TAK SAMA

TAK SAMA
200


__ADS_3

. Sarah sedikit tenang setelah Reza ikut menjelaskan. Meski Raisa sudah membujuk agar Sarah datang, namun usahanya tak membuahkan hasil yang ia inginkan. Raisa pamit dengan perasaan kecewa, ia tak bisa membawa Sarah sebagai tamu yang di inginkan Arisa. Dengan tangis kecewa, Raisa memasuki mobil yang disana sudah ada Fariz menunggunya.


"Tidak berhasil?" tanya Fariz meraih kepala Raisa yang masih terisak. Raisa hanya menggeleng menanggapi pertanyaan suaminya dan ia kemudian memeluk Fariz dengan erat meluapkan kekecewaannya.


"Tak apa... sudah... sekarang kita pulang." Seraya menenangkan, Fariz bergegas pergi dari kediaman Sarah.


. Di samping itu, Arisa yang sudah tak bisa kemana-mana hanya berdiam diri di rumah. Larangan dari ayah dan kakaknya begitu ketat, sampai pintu kamarnya pun di jaga oleh bodyguard. Ia sudah tak bisa bertemu dengan Rayyan yang sama-sama tak boleh kemana-mana. Keduanya selalu mengeluh bosan berada di rumah lewat telepon atau panggilan video. Hari demi hari, bi Ina merasa heran dengan tingkah Arisa yang selalu naik turun tangga tanpa ada sebab. Terkadang, Arisa membantunya beres-beres atau memasak. Sehingga sampai tinggal menghitung hari, Arisa sudah terbiasa melakukan tugas sebagai ibu rumah tangga.


"Tinggal 3 hari lagi ya non?" Tanya bi Ina dengan berbinar, namun masih terselip perasaan sendu.


"Iya bi. Maaf ya kalau Aris selalu buat bibi repot." Tutur Arisa pun merasa sendu.


"Tak apa non. Sudah menjadi tugas bibi menjaga non Aris." Arisa hanya tersenyum menanggapi ungkapan bi Ina yang sudah mengasuhnya sejak kecil. Terlihat beberapa orang dari Wedding Organizer untuk memasang tenda dan dekorasi di rumah Arisa. Ia meminta ayahnya untuk menikah di rumah seperti Raisa. Dan dengan senang hati Yugito memenuhi permintaan putri bungsunya itu. Ketika Arisa tengah sibuk dengan bi Ina di dapur, terdengar pelayan lain memanggilnya dari ruang keluarga.


"Ada tamu untuk nona." Tuturnya membuat Arisa penasaran siapa yang bertamu ke rumahnya. Segera Arisa beranjak lalu menemui tamu yang di maksud yang sudah berada di ruang tamu. Ketika ia mendapati tamu tersebut, tubuhnya membeku, dan seketika air matanya berderai tanpa izin.


"Putri." Panggil Sarah dengan lirih.


"B-bunda?" Teriaknya langsung berlari dan memeluk Sarah dengan erat. Kali ini Sarah tidak salah mengenali Arisa. Ia benar-benar merindukan putri sambungnya, meski hanya berpisah beberapa bulan saja, namun rasanya ia sudah lama tidak bertemu dengan Arisa.


"Bunda kemana saja? Kenapa rumah bunda di sita? Dan kenapa kantor di jual pada kak Rega?" Tangisnya pecah seketika dan masih enggan terlepas dari pelukan Sarah.


"Maafkan bunda nak."

__ADS_1


"Aku merindukan bundaaaaa..." Arisa masih berteriak seperti anak kecil membuat Yugito dan Rahma menghampirinya karena takut jika terjadi sesuatu pada Arisa. Namun, keduanya membeku melihat putrinya berada di pelukan orang lain. Rahma menahan rasa cemburunya sehingga tenggorokannya terasa sakit. Raisa ikut menghampiri mereka, lalu ia tak bisa menahan diri untuk ikut memeluk Sarah di depan orang tua kandungnya.


"Akhirnya bunda datang...." teriak Raisa ketika Sarah memeluknya bersama Arisa.


"Kenapa kau menangis? Ini bundaku..." rengek Arisa mencoba memisahkan Raisa dari Sarah.


