
. Raisa berjalan cepat menuju ruang UGD sesaat setelah menutup pintu mobil dan memberikan bayaran pada supir.
Diana menatap nanar sambil terus mengikuti langkah Raisa dari belakang. Terlihat bahunya yang turun naik menandakan bahwa Raisa masih menangis. Diana tahu apa yang Raisa tangisi saat ini. Selain karena kondisi Arisa, ia juga mungkin menyesal dengan ucapannya tadi di gedung pernikahan. Bukan tanpa sebab Raisa mengaku sebagai calon istri Rayyan, tapi karena ia tak mau jika Arisa yang menjadi sasaran kelicikan Clara nantinya. Hal itu memungkinkan Clara bisa mengganggu Arisa, walaupun Raisa sendiri tahu Arisa tak akan semudah itu dikalahkan oleh Clara.
Raisa melihat kegelisahan Rayyan didepan ruangan. Kini Rayyan ikut menatap kedalam ruangan meskipun tak terlihat oleh Dimas.
"Rayyan... a-ada yang ingin ak-aku bicarakan." Ucap Raisa dengan penuh keraguan. Takut jika Rayyan marah besar dan tak ingin bertemu dengannya lagi. Atau bahkan bisa saja Rayyan menjadi membencinya.
Rayyan menoleh sesaat dengan tatapan yang sayu. Sangat berbeda dari biasanya. Yang tadinya setajam pisau, kini terasa selembut sutra.
Raisa termangu sesaat dan berpikir bahwa dirinya seakan merasakan apa yang selama ini Arisa rasakan. Mendapat kebahagiaan sederhana dari seseorang yang teramat dicintai. Walaupun sekedar tatapan hangat.
"Ah kenapa aku ingin menjadi egois? Ya Tuhan... aku tak ingin merebutnya dari adikku. Tapi aku sangat mencintainya. Aku harus bagaimana?" Batin Raisa dengan memalingkan wajahnya karena tak bisa menahan air mata yang kini mengalir pelan di pipinya.
"Ada apa?" Tanya Rayyan dengan suara pelan.
"Nanti saja. Jika kau tak sibuk. Dan... setelah Aris membaik." Jawab Raisa menghela nafas sesaat lalu melemparkan senyuman hangatnya.
"Aku juga ingin bicara padamu." Ucap Rayyan kemudian setelah menatap sendu pada Arisa.
"Oh... iya." Begitu saja tanggapan Raisa dan tak tahu lagi harus menanggapi apa. Baginya bisa berbicara dengan Rayyan pun adalah sebuah keberuntungan. Masalah di benci atau tidaknya, tak akan ia pikirkan.
. Sampai akhirnya, Dimas keluar dengan beberapa kali menghela nafas panjang.
"Bagaimana?" Tanya Rayyan dan Raisa bersamaan menghampiri Dimas. Begitupun Yugito, Rahma, Tio dan Diana.
"Ishh kalian seperti reporter saja." Ucap Dimas menatap satu persatu orang-orang didepannya.
"Woy... serius." Tegas Daffa dari belakang kerumunan berhasil membuat satu keluarga itu menoleh ke belakang. Semula wajah Daffa terlihat sangat dingin, namun saat mendapati tatapan datar mereka, raut wajah Daffa berubah menjadi konyol dan menyebalkan.
Lagi, semua pandangan kembali tertuju pada Dimas. "Untuk sekarang, kondisinya membaik. Dan aku minta maaf." Ucap Dimas kemudian menunduk dan memalingkan wajahnya membuat Tio menyernyit dan mendadak khawatir.
"Kenapa Dim. Katakan saja. Apa dia harus di operasi lagi?" Tanya Tio dengan panik meraih bahu Dimas. Dimas hanya menunduk dan wajahnya sedikit memerah.
"Ak-aku membuka baju Aris." Jawabnya terbata membuat semuanya terdiam datar dan tak berekspresi. Namun tak lama, Rayyan mencengkram kerah baju Dimas dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.
__ADS_1
"Kau apakan Risa hah?" Tanyanya setengah berteriak. Wajar saja Rayyan marah, karena Rayyan mungkin berpikir bahwa Dimas berani macam-macam pada Arisa.
"Lepaskan sialan." Decih Dimas menghempaskan tangan Rayyan dengan kasar dan membalas tatapannya tak kalah tajam.
