TAK SAMA

TAK SAMA
87


__ADS_3

. Sarah mematung dan seketika ia membisu, air matanya semakin deras berderai. Apa maksudnya? Pertanyaan itu yang muncul pertama kali di benak Sarah yang enggan percaya bahwa Arisa kehilangan ingatannya saat ini.


"Nak... kamu tidak ingat pada bunda?" Tanya Sarah menahan sesak yang menekan dadanya.


"Bunda ya?" Tanya Arisa yang hendak beranjak namun urung karena denyutan di kepalanya begitu menyakitkan. Ia meraih bagian belakang kepalanya dan meringis menahan sakit yang teramat karena benturan dan luka karena terpental jauh.


"Putri. Maafkan kakak." Lirih Reza semakin erat meremas tangan Arisa yang menatapnya dengan bingung dan matanya menyipit antara heran dan sakit kepala.


"Kakak?"


"Iya. Kakak tidak akan menyakitimu lagi."


"Kak Tio?" Tanyanya sambil memegangi kepalanya.


"Tio tidak ada." Jawab Reza yang belum menyadari ada sesuatu yang salah pada Arisa.


"Lalu, anda siapa?" Tanyanya lirih namun seakan sebuah petir yang menyambar ibu dan anak yang berada didepan Arisa.


"Apa maksudmu? Putri jangan bercanda." Ucap Reza lagi setengah berteriak.


"Tuan harap tenang." Tegur seorang perawat. Arisa memaksakan diri untuk duduk dan kepalanya semakin berputar. Di kepalanya sekarang hanya ruang kosong. Tak ada memori apapun yang bisa ia ingat mengapa ia bisa sampai terluka separah itu. Kepalanya diperban, tangan, kaki, bahkan perutnya pun ikut di perban. Ia merasakan pinggangnya terasa perih dan lembab.


"Dok... apa maksudnya?" tanya Reza mendadak putus asa saat menoleh pada dokter di belakangnya.


"Mohon ibu dan tuan keluar dulu." titah dokter ditanggapi patuh oleh keduanya. Kemudian dokter memeriksa dan menganalisa hasil pemeriksaannya.


"Bagaimana dok?" Tanya Sarah ketika sang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Putri anda mengalami amnesia retograde dimana memori ingatan pasien hilang akibat cidera otak." Jelas dokter menghela nafas dalam dan menatap Sarah dengan sendu.


"Ap-apa ingatan putri saya bisa kembali pulih?" Dokter menggeleng pelan menjawab pertanyaan Sarah.


"Saya belum menemukan pasien yang mengalami amnesia ini sembuh total, tapi mungkin jika ada yang merangsang ingatannya, putri anda bisa mengingat kembali. Seperti membawanya ke suatu tempat atau mengenalkan pada orang-orang terdekat." Jelasnya lagi. Mendengar itu, Reza semakin putus asa dan tak tahu harus bagaimana. Karena ini terjadi sepenuhnya adalah murni kesalahannya. Bahkan anggapannya pada Arisa yang bermain api dengan Fabio pun hanyalah kesalah fahaman semata. Saat itu, ia terlalu membenci Arisa. Namun, melihatnya diujung maut, ia merasakan penyesalan yang luar biasa dan tak ingin kehilangan sosok adik kembali terulang. Setelah dokter mengijinkan dirinya melihat kembali kondisi Arisa, ia mencoba untuk tenang meskipun hatinya merasa gelisah dan tak bisa menerima kenyataan.


"Kak... maaf. Saya tak bisa mengingat kakak." Lirih Arisa mencoba menembus ruang kosong dibenaknya, namun tetap saja ia tak menemukan titik petunjuk untuk mengingat semuanya.


"Tak apa.... kakak tidak marah. Kita berusaha bersama saja. Pelan-pelan, jangan dipaksakan. Kakak yakin, kamu akan ingat semuanya lagi." Ucap Reza yang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sarah semakin tak kuasa menahan air matanya, mengapa harus amnesia? Apa yang harus ia katakan pada Yugito jika Arisa ia temukan bersamanya dalam kondisi yang menyedihkan seperti ini.

