TAK SAMA

TAK SAMA
20


__ADS_3

. "Tapi tetap saja kan, mereka itu orang yang berbeda." Ucap Sonya setelah mendengar kalimat itu. Dan Sonya yakin bahwa Rayyan pun beranggapan yang sama dengannya.


. Sampai didepan kediaman Yugito, terlihat Tio sudah berdiri angkuh dengan melipatkan tangan didadanya.


"Ku kira kau lupa pulang dik?" Sindir Tio.


"Hehe... maaf..."


"Adikku tak ingin Risa cepat pulang kak." Timpal Rayyan.


"Adikmu atau dirimu?" Rayyan dan Arisa menjadi salah tingkah mendapati pertanyaan itu.


"Sudahlah.. sebaiknya kalian masuk, dan cepat makan!" Ucap Tio dengan tatapan malas.


"Aku sudah makan kak." Tio menyernyit


"Di rumah Aray." Jawab Arisa dengan suara pelan dan memalingkan pandangannya. Baru kali ini Tio melihat Arisa bersikap malu-malu seperti itu. Tio menyimpulkan, bahwa kedua anak-anak didepannya memang saling menyukai.


Tio tersenyum membuat Rayyan dan Arisa terheran.


"Kalau begitu aku pamit pulang kak." Ucap Rayyan setelah memastikan bahwa Arisa memang baik-baik saja.


"Mengapa buru-buru? Ayo masuk dulu.. kita mengobrol sambil minum." Tio meraih dan menepuk pundak Rayyan seakan mereka sudah akrab lama.


"Tidak kak. Aku tidak minum." Tio terdiam ketika Rayyan menjawab demikian.


"Ahaha apa yang kau pikirkan? Maksudku minum kopi, atau teh... bukan.... hemmmmm" Tio tak melanjutkan kata-katanya karena tak kuasa menahan tawa.


"Apa wajahku seperti pemabuk?" Tanya Tio lagi.


Arisa pun terlihat tersenyum tipis melihat kedekatan Rayyan dan kakaknya.


"Kakak kata ayah ayo mak--" seketika Raisa terdiam saat mendapati ketiga orang didepannya sedang bergurau. Dan terlihat Arisa juga tak biasa, wajahnya sedikit berseri-seri sekarang.


"R-ray-" lidah Raisa menjadi kelu karena gugup.


"Sep-sepertinya ak-aku harus kedalam duluan. Banyak tugas dari kak Seno. Maaf aku permisi." Ucap Arisa mendadak menjadi sedikit tak nyaman. Rayyan menarik tangan Arisa yang tengah melangkah sedikit menjauhinya.


"Tidak kah kau memberikan salam perpisahan padaku?" Tanya Rayyan menatap datar pada Arisa yang terlihat gelisah.


"Baiklah jika kau tidak memberikannya, biar aku yang mengucapkan salam perpisahannya." Rayyan mengecup kening Arisa tepat didepan Tio dan Raisa.


Pemandangan apa ini? Seakan Rayyan menegaskan padanya bahwa dirinya dan Arisa ada hubungan spesial.


Raisa memalingkan wajahnya dengan raut yang sedikit kecewa. Namun dirinya melemparkan senyum paksa yang jelas terlihat.


"Kak Tio... ayo makan.. jangan mengganggu orang pacaran." Raisa menarik tangan Tio dengan hati yang berkecamuk.


Tanpa sadar, Arisa menjatuhkan bulir bening dari kelopak matanya. Entah itu air mata sesal, atau air mata bahagia. Sesal karena dirinya seolah menikam saudari kembarnya sendiri, dan merasa bahagia, disisa umurnya ada orang yang mencintainya setelah Rama. Tapi kenapa harus Rayyan? Dan kenapa juga dirinya harus merasakan perasaan yang tak bisa dijelaskan itu.


Tio mengikuti saja, hati kecilnya merasa ikut bersedih jika melihat Raisa patah hati. Tapi mau bagaimana lagi, Arisa juga adiknya. Bahkan jika di bandingkan dengan Raisa, Arisa lebih kasihan. Dan menurutnya, Raisa harus bisa menerima kenyataan bahwa Rayyan lebih memilih Arisa.


"Aris belum pulang?" Tanya Ayah ketika Raisa datangan hanya dengan Tio.


"Aris sedang--"


"Dia sudah makan ayah. Dirumah temannya." Tio dengan cepat menyela sebelum Raisa menyelesaikan bicaranya.


"Jadi sudah pulang?" Tanya mama memastikan.