"Dim... apa maksudmu?" tanya Raisa yang ikut terkejut mendapati penuturan Dimas. Dan seketika itu, Dimas sedikit merasa tenang untuk menjawab pertanyaan Raisa.
"Ak-aku hanya memastikan tak ada yang fatal pada jahitan Aris. Aku khawatir jika jahitannya--"
"Alasan." Teriak Rayyan lagi dengan melancarkan pukulan dan mengenai tulang pipi Dimas. Seketika itu sebagian besar orang yang berada di sekitarnya berteriak karena terkejut.
"Rayyan hentikan. Apa yang kau lakukan?" Raisa menarik tubuh Rayyan dan menahannya agar tak bersikap lebih jauh.
Dari dalam, Arisa yang melirik keluar ruangan dan melihat Rayyan dan Raisa. Ia semula terdiam, lalu tersenyum tipis dengan air mata yang begitu saja mengalir melewati pelipisnya.
"Sejak kapan aku menangisi orang lain selain Rama?" Batinnya menatap lekat pada langit-langit ruangan.
Meskipun begitu, Tio tak merasa bahwa Dimas macam-macam pada adiknya. Tio hanya merasa khawatir saja pada Arisa saat ini. Yugito merasa tak nyaman dengan orang-orang di sekelilingnya yang menatap dengan penuh penasaran, dan sebagian seakan memberi sebuah tatapan menohok karena keributan yang di lakukan Rayyan.
"Apa yang terjadi Dim? Atau hati Nadhira tidak cocok? Hati kakaknya saja Dim." Cetus Tio tanpa berpikir terlebih dahulu. Rahma yang mendengar itu merasa ada sebuah sayatan terasa di ulu hatinya. Rahma menghela nafas panjang lalu sedikit mendongak menahan air matanya yang hendak menetes. Ia tak bisa membayangkan lagi kenangan buruk yang sempat terjadi diantara keluarganya.
"Hentikan ma.... kau bicara apa? Tio jaga bicaramu. Ayah tak suka kau mengungkit hal itu." Tegas Yugito yang lebih menekan dan seakan ada sebuah ancaman dibalik perkataannya jika Tio terus meneruskan celotehannya.
"Kenapa mas? Kau tersindir?" Tanya Rahma melirik sinis membuat Yugito semakin kesal dibuatnya.
"Maaf ayah." Lirih Tio memalingkan wajahnya menghindari tatapan Yugito.
"Jangan pernah mengungkit itu lagi." Tegas Yugito kemudian. "Jika tidak, ayah akan menggantikan posisimu dengan Raisa. Kau tak akan mendapatkan jabatan apapun di perusahaanku." Semua tercengang mendengar penuturan Yugito. Tio menoleh kasar lalu menatap tajam pada Yugito dengan tangan yang mengepal di samping tubuhnya.
"Apa? Ayah menyingkirkanku dari alhi waris begitu saja? Tapi ayah memberikan sebuah perusahaan pada Rez-"
"Tio." Tegas Yugito dengan suara lantang menghentikan ucapan Tio yang hampir membongkar rahasia ayahnya yang memberikan sebuah perusahaan pada Reza sebagai bentuk rasa terima kasih karena Nadhira rela mendonorkan hatinya untuk Arisa.
Tio berdecih kemudian berlalu dari hadapan Yugito dan diikuti oleh Diana yang merasa heran dan tak mengerti dengan perdebatan antara ayah dan anak itu.
"Tio tunggu." Panggil Diana setengah berlari menyusul Tio.
__ADS_1
Raisa masih terdiam dan mencoba mencerna ucapan Yugito yang tak pernah ia mengerti. Di sela kebimbangannya, Rayyan lebih dahulu masuk kedalam ruangan untuk menemui Arisa. Raisa pun ikut masuk menyusul Rayyan dan terlihat Arisa sudah lebih tenang meskipun masih terlihat deru nafasnya yang sedikit sesak.
"Aris.... apa masih sakit?" Tanya Yugito dengan meraih kepala Arisa dan mengusapnya pelan. Memang sosok ayah yang sangat penyayang. Namun siapa yang tahu bahwa dibalik kebahagiaan yang mereka perlihatkan terdapat sebuah luka yang berusaha di sembunyikan.
"Aris tak apa ayah. Hanya terdorong sedikit saja." Jawab Arisa masih mencoba menenangkan nafasnya.