__ADS_1


Berhari-hari sudah, Tio tak menemukan keberadaan Arisa di seluruh Bandung. Ia mencari di setiap sudut kota, bahkan pinggiran desa pun ia telusuri. Namun, ia tak memasuki rumah sakit karena tak terpikirkan Arisa berada di rumah sakit. Begitupun Daffa, ia benar-benar putus asa. Hatinya menjadi bimbang. Antara harus percaya bahwa Arisa masih hidup, atau sudah tiada. Jika masih hidup, mengapa ia tak menemukan jejak apapun, dan jika sudah tiada, mengapa semua bukti lebih mengarah pada Citra dari pada Arisa.


Tio memutuskan untuk ke rumah Reza, dan kebetulan Reza tengah berada di rumah. Reza terkejut mendapati Tio dan ia menebak bahwa Tio mengetahui bahwa Arisa tengah bersamanya.


"Apa kau melihat adikku? Apa adikku pernah kesini? Jawab jujur atau perusahaanmu akan aku hancurkan.!" Tegas Tio tak memberi kesempatan untuk Reza menjawab setidaknya satu saja.


"Dimana ibumu? Dan mengapa wajahmu begitu tegang? Apa benar Aris ada disini?"


"Kenapa kau menanyaiku? Kenapa kau tidak geledah saja rumahku ini? bukankah adikmu sudah meninggal satu, dan yang satunya menikah dengan pewaris keluarga Pratama? Dan jika kau ingin menghancurkan perusahaan itu, silahkan saja. Bukankah itu perusahaan Yugito sendiri? Dia akan mengambilnya kembali setelah aku pulihkan keadaannya kan?" Reza tersenyum ketus membalas pertanyaan beruntun dari Tio.


"Cihhhh..." Tio berlalu dan meninggalkan Reza yang menahan dirinya agar tidak merasa gelisah.


"Apa kau pacarku?" Tanya Arisa polos menatap Zain yang kini sedang menggantikan Sarah untuk menjaganya. Zain terkejut dan menatap dalam pada Arisa yang terlihat benar-benar membuatnya gemas.


"Emmmm... bu-bukan. Tapi kita dekat." Jawab Zain terbata dan memalingkan wajahnya.


"Ohh... apa kau pernah menyatakan cinta padaku, terus aku menolakmu? Atau kamu sudah punya kekasih dan aku yang menyukaimu?" Tanya Arisa lagi dengan wajah yang benar-benar polos. Zain kembali menatap Arisa, jantungnya benar-benar tak bisa ia kendalikan. Debarannya begitu keras, hingga ia sendiri pun mendengarnya.


"Pertanyaan yang pertama yang benar. Aku pernah menyatakan perasaanku, tapi kau masih mencintai mantan kekasihmu." Jawabnya kemudian. Arisa menunduk lalu meraih tangan Zain dan menatapnya sendu.


"Mimpi yang menakutkan." Ucapnya tiba-tiba.


"Kenapa?" Tanya Zain yang merasa heran sekaligus penasaran karena Arisa tiba-tiba menggeleng kasar.


"Tak apa..." jawabnya melempar sebuah senyuman yang begitu manis.


. Waktu berlalu, segala cara dilakukan Reza dan Sarah untuk kesembuhan Arisa, namun sudah 3 bulan tak ada peningkatan membuat Reza menyerah dan lebih memilih untuk menyembuhkannya secara alami. Yaitu dengan membawa Arisa ke beberapa tempat yang pernah Arisa singgahi dan membeberkan semua fakta tentang dirinya.


"Jadi nama asliku yang mana?" Tanyanya polos saat menatap kedua berkas data dirinya yang berbeda di ruang tengah.


"Yang ini." Jawab Sarah menunjuk akta dengan nama Arisa Fandhiya Putri.


"Ohh.... lalu, dimana ayah? Kenapa sejak aku sadar, ayah tak pernah ada?" Tanyanya lagi dengan kepolosan yang membuat siapapun gemas, tapi membuat Sarah semakin bersedih.


"Bunda sebenarnya adalah ibu tirimu, dan sekarang bunda sudah bercerai lama dengan ayahmu." Jelasnya ditanggapi anggukan pelan oleh Arisa.


