padahal sebelumnya ia begitu lantang dan antusias ingin menyambut Arisa di rumah. Ternyata adik kembarnya sudah berada di kantor ayahnya dan lebih mendahulukan sahabatnya daripada kakaknya sendiri.
"Rais." Lirih Yugito yang mengerti akan perasaan putrinya.
"Kau sudah disini ternyata." Ucap Raisa memaksakan senyumnya mengembang didepan Arisa meskipun hatinya terasa tersayat.
"Iya. Setelah sampai di rumah, aku langsung kemari. Oh iya ayah. Apa boleh aku mengajak Wina keluar? Hari ini saja. Yaa... plissss" pinta Arisa beralih menatap Yugito dengan memohon.
__ADS_1
"Eh.. aku banyak pekerjaan Aris." Protes Wina yang terkejut atas permintaan Arisa pada bosnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Yugito dengan penasaran dan memastikan bahwa putri bungsunya tak akan pergi jauh.
"Emm ke makam Rama dan Citra, lalu ke taman, terus ke mall, lalu... emmm kemana lagi ya? Wina aku lupa tempat yang sering kita kunjungi. Sepertinya efek amnesia masih tersisa." Tutur Arisa sedikit tertawa di sela ungkapannya yang jelas terlihat bahagia.
"Kalau mau pergi, silahkan! Pekerjaanmu aku saja yang gantikan. Kebetulan aku sedang tidak sibuk." Ucap Raisa dengan memasang wajah biasa saja.
"Tapi..." Wina merasa ragu dan ia takut Raisa akan marah jika ia ikut dengan Arisa.
"Ayo Wina. Disini ada Rais. Lagi pula, kapan lagi kita pergi berdua kalau bukan sekarang." Arisa terus memaksa Wina agar bisa ikut dengannya. Meskipun ragu, namun melihat Yugito yang mengangguk memberi izin, Wina terpaksa mengikuti Arisa hari ini.
"Maafkan saya." Ucap Wina menunduk pada Raisa dan Yugito.
"Tak apa Wina. Temani Aris dulu. Sepertinya Aris sedang bahagia." Raisa meyakinkan agar Wina tak merasa bersalah padanya.
"Rais..." lirih Tio meraih bahu Raisa. Bukannya menanggapi, Raisa malah memeluk Yugito dengan terisak keras. Sepertinya Raisa menahan tangis sejak tadi.
"Apa yang kau tangisi nak?" Tanya Yugito dengan mengelus kepala sampai ujung rambut Raisa untuk sekedar menenangkan. Namun tangisnya malah semakin keras membuat Yugito mengerti akan apa yang Raisa rasakan.
"Jika kau tak rela Aris dengan temannya, kenapa kau membiarkannya pergi? Kenapa tidak kau sendiri saja yang mengajaknya ke tempat yang ingin Aris kunjungi."
"Jika denganku, Aris tak akan sebahagia itu ayah... aku sudah gagal menjadi kakak dan teman untuk Aris." Yugito terenyuh mendengar apa yang di katakan Raisa. Raisa saja sudah berpikir demikian, lalu bagaimana dengan dirinya yang selalu sibuk bekerja dan tak sempat membuat Arisa bahagia merasakan kasih sayang seorang ayah. Sungguh ia merasa ia adalah ayah yang paling gagal. Telapak tangannya seakan mendadak panas ketika mengingat pada tamparan keras disaat Arisa sedang parah-parahnya melawan penyakitnya.
"Tidak nak... kau tak gagal. Justru ayah bangga padamu dan Tio. Disaat ayah terlalu sibuk bekerja dan tak memperhatikan Aris, kalian berdua selalu ada saat Aris kesepian."
"Kalau aku tidak gagal, kenapa sikapnya padaku sangat berbeda?"
__ADS_1
"Mungkin Aris butuh waktu untuk berdamai dengan kecewanya pada ayah dan mama. Tapi ayah harap kalian tak saling membenci. Ayah tak sanggup jika melihat anak-anak ayah terpecah."
"Kapan aku membenci Aris? Aku selalu berusaha mendekatinya. Justru dia yang membenciku. Dia yang selalu menjauh dariku. Padahal bukan salahku ayah.... itu salah penyakitku."
"Iya Rais... ayah tahu. Kau tak salah nak. Tak ada yang bersalah. Kita semua hanya salah faham saja." Dengan masih menenangkan Raisa, Yugito sendiri menahan diri agar tidak terlarut dalam penyesalannya.
. Sesuai rencananya, Arisa ke makam Rama dulu. Ia memanjatkan doa dan berharap Rama bisa tenang karena ia sudah bisa melupakan Rama dan mengikhlaskan kepergiannya. Kemudian ia beralih pada makam Citra. Rasa sesalnya terus memenuhi pikirannya, namun menyesal saja tak akan bisa memutar waktu yang sudah berlalu.
Setelah dari makam, Arisa mengajak Wina untuk ke mall Fariz yang kini sudah berkembang dan sedikit lebih besar dari terakhir kali ia ke sana. Beberapa kali keduanya keluar masuk counter tas dan pakaian bermerk. Namun tak ada satu pun yang mereka beli. Hingga keduanya memutuskan untuk mampir di bagian resto karena perut mereka sudah keroncongan. Keduanya memesan steak untuk sekedar mengganjal perut agar tak mengganggu acara mereka.
Tepat ketika makanan sudah hampir habis, seorang gadis berdiri di samping meja membuat mereka menoleh bersamaan. Arisa mendelik dan melanjutkan kembali melahap makanannya. Namun karena kesal, Clara meraih sup yang berada di depan Arisa dan sengaja menumpahkannya hingga pakaian Arisa menjadi kotor karenanya.
"Uppssss! Maaf sengaja..." ejeknya kembali meletakkan mangkuk sup pada tempatnya semula.
"Sangat pantas untuk perebut sepertimu. Arisa! Kau harusnya sadar, kak Rayyan itu hanya berjodoh denganku." Ucapnya kemudian. Melihat Arisa yang menahan amarahnya, Wina menjadi geram dan ia tak bisa menahan diri untuk membalas perlakuan Clara. Wina beranjak dan menyiramkan air putih di kepala Clara membuatnya marah besar.
"Dan itu sangat pantas untuk orang yang tidak punya sopan santun sepertimu." Ucap Wina penuh penegasan.
"Kau!!! Wanita rendahan sepertimu berani padaku?"
"Dengan sikapmu yang begini, bukankah kau lebih rendah dariku?"
"Tutup mulutmu sialan. Apa kau tidak berpikir? Bagaimana cara mengganti pakaianku yang mahal ini. Harusnya kau sadar statusmu itu hanya orang miskin." Hardik Clara menyita perhatian semua pengunjung.
"Wina sudah. Jangan diteruskan. Lihat! Kita jadi pusat perhatian." Tegur Arisa dengan begitu tenang membersihkan noda sup dengan tissue dan tak mempedulikan Clara. Ketika Arisa dan Wina beranjak, Clara menjambak rambut Arisa dengan kasar membuatnya meringis kesakitan.
-bersambung
__ADS_1