"Kak Tio mana?" Tanya Arisa selanjutnya setelah menyadari ketidak hadiran Tio. Tak biasanya Tio tak ada saat ia sedang dalam kondisi seperti ini. Melihat raut wajah Yugito, Arisa menyimpulkan bahwa Tio di marahi. "Kak Tio marah ya?" Tanyanya lagi yang kini menghela nafas berat. "Kak Tio melakukan kesalahan? Harusnya ayah jangan terlalu memarahinya. Tanpa kak Tio, Aris mungkin sudah tak ada sekarang." Tuturnya kemudian membuat yang mendengar menjadi terkejut.
"Suttt apa yang kau bicarakan? Sudah... ini salah ayah. Bukan kakakmu." Ucap Yugito menatap nanar pada sang putri.
"Aris..." lirih Raisa yang tiba-tiba sesenggukan menangis tersedu-sedu dan menutup wajahnya dengan tangan. Arisa kemudian beranjak dan duduk tegak, lalu merentangkan tangannya meraih Raisa kedalam pelukannya.
"Aku baik-baik saja." Ucap Arisa menenangkan dengan mengusap bahu dan kepala Raisa.
"Aris... jangan marah padaku. Aku benar-benar minta maaf. Jangan membenciku. Kumohon..." ucap Raisa disela isak tangisnya yang kian menjadi. Arisa terus menenangkan Raisa meskipun dirinya merasa heran apa yang di bicarakan Raisa? Mengapa Raisa sampai meminta maaf seperti itu? Arisa melirik pada Rayyan yang berdiri tak jauh darinya. Tatapan sendunya sudah bisa ia tunjukan didepan umum. Biasanya Rayyan selalu memasang wajah dingin dan seolah tak peduli.
"Rais sudah... aku belum mati." Cetus Arisa mengguncangkan tubuh Raisa dan ucapannya berhasil mengejutkan Rahma yang ikut mengusap punggung Raisa. Entah apa yang membuatnya sampai menangis sampai seperti itu, yang pasti Rahma ikut merasakan kesedihan Raisa saat ini.
"Hei Rais..." lagi, Arisa mengguncangkan tubuh Raisa sekali lagi. Namun, pelukan Raisa semakin erat hingga terasa menyesakkan bagi Arisa.
"Rais.. sakit Rais..." lirih Arisa dengan nafas tersenggal. Saking sesaknya, Arisa sampai terbatuk dan kembali meraih dadanya sesaat setelah Raisa melepas pelukannya. Lagi-lagi nafas Arisa kembali tak beraturan.
"Rais... tenangkan dirimu." Ucap Yugito menyadari ada yang salah pada Raisa. Kemudian Rayyan dengan cepat menarik tangan Raisa dan membawanya keluar dari ruangan. Bahkan Rayyan tak menoleh sedikitpun ke belakang membuat dada Arisa semakin sesak. Sampai di taman yang berdekatan dengan loby, Rayyan membiarkan Raisa duduk dan membiarkannya terisak sampai tangisnya mereda.
"Katakan. Kenapa kau hari ini? Kau ingin membunuh adikmu sendiri?" Tanya Rayyan yang kembali pada mode dingin dan datarnya.
"Rayyan... aku ingin minta maaf padamu dan Aris. Sejujurnya aku ragu mengatakannya. Aku belum siap untuk kalian benci karena ini." Tutur Raisa berusaha menghentikan tangis yang sedari tadi tak kunjung berhenti.
"Katakan saja. Aku tak akan membencimu." Rayyan menyipitkan matanya dan menebak apa yang ada di pikiran Raisa saat ini.
"Janji?" Raisa mendongak dan menatap harap pada Rayyan. Entah kenapa Rayyan merasa bahwa yang didepannya bukanlah Raisa, melainkan Arisa. Masih menatap lembut wajah Raisa, Rayyan mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Raisa.
"I-iya. Janji." Ucapnya sedikit ragu. Rayyan masih terus menebak hal apa yang akan dibicarakan oleh Raisa. Terlihat Raisa menghela nafas dan seakan mempersiapkan diri untuk bicara.
"Aku mengatakan pada semua orang bahwa kita akan menikah." Ucapnya dalam satu helaan nafas membuat Rayyan terbelalak seketika.
__ADS_1
-bersambung.