"Ohh.... lalu, kenapa aku ikut dengan bunda?"

__ADS_1


"Bukan kamu yang ikut, tapi kamu pergi dari rumah dan sampai kesini karena berbagai alasan. Bunda tak akan menceritakannya agar kamu mengingat alasan-alasan itu sendiri."


"Tapi rasanya, aku tak ingin mengingat apapun lagi bunda. Setiap aku hendak berusaha mengingat, kepalaku sakit dan hatiku juga ikut sakit."


"mau jalan-jalan?" Tanya Sarah mengalihkan pembicaraan dan berhasil membuat Arisa tersenyum dan antusias.


"Kemana bunda?" Tanyanya dengan mengikuti Sarah dari belakang. Arisa meraih kalungnya, ia selalu bermimpi tentang kalung itu, namun semua orang yang diimpikannya selalu tak jelas wajahnya.


"Bunda.. rasanya aku tak mau melepaskan benda ini." Ucapnya pelan dengan penuh kepolosan khas anak berumur 5 tahun. Sarah hanya tersenyum tak menjawab celotehan Arisa. Meskipun ingatannya semua hilang pada semua orang, namun hatinya tak pernah berbohong bahwa ia masih memiliki naluri pada orang-orang terdekatnya.


****


. Empat tahun berlalu dengan kondisi yang sama, Arisa kembali bekerja selama satu tahun terakhir di perusahaan Reza. Ia kini lebih dekat dengan Fahri karena ia satu divisi dengannya. Dan dalam waktu satu tahun itu juga, Arisa selalu ribut dan bertengkar dengan Vera. Vera yang kini diketahui sudah putus dengan Zain merasa tak terima karena pengakuan Arisa tempo hari bahwa Arisa dan Zain adalah sepasang kekasih. Padahal, Zain dan Fahri tahu Arisa hanya berniat membuat suasana semakin panas. Karena Arisa yang sekarang adalah Arisa yang arogan, angkuh dan periang. Ia selalu menindas siapa saja yang mengusik hidupnya. Bahkan Arisa sering di gosipkan sebagai wanita yang tidak baik karena Arisa sangat terbuka pada setiap pria.


"Kak Fahri...." panggil Arisa dengan manja.


"Apa?" Tanyanya menoleh pada gadis manis yang sedang menunjukan kepalanya dari balik tembok ruangan.


"Ayo makan siang." Ajaknya yang sudah cemberut manja membuat Fahri tertawa. Fahri menutup mulut bahwa dirinya adalah senior Arisa saat ia tahu bahwa Arisa mengalami amnesia. Dan ia sadar, tak ada tanda-tanda Arisa akan mengingat dirinya.


"Hei lihat! Mereka sangat dekat. Katanya dia pacar pak Zain. Tapi..."


"Suttt jangan membicarakan dia. Kau mau di cincang habis olehnya? Jika kau tak punya nyali seperti bu Vera, jangan sekalipun kau berani membicarakan Putri." Tegurnya cepat saat rekan kerjanya begitu antusias menggosipkan Arisa.


Arisa tersenyum ketus saat melewati kedua orang itu, ia kemudian berpapasan dengan Zain.


"Mau makan?" Tanya Zain menghentikan langkah Arisa dan ia melirik tajam pada Fahri di samping Arisa.


"Put.. aku duluan ya... mari pak." Ucap Fahri dengan sopan mendahului Arisa dan Zain.


"Oke kak..." balas Arisa.


. Suatu hari dihari libur, Reza dan Arisa berolahraga di sebuah taman yang tak jauh dari kantor. Seperti biasa, Fahri yang hanya berjalan-jalan memotret setiap apapun yang ia anggap menarik. Kemudian tanpa sengaja, ia melihat dua orang yang dikenal publik sebagai kakak beradik. Ia dengan cermat mengambil foto Arisa yang tengah berlari santai. Lalu, senyum tipis tersimpul di wajah Fahri saat melihat hasil fotonya.


"Kau masih sama. Tapi berbeda. Sekarang kau bukan lagi Arisa, tapi orang lain, Putri!" Ucapnya pelan.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2