"Dia bundaku juga." Balas Raisa pun melakukan hal yang sama. Rahma memalingkan pandangannya menghindari pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak. Ketika Rahma hendak berlalu, Yugito meraih tangannya dan menahan Rahma untuk pergi.


"Maaf mas. Aku masih ada pekerjaan di dalam." Ucap Rahma kini tak bisa menahan air matanya yang menerobos keluar dari kelopak matanya.


"Kenapa kau harus cemburu? Wajar Aris sangat menyayangi Sarah, dia mendapatkan kasih sayang dari Sarah yang tidak dia dapatkan dari kita."


"Maaf mas. Kau saja yang menemuinya, aku tak akan sanggup jika melihatnya sendiri." Dengan paksa, Rahma melepaskan genggaman Yugito dari tangannya lalu ia bergegas memasuki kamar. Yugiyo hanya menghela nafas dalam sesaat lalu ia beralih menghampiri Sarah. Ketika Sarah melirik pada Yugito di depannya, sontak ia langsung melepaskan anak kembar itu dari pelukannya.


"Baik mas. Mbak Rahma kemana?"


"Ada. Dia di kamar, sepertinya tidak enak badan." Jawab Yugito yang menutupi fakta bahwa Rahma tengah menangis.


"Boleh aku lihat?"


"Oh tidak perlu. Dia... baru tidur. Jadi... nanti saja." Yugito secepatnya mencari alasan agar Sarah tak lagi ingin menemui Rahma. Raisa yang tahu keadaan Rahma sebelumnya pun berlalu dan memasuki kamar Rahma. Ia terkejut melihat ibunya tengah menangis di samping tempat tidur seraya menggenggam poto dirinya dan Arisa.


"Mama." Panggil Raisa yang terlupa menutup pintu. "Mama kenapa menangis?" Tanya Raisa kemudian memeluk kepala Rahma. "Ma... Rais dan Aris bukan bermaksud melukai hati mama. Kita hanya--"

__ADS_1


"Mama." Panggil Arisa yang menyela ucapan Raisa. Sontak Raisa menoleh ke belakang melihat adiknya berjalan ke arahnya. Arisa duduk tepat di depan Rahma dengan meraih tangan Rahma lalu menciumnya begitu lama.


"Tanpa mama Aris tak akan ada di dunia ini. Tanpa mama, Aris tak akan hidup. Mama jangan berpikir apa-apa. Aris menyayangi mama, ibu kandung Aris. Dan Aris juga menyayangi bunda, yang memberikan apa yang hilang selama bertahun-tahun. Tapi, Aris tidak menyalahkan mama. Aris mengerti mama sangat khawatir pada Rais karena takut sel kankernya kembali aktif. Aris mengerti itu. Jadi, Aris ingin mama juga mengerti dengan posisi Aris. Selain itu, di dalam tubuh Aris, ada hati putrinya bunda. Mungkin perasaan ini lebih besar muncul dari hati Nadhira. Aris menyayangi kalian berdua. Mama dan bunda." Tutur Arisa lalu ikut memeluk Rahma dengan erat. Di luar kamar, Tio mendengar ungkapan Arisa, sehingga ia menunduk tak berniat menghampiri ketiga orang yang ada di dalam. Reza menepuk pundak Tio yang sama-sama berada di sana.


"Za. Tiga hari lagi, kita akan kehilangan adik sepertinya."


"Siapa bilang kehilangan? Aku akan pindah ke sini, dan akan mengawasi Aris setelah dia menikah. Dan saat dia punya anak, aku akan mengasuhnya."


"Wah... main curang. Dia itu adikku Za."


"Dia juga adikku Tio." Keduanya saling menggeram seperti kucing yang sedang bertengkar.


Dan di ruang tamu, Sarah masih di ajak ngobrol oleh Yugito.


"Kenapa kau menjauh dari Aris?" Tanya Yugito.


"Maaf mas. Aku dan Putri hanya sebatas ibu dan anak angkat. Kebetulan saat itu aku masih merindukan Nadhira, dan saat aku merawat Putri, rasanya aku sedang merawat Nadhira mas." Jawab Sarah membuat Yugito merasa bersalah.


"Maaf. Sudah membuat Nadhira pergi darimu." Namun Sarah hanya tersenyum dan menggeleng.


"Tak sepenuhnya salahmu mas."


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2