"Sudah" dengan santai Tio duduk dan mengambil beberapa makanan.


"Bagaimana hubunganmu dengan Rayyan?" Tanya mama pada Raisa membuat Tio tersedak.


"Pelan-pelan Tio..." mama berdecak kesal sembari menyodorkan segelas air putih pada Raisa untuk diberikan pada Tio. Raisa tidak menanggapi pertanyaan mama dan hanya terdiam seolah tak mendengar pertanyaan itu.


"Kau menyukainya?" Tanya ayah dan Tio kembali tersedak.

__ADS_1


"Kau ini kenapa? Dari tadi tersedak terus." Mama menghela nafas berat.


"Nafas dan makananku masuk bersamaan ma..." jawab Tio masih terus melanjutkan makannya. Raisa tahu alasan Tio tersedak sedari tadi.


"Kalau kamu menyukai Rayyan, ayah akan bicara pada Danu untuk melanjutkan perjodohan." Ucap ayah yang kini ditanggapi oleh Tio dengan tersedak dan batuk yang lebih keras.


Semua panik dan menghampiri Tio.


"Kau yakin baik-baik saja?" Kini wajah Tio memperlihatkan kekesalan. Dengan keras Tio meletakkan alat makannya dan beranjak dari duduknya.


"Maaf ayah... aku kembali ke kamarku." Ucap Tio meninggalkan sebuah kejanggalan di benak orang tuanya.


"Ada apa dengan dia? Apa dia bertengkar denganmu?" Tanya mama pada ayah.


"Tidak... bahkan hari ini aku belum berbicara apapun padanya." Jawab ayah sama herannya.


"Tapi tidak mungkin dengan Rais. Dia kesini bersamanya kan?"


"Ayah.. mama... sudah... mungkin kak Tio kelelahan. Bukankah selepas pulang dari Amerika, kakak langsung ke kantor kan?" Ucap Raisa mencoba melerai.


"Ahh mungkin kau benar." Ayah memijit kepalanya pelan. Raisa beranjak dan melangkah pelan menjauhi ruang makan.


"Kau tidak makan?" Tanya mama.


"Tidak ma. Rais sedang tak berselera makan." Jawab Raisa ketika mendadak terhenti dan melemparkan sedikit senyum agar mama tak khawatir.


Raisa bergegas memasuki kamar dan menutup pintu rapat-rapat.


Air matanya tak terbendung ketika dirinya menjatuhkan tubuhnya di kasur.


Raisa terisak di atas bantal yang dipeluknya. Entah sakit apa yang membuatnya menangis. Rasanya terlalu sesak jika dirasakan.


. Disamping itu, Rayyan masih tak ingin melepaskan genggamannya. Rasanya ada yang mendorongnya untuk tetap bersama Arisa.


"Kau menangis?" Tanya Rayyan ketika menyadari mata Arisa terlihat berkaca-kaca.


"Jika ada apa-apa jangan disembunyikan. Bicaralah! Aku akan mendengarmu. Jika ada yang kau butuhkan, aku akan membantumu."


"Jika aku menginginkan sesuatu?"


"Yaa aku akan berusaha melakukannya."


"Janji?"


"Tidak janji juga. Aku harus tahu dulu apa permintaanmu yang harus aku penuhi itu."


Namun Arisa hanya tetap tersenyum menanggapi perkataan Rayyan.


"Sudahlah... lebih baik kau masuk! Disini dingin. Aku tak mau jika kau sakit lagi." Ucap Rayyan sedikit mengacak rambut Arisa.


"Sudah sakit juga." Lirih Arisa membuat Rayyan menyernyit.


"Apa?"


"Hemmm... tidak.. maksudku aku sudah sakit waktu itu, jadi tidak mungkin sekarang sudah sakit lagi."


"Jangan seperti itu. Seberapa kuatnya dirimu, pasti ada sisi lemahnya."


"Mengapa kau menceramahiku? Bagaimana aku bisa masuk ke rumah jika kau masih disini?"


"Kau mengusirku?"


"Tidak... bu-bukan Aray... maksudku..."


"Ahahaha.. iya iya aku mengerti. Baiklah aku pulang."


"Iya.. hati-hati."

__ADS_1


Rayyan melajukan mobilnya yang dibawa pak Aman meninggalkan Arisa yang masih terdiam diluar.


Seketika dirinya mengingat Raisa dan adegan itu. Dengan cepat Arisa memasuki rumah setengah berlari.


Menaiki tangga dan mendapati Raisa sedang menangis. Arisa meraih dan memeluk Raisa dengan erat.


"Maafkan Aris... Aris tak bermaksud. Aris tak mencintainya. Sungguh. Rais jangan menangis. Kumohon!" Ucap Arisa ditengah isakkan nya.


"Jika kedekatanku dan Aray membuatmu terluka, Aris akan menjauhinya. Aris janji! Asal Rais memaafkan Aris." Raisa tetap diam dan masih menangis.


"Atau Aris akan pindah kampus agar Aris tak bertemu lagi dengan Aray. Atau Rais dan Aris bertukar kampus saja." Lanjut Arisa dan masih terisak.


"Diam kau bodoh... apa yang dari tadi kau bicarakan?" Timpal Raisa membenamkan wajahnya pada pelukan Arisa.


"Jangan pura-pura. Kau salah mengira kan? Tadi hanya--"


"Rayyan mencintaimu Aris... kau jangan mengelak darinya lagi. Bukalah hatimu untuk yang lain. Jangan terus menerus terlarut dalam bayang-bayang Rama." Kini giliran Arisa yang terdiam tak menjawab.


"Lagi pula aku menangis bukan karena itu. Mengapa kau berpikir seperti itu? Aku sudah punya pacar." Lanjut Raisa melepaskan pelukannya dan mengusap pipinya.


"Rais...."


"Aku menangis karena ending serial drama favoritku sad ending. Dan aku ikut bersedih." Lagi-lagi mata Raisa berkaca-kaca.


"Bohong..."


"Aku serius.. ahaha dan mengapa kau menangis? Harusnya kau bahagia sudah berpacaran dengan Rayyan kan?" Tanya Raisa melemparkan senyum meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Kita tidak pacaran." Tegas Arisa kembali pada mode dingin.


"Lalu?"


"Tak ada apa-apa... sudahlah. Aku--uhuk" Arisa menutup mulutnya yang tiba-tiba terbatuk dengan terasa ada cairan yang tercium amis olehnya.


"Darah? Lagi?" Gumam Arisa melirik pada Raisa yang terbelalak ketika menyadari ada darah yang keluar dari mulut adiknya.


"Aris..." teriak Raisa membuat Arisa tak kalah terbelalak. Arisa menggeleng kasar dan menutup mulut Raisa yang mematung dengan air mata yang berderai.


"Apa itu?" Lirih Raisa hendak meraih wajah Arisa. Lagi-lagi Arisa hanya menggeleng menanggapinya.


"Katakan padaku apa yang terjadi padamu?" Raisa semakin lemas teringat dirinya yang dulu.


"Kau...." Raisa tak kuasa melanjutkan perkataannya.


Arisa mengambil beberapa lembar tissue di lemari kecil samping tempat tidur Raisa. Arisa dengan hati-hati membersihkan darah di sekitar bibirnya.


"Jika aku mengatakannya padamu, apa kau akan memberitahu mama dan ayah?" Tanya Arisa yang berdiri didepan Raisa yang terduduk lemas di atas ranjangnya.


"Tentu saja. Apa kau pikir aku bodoh? Jika darah keluar dari mulut dengan mudah seperti itu, menandakan bahwa kau mengidap penyakit serius. Dan katakan padaku penyakit apa yang kau sembunyikan?" Raisa berdiri dan meraih bahu Arisa dengan erat.


"Aku kanker. Hati. Stadium 3." Jawab Arisa dengan wajah dan tatapan yang dingin.


Seketika Raisa terduduk lemas di ranjang dan kemudian menunduk mendapati kenyataan yang lebih menyakitkan daripada adegan Rayyan mengecup kening adiknya.


"S-stadium 3? Mengapa kau tak bilang pada ayah dan mama?" Raisa mendongak dengan menatap tajam pada Arisa.


"Rais juga tahu bahwa mama dan ayah menganggapku anak yang kuat bukan? Jika Aris mengatakannya, mungkin Aris akan mengecewakan mereka karena tak menjadi anak yang sekuat dulu. Dan Aris tak ingin Rais merasakan kehampaan tanpa perhatian mama." Suara Arisa semakin pelan.


"Pikirkan dirimu sebelum kau memikirkan orang lain bodoh." Kini tangis Raisa tak kunjung reda.


"Aris tak bisa. Aris benar-benar tak ingin jika Rais merasa kesepian." Raisa kembali memeluk erat Arisa dan semakin keras menangis.


"Berhenti bersikap kuat bodoh." Ucap Raisa dengan tangis kesal.


Diluar, Tio bersandar lemah mendengar percakapan didalam kamar Raisa itu.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2